NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenggat Hari Selasa

Pagi hari di kamar kos Jalan Melati dimulai dengan sisa-sisa keheningan malam sebelumnya. Selepas fajar menyingsing, Davin telah bersiap mengenakan setelan jas formal dan dasi rapi, berusaha menutupi wajahnya yang tampak kuyu. Sebelum melangkah keluar pintu, ia sempat menatap Keira yang sedang merapikan meja plastik, mencari kata-kata penenang. Namun, Keira hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan menyuruhnya berhati-hati.

Setibanya di lantai sepuluh gedung perkantoran Jalan Sudirman pukul sembilan pagi, atmosfer divisi keuangan terasa dingin.

Tenggat penyerahan dokumen pendukung untuk selisih anggaran Rp300 juta pada pos logistik proyek Bandung telah tiba.

Davin duduk di ruang kerja sementaranya, merapikan surat klarifikasi formal yang ia susun. Menjelang siang, ia menyerahkan berkas tersebut kepada tim verifikasi dan auditor independen. Pak Hendra, ketua tim auditor, memeriksa lembar demi lembar berkas tersebut. Alisnya berkerut, lalu ia melepas kacamata bacanya dan menatap Davin.

"Surat klarifikasi ini sudah memuat penjelasan tertulis Anda, Saudara Davin. Namun, lembar bukti transaksi fisik asli dari vendor logistik dan catatan pengiriman barang tahap kedua yang kami minta belum lengkap," ujar Pak Hendra tenang di ruang rapat. "Tenggat waktu penyerahan dokumen pendukung resmi telah berakhir hari ini, dan kekurangan dokumen ini akan dicatat dalam berita acara pemeriksaan lanjutan."

Davin merasakan tenggorokannya kering. "Kami masih mengupayakan konfirmasi ulang dari pihak ketiga, Pak..."

"Proses pemeriksaan tetap berjalan, dan catatan ketidaklengkapan ini akan dilaporkan kepada manajemen pusat," potong Pak Hendra sambil mencatat sesuatu.

Meskipun Davin belum dinyatakan bersalah secara hukum pada hari itu juga, catatan kekurangan dokumen tersebut merupakan pukulan telak. Ia meninggalkan ruang rapat dengan kepala berdenyut nyeri.

Beberapa kilometer dari sana, di sudut kamar kos Jalan Melati, dunia Keira bergerak ke arah yang berbeda.

Menjelang pukul sebelas siang, ponsel di atas meja berdering. Panggilan suara masuk dari Rian.

"Halo, Kei! Klien digital yang kemarin tertarik sama portofolio ilustrasi lu udah ngecek draf revisi zine kita. Mereka mau ngasih tawaran komisi kecil buat ilustrasi banner kampanye produk kreatif mereka. Lu berminat?" ujar Rian antusias.

Jantung Keira berdegup lebih kencang. Tawaran komisi profesional secara langsung adalah langkah nyata yang selama ini ia impikan.

"Boleh, Rian," jawab Keira tenang. "Tapi... boleh tahu detail pekerjaannya? Berapa banyak ilustrasi yang diminta, dan bagaimana ketentuan revisinya?"

"Mereka minta dua ilustrasi karakter gaya minimalis dengan tema keseharian urban. Tenggat pengerjaannya empat hari, dan revisi maksimal dua kali."

Keira mencatat poin-poin penting itu. Ia mulai belajar menghargai waktu dan tenaganya.

"Untuk tenggat empat hari dan dua kali revisi, aku sanggup. Lalu, bagaimana dengan ketentuan honor dan pembayarannya?"

"Mereka sepakat ngasih honor awal komisi pemula sebesar tujuh ratus ribu rupiah, dengan sistem pembayaran uang muka sebesar 30 persen di awal setelah draf kontrak kerja digital disetujui sekitar dua ratus sepuluh ribu rupiah dan pelunasan sisa empat ratus sembilan puluh ribu rupiah setelah ilustrasi final diserahterimakan," jelas Rian.

