Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Rencana Almira
.
Gilang terus memijit pelipisnya sambil mendengarkan suara Riana yang masih meneriakkan kata-kata menyakitkan.
Almira sudah selesai membersihkan piring dan kembali duduk di ruang tengah seraya bermain ponsel. Wajahnya tetap tenang namun otaknya berpikir keras untuk memberi pelajaran pada Gilang dan keluarganya.
Bu Rosidah menghela napas panjang. Tubuhnya yang sudah tidak muda merasa capek karena terus berseteru.
“Menurut Ibu, kita juga butuh pembantu sendiri aja deh. Biar semua pekerjaan rumah bisa terurus dengan baik.”
Riana segera bergembira mendengarnya. “Betul Bu! Kan kita juga gak usah capek-capek lagi. Kuku aku juga bisa tetap cantik seperti biasanya.”
Lila yang sebelumnya diam juga mengangguk perlahan. “Kalau ada pembantu, aku bisa lebih banyak istirahat seperti yang disarankan dokter,” ucapnya lembut sambil memegang perutnya.
Semua mata kini tertuju pada Gilang yang duduk dengan wajah kusut di sofa. “Tapi sayang, siapa yang akan membayar gaji pembantu?”
"Ya kamu, lah, Mas,” sahut Almira dengan mata menyipit. "Kan yang punya kerjaan mapan dan gaji besar kan kamu. Gitu aja kok nanya?”
Gilang tampak berpikir keras. Selama ini dirinya tidak pernah mengurusi hal-hal seperti itu. Rumah selalu bersih meskipun mereka tidak memiliki pembantu. Tapi kini, tiba-tiba saja Almira mogok mengerjakan ini dan itu.
“Dan ingat, ya. Kalau kalian cari pembantu, pastikan kalian ketemu orang yang benar-benar kerja. Jangan yang cuma asal-asalan. Apalagi kalau sampai keliru orang jahat. Kalian pernah lihat berita, kan? Pembantu gorok leher majikan. Atau pembantu kabur setelah mencuri perhiasan." Almira sengaja menakut-nakuti mereka.
Bu Rosidah dan tiga orang yang lain saling pandang meneguk ludahnya, dan bergidik ngeri.
"Kalau begitu, kenapa tidak Rini saja?” sahut Bu Rosidah yang sudah termakan. Tentu saja ia tak berani mengambil resiko salah ambil pembantu.
Seketika semua mata menatap ke arah Almira. Yang ditatap pura -berpikir keras. " Aku sih gak papa. Tapi masalahnya boleh gak sama Sifa?"
“Katamu, temanmu kaya raya? Pasti pembantunya gak cuma satu, kan? Kalau kamu minta satu pasti tidak akan keberatan!"
Mbak Rini yang baru selesai menyetrika pakaian Almira muncul dari arah loundry, menyaksikan situasi yang sedikit mengerikan itu dengan tenang.
“Ada apa ya, Mbak? Kok kayaknya nama saya disebut?” tanya Rini yang berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Almira dengan menyatukan dua tangan di depan perut.
"Gini loh, Mbak Rini,” sahut Almira. "Mereka ingin Mbak Rini kerja di rumah ini sebagai asisten rumah tangga full. Mbak Rini mau gak?"
Mbak Rini mengangkat pandangannya, menatap ke arah keluarga Gilang bergantian. “Maaf sebelumnya. Tapi tugas saya apa ya? Masak saja atau beres-beres?”
“Ya semua lah," sahut riana. “Yang namanya pembantu itu ya ngerjain semua hal. Masa iya cuma masak aja?"
"Ya gak bisa gitu, Mbak. Pembantu di rumah orang kaya itu memiliki bagian masing-masing dan juga kontrak kerja,” potong Mbak Rini. “Saya bisa saja pindah dari rumah Bu Sifa ke sini asalkan bayarannya sesuai," lanjutnya.
“Memang di tempat Sifa kamu digaji berapa?” tanya Gilang penasaran.
Rini memfokuskan pandangannya pada Gilang. "Di rumah Bu Sifa saya hanya bertugas sebagai tukang masak saja, dan gajinya 2 juta per bulan. Jadi, kalau di sini saya harus mengurus segala macam, harusnya gaji saya lebih besar dari di rumah Bu Sifa. Tapi, karena menurut saya rumah ini juga tidak sebesar rumah Bu Sifa, tiga juta juga gak papa lah.”
“Tiga juta?" Empat orang berseru serempak.
"Tiga juta?" Gilang terkejut, matanya membulat. "Rini, kamu bercanda kan? Itu terlalu mahal!”
“Iya nih. Pasti kamu bohong. Kamu sengaja mau memanfaatkan keadaan, ya?” tuduh Riana.
