Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suara mesin pemantau detak jantung berbunyi semakin lambat di dalam ruang darurat.
Beep... beep... beeep...
Keluarga pasien di luar sana mulai menangis histeris mendengar bentakan-bentakan panik dari para perawat.
"Dokter Dimas, tekanan darah pasien terus drop drastis!" teriak Siska dengan wajah pucat pasi.
Dr. Dimas menggertakkan giginya keras-keras, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Sial, robekan pada aorta torakalisnya terlalu parah!" maki dr. Dimas dengan suara bergetar.
Ia menatap pisau bedah di tangannya yang mendadak terasa sangat berat.
"Kalau kita jahit pembuluh darah utama itu dengan metode konvensional, pasien bisa mati di meja operasi dalam waktu kurang dari lima menit," sambung dr. Dimas panik.
Dokter-dokter senior lain yang berdiri di sekitarnya hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Tidak ada yang berani membuka suara karena mereka tahu taruhannya adalah lisensi kedokteran mereka sendiri.
"Cepat siapkan alat kejut jantung!" perintah dr. Dimas dengan suara yang mulai kehilangan wibawanya.
Krzzt!
Alat pacu jantung ditekan ke dada pasien, namun garis pada monitor tetap lurus tanpa ada perubahan.
Pasien itu benar-benar berada di ambang gerbang kematian.
"Dok, detak jantungnya berhenti!" seru Siska panik sambil menatap layar monitor.
Suara alarm melengking panjang menggema di seluruh ruangan IGD.
Beep......!
"Menyingkir lah kalian semua dari sana," ucap sebuah suara datar dari sudut ruangan.
Semua orang langsung menoleh ke sumber suara dengan tatapan terkejut.
Arka berdiri di dekat dinding dengan tangan dilipat di saku celananya.
Ekspresi wajahnya tampak kosong, persis seperti orang dungu yang tidak tahu situasi genting.
"Apa yang kau katakan, Dokter Arka?!" bentak dr. Dimas dengan mata melotot merah.
"Kau mau membuat kekacauan di saat pasien sedang sakaratul maut?!" lanjut dr. Dimas penuh amarah.
Arka melangkah pelan mendekati brankar dengan tatapan mata yang sedikit sayu.
"Metode penjahitan konvensional yang kau pakai itu salah besar, Dok," gumam Arka dengan nada bicara yang pelan.
"Ha? Apa kau bilang?!" cemooh dr. Dimas sambil tertawa sinis di tengah kepanikannya.
"Kau hanya seorang pembersih lantai yang kebetulan nyasar jadi dokter, beraninya mengajari aku?!" teriak dr. Dimas.
Para perawat di dalam ruangan langsung saling berpandangan dengan rasa ngeri.
Mereka mengira Arka benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya karena sering diejek.
"Jika kau menyayat dinding aorta itu dari sisi samping kiri dengan sudut empat puluh lima derajat, pendarahannya akan berhenti seketika," ucap Arka tanpa memedulikan makian dr. Dimas.
"Diam kamu, si bodoh! Jaga mulutmu atau aku pastikan besok kau dipecat!" ancam dr. Dimas sambil mendorong bahu Arka.
Arka tidak melawan sama sekali, tubuhnya terdorong ke belakang dengan gontai.
"Kalau kau tetap membiarkannya, pasien itu akan mati dalam waktu tiga puluh detik karena tamponade jantung," kata Arka dengan suara datar.
Suasana di dalam ruang IGD mendadak hening mencekam.
Siska menatap Arka dengan perasaan campur aduk antara heran dan ketakutan.
"Dokter Dimas, apa yang harus kita lakukan? Waktu kita tinggal sedikit," bisik Siska dengan suara gemetar.
Dr. Dimas menatap layar monitor lalu menatap wajah Arka yang tampak sangat polos dan bodoh.
"Keluar dari sini sekarang juga, Arka! Jangan bikin kepala batuku semakin pusing!" usir dr. Dimas dengan geram.
Arka menghela napas pendek lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Sayang sekali, padahal nyawa manusia lebih berharga daripada ego seorang spesialis," gumam Arka cukup keras untuk didengar semua orang.
"Kurang ajar!" maki dr. Dimas yang hampir melayangkan tangannya untuk menampar Arka.
Sebelum tangan dr. Dimas menyentuh pipinya, Arka dengan gerakan secepat kilat meraih pisau bedah steril dari atas nampan.
Sshh!
Gerakan tangan Arka begitu mulus, ringan, tanpa keraguan sedikit pun.
Sebelum dr. Dimas sempat berteriak, Arka sudah menorehkan pisau itu tepat di sela iga pasien dengan presisi mikroskopis.
Pluk!
Darah segar yang tadinya menyembur liar langsung berhenti mengalir dalam satu sentuhan gerakan tangan Arka.
Semua orang di ruangan itu terperanjat kaget sampai-sampai ada perawat yang menjatuhkan nampan obatnya ke lantai.
Prang!
"Apa... apa yang baru saja kamu lakukan?!" seru dr. Dimas dengan bola mata hampir keluar dari kelopaknya.
Arka tidak menjawab, ia tetap berdiri tenang dengan pisau bedah kecil di antara jari-jarinya.
Ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi linglung seperti biasa, seolah-olah apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah ketidaksengajaan.
"Aduh... tanganku kepeleset," ucap Arka dengan suara canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Kepeleset kepalamu itu?!" bentak dr. Dimas dengan histeris.
Namun, sebelum dr. Dimas sempat menarik kerah baju Arka, suara dari mesin pemantau tiba-tiba berbunyi lagi.
Beep... beep... beep...
Garis lurus di layar monitor itu mendadak kembali membentuk gelombang detak jantung yang stabil.
Tekanan darah pasien perlahan-lahan naik kembali ke angka normal.
Seluruh tenaga medis di ruang IGD tertegun bisu menatap layar monitor secara bergantian.
Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.
"Denyut nadi pasien kembali normal, Dok!" teriak Siska dengan suara bergetar hebat.
Dr. Dimas menoleh ke arah brankar dengan tubuh gemetar ketakutan.
Ia melihat luka robekan di dada pasien tertutup rapi dengan teknik jahitan sempurna yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"B... bagaimana mungkin..." gumam dr. Dimas dengan wajah sepucat mayat hidup.
Arka memutar tubuhnya perlahan lalu berjalan mundur ke arah pintu keluar.
"Saya mau kembali membersihkan lantai dulu ya, Dok," ucap Arka dengan senyum polos yang menyebalkan.
"Sialan... siapa sebenarnya bajingan bodoh ini?" batin dr. Dimas sambil mengepalkan kedua tangannya hingga berdarah.