Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.27
Kandang Besi. Itu adalah nama arena bawah tanah yang terletak di bawah sebuah kedai minuman kumuh di pusat Kota Air Hitam.
Udara di bawah sini tebal dan lembap, berbau keringat basi, muntahan, dan karat logam yang kuat. Suara raungan penonton di lantai atas terdengar seperti gemuruh ombak yang menghantam tebing, diredam oleh lantai kayu tebal namun tetap menggetarkan debu di langit-langit.
Shen Yu menuruni tangga batu yang licin. Ia menunjukkan token besi berkarat milik Tabib Gui kepada penjaga pintu masuk seorang pria botak dengan separuh wajah terbakar.
"Hah, mainan baru si Tabib Gila," dengus penjaga itu, meludah ke lantai. Ia menatap perban yang merembes darah di bahu Shen Yu. "Kau tidak akan bertahan lima menit, Nak. Masuk ke Ruang Tunggu Daging di sana."
Shen Yu didorong masuk ke sebuah ruangan besar berjeruji besi yang mirip penjara bawah tanah.
Di dalamnya, sekitar dua puluh petarung duduk atau berdiri dalam berbagai kondisi. Ada budak berbadan besar dengan rantai di leher, penjahat buronan dengan mata liar, dan beberapa kultivator liar yang bertarung demi uang candu.
Mereka menatap pendatang baru itu. Melihat tubuh Shen Yu yang kurus dan terluka, sebagian besar membuang muka, menganggapnya tidak penting. Makanan empuk untuk pertandingan pembuka.
Shen Yu mencari sudut paling gelap dan duduk bersandar di dinding batu yang dingin. Ia memejamkan mata, menghemat energi. Di kepalanya, ia menghitung waktu. Su Ling punya waktu sampai besok pagi. Aku harus menang cepat.
Ia tidak merasakan sakit di bahunya, tapi ia tahu tubuhnya melemah karena kehilangan darah. Ia harus mengakhiri setiap pertarungan dalam beberapa jurus sebelum staminanya habis.
"Hei..."
Sebuah suara ragu-ragu terdengar dari arah kirinya.
Shen Yu tidak membuka mata. "Pergi."
"Itu benar kau, kan? Si sampah dari Asrama Kayu Hitam?"
Mata Shen Yu terbuka perlahan.
Di depannya berdiri seorang pemuda kurus dengan wajah seperti tikus. Matanya licik dan bergerak gelisah. Shen Yu mengenalinya.
Ma Liu.
Dia adalah salah satu kroco yang dulu sering menjilat Gou San (mantan bos asrama yang dilumpuhkan Shen Yu). Ma Liu adalah tipe pengecut yang hanya berani menindas saat bergerombol. Rupanya, dia juga berhasil lolos dari pembantaian sekte dan berakhir di lubang neraka ini.
"Wah, wah! Benar ternyata!" Ma Liu tertawa kecil, tapi tawanya gugup. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka. "Siapa sangka Shen Yu yang pendiam itu ternyata kultivator iblis yang membantai orang di perpustakaan? Gosip itu menyebar cepat di antara para pelarian, tahu?"
Wajah Shen Yu tetap datar. "Apa maumu?"
Ma Liu berjongkok di depan Shen Yu, senyum licik tersungging di bibirnya. Keberaniannya kembali saat melihat kondisi Shen Yu yang tampak menyedihkan.
"Dengar, Shen Yu. Aku tahu kau buronan. Ada harga tinggi di kepalamu dari Sekte Darah Besi yang sekarang menguasai gunung kita. Kalau aku berteriak sekarang dan memberi tahu penjaga siapa kau sebenarnya..."
Ma Liu sengaja menggantung kalimatnya, menikmati "kekuasaan" yang ia miliki.
"Tapi, kita kan teman seasrama dulu," lanjut Ma Liu, menggosokkan jari telunjuk dan jempolnya (isyarat meminta uang). "Beri aku sepuluh Batu Roh, dan aku akan tutup mulut. Atau... kalau kau tidak punya uang, saat giliran kita bertarung nanti, kau harus mengalah padaku."
Shen Yu menatap Ma Liu. Dulu, di sekte, ancaman seperti ini akan membuatnya panik dan keringat dingin.
Tapi sekarang?
