Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Reno memarkirkan mobilnya agak kasar pagi itu.
Mesinnya mati, tapi hawa di dalam mobil belum ikut tenang.
Ia turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Naya.
“Hati-hati,” gumamnya, tangannya otomatis memegang siku Naya saat gadis itu menurunkan kaki yang masih digips.
“Nggak usah tegang banget sih, Kak,” Naya mencoba bercanda kecil.
"Santai dikit bro"
Belum sempat ia berdiri tegak, suara mesin mobil lain memasuki parkiran.
Suara itu… familiar.
Reno refleks menoleh.
Mobil hitam itu berhenti tidak jauh dari mereka.
Pintu terbuka.
Kenzo keluar.
Seragamnya rapi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang semalam bertemu mantan yang mengancam hidupnya.
Kenzo melangkah mendekat.
“Nay—”
“Lo tunggu di sini.” Reno memotong, tanpa menoleh pada adiknya.
Nada suaranya dingin.
Naya terdiam.
"Kak?"
Belum sempat Kenzo mendekat tiga langkah, Reno sudah lebih dulu menghampirinya dengan langkah tergesa, napas memburu.
Keramaian parkiran seolah memudar.
Reno berdiri tepat di depan Kenzo.
Tanpa aba-aba—
Tangannya meraih kerah baju Kenzo.
Mata Reno merah. Bukan cuma marah.Tapi terluka.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga—
Bruk!
Kepalan tangan Reno menghantam sudut bibir Kenzo.
Suara benturan itu jelas.
"Aaaaa-"
Naya berteriak kaget.
Mata kenzo melirik ke arah Naya yang berteriak ketakutan.
Darah segar langsung muncul di sudut bibir Kenzo.
Beberapa siswa menoleh.
Belum selesai—
Brak!
"Kakkk!!!"
Pukulan kedua mendarat di pelipis.
Kenzo terhuyung sedikit, tapi tidak membalas.
Ia hanya mengangkat tangan, menahan, mencoba meredam.
“Brengsek!” bentak Reno.
“Ren—” suara Kenzo tertahan, serak.
“Anj—!” Reno kembali mengayunkan tangan, kali ini lebih brutal.
“KAK JANGAN!” Naya berteriak.
Ia berusaha mendekat, tertatih dengan gipsnya. Hampir terjatuh kalau tidak berpegangan pada mobil.
“Lo brengsek kalau lo lupa!” Reno menggertakkan gigi.
“Ren, lo kenapa?!” Kenzo mencoba bertanya di sela napasnya.
“Kak berhenti!” Naya menangis sekarang.
Air matanya jatuh tanpa izin.
Ia memaksa melangkah lebih cepat.
“Kak, tolong… jangan…”
Suara Naya pecah.
Beberapa siswa mulai mengerumuni dari jauh.
Kenzo tidak membalas satu pun pukulan.
Ia hanya menahan pergelangan Reno.
“Dengerin gue dulu—”
“Denger apaan?!” Reno mendorongnya hingga hampir jatuh ke kap mobil.
“Beraninya lo nyakitin adek gue!” teriak Reno.
Naya membeku.
Jantungnya terasa berhenti.
Kenzo menoleh ke arah Naya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan itu cukup untuk membuat dada Naya semakin sakit.
“Gue jelasin, Ren,” Kenzo bicara pelan, darah masih menetes dari bibirnya.
“Jelasin apa?!” Reno kembali menarik kerahnya. “Video itu apa?!”
Naya tersentak.
Ia belum cerita.
'Gimana Kak Reno tahu? '
“KAK!” Naya berteriak histeris sekarang. “Stop! Please!”
Dari kejauhan, Bian dan Dion yang sedang latihan basket melihat keributan itu.
“WOI!” teriak Bian.
Mereka berdua berlari cepat ke arah parkiran.
Reno sudah hampir melayangkan pukulan lagi ketika Bian memeluk tubuhnya dari belakang.
“Ren! Udah, goblok!” teriak Bian.
Dion menarik Kenzo menjauh.
“Lo kenapa diem aja sih?!” Dion setengah panik melihat darah di wajah Kenzo.
Kenzo menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Gue pantas,” gumamnya pelan.
“Apa?!” Reno masih meronta.
“Lo nggak tahu apa-apa!” Reno menunjuk Kenzo dengan tangan gemetar. “Lo bikin dia nangis!”
Naya berdiri beberapa langkah dari mereka.
Air matanya nggak berhenti.
“Aku nggak bilang apa-apa…” suaranya kecil. “Aku nggak pernah minta Kak Reno mukul kamu…”
Kenzo menatapnya.
Dan tatapan itu penuh rasa bersalah.
“Nay—”
“Jangan panggil aku!” Naya berteriak.
Semua orang terdiam.
Itu pertama kalinya Naya berteriak seperti itu di depan umum.
