Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirteen
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Suasana di dalam mobil sangat hening, Arion yang fokus menyetir sesekali melirik Arabelle dan Finn yang duduk di kursi belakang lewat kaca mobil di atas.
"Ekhem kita sudah sampai."
Arabelle keluar mobil diikuti Finn, wanita itu membelakan matanya saat tahu dimana mereka. Ini adalah salah satu tempat makan termewah di Jakarta, apa tak salah Arion mengajaknya kesini?
"Mama ayo."
Finn menggoyangkan tangan Ibunya, memberi isyarat untuk masuk ke dalam rumah makan besar itu saat melihat pria bernama Arion mengajaknya masuk. Anak kecil itu masih malu dan gugup pada Arion.
Mereka berduapun masuk ke dalam mengikuti Arion. Pertama masuk Finn sangat terpesona dengan rumah makan ini. Baru kali ini Ia melihat tempat makan semewah ini.
Biasanya jika Ia dan ibunya makan di luar, mereka hanya akan makan di restoran biasa yang terpenting bisa makan.
"Ayo duduk."
Finn masih menggenggam tangan Ibunya, Ia bingung sekarang. Saat mengangkat wajahnya menatap sang Ibu, wanita itu tersenyum manis sambil mengangguk memberi isyarat untuk duduk.
Anak kecil itu menatap kesekitar, disini tak banyak orang yang datang. Perhatiannya teralih kebagian pojok melihat ada ayah, ibu dan satu orang anaknya. Mereka terlihat bahagia, membuatnya iri karena tak pernah merasakan saat seperti itu.
"Finn mau pesan apa?" Tanya Arion.
"Em.." Finn menoleh pada Ibunya.
"Samain aja." Arabelle membantu menjawab dan Arionpun mengangguk lalu menyuruh pelayan menuliskan pesanan mereka.
Arion menatap Finn yang duduk didepannya. Finn adalah replika dirinya saat kecil, benar-benar mirip. Ia tak bisa membayangkan jika sampai Ibunya melihat Finn, bagaimana reaksi wanita itu ya? Rasanya tak sabar memberitahu.
"Finn kelas berapa?"
"Satu."
"Gimana sekolahnya seru?"
"Em.. iya."
Tangan Arion terangkat mengusap rambut Finn, ah Ia benar-benar menyayangi anak kecil ini. Apalagi setelah tahu jika Finn adalah putranya. Sejak pertama bertemu anak itu, pantas saja ada perasaan berbeda yang aneh. Ternyata mereka punya ikatan batin yang kuat.
Dan lain halnya dengan Arabelle, wanita itu langsung terdiam melihat apa yang dilakukan Arion pada putranya. Entah kenapa ada suatu perasaan yang hangat di dadanya melihat betapa Arion terlihat menyayangi Finn.
Siang ini saat sedang bersantai Ara di buat terkejut dengan kedatangan Arion ke apartemennya. Untuk apa pria itu datang? Dan sialnya Finn sedang libur sekolah.
Ingin sekali saat itu Ara marah, tapi melihat Arion yang terus menatap dalam putranya saat di apartemen dengan pandangan sendu sekaligus rindu membuat amarahnya sirna.
Lalu pria itu mengajaknya untuk makan bersama di luar, Ara sempat menolak tapi pria itu malah mengancam akan memberitahu pada Finn jika dirinya adalah ayahnya. Tentu saja Ara belum siap dan langsung setuju dengan ajakan Arion. Ini bukan waktunya mengungkapkan fakta itu, Ara butuh waktu yang tepat.
"Selamat menikmati."
Tiga menu utama steak juga makanan lain telah tersedia di meja makan mereka. Finn menatap berbinar hidangan itu, selama ini Ia selalu berharap suatu saat nanti bisa makan makanan ini dan sekarang akhirnya tercapai. Bahkan anak itu selalu menyisakan uang jajannya untuk bisa makan-makanan ini bersama Ibunya suatu saat nanti.
Dengan pelan Finn pun mulai memotong steaknya. Sedangkan Arion yang sedang memotong steak terdiam melihat putranya nampak kesusahan memotong daging. Kasihan sekali, apa Finn belum pernah mencoba makanan ini?
"Sini biar Om potongin."
Finn dengan malu-malu menyerahkan piringnya pada Arion, untung saja ada yang membantu, Ia tak bisa memotong daging itu.
"Finn pernah coba steak?"
"Belum." Cicitnya.
Hembusan nafas lirih keluar dari mulut Arion, betapa malang putranya. Ia berjanji mulai dari sekarang akan membahagiakan Finn, apa yang anak itu mau akan Ia berikan. Juga pastinya kasih sayang darinya.
"Aku lebih suka masakan Mama di rumah." Ucap Finn.