Bagi Keira, angka tersebut adalah kedaulatan finansial yang berarti. Uang itu belum mengubah hidupnya, tetapi itu adalah bukti nyata bahwa goresan tangannya memiliki nilai ekonomi.

"Aku setuju dengan ketentuan itu, Rian. Tolong sampaikan ke kliennya, aku siap mulai ngerjain draf kasarnya hari ini."

Setelah sambungan telepon ditutup, Keira menatap buku sketsa kecilnya.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pukul dua siang, sebuah pesan kilat masuk dari Davin.

“Kei... hari ini di kantor benar-benar kacau. Dokumen yang aku serahkan dicatat belum lengkap oleh tim auditor. Aku butuh kamu di sini, atau setidaknya... angkat teleponku sebentar. Kenapa dari tadi kamu susah dihubungi?”

Keira menarik napas panjang. Ia meraih ponselnya, mengetik balasan dengan hati-hati:

“Aku di kos, Vin. Tadi aku lagi fokus ngerjain sesuatu. Maaf kalau nggak langsung angkat telepon. Kamu istirahatlah dulu, nanti kita ngobrol pas kamu pulang.”

Menjelang sore, email dari perantara klien Rian masuk, menyatakan bahwa draf kontrak kerja digital telah disetujui dan proses administrasi uang muka sedang berjalan.

Di saat yang sama, pesan baru masuk dari Davin: “Kamu sekarang lebih sibuk sama urusanmu sendiri, ya, Kei? Saat aku jatuh kayak gini, kamu malah asyik sendiri.”

Keira menatap layar ponsel yang menyala redup di atas meja plastik. Ia meletakkan pensilnya perlahan, menaruh ponselnya dalam posisi terbalik, lalu kembali menatap lembar sketsa yang harus diselesaikannya.

Malam merayap perlahan di luar jendela kamar kos Jalan Melati. Langit yang sejak siang mendung kelabu kini menumpahkan rintik hujan yang mengetuk-ngetuk atap seng, menciptakan suara bergemerisik yang monoton. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu meja plastik yang menyorot langsung ke atas lembar kertas gambar Keira.

Pukul tujuh malam, deru motor matic terdengar memasuki halaman kos. Suara standar motor yang diturunkan dengan kasar menjadi penanda kedatangan Davin.

Jantung Keira berdegup sedikit lebih cepat. Ia menghentikan goresan pensilnya, merapikan beberapa pensil warna di tepi meja, lalu menunggu di dekat pintu.

Beberapa detik kemudian, tiga ketukan pelan terdengar ketukan yang tidak lagi bernada sabar, melainkan membawa beban kelelahan dan kekesalan yang tertahan.

Keira membuka pintu.

Davin berdiri di ambang pintu dengan bahu yang merosot. Air hujan tampak membasahi bagian bahu kemejanya yang kusut. Tanpa menunggu aba-aba, lelaki itu langsung melangkah masuk, melepaskan tas kerjanya begitu saja ke lantai, lalu menjatuhkan diri ke tepi tempat tidur. Ia tidak memeluk Keira seperti biasanya; ia hanya duduk membisu dengan kepala tertunduk dan kedua tangan memijat pelipisnya yang berdenyut.

Keira menutup pintu, menguncinya rapat-rapat, lalu berbalik menghadap kekasihnya. Ia mengambil handuk kecil dari gantungan dan menyerahkannya kepada Davin dengan lembut.

"Minumlah air hangat dulu, Vin. Bajunya basah, nanti masuk angin," ucap Keira pelan, meletakkan segelas air putih di atas meja kecil dekat tempat tidur.

Davin mendongak. Sorot matanya menyiratkan kepedihan bercampur tuduhan yang tajam. Ia mengabaikan handuk dan segelas air itu, lalu menatap lurus ke arah Keira.

"Aku hancur hari ini, Kei," suara Davin parau, nyaris berbisik namun sarat tekanan. "Pemeriksaan tadi siang... mereka resmi mencatat kekurangan dokumenku. Manajemen pusat bakal tahu. Karierku di divisi keuangan benar-benar di ujung tanduk."

