Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XIII
Aku belum bertemu
Dia yang menjadi belahan jiwaku
Aku belum bertemu
Dia yang merajai hatiku
Aku suka tawamu
Riang dan tidak sendu
Meskipun aku tahu
Ada duka dalam matamu
*****
POV Anne
Rumah panti asuhan Ayu Kumala berdiri di tanah yang luas dengan bentuk bangunan rumah joglo Jawa tengah. Ukiran pintu masuk rumah utama terbuat dari gerbang ukiran khas Jepara. Rumah utama dengan bangunan dinding di bagian samping dan kayu2 jati yang berbentuk gebyok. Bangunan utama yang luas difungsikan sebagai aula dan tempat beraktivitas anak-anak untuk belajar dan jika sedang ada keperluan lainnya. Kamar tidur untuk anak-anak panti ada di bagian belakang rumah utama berbentuk kamar-kamar sesuai umur dan juga jenis kelamin. Jadi tidak bercampur antara yang anak cewek dan cowok.
Ada dua pohon mangga berjejer di halaman depan rumah dan tiga pohon rambutan di samping rumah. Halaman jadi terasa rindang dan adem meskipun siang hari dan ada di kota Jakarta yang selalu terasa panas. Itulah sebabnya anak-anak betah bermain diluar.
Pemilik panti seorang wanita Jawa yang cantik meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Ibu Ayu Kumala dan di bantu adiknya Sukmawati yang juga ikut tinggal di rumah panti tersebut. Suami Ibu Wati, panggilan dari Sukmawati, adalah seorang dosen di kampus STAN. Kampus milik pemerintah yang sangat populer dan banyak di minati oleh kaum pelajar di seluruh Indonesia.
Suami dari ibu Ayu tidak ada yang tahu kemana, karena tidak ada yang tahu sosok beliau selama ini. Ibu Ayu juga tidak ada memasang foto laki-laki yang mungkin bisa di duga sebagai suaminya. Jadi entah punya suami atau tidak juga tidak ada yang tahu. Anak-anak panti juga tidak ada yang berusaha untuk bertanya, takut menyingung perasaan beliau yang mereka hormati.
Aku pun begitu. Tidak ingin berusaha untuk mencari tahu, karena bagiku beliau adalah ibuku. Perangainya yang halus dan sabar sepertinya banyak di ikuti oleh teman-teman yang ada di panti ini, termasuk Anna.
Sedangkan aku berperilaku lebih mirip dengan ibu Wati, adik ibu Mala.
Ceria, banyak bicara dan aktif, itulah aku. Mungkin juga karena sedari kecil aku lebih dekat dengan ibu Wati yang lebih banyak waktu untuk mengasuhku. Meskipun ibu Wati juga punya dua anak, cowok dan cewek, tapi karena sudah besar jadi tidak menjadi masalah untuk aku dekat dengan beliau.Apalagi saat anak-anak ibu Wati kuliah di luar negeri. Yang besar cowok, kuliah di Australia, sedangkan yang kedua cewek kuliah di Malaysia. Mereka juga menganggap aku sebagia adik kecil mereka.
Suami ibu Wati juga sering mengajakku latihan bela diri di sanggar tempat beliau mengajar. Itulah sebabnya aku sedari kecil sudah terbiasa di sanggar tersebut dan ikut juga aktif berlatih di sana.
Aku sungguh beruntung. Meskipun besar di panti asuhan, aku tidak kekurangan kasih sayang meskipun tidak ada hubungan darah diantara kami dan keluarga panti.
Aku juga menyayangi Anna. Dia sama denganku. Sedari bayi hidup di sini, bersama-sama dengan anak-anak yang lain, senasib sepenanggungan. Itulah kenapa kami saling menyayangi dan melindungi.
Apalagi Anna termasuk anak yang pendiam dan pemalu. Dia ditemukan saat pagi menjelang subuh dan berselang dua hari ditemukannya diriku.
"Ibu tidak tahu siapa kamu. Tidak ada keterangan apapun di saat kami menemukan dirimu didepan pintu. Hanya kertas bertuliskan nama dan tangal lahir. Hanya itu saja Inne."
Begitulah ibu Wati memberikan jawaban saat aku bertanya bagaimana aku bisa ada di panti asuhan ini.
