"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Saksi Bisu di Seberang Benua
Satu Layar yang Tetap Terjaga
Cahaya layar masih berpijar terang,
Menembus samudera, melintasi karang.
Kau lari menjauh dengan malu yang hebat,
Meninggalkan ponselmu yang masih terhubung erat.
Di sini aku menunggu, dalam senyum yang tertahan,
Mendengar gemericik air dan langkah yang terburu-buru kau jalankan.
Tak ada cadar, tak ada jarak yang kaku,
Hanya ada aku yang menanti hadirmu kembali menyapa ku.
Di serambi Masjid Pesantren yang masih ramai oleh sisa-sisa tamu undangan, Gus Zidan duduk bersandar pada pilar ukiran jati. Ponsel milik Bunda masih ada di tangannya. Karena Bungah tadi terburu-buru lari ke kamar mandi tanpa mematikan sambungan video call, Zidan kini bisa melihat suasana kamar asrama Bungah yang sederhana.
Ada tumpukan kitab di meja belajar, sebuah lampu tidur yang temaram, dan bantal yang masih acak-acak karena pemiliknya baru saja meloncat panik. Zidan tidak mematikan layar itu. Ia justru memegang ponselnya dengan hati-hati, seolah-olah sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, disusul suara gerutu pelan yang samar-samar sampai ke telinga Zidan.
"Aduh, kok nggak hilang-hilang sih merahnya! Malu banget... ya Allah, kenapa tadi nggak lihat layar dulu!" suara Bungah terdengar meratapi nasib di balik tembok.
Zidan yang mendengar itu kembali menunduk, menutup mulutnya dengan punggung tangan. Pundaknya berguncang pelan. Ia tidak bisa menahan tawa yang terus mendesak keluar. Wajahnya yang biasanya sangat terjaga dan berwibawa, kini nampak begitu hangat.
"Gus Zidan... kamu sehat?"
Suara berat itu membuat Zidan tersentak. Ia mendongak dan mendapati Abinya berdiri di sana bersama Abah Khadijah dan Ayah Mas Azam. Mereka bertiga menatap Zidan dengan heran karena melihat Gus muda itu tertawa sendiri menatap layar ponsel yang posisinya sedang miring.
"Sejak tadi Abi perhatikan, kamu senyam-senyum sendiri. Padahal yang baru nikah itu Mas Azam, kenapa kamu yang kelihatan paling bahagia?" goda Abi sambil menepuk pundak putranya.
Zidan berdehem keras, berusaha kembali ke mode "serius", meski gagal total. "Mboten, Bi. Ini... Bungah sedang cuci muka, videonya belum dimatikan."
Ayah Mas Azam ikut tertawa. "Oalah, pasti anak itu panik ya tahu kamu yang telepon? Maaf ya Gus, Bungah itu kalau di rumah memang paling susah dibangunkan kalau sudah tidur nyenyak."
Zidan hanya bisa tersenyum simpul. Ia tidak berani menceritakan bahwa ia baru saja melihat "peta" rahasia di sudut bibir Bungah.
Beberapa menit berlalu, di layar ponsel muncul kembali sosok Bungah. Kali ini ia sudah rapi mengenakan khimar (kerudung) instan berwarna biru dongker. Wajahnya nampak segar karena air wudhu, meski hidung dan pipinya masih nampak kemerahan karena malu yang belum hilang sepenuhnya.
Bungah mendekati ponselnya dengan sangat hati-hati, matanya melirik ke arah layar, memastikan siapa yang ada di sana. Begitu melihat wajah Zidan masih menatapnya dengan senyum tipis, Bungah hampir saja menutup wajahnya lagi dengan tangan.
"Ustadz... kok belum dimatikan?" bisik Bungah malu-malu.
"Saya menunggu pelakunya kembali," jawab Zidan dengan nada menggoda yang sangat jarang ia gunakan. "Sudah segar?"
"Ustadz jahat! Jangan dibahas lagi! Tolong lupakan yang tadi, itu... itu cuma efek kamera!" bela Bungah dengan suara yang sedikit meninggi karena gemas.
Zidan tertawa kecil, tawa paling jujur yang membuat para santri di kejauhan ikut menoleh heran. "Sudah, jangan marah. Saya tidak akan bilang siapa-siapa kalau 'Mentari' itu ternyata bisa ileran juga kalau tidurnya terlalu nyenyak."
"Ustadz!!!" jerit Bungah tertahan.
Tepat saat itu, Bunda menghampiri Zidan. "Gus, mana ponsel Bunda? Bunda mau bicara sama Adek."
Zidan segera menyerahkan ponsel itu dengan gerakan sopan, namun sebelum wajahnya menghilang dari layar, ia memberikan isyarat satu jari di depan bibirnya—isyarat agar Bungah tetap menjaga rahasia "peta" tadi di antara mereka berdua saja.
Sepanjang malam itu, Zidan menjadi pusat perhatian di pesantren. Para santri berbisik-bisik melihat Gus mereka yang biasanya dingin seperti Kutub Utara, kini nampak seperti es yang sedang mencair di bawah sinar matahari. Senyumnya tidak hilang-hilang, bahkan saat ia memimpin doa di akhir acara, suaranya terdengar jauh lebih ringan dan penuh semangat.