Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Wajah Pak Wijaya seketika pucat pasi. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia tahu persis bahwa kolom Biaya Operasional Lainnya itu adalah tempat ia menyembunyikan dana yang dialihkan ke rekening pribadinya. Tidak ada auditor yang pernah curiga, tapi istri idiot ini baru saja menunjuknya dengan analogi ember bocor dan kapal selam!
"Nyonya Karin, itu... itu biaya tak terduga untuk perawatan armada..." jawab Pak Wijaya, suaranya bergetar.
"Perawatan armada atau perawatan dompet, Pak?" tanya Karin polos, lalu ia menoleh ke arah Arlan. "Kak Arlan, kalau embernya bocor terus, mending kita beli ember baru aja. Atau kita laporin Pak Wijaya ke polisi, soalnya dia nyuri air dari ember kita buat isi kolam renangnya sendiri!"
Ruangan itu meledak dalam bisik-bisik kaget. Para direktur yang tadinya meremehkan Karin kini menatapnya dengan mata terbelalak.
Arlan, yang sejak tadi diam, perlahan berdiri. Ia menatap Pak Wijaya dengan senyum dingin yang sangat mengerikan.
"Kalian mendengar istriku," ucap Arlan, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Analogi ember bocornya sangat tepat. Pak Wijaya, saya rasa kita perlu menunda rapat ini. Saya akan memanggil auditor eksternal forensik sore ini untuk memeriksa lubang di kolom biaya operasional Anda. Jika ada kapal selam yang saya temukan, Anda akan saya suruh menyelam di kolam renang kantor."
Pak Wijaya jatuh terduduk di kursinya, wajahnya abu-abu. Ia tahu karirnya, dan kebebasannya, baru saja berakhir.
Rapat dibubarkan dengan cepat. Saat ruangan sudah kosong, Arlan menoleh ke arah Karin. Wanita itu sedang sibuk melipat kalkulator kuningnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kalkulator ajaib?" tanya Arlan, sudut bibirnya terangkat, matanya berkilat penuh amusement.
"Iya, Kak. Tadi suaranya kayak mesin kasir. Biar Pak Wijaya takut," jawab Karin, tersenyum lebar. "Tapi Kak Arlan, aku nggak ngerti deh kenapa Pak Wijaya keringetan. Padahal AC-nya dingin banget."
Arlan tertawa. Tawa yang renyah dan lepas. Ia melangkah mendekati Karin, lalu menunduk hingga wajah mereka sejajar.
"Kau luar biasa, Nyonya Dirgantara," bisik Arlan, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kekaguman. "Kau baru saja menyelamatkan dua puluh miliar rupiah dengan analogi ember bocor. Eyang pasti bangga."
Jantung Karin berdegup kencang. Gawat. CEO dingin ini makin bahaya. Tatapannya bikin lupa cara napas!
"Ah, biasa aja, Kak," jawab Karin, mencoba terdengar santai meski telinganya memanas. "Ngomong-ngomong, Kak Arlan, karena aku udah bantu nyelamatin uang, boleh minta hadiah? Aku mau beli ember baru. Warna pink."
Arlan tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, merapikan kerah blazer Karin. "Beli satu truk ember pink. Tapi besok, kita belajar cara membaca neraca laba rugi. Menggunakan kalkulator kuningmu."
Karin menelan ludah. Sistem, tolong. Aku rasa aku baru saja menggali kuburanku sendiri dengan kalkulator mainan.
Keputusan Arlan untuk mengajari Karin membaca laporan keuangan ternyata tidak hanya terbatas pada ruang kerja yang ber-AC dingin. Tiga hari setelah insiden kalkulator kuning, Arlan mengumumkan bahwa hari ini mereka akan melakukan inspeksi lapangan ke pabrik utama Dirgantara Group di kawasan industri Cikarang.
"Kau harus melihat langsung bagaimana uang yang hampir dicuri Pak Wijaya itu diubah menjadi barang nyata," jelas Arlan saat mereka duduk di dalam mobil. "Pabrik ini adalah jantung operasional kita. Dan kepala pabriknya, Pak Hadi, adalah orang yang sangat... tradisional."
"Tradisional gimana, Kak?" tanya Karin, yang sedang sibuk mencoba memakai helm proyek berwarna pink yang ukurannya satu ukuran terlalu besar hingga menutupi separuh matanya.
"Dia tidak menyukai orang-orang kantor. Apalagi istri CEO yang dianggapnya hanya tahu berbelanja dan membuat onar," jawab Arlan jujur, menatap helm pink istrinya dengan campuran antara rasa sakit kepala dan kasih sayang. "Jadi, tolong... bertingkahlah seperti biasanya. Jangan membuat dia merasa terancam."
Karin mengangguk paham di balik helm yang kebesaran. Oke. Berarti aku harus menjadi idiot yang tidak berbahaya. Got it.
lanjut kn thor💪