Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kriet.
Suara pintu ruang kelas yang terbuka perlahan langsung menarik perhatian beberapa murid di dalam.
Tommy melangkah masuk dengan bahu sedikit membungkuk dan kepala tertunduk seperti biasa.
Bagas yang sedang duduk di atas mejanya langsung menghentikan tawanya bersama Reno.
"Loh, kok masih hidup lo, Tom?" sapa Bagas dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
"Gue kira lo udah disuruh kemas-kemas barang dari sekolah ini," tambah Reno sambil terkekeh pelan.
Tommy tidak menjawab sepatah kata pun.
Ia berjalan melewati meja mereka berdua dan duduk diam di bangkunya yang berada di sudut belakang.
Berkat keahlian pasif Manipulasi Ekspresi Mikro yang baru saja ia dapatkan, Tommy bisa mengatur raut wajahnya dengan sangat sempurna.
Ia terlihat seperti murid bodoh yang baru saja dimarahi habis-habisan oleh gurunya, terlihat pasrah dan nyaris putus asa.
Tidak ada satu pun urat wajahnya yang menunjukkan bahwa ia baru saja memecahkan soal olimpiade tersulit dalam tiga menit.
"Wah, muka lo ditekuk banget," ejek Bagas sambil melempar penghapus kecil ke arah Tommy.
Tuk.
Penghapus itu mengenai dahi Tommy dan jatuh ke lantai.
Tommy hanya diam menatap kosong ke arah mejanya tanpa membalas sedikit pun.
Nadin yang duduk di barisan depan hanya melirik sekilas ke arah keributan itu sebelum kembali fokus pada bukunya.
Gadis pintar itu merasa ada sesuatu yang janggal dengan kejadian hari ini.
Biasanya, jika Pak Darmawan memanggil seorang murid yang bermasalah ke ruangannya, murid itu pasti akan keluar dengan surat peringatan di tangan.
Tetapi Tommy kembali dengan tangan kosong, meskipun wajahnya terlihat seperti orang yang sudah kehilangan harapan hidup.
Kringgg!
Bel masuk berbunyi memotong rasa penasaran Nadin dan obrolan mengejek dari Bagas.
Pelajaran selanjutnya adalah sejarah, dan Tommy mengikuti kelas itu dengan sangat mulus tanpa menarik perhatian.
Waktu berlalu dengan cepat hingga akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring.
Tommy merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan segera bergegas keluar dari kelas sebelum Bagas sempat mencegatnya lagi.
Ia berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang cukup ramai di sore hari.
Udara panas khas kota terasa menyengat kulitnya, tetapi pikiran Tommy sedang fokus pada hal lain.
"Sistem," panggil Tommy di dalam hatinya.
Ting!
Sebuah layar biru transparan seketika muncul dan melayang tepat di depan wajahnya.
Layar itu terus mengikutinya berjalan tanpa menghalangi pandangannya terhadap jalan raya di depannya.
[STATUS PENGGUNA]
[Nama: Tommy Nugroho]
[Umur: 17 Tahun]
[IQ Saat Ini: 95 Kategori: Rata-rata Atas]
[Poin Sistem: 15]
Tommy mengerutkan dahinya melihat ada baris baru di bagian bawah statusnya.
"Poin Sistem?" gumam Tommy pelan. "Kapan aku mendapatkan ini?"
Seolah bisa membaca pikiran penggunanya, layar biru itu langsung memunculkan kotak penjelasan baru.
[Poin Sistem diperoleh setiap kali pengguna menyelesaikan misi atau mencapai pencapaian tertentu.]
[Pengguna mendapatkan 10 PS dari misi pertama, dan 5 PS dari misi mendadak.]
[Karena IQ pengguna telah mencapai angka 95, Fitur Toko Sistem kini telah terbuka.]
Mata Tommy berbinar membaca pemberitahuan tersebut.
"Buka Toko Sistem," batin Tommy dengan penuh rasa penasaran.
Layar biru di depannya berubah menampilkan deretan kotak yang menyerupai katalog belanja di toko daring.
Berbagai macam keahlian, buku pengetahuan tingkat dewa, hingga cetak biru teknologi masa depan terpampang di sana.
[Keahlian Retorika Tingkat Menengah - Harga: 50 PS]
[Pengetahuan Kriptografi Dasar - Harga: 30 PS]
[Pil Peningkat Konsentrasi Durasi 2 Jam - Harga: 10 PS]
[Keahlian Analisis Pasar Saham - Harga: 100 PS]
Tommy menelan ludah melihat harga-harga yang tertera di sana.
Lima belas poin sistem yang ia miliki saat ini terasa sangat miskin dibandingkan barang-barang luar biasa yang ada di toko tersebut.
Tetapi hal ini justru membuatnya semakin bersemangat.
Selama ia terus menyelesaikan misi dan meningkatkan IQ-nya, ia bisa membeli keahlian apa pun yang ia butuhkan untuk menguasai dunia dari balik layar.
"Aku harus mencari cara untuk memicu lebih banyak misi," batin Tommy sambil menutup layar sistemnya.
Langkah kakinya mulai berbelok memasuki gang sempit yang menuju ke arah rumah kontrakannya.
Dari kejauhan, Tommy bisa melihat pintu rumahnya terbuka lebar.
Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya.
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar sangat nyaring dari dalam rumahnya.
Langkah Tommy seketika terhenti, jantungnya berdebar kencang.
"Ibu!" teriak Tommy sambil berlari sekuat tenaga menuju rumahnya.
Ia menerobos masuk melewati pintu depan dan pemandangan di ruang tamunya langsung membuat darahnya mendidih.
Sebuah gelas pecah berserakan di lantai dekat kaki ibunya yang sedang duduk bersimpuh sambil menangis.
Di hadapan ibunya, berdiri dua orang pria bertubuh besar dengan wajah sangar dan jaket kulit hitam.
Salah satu dari mereka, seorang pria berkumis tebal bernama Bang Jali, sedang mengisap rokoknya dengan angkuh.
"Saya minta waktu seminggu lagi, Bang," isak ibunya sambil menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Jahitanku belum semuanya dibayar oleh pelanggan."
Bang Jali membuang asap rokoknya tepat ke arah wajah ibu Tommy.
"Alasan terus dari bulan lalu, Bu Marni," ucap Bang Jali dengan suara serak yang mengancam.
"Utang lima juta itu sekarang bunganya sudah bengkak jadi lima belas juta, kalau tidak bayar sekarang, mesin jahit ini saya bawa!"
Pria bertubuh besar satunya langsung melangkah mendekati mesin jahit tua milik ibunya.
"Jangan, Bang!" teriak Ibu Marni histeris. "Itu satu-satunya alat saya mencari makan, tolong jangan dibawa!"
Ibu Marni berusaha menahan tangan pria besar itu, namun pria itu dengan kasar menghempaskan tangan ibunya hingga wanita paruh baya itu hampir tersungkur.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