NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Panggilan dari Istana

Bunker Bawah Tanah. Kedalaman 10 Meter. Pukul 12:15 Siang.

BOOOOM!

Tanah di atas kepala mereka bergetar hebat. Debu-debu beton berjatuhan dari langit-langit terowongan yang lembap, mengotori rambut Angeline. Suara ledakan itu terdengar tumpul namun mengerikan seperti raungan monster yang diredam bantal.

Di atas sana, vila mewah tempat mereka berlindung baru saja dihancurkan oleh rudal udara ke darat. Jika mereka terlambat satu menit saja, mereka sudah menjadi abu.

"Rumah kita..." Angeline menutup mulutnya, matanya terbelalak ngeri dalam remang cahaya senter. "Jay, mereka menghancurkan semuanya."

"Harta benda bisa diganti, Nyawa tidak," kata Jay tenang, memegang bahu istrinya agar tetap berjalan. "Terus bergerak, Angel. Getaran ledakan bisa memicu keruntuhan di struktur tua ini."

Mereka berjalan menyusuri lorong beton sempit yang berbau tanah basah dan besi berkarat. Ini adalah jalur evakuasi darurat era Perang Dingin yang menghubungkan vila-vila elit di bukit dengan jaringan pembuangan air kota.

Leon memimpin di depan dengan senapan taktis, sementara Jay menjaga bagian belakang, memastikan tidak ada unit pengejar yang mengikuti mereka masuk ke lubang tikus ini.

Cahaya senter Leon menyapu dinding yang penuh lumut. Tikus-tikus got berlarian kaget.

"Jay," bisik Angeline di tengah keheningan lorong. "Bagaimana kau tahu tempat ini ada? Kakek tidak pernah memberitahuku."

"Kakekmu suka bermain petak umpet, Angel. Dia menunjukkan peta ini padaku saat kami main catur dulu," dusta Jay lagi, meski kali ini terdengar lebih masuk akal.

Tiba-tiba, saku dada jaket Jay bergetar.

Bukan ponsel biasa. Itu adalah Ponsel Satelit Taktis yang ia ambil dari safe box Leon sebelum turun. Alat itu seharusnya tidak bisa dilacak, dan hanya segelintir orang di dunia ini yang tahu nomor enkripsinya.

Jay berhenti melangkah.

"Leon, bawa Angeline ke depan sebentar. Aku harus mengecek... peta digital," kata Jay.

Angeline menatapnya curiga, tapi Leon segera mengerti.

"Mari, Nyonya. Ada persimpangan di depan yang perlu saya periksa."

Setelah Angeline menjauh beberapa meter, Jay mengangkat telepon itu. Wajahnya berubah drastis dari seorang suami menjadi seorang Panglima.

"Siapa ini?" tanya Jay dingin.

Suara di seberang sana terdengar berat, jernih, dan penuh wibawa. Suara yang sangat dikenali oleh setiap prajurit di Negara Arvanta.

"Lama tidak mendengar suaramu, 'Zero'."

Jay menegakkan punggungnya secara refleks. Itu adalah suara Jenderal Besar Marco. Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Arvanta yang menjabat saat ini satu-satunya orang di militer yang tahu wajah asli Jay selain Kolonel Dante.

"Jenderal Marco," sapa Jay hormat namun datar. "Saya pikir Anda sudah dikurung oleh Victor Han."

"Victor menguasai ibu kota dan media, tapi dia tidak menguasai loyalitas Angkatan Darat sepenuhnya," jawab Jenderal Marco. "Saya sedang berada di bunker komando rahasia bersama Presiden. Kami memantau pergerakanmu."

Jay terdiam. Presiden dan Panglima Tertinggi sedang menontonnya.

"Dengar baik-baik, Nak. Intelijen kami mengonfirmasi bahwa Ivan Dragos dan Unit Serigala Merah-nya secara spesifik memburu Anda. Mereka tahu Anda ada di area bukit. Mereka tidak hanya mengincar istri Anda sebagai simbol politik, tapi mereka ingin memancing Anda keluar untuk menuntaskan dendam lama."

"Biarkan mereka datang," jawab Jay. "Saya akan mengubur mereka satu per satu."

"Kami tahu kemampuanmu. Tapi Anda tidak punya logistik. Anda sendirian," kata Jenderal Marco tegas. "Presiden telah mengotorisasi Paket Bantuan Hantu (Ghost Aid). Kami akan mengirimkan suplai senjata, medis, dan intelijen satelit secara rahasia ke titik-titik buta di kota. Anda bisa mengambilnya tanpa membongkar identitas Anda."

"Terima kasih, Jenderal. Itu akan sangat membantu."

Hening sejenak di sambungan telepon. Jay tahu ada hal lain yang ingin disampaikan sang Jenderal.

"Satu hal lagi, Zero," suara Marco melembut, berubah menjadi nada seorang bapak yang membujuk anaknya pulang. "Presiden secara pribadi meminta... kembalilah. Pakai seragammu lagi. Pimpin pasukan loyalispun untuk merebut kembali ibu kota. Negara ini butuh Dewa Perangnya. Victor Han akan gemetar jika tahu Panglima Zero berdiri di depan gerbang istana."

Jay menutup matanya sejenak. Ia membayangkan dirinya kembali mengenakan seragam kebesaran itu, bintang-bintang di bahunya, ribuan tentara memberi hormat.

Itu adalah hidup yang mudah. Itu adalah kekuasaan.

Tapi kemudian, ia membuka mata dan melihat siluet Angeline yang sedang menunggu di ujung lorong gelap dengan wajah cemas. Wanita yang tidak tahu apa-apa tentang perang, tapi tetap berdiri tegar di sampingnya.

Jika Jay kembali menjadi Jenderal, Angeline akan menjadi target politik selamanya. Jika Jay tetap menjadi suami, ia bisa melindungi Angeline sebagai manusia.

"Maaf, Jenderal," jawab Jay pelan. "Sampaikan hormat saya pada Presiden. Tapi saya tidak bisa."

"Kenapa? Negara ini di ujung tanduk."

"Karena perang saya sekarang bersifat pribadi. Saya bukan lagi milik negara. Saya milik wanita yang sedang menunggu saya di ujung lorong ini."

Terdengar helaan napas kecewa dari Jenderal Marco di seberang sana.

"Keras kepala seperti biasa. Baiklah. Bantuan tetap akan dikirim. Hiduplah sesuai keinginanmu, Zero."

Klik. Sambungan terputus.

Jay menurunkan ponsel itu. Ia bersandar sejenak di dinding beton yang dingin, menghela napas panjang yang terasa berat.

"Hhhhaahh..."

Ia baru saja menolak tawaran untuk menjadi orang paling berkuasa di militer, demi menjadi pelarian di selokan bawah tanah.

"Jay?" panggil Angeline dari kejauhan. "Semuanya oke?"

Jay segera memasukkan ponsel itu kembali ke saku, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi tenang dan hangat.

"Semuanya oke, Angel. Aku baru saja dapat sinyal GPS. Kita sudah dekat dengan pintu keluar."

Jay berjalan menghampiri istrinya, menggenggam tangannya erat.

"Ayo. Dunia luar sedang menunggu kita."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!