Keira menarik napas dalam-dalam, merasakan empati yang langsung bergejolak di dadanya. Ia mendekat, duduk di kursi plastik kecil di hadapan Davin. "Aku tahu, Vin. Aku minta maaf keadaannya jadi serumit ini. Tapi... apa nggak ada jalan lain buat nyelesaiin masalah dokumen itu secara prosedur?"

Mendengar pertanyaan itu, Davin justru tertawa kecil sebuah tawa hambar yang terdengar getir. Ia menggelengkan kepala perlahan. "Prosedur? Kalau aku ngikutin prosedur murni tanpa celah, namaku udah bersih sejak minggu lalu. Tapi masalahnya nggak semudah itu, Kei. Ada hal-hal di kantor yang harus dijaga, dan sekarang... orang-orang seperti Nadia justru memanfaatkannya buat menjatuhkan posisiku."

Davin bangkit berdiri dengan gerakan tiba-tiba, membuat kursi kecil bergeser kasar. Ia melangkah mondar-mandir di dalam kamar yang sempit itu, lalu matanya tak sengaja menangkap tumpukan kertas sketsa dan buku catatan kecil di atas meja plastik milik Keira.

Langkah Davin terhenti. Ia mendekati meja tersebut, menatap lembar demi lembar ilustrasi komisi yang baru saja dikerjakan Keira sore tadi.

"Ini apa?" tanya Davin dingin, menunjuk lembar sketsa bergambar siluet urban dengan ujung jarinya. "Selama aku sibuk jungkir balik ngurusin masa depan kita dan masalah kantor yang nyaris bikin aku gila... kamu malah asyik menggambar begini?"

Keira ikut berdiri, menatap Davin dengan tenang namun tegas. "Ini bukan sekadar iseng, Vin. Ini pekerjaan ilustrasi. Aku dapet tawaran komisi dari klien digital lewat perantara Rian, dan aku baru saja nyelesaiin draf kasarnya hari ini."

Davin menoleh cepat, menatap Keira dengan tatapan tak percaya. Alisnya bertaut tajam.

"Pekerjaan? Ilustrasi? Sejak kapan kamu jadi punya pekerjaan di luar rumah, Kei? Dan kenapa kamu nggak pernah bilang-bilang sebelumnya?"

"Aku baru dapet tawarannya kemarin, dan aku mutusin buat nyoba," jawab Keira tanpa gentar, mempertahankan suaranya agar tetap stabil. "Aku cuma pengen punya kegiatan yang jelas, Vin. Sesuatu yang bisa aku kerjain sendiri."

Davin mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Napas lelaki itu mulai memburu.

Di tengah keputusasaannya menghadapi ancaman kehancuran karier di kantor, kenyataan bahwa Keira mulai melangkah keluar dari bayang-bayangnya justru terasa bagi Davin sebagai sebuah bentuk pengkhianatan kecil.

"Kegiatan yang jelas?" suara Davin meninggi, memecah kesunyian malam di dalam kamar kos. "Kamu pikir dunia luar itu main-main? Aku lagi di ambang kehancuran, Kei! Aku butuh kamu ada di sampingku, bukan malah sibuk ngurusin gambar-gambar nggak penting kayak gini!"

Keira menatap tajam ke dalam mata lelaki yang selama ini melindunginya, namun kini justru mencoba mengekangnya dalam keputusasaan. Untuk pertama kalinya, Keira tidak menunduk, tidak meminta maaf atas apa yang ia sukai, dan tidak membiarkan rasa bersalah melumpuhkan lidahnya.

"Aku nggak pernah ninggalin kamu, Vin," ucap Keira tegas, menatap lurus tanpa berkedip. "Tapi aku juga berhak punya duniaku sendiri. Hidupku nggak berhenti cuma karena masalah kantor kamu lagi pelik."

Kalimat itu menggantung berat di udara kamar kos yang sempit. Davin tertegun, menatap perempuan di hadapannya seolah ia baru saja melihat orang asing yang sama sekali tidak ia kenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!