NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Romansa / Persahabatan / Beda Usia / Teen / Tamat
Popularitas:554.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sri Ghina Fithri

Arumi gadis cantik tomboy dan baik hati bertemu dengan pria songong dan sok tampan, pertemuan itu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi sang pria tampan, dia menyimpan dendam yang membara terhadap gadis itu.

Dunia memang sempit, sang pria tampan menjadi guru olahraga di sekolah Arumi, di sana mereka pun saling melampiaskan dendam masing-masing.

Lama kelamaan rasa dendam dan benci berubah menjadi cinta, bagaimana keseruan kisah cinta mereka.

Yuk capcus langsung baca karyaku ya...🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak rate, like dan komentar 🙏🙏🙏

terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Seru dong."

Baru saja Arumi membalas pesannya sang pria langsung membalas pesan yang baru saja dikirimkan Arumi.

"Ya begitu lah...namanya juga bareng keluarga pasti seru."

"Kamu lagi apa?"

"Aku lagi santai"

"Capek."

"Kemarin perjalanan jauh."

"Udah makan?"

"Udah...tadi bareng Ayah bunda."

"Kamu udah makan?"

"Udah tapi gak ada yang nemanin."

"Sini biar aku temani."

"Aku ke sana ya "

"Terbang lewat sinyal"

"Hahaha."

"Boleh."

"Aku tunggu ya."

"Oke."

"Eh, iya. Aku kok ngerasa nyaman banget ya ngomong sama kamu."

"Maksudnya?"

"Ya, walau kita belum pernah ketemu tapi aku ngerasa kita itu dekat."

"Ish, gombal."

"Serius."

"Iya, iya deh."

*Mhm...

"Eh iya."

"Tadi aku main ke toko souvenir."

"Aku beli sesuatu buat kamu."

"Gimana caranya ya supaya bisa sampe sama kamu?"

"Hah?"

"Serius?"

"Iya."

"Ya udah kirimin aja."

"Kemana?"

"Ke rumah aku lah."

Alamatnya mana?

“Ya ampuun, aku kasih alamat yang mana ya? Atau aku kasih alamat laras aja, ya. Biar paketnya di kirim ke sana,” gumam Arumi di dalam hati bingung.

Pasalnya Arumi tak ingin memberitahukan jati dirinya yang sesungguhnya.

"Jalan Mawar no. 3."

"Aku kirim pake go-jek aja, ya."

"Terserah."

"Ya udah kalau gitu."

"Nanti kita sambung lagi."

"Oke."

Setelah aksi chatingannya berakhir Arumi langsung menghubungi Laras. Tak berapa lama panggilan pun tersambung.

“Halo,” ucap Laras dari seberang sana.

“Ras, lu lagi di mana?” tanya Arumi.

“Lagi di rumah, emangnya kenapa?” tanya Laras heran.

“Mhm, nanti ada go-jek yang nganterin sesuatu atas nama Wilona. Lu terima ya, bilang nanti kalau kamu yang bernama Wilona,” ujar Arumi meminta pertolongan sahabatnya.

“Dari siapa emang?” tanya Laras penasaran.

“Ada, deh. Lu terima, aja. Besok di sekolah gue ceritain,” ujar Arumi lalu menutup sambungan telponnya.

Laras hanya menggelengkan kepala saat Arumi menutup panggilan sesuka hatinya. Arumi memang seperti itu, laras sangat memahami sahabatnya yang satu itu.

Tak berapa lama Arumi memutuskan telponnya seorang kurir go-jek datang di rumah Laras, kebetulan Laras baru saja bersantai di depan rumahnya.

"Permisi, mbak saya mau mengantarkan ini. Apa benar ini rumahnya Wilona?” tanya sang kurir.

"Iya, Pak," jawab Laras mengangguk.

"Ini, Mbak. Ada paket," ucap sang kurir go-jek sambil menyodorkan sebuah bingkisan ke hadapan Laras

“Oh, terima kasih ya, Mas,” ucap Laras setelah mengambil bingkisan itu.

“Sama-sama, Mbak. Saya pamit dulu,” ujar sang kurir go-jek lalu pergi meninggalkan Laras yang kini sedang membolak-balikkan bingkisan itu.

