NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 : Latihan Berjalan

...Happy Reading^^...

...💮...

Aku terbangun dengan cahaya pagi yang jatuh lembut di lantai kamarku.

Tirai putih gading berkibar pelan tertiup angin, membawa aroma khas kastil-batu tua, bunga kering, dan sedikit wangi obat penyembuh yang sudah sebulan terakhir menjadi bagian dari hidupku. Langit di luar jendela tampak cerah, seolah dunia dengan sengaja memilih hari ini untuk tersenyum.

Hari ini... aku akan belajar berjalan.

Jantungku berdebar tanpa bisa dicegah.

Sehabis aku dibantu pelayan mandi lalu berganti pakaian. Suara lembut memanggilku. "Azalea!"

Aku menoleh dan mendapati Bibi Edel, atau lebih tepatnya Edelweiss Miravale. Penyembuh tertinggi dari Kuil Suci Utara memasuki ruanganku.

Rambut merah mudanya disanggul rapi, jubah putihnya bersih tanpa noda, dan mata hijau mudanya menatapku dengan ketenangan yang selalu membuatku merasa... aman.

"Bagaimana perasaan kakimu pagi ini?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku.

Aku menggerakkan jari-jari kakiku perlahan. Masih ada rasa asing, seperti bukan milikku sepenuhnya, tapi... ada. Tidak mati. Tidak kosong.

"Masih sedikit lemah,"

"Tapi...aku bisa merasakannya,"

Senyum kecil muncul di wajahnya. "Itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini,"

Setelah hampir sebulan aku diobati oleh Bibi Edel, kini tibalah saatnya aku belajar untuk berjalan. Di dalam kamarku sudah ada Bibi Edel, Papa, Mama dan beberapa pelayan.

Di sudut ruangan, aku tersenyum pada Papa dan Mama yang menyaksikan diriku belajar berjalan. Kehadiran mereka begitu kuat, Papa dengan postur tegaknya yang tegar meski matanya menyimpan kecemasan. Mama yang menggenggam sapu tangan dengan kedua tangan, seolah takut jantungnya akan jatuh jika dilepaskan.

Beberapa pelayan berdiri agak jauh, menunduk hormat, berusaha tidak terlihat namun jelas ikut menahan napas.

Asher tidak ada.

Papa bilang dia banyak pekerjaan tapi firasatku mengatakan bukan itu. Asher sedang menjauhiku sementara karena ceritaku tentang masa depan keluarga dan wilayah ini. Tampaknya Asher butuh waktu untuk mencerna semuanya.

Aku tersenyum menatap Bibi Edel yang sangat bersemangat untuk membantuku berjalan.

"Akhirnya kamu belajar berjalan lagi! Bibi seneng liatnya!" seru Bibi Edel dengan penuh semangat.

"Ayo kita mulai!" aku menganggukkan kepalaku dengan senyuman. Bibi Edel segera membantuku untuk berdiri dari kasurku. Ia berdiri di samping ranjangku, satu tangannya terulur.

Aku menatap tangan itu sejenak, tangan yang telah menyelamatkanku dari kegelapan.

Dari kemungkinan tidak pernah berdiri lagi.

Aku menggenggamnya.

"Pelan-pelan," katanya.

"Dengarkan tubuhmu. Jangan melawan rasa takut, tapi jangan biarkan ia memimpin," Aku mengangguk.

Dengan bantuan Bibi Edel, aku memiringkan tubuhku dan duduk di tepi ranjang.

Kakiku menggantung, menyentuh lantai marmer yang dingin.

Sensasi dingin itu membuatku terkejut dan entah kenapa, hampir menangis.

Aku benar-benar merasakannya. Kaki benar-benar merasakan lantai. Kakiku yang awalnya mati rasa dan tidak bisa digerakkan.

"Bagus!" kata Edel.

"Sekarang...berdiri!"

Napas kutarik dalam-dalam.

Aku menekan telapak kakiku ke lantai.

Seketika dunia terasa goyah.

Kakiku gemetar hebat, seolah menolak perintah yang kupaksakan.

Lututku bergetar, otot-ototku menjerit, dan untuk sepersekian detik, ketakutan itu kembali ketakutan saat aku terbangun di dunia ini, di tubuh ini.

Saat aku mencoba bergerak dan tidak ada apa-apa, selain kehampaan.

Tanganku mencengkeram Edel lebih kuat.

"Aku di sini!" katanya cepat, tegas.

"Kamu tidak akan jatuh!"

Aku berdiri.

Tidak sempurna.

Tidak anggun.

Tapi aku berdiri.

Air mata mengabur di mataku tanpa izin. Aku tidak tahu apakah itu karena sakit, lega, atau rasa syukur yang terlalu besar untuk ditampung dadaku.