“Aku Capek…” suaranya bergetar. “Aku gak mau denger…”
Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Kalau itu cuma masa lalu… kenapa harus ada video?”
Kalimat itu menggantung.
Reno berhenti meronta.
Bian dan Dion saling pandang.
Kenzo terdiam.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
Parkiran yang tadi gaduh kini justru terasa sunyi.
Hanya suara napas berat.
Dan tangisan Naya yang tidak bisa lagi ditahan.
Bel masuk berbunyi.
Kelas XI masih gaduh.
Kenzo duduk di bangkunya, di barisan tengah dekat jendela. Bibirnya masih sobek. Pelipisnya mulai membiru. Beberapa anak cowok melirik-lirik, tapi tak ada yang berani komentar terang-terangan.
Dion duduk di sampingnya.
“Lo bego banget sih nggak ngelawan,” gumam Dion pelan.
Kenzo menatap lurus ke depan. “Kalau gue balas, makin hancur.”
“Hancur apaan?”
“Muka lo babak belur gini” Ucap Dion.
Kenzo tidak menjawab.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka agak keras.
Semua kepala menoleh.
Reno berdiri di ambang pintu.
Wajahnya masih keras. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya langsung mengunci satu orang.
Kenzo.
Suasana kelas langsung sunyi.
Reno melangkah masuk tanpa izin.
“Ren…” Dion berdiri setengah, waspada.
“Duduk,” Reno dingin.
Dion menatap Kenzo sebentar. Kenzo mengangguk kecil, memberi isyarat tak apa.
Reno berhenti tepat di depan meja Kenzo.
Beberapa detik tak ada yang bicara.
Hanya tatapan.
“Lo puas?” tanya Kenzo akhirnya. Suaranya rendah.
Reno tertawa kecil tanpa humor. “Belum.”
Beberapa anak mulai berbisik.
“Keluar,” Reno mengangguk ke arah pintu.
Kenzo berdiri tanpa membantah.
Mereka keluar kelas bersama, meninggalkan rasa tegang yang menggantung.
Di lorong, Reno langsung mendorong Kenzo ke dinding.
Tak sekeras tadi pagi.
Tapi cukup untuk menunjukkan siapa yang lebih marah.
“Gue kasih lo kesempatan ngomong,” ucap Reno.
Kenzo menyeka darah kering di bibirnya.
“Video itu lama.”
“Seberapa lama?” Reno memotong.
“Sebelum gue kenal Naya.”
Reno menatapnya tajam. “Terus?”
“Dan nggak ada apa-apa, nggak seperti yang dia pikir.”
Reno mendekat, rahangnya mengeras. “Lo tidur sama dia?”
Kenzo diam sepersekian detik.
“Pernah.”
Kata itu seperti bensin disiram ke api.
Tangan Reno kembali mencengkeram kerahnya.
“Tapi—” Kenzo cepat melanjutkan. “Bukan kayak yang lo pikir.”
“Semua cowok juga bakal ngomong gitu, Ken,” Reno mendesis.
Kenzo menghela napas berat. “Gue nggak bangga sama masa lalu gue. Tapi itu sebelum Naya.”
“Terus kenapa video itu bisa ada sekarang?”
“Karena dia mau hancurin gue.”
Reno terdiam.
Itu kemungkinan yang sejak tadi mengganggunya.
“Semalam dia kirim ke Naya,” lanjut Kenzo pelan. “Dia ancam bakal sebar.”
Reno membeku.
“Lo masih ada hubungan sama dia?”
“Enggak.”
Jawabannya tegas.
Reno menatap mata Kenzo, mencoba membaca kebohongan.
Tak ada ragu di sana.
Yang ada cuma lelah.
“Lo bikin adek gue nangis,” suara Reno kali ini lebih rendah. Bukan teriak. Tapi berat.
Kenzo menunduk sebentar.
“Gue tahu.”
Itu bukan pembelaan.
Itu pengakuan.
Reno melepas kerahnya.
“Kalau lo serius sama dia,” Reno menunjuk dada Kenzo, “beresin masalah lo. Jangan seret adek gue.”
Kenzo mengangguk pelan. “Gue bakal beresin.”
“Dan satu lagi.”
Kenzo menunggu.
“Kalau gue lihat dia nangis lagi gara-gara lo—”
Reno tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia tak perlu.
Kenzo mengerti.
Reno berbalik pergi beberapa langkah, lalu berhenti.
Tanpa menoleh ia berkata, “Gue bukan musuh lo, Ken. Tapi gue akan selalu di pihak adek gue.”
Kenzo menatap punggung Reno yang menjauh.
Pelan ia menyentuh bibirnya yang sakit.
Lebih sakit lagi dadanya.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia sadar.
Masalah ini bukan cuma tentang masa lalu.
Tapi tentang siapa yang paling bisa menjaga Naya… sekarang.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...