Dia penasaran dengan isi bingkisan tersebut namun dia tahu bahwa dia tak memiliki hak untuk membukanya. Laras pun memasukkan bingkisan itu langsung ke dalam lemari.

****

Teeeeethhh (bunyi bel masuk sekolah)

Arumi yang baru saja masuk pekarangan sekolah, dia terburu-buru memarkirkan motor gedenya di parkiran, bersyukur pagar belum ditutup oleh satpam.

Setelah memarkirkan motor gedenya, Arumi berlari menuju kelas karena jika dia terlambat sedikit saja masuk kelas otomatis guru piket akan menghadang dan memberi hukuman.

BRRUUUKKK...

Arumi menabrak seorang pria yang mengenakan pakaian olah raga sehingga membuat dia terjatuh ke lantai.

Arumi menatap tajam pada pria itu kesal karena sang pria yang di tabrak Arumi hanya berdiri tersenyum mengejek padanya.

Arumi berusaha untuk berdiri, baru saja dia berdiri tegak.

“Arumi!” teriak Buk Melly yang bertugas piket hari ini.

“I-iya, Bu,” lirih Arumi lalu melangkah menghampiri buk Melly yang sedang menatapnya tajam penuh amarah.

Tian hanya tersenyum sinis pada Arumi. Ini semua gara-gara Arumi bangun kesiangan terus bibi yang lupa menyetrika baju seragam Arumi hari ini.

Dengan wajah ditekuk, Arumi berdiri di depan buk Melly dengan beberapa murid lainnya yang juga terlambat.

“Arumi, kenapa kamu bisa terlambat? Tumben?” tanya buk Melly heran karena setahunya Arumi adalah siswi teladan di sekolah.

Apalagi prestasi yang di milikinya membuat seisi sekolahan kagum dengan kepintarannya.

“Maaf, Buk. Tadi saya bangun kesiangan,” jawab Arumi jujur pada buk Melly.

“Walau bagaimana pun, kamu tetap dihukum sama dengan teman-teman kamu yang juga terlambat,” ujar buk Melly tegas.

“Baik, buk,” lirih Arumi pasrah.

Dia sadar dengan kesalahannya, dan dia menerima hukuman itu dengan lapang dada.

“Bagi yang terlambat hari ni ibuk akan kasih tugas buat bersih-bersih pekarangan dan toilet,” ujar Buk Melly.

Lalu Buk Melly pen membagikan tugas kepada semua siswa yang terlambat, Arumi kebagian tugas membersihkan toilet.

Dengan Langkah gontai Arumi berjalan menuju toilet dan mulai membersihkannya. Saat dia baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya.

Tian datang menghampirinya lalu menarik tangannya ke pojok kanan lorong sekolah sehingga tak seorang pun melihat mereka.

“Lepas!” bentak Arumi yang tak suka dengan perlakuan Tian.

Tian masih mencengkram lengan Arumi hingga Arumi meringis menahan sakit.

“Apa maumu?” tanya Arumi lantang penuh dengan keberanian.

“ Gue bakal bikin perhitungan sama lu, camkan itu,” ancam Tian yang masih saja dendam dengan apa yang telah dilakukan oleh Arumi padanya.

“Terserah lu, gue tidak takut,“ ketus Arumi.

Di saat cengkraman Tian melemah Arumi berusaha melepaskan diri, tapi Tian malah mendorongnya ke dinding membuat Arumi sekarang terpojok.

“Gue nggak bakalan biarkan lu hidup tenang di sekolah ini, gue akan bikin perhitungan dengan semua yang udah lu lakuin ke gue,” ancam Tian penuh penekanan.

Jantung Arumi mulai berdetak lebih kencang, dia mulai takut mendengar ancaman dari Tian.

“Lu minggir atau gue teriak biar semua orang di sekolah ini tahu, kalau lu tidak pantas jadi seorang guru,” ancam Arumi berusaha membentengi dirinya dengan keberaniannya yang tersisa.

Arumi mendorong tubuh kekar Tian yang mengunci pergerakannya. Mendengar ancaman Arumi, Tian terpaksa melepaskan Arumi.