Rini tertawa, "Gaji tiga juta itu sudah umum, Pak Gilang, Mbak Riana. Ini kota besar. Ya gak bisa disamakan dengan gaji pembantu daerah pinggiran.”
Almira memandang takjub. Tadi di kamar dia hanya memberi arahan sedikit, dan ternyata Mbak Rini bisa mengikuti instruksi nya dengan luar biasa.
"Tapi tiga juta?”
"Katanya elit, kok pelit?" ucap Almira dengan nada mengejek, namun senyum sinis tersungging di bibirnya. Selama ini dirinya bekerja sebagai tenaga suka rela. Sekarang, ia tak kan membiarkan keluarga Gilang menganggap pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang bisa didapatkan dengan gratis.
Seketika, harga diri Gilang terluka. Sindiran Almira seperti anak panah yang tepat mengenai target. Gilang merasa harga dirinya terluka. Selama ini ia selalu menyombongkan gaji besarnya. Mendengar kata “pelit” dari istri pertamanya membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berdiri dengan tegas. “Baiklah! Saya setuju. Mbak Rini bisa bekerja di sini dengan gaji 3 juta per bulan.”
Bu Rosidah dan anak-anaknya pun bergembira mendengar keputusan itu. Namun tak ada yang tahu bahwa semua ini sudah diatur oleh Almira dan Mbak Rini sebelumnya. Almira melirik Mbak Rini sambil tersenyum kecil dan gadis itu membalasnya dengan tatapan yang penuh makna.
“Terima kasih Pak,” ucap Mbak Rini dengan senyum hangat. “Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya di rumah ini.”
Gilang hanya mengangguk perlahan, belum menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam rencana yang sudah disusun dengan cermat oleh istri pertamanya.
*
*
*
Keesokan harinya.
Seperti sebelumnya, Gilang bangun terlambat. Lagi-lagi Lila lupa tidak membangunkan dirinya. Pria itu menggeram frustasi. Dulu, ketika dirinya masih hanya dengan Almira, hal itu tidak pernah terjadi. Untung hari itu tidak ada meeting penting. Dan untungnya juga, sudah ada sarapan di meja makan, karena kini mereka memiliki pembantu.
Gilang menghabiskan sarapannya dengan tergesa-gesa, lalu segera berangkat, tak ingin lagi mendapat teguran dari atasan.
Setelah Gilang berangkat, tiga wanita trio kwek-kwek duduk dengan santai di ruang tengah. Lila dan Riana fokus dengan ponselnya sedangkan Bu Rosidah menonton tayangan televisi.
Bak keluarga konglomerat yang bisa menikmati hidup dengan menjentikkan jari, sedikit-sedikit mereka berteriak memanggil Mbak Rini. Ada saja yang mereka minta.
“Mbak Rini," panggil Almira yang baru masuk ke ruang tengah.
"Ya, Bu?”
“Kalau capek mondar-mandir berhenti dan duduk. Nanti kalau pekerjaan rumah tidak selesai, itu salah mereka."
Bu Rosidah dan yang lain langsung menatap tajam ke arah Almira. “Itu kan memang gunanya dia sebagai pembantu?!" hardik Bu Rosidah.
“Pembantu juga manusia, bukan mesin robot. Kalau kalian terus mengganggu pekerjaannya, kapan dia selesai?!" balas Almira tanpa takut. “Tahu tidak, kelakuan kalian kaya OKB, orang kaya baru!"
"Kamu!” Bu Rosidah spontan berdiri dari duduknya dengan ujung telunjuk mengarah ke wajah Almira.
Almira duduk bersandar dengan tenang. Dua tangannya bersilang di depan dada. Dua pahanya saling bertumpuk. “Memang benar, kan? Atau kalian sudah jadi lumpuh, hingga ambil minum sendiri saja tak mampu?!"
Bu Rosidah kembali duduk dan memalingkan kepala dengan wajah sewotnya.
Mbak Rini segera melanjutkan pekerjaan mengelap pajangan hias yang ada di bufet.
Lila yang memperhatikan pergerakan gadis itu sejak tadi, tiba-tiba nyeletuk. "Mbak Mira, memangnya di rumah teman Mbak itu gak ada pembantu yang agak tua-an?”
Almira menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa memangnya?”
"Eng… menurutku lebih baik minta ditukar dengan yang sudah ibu-ibu saja.”
Kening Almira semakin berkerut mendengar perkataan Lila. Mencoba mencerna apa maksud dari kata-kata itu, hingga akhirnya ia menutup mulutnya yang terbuka. Ia tahu apa yang dikhawatirkan oleh Lila. Awalnya ia hanya ingin membuat Gilang mengeluarkan banyak uang saja. Tapi kekhawatiran Lila memberinya satu ide.
Seringai sinis muncul di sudut matanya. “Kalau kamu se-parno itu, kenapa tidak dibuat jadi kenyataan saja?"
semangat thor