Ia menatap Ma Liu seperti seseorang menatap lalat yang berdengung mengganggu. Tidak ada rasa takut. Tidak ada amarah. Hanya... kejenuhan.
"Kau selesai bicara?" tanya Shen Yu.
Senyum Ma Liu memudar. "Apa maksudmu? Kau tidak takut? Aku bisa menghancurkanmu di sini!"
Karena kesal diabaikan, Ma Liu mengulurkan tangannya untuk mencengkeram bahu kiri Shen Yu yang terluka parah. Ia berniat meremas luka itu agar Shen Yu menjerit kesakitan dan memohon ampun.
"Mari kita lihat seberapa keras kau berteriak kalau aku menekan in—"
Tangan Ma Liu mencengkeram luka di bahu Shen Yu dengan kuat. Darah segar kembali mengalir deras, membasahi perban.
Shen Yu tidak bergeming.
Pupil matanya tidak melebar. Napasnya tidak tertahan. Wajahnya sedatar permukaan danau beku.
"Hah?" Ma Liu bingung. Ia menekan lebih keras, kukunya menancap ke daging yang terbuka. "Kenapa kau diam saja?!"
Perlahan, tangan kanan Shen Yu bergerak. Cepat seperti ular kobra mematuk.
Ia mencengkeram pergelangan tangan Ma Liu yang sedang memegang lukanya.
Krak.
Suara tulang retak yang renyah terdengar pelan di sudut gelap itu.
"AAARGH—hmmph!"
Jeritan Ma Liu teredam seketika karena tangan kiri Shen Yu—tangan yang bahunya sedang terluka parah—melesat naik dan membekap mulut Ma Liu dengan kekuatan yang mengerikan.
Shen Yu menarik wajah Ma Liu mendekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
Mata Ma Liu melotot, penuh air mata kesakitan dan teror murni. Ia melihat ke dalam mata Shen Yu. Mata itu kosong. Seperti sumur tanpa dasar yang tidak memantulkan cahaya kehidupan.
"Kau tahu kenapa aku diam?" bisik Shen Yu, suaranya begitu pelan hingga hanya Ma Liu yang bisa mendengar. "Karena aku tidak merasakannya."
Cengkeraman di pergelangan tangan Ma Liu semakin kuat. Tulang-tulangnya bergeser di bawah kulit.
"Rasa sakit tubuh, Ma Liu. Yang menyuruhmu berhenti sebelum kau rusak," lanjut Shen Yu dingin. "Aku tidak punya sakit itu lagi. Artinya... aku tidak akan berhenti, bahkan jika tanganku sendiri hancur saat merobek tenggorokanmu."
Shen Yu melepaskan bekapan di mulut Ma Liu, tapi memindahkan tangannya ke leher si pemuda tikus. Cengkeraman Ular Mati. Sedikit tekanan saja, dan jalan napas Ma Liu akan putus.
"Dengar baik-baik," desis Shen Yu. "Jika kau membuka mulut busukmu itu untuk menyebut namaku atau masa laluku di luar sana... aku bersumpah, aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu, satu per satu, mulai dari jari kelingking sampai leher. Dan aku akan melakukannya sambil tersenyum."
"Mengerti?"
Ma Liu mengangguk panik, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. Ia tidak berani bersuara. Ia baru sadar, orang di depannya ini bukan lagi Shen Yu si murid pendiam. Ini adalah monster yang memakai kulit manusia.
Shen Yu melepaskannya. Ma Liu jatuh terduduk di lantai, memegangi pergelangan tangannya yang patah sambil terisak tanpa suara, menatap Shen Yu dengan ketakutan absolut.
Tepat saat itu, pintu jeruji terbuka dengan suara berisik.
Seorang penjaga arena masuk, memegang gulungan daftar petarung.
"PERTANDINGAN PERTAMA! Si Kanibal Gila... MELAWAN... Budak Tabib Gui!"
Penjaga itu menunjuk Shen Yu. "Kau! Si bahu berdarah! Giliranmu. Naik ke atas dan jadilah tontonan yang bagus sebelum kau mati."
Shen Yu berdiri perlahan. Ia tidak menoleh lagi pada Ma Liu yang gemetar di sudut.
Ia berjalan keluar dari sel, menaiki tangga menuju cahaya terang dan suara gemuruh di atas. Darah menetes dari bahunya di setiap langkah, meninggalkan jejak merah di batu tangga.