Tian merasa kesal dengan apa yang telah di lakukan Arumi sehingga dia ingin balas dendam dengan apa yang telah di lakukan oleh Arumi padanya. Dia ingin membuat perhitungan dengan gadis tengil yang telah merusak hari-harinya.

Arumi melangkah menuju kelasnya, dia mencoba menenangkan otak dan pikirannya yang tertuju pada ancaman Tian. Dia tak menyangka akan berurusan lebih jauh dengan pria yang sangat menyebalkan itu.

“Permisi, Pak,“ ucap Arumi sebelum dia masuk ke dalam kelasnya, karena saat ini pak Budi tengah menjelaskan pelajaran matematika.

“ Arumi? Kamu terlambat?” tanya pak Budi pada Arumi heran.

Pasalnya Arumi tak pernah telat dan merupakan murid teladan di sekolah ini.

“Iya, Pak. Tadi saya bangun kesiangan,” jawab Arumi jujur.

Dia menundukkan kepalanya menyadari kesalahannya.

“Ya sudah silahkan masuk dan duduklah,” ujar pak Budi membolehkan Arumi untuk mengikuti pelajaran.

Arumi melangkah masuk kelas dan langsung duduk di bangkunya, tepat di samping Laras.

"Laras, kamu bantu Arumi pelajaran yang udah bapak jelaskan tadi,” titah pak Budi pada Laras.

“Iya, Pak,” sahut Laras.

Arumi pun mulai mengikuti pelajaran pak Budi, dia memilih untuk langsung fokus belajar dari pada menceritakan semua yang telah terjadi pada sahabatnya.

Laras menangkap ada yang aneh dengan raut wajah Arumi, ingin rasanya dia mempertanyakan apa yang terjadi namun diurungkannya karena tak mau melihat pak Budi marah.

Bersambung...

1
Capricorn 🦄
keren
Qaisaa Nazarudin
Nampak bamget sikap Tian yg gak tegas,Padahal seorang CEO harta mereka bukan hanya perusahaan doang kan? Ada hotel juga perusahaan juga banyak cabang,Kok otaknya Tian mendadak igeb bin bodoh sih..Ckk
Qaisaa Nazarudin
Pasti itu Kiran,Apa Tian di jebak sama Kiran ya?? Gak mungkin kan Tian di jodohin sama Kiran,Kan Ortunya juga tau kalo Tian udh punya gebetan..
Qaisaa Nazarudin
Lho kok Nick juga meninggalkan Laras,Janji lelaki cuman manis dibibir doang..
Qaisaa Nazarudin
Ilmu bela diri Arumi belum begitu hebat berarti, gak bisa lepas cuman dri 4 preman doang, Biasa nya ku baca kalo si cewek handal ilmu bela diri,Dengan enteng nya dia bisa ngalahin 5 6 cowok sekaligus..
Qaisaa Nazarudin
Iya iyalah dari awal pertemuan aja sikap mu itu udah buruk,arogant dan songong,.Rasain tuh..
Qaisaa Nazarudin
Aelaah kamu nya aja yg gak tau,Nick itu lebih gentle dri loe,Aku suka sikap Nick gak bertele2..
Qaisaa Nazarudin
Kalo gitu ngapain lo milih jadi guru buat cari pendampung?? Kalo cari yg udah kerja dan dewasa itu di perusahaan,Bukannya di sekolah,Waah loe salah jalur nih .
Qaisaa Nazarudin
Nick menyamar jadi Tian,Dan Laras menyamar jadi Arumi,Setelah ini bakal terjadi salah paham besar..😂😂😜😜
Qaisaa Nazarudin
Nah sifat cewek tangguh yg kek gini nih yg aku demen bacanya,👍👍
Qaisaa Nazarudin
Udah salah atau gak sengaja, Harusnya minta maaf aja kan gampang,Dasar cowok songong..
Ety Koesmiaty
seruh
Efrina Roza
bener² lucu
Nadira Yaya
assalamualaikum kk
ijin mampir baca ya'!
Ghiie-nae: wa'alaikummussalam...

iya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Atun Wardah
lanjut...
indriln
t
Elin Lim
sayang ga ada lanjutan nya
Elin Lim
sayang ga di ceritakan hidup bahagia nya
Gea Fitria
top
Alifiyah Mai Sany
Tunggu novel ku ya aku jamin kalian suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!