"Papa..." suaraku bergetar.

Aku melihat Papa menutup matanya sejenak, lalu mengangguk pelan.

Rahangnya mengeras, menahan emosi yang selama ini ia kubur demi terlihat kuat di hadapanku.

Mama sudah lebih dulu menangis.

"Kamu melakukannya. Sayangku," bisiknya.

"Kamu benar-benar melakukannya."

Aku ingin melangkah. Sungguh ingin. Tapi tubuhku seolah berkata: jangan terlalu cepat.

"Kita hanya berdiri hari ini," ucap Bibi Edel, seakan membaca pikiranku.

"Berjalan adalah urusan berikutnya,"

Namun aku menggeleng. "Dua langkah!" Seruku.

"Tolong...dua saja!"

Ruangan itu sunyi.

Bibi Edel menatapku lama, lalu mengangguk kecil. "Baik. Dua langkah!"

Tapi secara tiba-tiba, aku hampir oleng jika tidak ditahan oleh Bibi Edel.

"Kamu tidak apa-apa, sayang?" wajah Bibi Edel berkerut terlihat sangat khawatir.

"Aku tidak apa-apa, Bi. Ayo kita lanjutkan," aku memberikan senyuman manisku pada Bibi Edel. Lalu aku menoleh pada Papa, Mama dan lainnya yang menatapku dengan khawatir.

"Aku tidak apa-apa, sungguh!"

"Sebaiknya biar aku saja yang membantu Azalea untuk berlatih berjalan. Jika kamu yang membantu, takutnya tubuhmu tidak kuat untuk menahan tubuh Azalea," Papa memberikan saran untuk mengganti posisi Bibi Edel. Namun sayangnya, Bibi Edel tidak setuju dan kekeh untuk membantu berjalan.

"Tidak! Biarkan aku saja yang membantu Azalea!" tapi Bibi Edel langsung membantahnya karena kekeh ingin dia sendiri yang membantu diriku.

Lalu hampir semua orang di ruangan itu menertawakan Papa. Papa jelas tidak senang karena Bibi Edel tidak setuju untuk berganti posisi dengan Papa seperti saran Papa tadi.

Tampaknya ada sedikit persaingan di sini hanya untuk membimbingku berjalan?

"Mari kita mulai!"

"Mulai melangkah, Aza sayang. Pelan-pelan saja!" perintah lembut Bibi Edel sambil memegangi tangan dan pinggangku.

Aku mulai melangkahkan kakiku pelan-pelan, layaknya seorang bayi yang baru belajar berjalan untuk pertama kalinya.

Satu tangan Bibi Edel menopang pinggangku untuk menjaga keseimbangan tubuhku dan tangan lainnya mengenggam satu tanganku untuk menjaga keseimbangan tubuhku.

"Sakit?" tanya Bibi Edel setelah aku berhasil melangkahkan kaki kananku. Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban 'tidak' lalu dia memerintahkan.

"Kalau begitu, kita lanjutkan kembali. Sekarang langkahkan kaki kirimu secara perlahan sayang,"

Aku pun melangkahkan kaki kiriku pelan-pelan ke depan dengan topangan dari Bibi Edel.

Dan akhirnya, dua langkah pertama telah aku selesaikan. Aku terharu karena kakiku berhasil melangkah, walau hanya dua langkah tapi tetap saja aku terharu.

Aku menatap Bibi Edel dan mata Bibi Edel pun ikut berkaca-kaca. Aku memeluk Bibi Edel.

Waktu awal bertemu, aku merasa bingung dan takut dengannya. Karena Bibi Edel muncul langsung mengeluarkan suara yang cukup kencang. Namun semakin kenal dan sering mengobrol, aku jadi tahu seperti apa Bibi Edel. Dari ceritanya, Asher dan Azalea adalah dua keponakan yang sangat dia sayangi karena hanya kami yang mengerti dirinya ketimbang keponakan-keponakannya yang lain. Oleh karena itu, Bibi Edel langsung datang ke wilayah Lorienfield jika mendengar kabar salah satu atau bahkan kami berdua sakit.

Bahkan dalam keadaanku yang seperti ini, Bibi Edel mengeluarkan kekuatan penyembuh tingkat tingginya untuk menyembuhkanku. Dia bahkan rela bolak balik kastil Lorienfield dan Rumah Kaca untuk membuatkanku obat, dia bahkan tidak memperdulikan dirinya sendiri yang bisa kelelahan mengurus diriku.

Tapi, terima kasih Bibi Edel.

Azalea senang kamu di sini, sehingga kamu kemungkinan besar tidak menjadi korban dari kecelakaan kereta kuda yang akan terjadi di masa depan.

...💮...

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story^^...

...Dipublikasikan pada tanggal 4 Febuari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!