"Mungkinkah aku anak yang tidak diinginkan, atau hasil perselingkuhan?" Aku bertanya seakan menyesali keberadaanku di dunia ini. Karena pada kenyataannya aku di buang ke panti asuhan ini dan bukan di asuh oleh orang tuaku sendiri.
"Jangan berprasangka dan berpikir yang buruk. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya ada alasan dan tidak semuanya juga bisa mengatakan alasan tersebut secara langsung." Ibu Wati berkata menasehati diriku yang terlihat menyesali kelahiraku di dunia ini.
"Bersyukurlah, karena masih banyak anak-anak di luar sana yang lebih menderita dibandingkan dengan dirimu yang ada di disini. Meskipun tidak ada pertalian darah, setidaknya ada ikatan saudara senasib." Begitulah ibu Wati yang selalu bisa menasehati diriku yang selalu bertanya dan putus asa.
Setelahnya aku tidak pernah lagi bertanya. Biarlah aku tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya. Setidaknya aku punya keluarga yang selalu menyayangi dan tetap akan ada apapun keadaanku sekarang ini.
Aku dan Anne selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Kelas kami juga sama. Dan lebih beruntung karena kami termasuk anak-anak yang cerdas. Kami berdua pun mendapat keberuntungan dengan adanya beasiswa yang kami terima saat kenaikan tingkat sekolah menengah pertama.
Di sekolah yayasan tersebut aku mengenal Alan. Ternyata dia juga anggota di sanggar beladiri yang sama dengan aku di STAN.
Dia menyukai Anna. Suka dalam artian anak-anak di masa pubertas awal.
Ada Dinda juga sepupu Alan yang sedikit usil dan suka mengerjai Anna. Untung Alan selalu menjaga Anna, karena aku beda kelas dengan Anna.
Pertengahan tahun ada anak baru di kelasku, Larry namanya. Anaknya berperawakan blesteran sama dengan diriku yang katanya berbeda.
Wajahnya yang berbeda itu seperti tidak asing bagiku. Padahal aku baru bertemu dengan dia di sekolah ini. Tapi entah kenapa aku seperti sudah lama mengenalnya.
Tatapan matanya juga berbeda saat sedang kepergok sedang menatapku. Entah perasaan apa yang sedang aku alami. Padahal dia itu aneh, pendiam dan acuh. Tapi ternyata tidak semua yang terlihat itu sama dengan yang sebenarnya. Dia ternyata punya rasa sosial yang tinggi. Dan ini terbukti saat memberikan kami, aku dan Anna, tumpangan untuk pulang di waktu hujan turun tiada henti. Dia mengantar kami pulang, padahal berlawanan arah dengan rumahnya.
Begitu juga waktu membeli getuk lindri, sisa uang tidak dia ambil dan di berikan pada penjualannya sebagai tip. Dan yang lebih tidak aku sangka lagi, getuk tersebut untuk kami semua. Untuk anak-anak panti dan dia tidak ambil satu kotak pun. Sungguh penilaian tentang seseorang tidak bisa di lakukan jika sekedar sepintas lalu tanpa mengenali lebih banyak lagi di waktu yang lain.
"Maaf Larry, aku salah menilai dirimu selama ini." Batinku saat dia juga berkeinginan untuk mampir usai ikut serta mengantar Alan latihan beladiri siang ini. Padahal tadi pagi, dia dan Alan juga sudah pasti capek usai latihan basket di sekolah.
Dalam hati aku sangat yakin jika Larry bukan dari keluarga sembarangan. Terlihat dari mobil yang menjemput dia dan supirnya yang terlihat bukan seorang supir. Apalagi Larry memanggil supir tersebut dengan panggilan "om" saat berbincang-bincang.
Aku semakin tertarik dengan kepribadian Larry yang menurutku aneh. Terlihat cuek, padahal perasa. Terlihat biasa padahal aku yakin jika dia juga jenius. Mungkin lebih jenius dibanding Alan atau Anna. Terbukti dia bisa masuk meskipun sudah pertengahan tahun ajaran sekolah.
Apakah semua yang aku pikirkan akan terbukti di kemudian hari?
Entahlah, semoga saja dia tidak lagi dingin dan bisa diajak untuk bicara layaknya seorang teman.
Atau semua ini hanya perasaanku saja yang aneh? Entahlah!
POV Anne end
***Selamat beraktifitas dan jangan lupa jaga kesehatan.
Maaf up tidak menentu karena kesibukan yang padat di RL. 😘😘😍✌️🙏
lanjut...