Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MALU
"Raniya... Kamu masih ingat aku?" Tanya Taufiq terlihat begitu senang. Senyumnya mulai merekah kembali setelah beberapa bulan itu lenyap.
"Ka-kamu?" Raniya menunjuk Taufiq seakan tidak percaya bahwa yang berada di hadapannya saat itu adalah Taufiq Haytham, cinta monyetnya waktu di SMA dulu.
"Raniya... Ini aku, Taufiq Haytham... Kamu masih ingat aku?" Tanya Taufiq lebih bersemangat.
Raniya lagi-lagi tersurut, dan membalikkan badannya membelakangi Taufiq. Dia mengusap-usap kasar wajahnya yang berantakan. "Ke-kenapa kamu ada di sini, hmm?" Tanya Raniya ketus.
"Seharusnya aku yang bertanya, Raniya. Ada apa dengan kamu?" Taufiq sedikit melangkah hendak menjangkau posisi berdirinya Raniya.
"Kamu jangan mendekat. Tetap saja di sana..." Cegat Raniya yang mendengar langkah Taufiq mengarah kepadanya.
Langkah Taufiq terhenti. "Ok... Aku akan berdiri di sini. Tapi... Kenapa?" Tanya Taufiq masih bingung. Dia terus mengamati tingkah Raniya dari belakang.
"A-aku... Aku malu..." Sahut Raniya cepat. Entah kenapa, kesadarannya pulih dengan sepenuhnya saat itu.
"Tapi kenapa? Apa yang terjadi, Raniya?" Tanya Taufiq semakin penasaran.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Bukan jawaban yang diterima Taufiq dari Raniya, akan tetapi malah tangisan Raniya yang semakin menjadi-jadi.
"Raniya... Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Taufiq kalang kabut kebingungan. Dia tidak mengerti harus apa dan bagaimana.
"Aku malu..." Ucapnya lagi dengan lirih.
"Malu kenapa?"
"Kamu melihatku tampak menyedihkan seperti ini... Aku malu Fiq..."
Mungkin cinta itu kembali, sehingga Raniya sadar dan melupakan sejenak tentang Nathannya.
"Ayo kemarilah, Raniya... Kita bicara..." Ajak Taufiq dengan lembut.
"Aku tidak mau... Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Fiq... Kamu pasti sudah bahagia dengan Renima 'mu... Sedangkan Aku..." Raniya begitu keras kepala. Dia tetap berdiri di posisinya tanpa mau menoleh kepada Taufiq untuk sedikit pun.
"Re... Renima?" Taufiq terbelalak. "Ka-kamu tahu dari mana tentang Renima?"
"Aku tahu... Dia perempuan cantik itu, kan? Dia yang cocok dan pas untukmu..." Sahut Raniya masih terdengar ketus.
Jadi... Raniya tidak tahu kalau Renima adalah adikku?~ Gumam Taufiq di dalam hatinya.
"Lalu... Apa yang terjadi denganmu, Raniya?" Taufiq mengalihkan percakapan mereka. "Tadi aku sempat dengar, kamu meminta agar suamimu tidak pergi. Memangnya suamimu pergi kemana?"
"Suami???" Raniya kembali linglung. Dia melangkah tanpa arah mencari-cari Nathan. "Sayang... Suamiku..." Panggil Raniya seperti orang kehilangan akal di sepanjang trotoar jalan.
"Raniyaaa..." Panggil Taufiq setengah berlari mengejar Raniya. Dia menahan lengan Raniya agar tidak terus berjalan dalam keadaan seperti itu.
"Lepaskan aku, Fiq..." Raniya memberontak. "Semua sudah tidak ada artinya lagi. Suamiku telah pergi untuk selamanya, Fiq... Dia kecelakaan dan meninggal... Hiks... Hiks... Hiks... Dia meninggalkan aku demi tugasnya di hari pernikahan kami... Dia sudah pergi selamanya..." Tubuh Raniya melemah. Beruntung Taufiq menangkapnya dengan cepat.
"Raniyaaa... Raniyaaa..." Taufiq terlihat begitu cemas. "Raniya bangun, Raniya..." Panggilnya berkali-kali.
Taufiq kebingungan. Dia sendiri tidak pernah tahu dimana rumah Raniya. Dengan terpaksa, Taufiq membawa Raniya ke rumahnya.
*****
"Bu Liaaan... Buuuu... Bu Liaan..." Seru Taufiq ketika memasuki rumahnya. Nafasnya terdengar sesak karena menggendong Raniya yang masih tidak sadarkan diri.
"Ada apa, Nak Taufiq? Kenapa teriak-teriak begitu?" Bu Lian datang dengan tergopoh-gopoh.
"Bu Lian... Taufiq mau minta tolong lagi, nggak apa-apa kan, Bu?" Taufiq terlihat memelas.
"Yaa Allah, Nak Taufiq..." Bu Lian refleks menutup hidungnya. "Siapa gadis ini? Kenapa dia bisa pingsan begini, Nak?" Bu Lian melemparkan banyak pertanyaan ketika melihat tubuh Raniya dalam gendongan Taufiq.
"Nanti Taufiq cerita ya, Bu... Dia teman Taufiq kok..." Sahut Taufiq seraya membawa Raniya ke dalam kamar Renima.
"Jadi... Ibu harus ngapain, Nak?" Bu Lian tampak bingung tak mengerti harus berbuat apa.
"Tolong Bu Lian gantikan pakaiannya. Pakai saja baju Renima. Taufiq tunggu di luar ya, Bu" Pinta Taufiq.
Tanpa babibu lagi, Bu Lian segera melakukan apa yang diminta Taufiq.
Siapa gadis ini? Wajahnya terlihat menyedihkan sekali... Apa yang terjadi padanya, ya? Dimana Nak Taufiq menemukan dirinya?~ Bu Lian bertanya-tanya sendiri ketika mengganti pakaian Raniya.
"Cantik..." Satu kata terbesit keluar begitu saja dari mulut Bu Lian ketika dia mengusap wajah Raniya.
"Apa dia bisa jadi ibu dari Samudra, Sunny dan Langit? Kasihan Nak Taufiq... Dia sudah bersusah payah selama ini mencari wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari ketiga anak Renima." Pikir Bu Lian sembari terus menatap wajah Raniya yang teduh.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