Dan Arabelle yang mendengar itu tersenyum kecil, pintar sekali putranya memujinya.
"Benarkah?" Tanya Arion seolah tak percaya.
"Tentu saja Dia suka masakanku, masakan Mama enak kan sayang?" Tanya Ara pada Finn dan anak itu pun mengangguk kecil sambil menikmati steaknya.
"Kalau begitu nanti aku ingin mencoba masakanmu."
Seketika itu juga Ara menoleh pada Arion, Ia menatap horor pria itu yang sedang menampakan senyum sinisnya. Sial, sepertinya Ia salah.
"Mama aku mau ke toilet."
"Mau Mama antar?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Oke."
Arion tersenyum lebar melihat sikap dewasa Finn, Ia tahu anak itu masih kecil tapi sikapnya sudah seperti orang dewasa. Membuatnya bangga.
"Ternyata putraku sangat pintar."
Ara menatap sebal Arion, wanita itu mencibir dalam hati. 'Tentu saja karena aku sendiri yant menjaganya dan mengajarinya dari kecil'
"Kenapa gak masuk kerja?"
"Gue kan udah keluar."
"Kata siapa?"
"Y-ya."
Dengan gerakan cepat Arion menggeser kursinya lebih dekat dengan Ara, pria itu memegang bahu wanita itu agar duduk menghadapnya.
"Saya gak ijinin kamu keluar, kamu udah nandatangin surat perjanjian."
"Surat perjanjian?"
"Gak inget?"
Arabelle menggeleng.
Arion lalu mendekatkan wajahnya dan otomatis Arapun langsung menutup matanya.
"Di surat itu ada perjanjian kontrak bekerja selama dua tahun, dan siapa yang melanggar akan terkena sangsi berupa denda uang senilai lima juta dollar." Bisik Arion di telinga wanita itu.
Ara merinding mendapat bisikan itu, wajah mereka sangat dekat. Ia merasa pipinya sudah memerah, ternyata jika dari dekat begini wajah Arion berpuluh kali lipat lebih tampan.
"Terpesona heh?"
Tersadar, Ara memalingkan wajahnya tapi penggerakannya terhenti saat Arion mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya cepat.
Kedua mata Ara terbelak lebar mendapat ciuman tiba-tiba itu, walaupun Arion hanya menempelkan bibir mereka saja, tapi itu sudah membuat jantungnya berdebar hebat.
"Mama?"
DEG!
Seketika itu juga Arabelle dan Arion langsung menjauhkan diri, lalu menatap anak kecil yang berdiri didepan meja mereka memperhatikannya dengan tak percaya.
Ara bisa melihat pandangan sendu di wajah putranya, membuatnya khawatir.
"Sayang ka-"
"Mama aku mau pulang."
Dan Finn pun langsung pergi meninggalkan kedua orang itu. Ara segera berdiri untuk menyusul putranya, tapi saat akan melangkah sikutnya di tahan.
"Aku anterin kalian pulang."
"Gak usah!"
"Ara-"
"APA?!"
Ara menatap tajam Arion.
"SEMUA GARA-GARA LO! FINN PASTI KECEWA BANGET SAMA GUE!"
Arion bisa melihat mata Ara yang sudah berkaca-kaca, Ia merasa bersalah.
"Maaf gue-"
"Jangan temuin gue lagi."
"Apa?"
"Lo gak denger? JANGAN TEMUIN GUE SAMA FINN LAGI!"
Setelah mengucapkan itu Ara langsung pergi berlari dari sana, Ia harus mencari Finn. Masih terngiang di pikirannya melihat wajah sendu sekaligus tak percaya Finn saat melihatnya tadi bersama Arion.
Ya Tuhan, anak itu pasti kecewa sekali padanya.
Saat sudah keluar restoran itu, Ara mengedarkan pandangannya mencari putranya. Tatapannya langsung tertuju ke salah satu tempat duduk di samping trotoar, disana ada Finn yang sedang duduk sendiri sambil menatap jalanan.
Dengan berjalan pelan Ara mendekati putranya yang sedang duduk sendiri. "Sayang."
Finn mengangkat wajahnya, terlihat Ibunya yang baru mendatanginya.
"Sayang maaf."
Finn berdiri dari duduknya lalu memeluk pinggang wanita yang di cintainya erat.
"Mama gak salah, Finn minta maaf."
"Gak Mama yang salah."
"Finn gak marah kok, tapi maaf Finn hanya kecewa. Selama ini Finn belum pernah melihat Mama dekat seseorang. Finn hanya terkejut tadi."
Ara langsung berjongkok, wanita itu semakin sedih melihat wajah Finn yang sudah memerah menahan air mata. Tangannya terulur mengusap kedua pipi putranya.
"Finn sayang Mama." Isak Finn lalu memeluk leher Ibunya erat.
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.