NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Pintu kaca ICU kembali bergeser terbuka dengan dorongan pelan.

Suara langkah sepatu kulit yang mantap memecah suara tangis pecah di dalam ruangan steril itu. Hayden melangkah masuk dengan kaos hitam polos over size. membawa aura dingin sekaligus dominan yang seketika mengubah atmosfer di ruangan tersebut.

Berta mendongak, matanya membelalak kagum bercampur bingung melihat pria tinggi tegap yang mendadak muncul itu. Sementara itu, Aluna yang masih berlutut di lantai langsung membeku saat menangkap sosok Hayden dari sudut matanya.

Hayden memandangi Romeo yang meraung dalam keputusasaan, lalu beralih menatap Aluna yang tersungkur lemah di samping ranjang. Manik mata gelap pria itu meredup tipis, menyembunyikan kilatan emosi yang tak tertebak.

Tanpa mengucap sepatah kata pun pada Aluna, Hayden menepuk bahu Dokter spesialis bedah saraf itu dengan isyarat tegas. "Dokter, bisa kita bicara sebentar di luar?"

"Tentu, Pak Hayden," jawab Dokter sopan, mengangguk patuh.

Hayden berbalik, menyusuri koridor kaca menuju ruangan konsultasi pribadi di ujung koridor ICU. Dokter bergegas mengikutinya dari belakang.

Di dalam ruangan konsultasi yang tenang, Hayden menyandarkan tubuhnya di tepi meja kayu, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada saraf kakinya."

Dokter menghela napas panjang, membuka map rekam medis Romeo. "Begini, Pak Hayden. Benturan di kepala Mas Romeo sangat hebat. Cedera pada motor cortex di otaknya serta trauma kejut pada jalur saraf tulang belakang sering kali memicu fenomena yang kami sebut sebagai spinal shock atau kelumpuhan sementara pasca-trauma."

Hayden memicingkan mata. "Artinya kelumpuhan ini bukan permanen?"

"Kemungkinan besar tidak permanen, Pak," tegas Dokter. "Fungsi otaknya baru saja distabilkan lewat operasi kemarin. Saraf-sarafnya masih terkaget dan mengalami inflamasi berat. Dengan terapi regenerasi saraf, fisioterapi intensif, dan stimulasi elektromagnetik secara bertahap, fungsi motorik kedua kakinya sangat bisa dipulihkan kembali. Ini kondisi yang cukup lumrah terjadi pada pasien pasca-operasi trauma otak berat."

Hayden mengangguk pelan, rasa tegang yang sempat hinggap di bahunya meluruh seketika. "Lakukan semua terapi terbaik yang ada di rumah sakit ini. Jangan pikirkan soal biaya."

"Baik, Pak Hayden. Kami akan menyiapkan program fisioterapinya segera setelah kondisinya makin stabil."

Ketika Hayden kembali melangkah masuk ke dalam ruang ICU, tangis Romeo dan Aluna sudah sedikit mereda, meski udara di ruangan itu masih terasa begitu berat oleh duka. Berta tampak berusaha menenangkan Aluna, sementara Suster Maya mengelap sisa air mata di pipi Romeo.

Hayden berjalan mendekati ranjang. Pria itu menatap sahabat lamanya yang terbaring tak berdaya.

"Romeo," panggil Hayden dengan suara rendah namun mantap, memutus keheningan.

Romeo mendongak pelan dengan pandangan kabur oleh air mata. Manik matanya melebar begitu mengenali sosok pria tegap di hadapannya. "...Hayden...?"

"Ya, ini aku," sahut Hayden. Pria itu menarik kursi plastik di samping ranjang, duduk di sana lalu menatap Romeo lurus-lurus. "Aku baru saja bicara pribadi dengan tim doktermu."

Aluna yang berada di sisi lain ranjang menahan napasnya, menatap Hayden dengan tatapan penuh kepanikan—khawatir pria itu akan membocorkan rahasia perjanjian mereka di depan Romeo dan Berta.

Hayden melirik Aluna sekilas lewat sudut matanya, menangkap raut ketakutan gadis itu. Namun, ia kembali fokus pada Romeo.

"Dengar baik-baik, Romeo," kata Hayden dengan nada bicara tenang dan penuh keyakinan. "Kelumpuhan di kakimu itu kondisi yang lumrah terjadi setelah cedera otak berat. Dokter bilang saraf-sarafmu hanya kaget karena operasi kemarin. Itu bukan kelumpuhan permanen."

Romeo tertegun, bibirnya yang kering bergetar. "Ka... kamu tidak berbohong padaku, kan... Den?"

"Sejak kapan aku pernah berbohong padamu?" balas Hayden datar, menggeleng pelan. "Kakimu bisa dipulihkan total. Kau hanya perlu menjalani fisioterapi rutin dan terapi regenerasi saraf beberapa bulan ke depan. Kau akan bisa berdiri dan berjalan lagi."

