NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepatuhan yang Buta

Pagi itu, udara di kawasan Permata Hijau terasa begitu dingin, namun telapak tangan Ratih justru berkeringat. Ia berdiri di depan kaca kecil di kamarnya, merapikan rambut yang ia ikat satu, berusaha menutupi wajah lelahnya dengan sedikit bedak tabur murah. Ucapan Bimo semalam terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kartu itu buat orang yang punya otak, Ratih. Kamu itu cuma buruh cuci."

Kata-kata itu perih, tapi Ratih mencoba mengoleskan "obat" pada lukanya sendiri. Mas Bimo cuma sedang capek, pikirnya dalam hati. Dia begitu karena dia terlalu sayang padaku, dia takut uang pernikahan kami hilang kalau dipegang olehku yang bodoh ini. Begitulah cara Ratih mencintai—ia selalu punya seribu alasan untuk memaafkan luka yang dibuat oleh pria itu.

Ratih pun memutuskan untuk tetap membuat kartu ATM itu. Bukan karena ia ingin memberontak, bukan karena ia mulai curiga. Sebaliknya, ia melakukan ini karena rasa cintanya yang begitu besar. Ia ingin menjadi wanita yang bisa diandalkan. Ia ingin membuktikan pada Bimo bahwa ia bisa belajar, bahwa ia bukan sekadar "buruh cuci" yang buta teknologi.

"Aku akan buat, tapi rahasia dulu. Nanti kalau gajian, uangnya langsung aku tarik semua, baru kukasihkan ke Mas Bimo secara tunai. Jadi dia nggak akan marah, dan urusan sama Bu Sofia juga beres," gumam Ratih sambil melangkah keluar dari kontrakannya.

Sepanjang perjalanan menuju bank di dekat kompleks, pikiran Ratih melayang pada ibunya di desa. Sudah tiga bulan ia tidak mengirimkan uang sepeser pun. Setiap kali ia ingin menyisihkan sedikit saja untuk membelikan ibunya obat rematik atau beras, bayangan wajah Bimo yang menghitung uang tabungan selalu menghalanginya.

"Ratih, kalau kita sisihkan buat ibumu sekarang, nanti DP rumah kita kurang. Apa kamu mau kita selamanya tinggal di kontrakan sempit ini? Sabarlah sedikit, nanti kalau kita sudah nikah, ibumu akan kita bawa ke kota," begitu janji Bimo setiap kali Ratih mengadu tentang kondisi ibunya.

Dan Ratih, dengan kenaifan yang luar biasa, memilih untuk percaya. Ia merasa berdosa karena mengabaikan ibunya, namun harapan untuk menjadi "Nyonya Bimo" seolah menjadi candu yang membuatnya lupa pada segalanya. Baginya, pernikahan adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan, dan Bimo adalah satu-satunya orang yang memegang kunci pintu keluar itu.

Sesampainya di bank, Ratih merasa sangat kecil. Lantai marmer yang mengkilap, aroma pengharum ruangan yang mewah, dan para pegawai yang berpakaian rapi membuatnya merasa tidak pantas berada di sana. Ia duduk di kursi tunggu dengan tangan meremas ujung bajunya.

"Nomor antrean 45, silakan ke Customer Service," suara lembut mesin itu memanggil.

Ratih maju dengan langkah goyah. Di depan seorang wanita cantik berseragam biru, Ratih menyerahkan KTP-nya yang sudah sedikit terkelupas.

"Saya... saya mau buat tabungan yang ada kartunya, Mbak," bisik Ratih pelan.

Wanita itu tersenyum ramah, "Baik, Bu Ratih. Boleh saya bantu prosesnya. Untuk setoran awalnya berapa ya?"

Ratih menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah, sisa uang yang seharusnya ia gunakan untuk makan minggu depan. Ia rela berpuasa, asal "kartu sakti" ini bisa ia miliki. Selama proses pengisian formulir, tangan Ratih gemetar. Ia takut salah tulis, ia takut ditertawakan. Namun, petugas itu tetap sabar.

"Silakan masukkan enam digit angka untuk PIN-nya, Bu. Ini rahasia ya, jangan sampai ada yang tahu," kata petugas itu sambil menyodorkan mesin kecil.

Ratih terdiam sejenak. Angka apa yang harus ia pakai? Nama Bimo langsung muncul di benaknya. Tanpa ragu, ia menekan tanggal lahir Bimo. Bahkan untuk kode rahasia yang seharusnya hanya miliknya pun, ia masih menyisipkan nama pria itu di sana. Seluruh hidupnya benar-benar telah ia serahkan pada satu orang.

Satu jam kemudian, Ratih keluar dari bank dengan sebuah buku tabungan kecil dan sebuah kartu plastik berwarna emas. Ia menggenggam kartu itu erat-erat di dalam saku dasternya. Rasanya aneh. Ada rasa bangga, tapi juga ada rasa takut yang menghantui.

