Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 13
Ketika dua Anak buah yang di kirim Ares datang, Ana bersiap untuk menyerang mereka dengan balok kayu yang ia temukan di dalam gudang. Ia menunggu sampai pintu terbuka.
Langkah kedua orang itu terdengar mendekat. Mereka seperti asik berbicara.
"Bos bilang, akan melakukan nya sekali tembak!" Ucap seorang dari mereka.
Dan yang lain nya menjawab dengan kalimat yang lebih mengerikan "Benarkah, bos juga tadi bilang akan di potong menjadi beberpa bagian!"
Obrolan mereka terdengar kejam sehingga Ana terdiam pucat dengan tangan gemetar memegang balok.
Tiba-tiba tubuh nya terkulai lemah lalu pingsan, ia tidak sanggup mendengar eksekusi diri nya yang mengerikan.
Obrolan kedua orang itu masih berlanjut dan ternyata mereka sedang membahas. Tentang perburuan yang akan di lakukan oleh Ares Minggu depan.
Ana tidak mendengar semua obrolan mereka hingga selesai, sehingga salah paham dan
Niat nya untuk melarikan diri gagal.
Kedua orang itu terkejut saat mendapati tubuh Ana yang tergolek tak sadarkan diri di lantai.
Mereka langsung membawa Ana keluar dari gudang dan meletakan nya di sofa ruang tengah.
Ares yang saat itu menunggu mereka di sana ikut terkejut saat mereka datang menggotong Ana yang pingsan.
" Kenapa dengan gadis ini?" Tanya nya panik.
Salah satu dari mereka menjelaskan " Bos, kami juga tidak tahu? Saat kami membuka pintu dia sudah tak sadarkan diri!"
Ares mendekat lalu melatakan telunjuk nya di dekat hidung Ana. Untuk mengecek pernafasan nya.
"Dia hanya pingsan!"
"Lalu kita harus apa bos?"
Ares berpikir apa yang harus ia lakukan. Sebab saat ini Hansen sedang tidak ada di mansion.
Ia menatap pada Ana yang masih terbaring di sofa " Apa kalian tidak memberi nya makan seharian ini?" Marah nya.
Kedua orang itu panik "kami memberi nya makan bos, bahkan semua makanan nya habis tak tersisa!" Jelas nya, panik.
Ares terdiam bingung 'lalu kenapa gadis ini bisa pingsan?' batin nya.
Karena tidak mau ambil resiko ia akhirnya menghubungi Hansen, mengatakan kalau Ana di temukan tak sadarkan diri.
.
.
Tidak lama setelah mendapat kabar dari Ares, Hansen Kembali ke mansion. Ia melihat Ana tergolek lemah di sofa, raut wajah Hansen terlihat cemas. Namun ia terus menolak perasaan nya yang perduli pada Ana.
Hansen melirik tajam pada Ares dan kedua anak buah nya, "Masalah sekecil ini saja kalian tidak bisa atasi!" Ketus nya dingin.
Mereka bertiga tertunduk takut.
Hansen menggendong ana naik ke lantai Atas kamar nya, sikap nya sangat jelas dia menghawatirkan kondisi Ana.
"Hubungi dokter!" Tegas nya.
Mereka menatap, hingga Hansen menghilang di lantai Atas.
"Bos, apa bos Hansen berubah pikiran?" Tanya salah satu anak buah.
Ares merenungi kalimat anak buah nya "Entahlah, tapi sikap bos.. jelas sekali khawatir dengan nona Ana!" Balas nya.
Ares segera menghubungi dokter pribadi untuk datang ke mansion.
Dalam setengah jam dokter datang memeriksa kondisi Ana yang masih belum sadar.
Hansen memperhatikan dokter yang sedang melakukan tugas nya, " Apa terjadi sesuatu dengan nya?"
"Tidak ada tuan, dia baik-baik saja!"
Hansen mengerutkan kening "Kenapa dia bisa pingsan?"
Sang dokter membereskan perlengkapan medis nya " dia pingsan Karena syok berat! Jangan khawatir tuan, sebentar lagi dia akan sadar" Jelas nya.
Hansen terdiam mendengar ucapan sang dokter, ia menatap lurus tubuh Ana yang kecil dan lemah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan!" Ucap sang dokter berlalu pergi meninggalkan kamar.
Hansen berdiri menatap dengan wajah muram, tidak lama ia berjalan keluar dari kamar.
Di saat bersamaan ketika Hansen akan menutup pintu. Ana tersadar dari pingsan nya. pandangan nya sedikit kabur namun jelas tertuju pada Hansen yang tidak memakai topeng.
Ana tertegun kaget, ia kembali menutup mata nya dengan cepat lalu menunggu Hansen benar-benar pergi dari sana.
Ketika mendengar suara pintu tertutup Ana membuka mata nya perlahan. Memastikan kalau Hansen sudah pergi.
.
.
.
Bersambung...