Isak tangis legan pecah dari dada Aluna. Ia menangkup wajahnya, menghembuskan napas lega yang teramat sangat. Berta di sampingnya meremas bahu Aluna, meresapi kabar baik itu.

Romeo memejamkan matanya, setetes air mata keharuan mengalir di pipinya. "Syukurlah... Ya Tuhan..."

Namun tak lama kemudian, raut wajah Romeo kembali diselimuti keraguan dan rasa bersalah. Pria itu tahu betul betapa mahalnya biaya perawatan rumah sakit, apalagi untuk terapi pemulihan saraf yang rumit seperti itu. Pria sekeras Romeo, yang terbiasa hidup mandiri dari keringatnya sendiri di pabrik, sangat pantang merepotkan orang lain.

Romeo menatap Hayden dengan tatapan sungkan yang amat berat. "Hayden... Aku tahu fasilitas ini mahal sekali. Aku lebih baik dipindahkan ke rumah sakit umum daerah saja—"

"Kak Romeo, stop!" potong Aluna cepat, melangkah maju dan memegang tangan kakaknya erat-erat.

Aluna menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tahu watak kakaknya yang sangat keras kepala jika menyangkut soal harga diri dan kemandirian. Sebelum Romeo makin mendesak, Aluna melirik Hayden, memberikan isyarat mata memohon agar Hayden mengikuti skenario bohong yang sudah ia susun.

"Kakak tidak merepotkan siapa-siapa," ujar Aluna dengan suara lembut namun meyakinkan. "Soal biaya rumah sakit dan terapi Kakak... kita mendapatkan bantuan dana penuh dari Yayasan Kemanusiaan Medika."

Romeo mengernyitkan keningnya bingung. "Yayasan... Kemanusiaan?"

"Iya, Kak," sambung Aluna lihai berpura-pura, memaksakan senyumannya. "kak Hayden ini kan punya banyak relasi di kalangan pengusaha dan pemilik rumah sakit. Beliau yang bantu mengajukan berkas kasus kecelakaan Kakak ke yayasan itu. Dan puji Tuhan, pengajuan kita diterima! Semua biaya operasi, kamar ICU, sampai terapi pemulihan Kakak ditanggung penuh oleh program bantuan yayasan."

Romeo menatap adiknya ragu, lalu memalingkan pandangannya ke arah Hayden untuk mencari kepastian. "Benar begitu, Den? Kau tidak sedang membayari ini semua dari kantong pribadimu, kan? Aku tidak mau utang budi sejauh itu padamu..."

Hayden memandangi Romeo. Dalam hatinya, ia sangat paham tabiat sahabatnya ini—Romeo lebih memilih membusuk di rumah sakit murah daripada harus merasa mengemis pada temannya sendiri.

Hayden menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan kaki dengan gaya angkuhnya yang alami.

"Kalau aku yang bayar pakai uang pribadiku, aku pasti sudah menagih bunganya padamu, Romeo," sahut Hayden dingin dengan nada bercanda yang sangat natural. "Aluna benar. Itu murni dana hibah dari yayasan relasiku. Kau tidak usah sok gengsi atau memikirkan utang padaku. Tugasmu cuma satu: fokus terapi dan sembuh. Paham?"

Mendengar nada bicara Hayden yang santai dan logis, ketegangan di dada Romeo akhirnya mencair sepenuhnya. Pria itu menghembuskan napas panjang, raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Den..." bisik Romeo tulus, memejamkan matanya yang kelelahan. "Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dan yayasan itu seperti apa..."

"Fokus saja pada pemulihanmu," balas Hayden singkat.

Di sisi lain ranjang, Berta tersenyum lega menyaksikan perkembangan kondisi Romeo. Namun, pandangannya tak sengaja menangkap lirikan singkat bernada rumit antara Aluna dan Hayden. Ada jarak tak kasat mata di antara mereka berdua—sebuah kepura-puraan bahwa mereka saling bersikap seperti orang asing yang baru kenal demi menjaga rahasia di depan Romeo.

Aluna menghela napas pelan, mengusap bekas air mata di pipinya. Meski kebohongan ini berhasil menyelamatkan mental kakaknya untuk sementara waktu, dada Aluna tetap terasa sesak.

Ia tahu benar kenyataan pahit di balik dinding kebohongan ini: tidak ada yayasan kemanusiaan apa pun. Yang ada hanyalah dirinya, yang kini terikat sepenuhnya sebagai milik Hayden Mahendra untuk melunasi tiap lembar rupiah biaya pemulihan kakaknya.

*

*

*

1
diga pues
rome.. bawa adikmu pergi, jauh 🌚
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!