Kerja tambahan di rumah Bu Sofia terasa lebih ringan hari ini. Ratih mengucek tumpukan sprei dengan semangat yang baru. Di sela-sela pekerjaannya, ia menghampiri Lastri yang sedang memotong sayur di dapur.

"Mbak Lastri... saya sudah punya," bisik Ratih sambil menunjukkan sedikit ujung kartu emasnya dari balik saku.

Lastri menoleh dan tersenyum lebar. "Wah, selamat ya, Ratih! Nah, gitu dong. Jadi perempuan itu harus mandiri. Nanti kalau gajian sudah masuk, kamu tinggal ke mesin itu. Kamu bisa cek sendiri uangmu sudah terkumpul berapa."

"Iya, Mbak. Tapi... Mas Bimo nggak tahu. Aku rencananya cuma mau pakai ini buat terima gaji dari Bu Sofia saja, habis itu uangnya langsung aku ambil semua buat dikasihkan ke Mas Bimo," jelas Ratih dengan nada membela diri.

Lastri menghentikan kegiatannya, menatap Ratih dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ratih... maaf ya kalau aku lancang. Tapi, kenapa kamu harus takut begitu sama Bimo? Itu kan uangmu, hasil keringatmu sendiri."

Ratih tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kepasrahan. "Nggak apa-apa, Mbak. Mas Bimo itu orangnya teliti. Dia cuma mau masa depan kami terjamin. Dia bilang laki-laki itu pemimpin, jadi dia yang harus pegang kendali soal uang."

Lastri hanya bisa menghela napas panjang. Ia ingin bicara lebih banyak, ingin memperingatkan Ratih bahwa cinta tidak seharusnya terasa seperti penjara, namun ia melihat binar di mata Ratih yang begitu tulus. Lastri tahu, saat ini kata-kata apa pun tidak akan mempan menembus tebalnya tembok harapan yang dibangun Ratih.

Sore harinya, saat pulang ke kontrakan, Bimo sudah menunggu di depan pintu. Ia tampak kesal, berkali-kali melihat jam tangannya.

"Dari mana saja kamu? Aku sudah nunggu lima belas menit!" bentak Bimo saat melihat Ratih datang.

Ratih kaget, jantungnya berdegup kencang karena takut kartu ATM di sakunya ketahuan. "Maaf, Mas. Tadi cucian Bu Sofia banyak sekali, jadi pulangnya agak telat."

Bimo mendengus, "Sudahlah. Mana uangmu hari ini? Aku mau sekalian jalan ke bank lewat depan, mau setor tabungan kita."

Ratih merogoh saku lain di daster luarnya—bukan saku tempat kartu ATM itu berada—dan menyerahkan uang seratus lima puluh ribu rupiah hasil upah hariannya. "Ini, Mas. Cuma segini buat hari ini."

Bimo menerima uang itu tanpa senyum, langsung memasukannya ke dompet kulitnya yang tampak selalu baru. "Segini doang? Kamu harus lebih rajin lagi, Ratih. Katanya mau nikah tahun depan? Kalau cuma begini, kapan terkumpulnya?"

Ratih menunduk. "Iya, Mas. Maaf. Besok aku usahakan lebih banyak lagi."

Bimo tidak membalas. Ia sibuk memainkan ponselnya. "Oh ya, soal ATM itu... kamu nggak jadi buat, kan? Ingat kata-kataku semalam, jangan berlagak jadi orang pintar kalau memang nggak mampu."

Dada Ratih berdenyut nyeri. Ia ingin sekali berteriak dan menunjukkan bahwa ia sudah punya kartu itu, bahwa ia mampu. Tapi cintanya membungkam mulutnya. Ia hanya bisa menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Aku nggak buat."

"Bagus," kata Bimo pendek. "Aku pergi dulu. Ada urusan sama teman kantor."

Bimo pergi dengan motornya, meninggalkan kepulan asap yang menusuk hidung. Ratih menatap punggung itu hingga menghilang di tikungan gang. Ia masuk ke dalam kontrakannya yang sepi, lalu mengeluarkan kartu ATM emas itu.

Ia menatap kartu itu lama. Di kartu itu tertulis namanya: RATIH. Nama yang selama ini selalu dianggap remeh oleh Bimo. Ratih mencium kartu itu pelan.

"Nggak apa-apa, Mas Bimo. Sekarang aku bohong sedikit, tapi ini semua buat kita. Nanti kalau tabungan ini sudah banyak, kamu pasti bakal senang," bisik Ratih pada dirinya sendiri.

Ratih tidak tahu bahwa setiap detik yang ia lalui dengan kepatuhan buta ini, sebenarnya ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia puja itu saat ini sedang menertawakannya di sebuah tempat hiburan malam, menceritakan betapa bodohnya "si buruh cuci" yang bisa ia peras tenaganya demi gaya hidup mewahnya.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!