IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Fitnah di Rumah Sendiri
Dua hari setelah kedatangan Helena yang mengejutkan itu, suasana di penthouse mewah keluarga Whitmore berubah menjadi semakin tegang dan tidak nyaman. Brooklyn berusaha sebisa mungkin menjaga jarak dengan Helena, membatasi interaksi hanya pada hal-hal yang benar-benar diperlukan, berharap situasi canggung ini bisa segera berakhir tanpa harus menimbulkan konflik yang lebih besar.
Namun harapan itu kembali kandas pada suatu sore ketika Brooklyn sedang berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam sederhana untuk dirinya sendiri, mengingat Liam belakangan ini lebih sering makan di luar bersama Helena dibandingkan di rumah.
Ketika ia melewati tangga menuju lantai bawah penthouse yang memiliki desain split-level, ia berpapasan dengan Helena yang sedang berjalan turun dari arah berlawanan sambil membawa segelas wine di tangannya. Ruang tangga itu cukup sempit, dan ketika mereka berpapasan, bahu Brooklyn secara tidak sengaja sedikit menyenggol lengan Helena.
Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan Brooklyn.
Helena tiba-tiba menjerit keras, seolah-olah baru saja mengalami sesuatu yang mengerikan. Gelas wine di tangannya terjatuh dan pecah di lantai, cairan merah itu menciprat ke mana-mana, sementara Helena sendiri terhuyung dengan dramatis ke sisi tangga, tangannya mencengkeram pegangan tangga seolah-olah baru saja hampir jatuh dari ketinggian yang berbahaya.
"Astaga!" jerit Helena, suaranya penuh ketakutan yang terdengar dibuat-buat di telinga Brooklyn. "Kau baru saja mendorongku!"
"Apa?" Brooklyn membelalak tidak percaya, langsung membantah tuduhan yang begitu tidak masuk akal itu. "Aku tidak mendorongmu! Bahu kita hanya bersenggolan sedikit karena tangga ini memang sempit!"
Namun Helena tidak menggubris bantahan itu, justru semakin memperbesar dramatisasi kejadian tersebut. "Kau hampir membuatku jatuh dari tangga ini! Apakah kau benar-benar berniat mencelakaiku?"
Keributan itu rupanya cukup keras hingga terdengar oleh Liam yang kebetulan sedang berada di ruang kerja lantai atas. Ia segera bergegas turun, mendapati pemandangan Helena yang masih tampak terguncang sambil bersandar pada pegangan tangga, dan pecahan gelas wine yang berserakan di lantai bersama tumpahan cairan merah yang terlihat seperti darah dari kejauhan.
"Ada apa ini?" tanya Liam khawatir, langsung mendekati Helena dan membantunya berdiri dengan lebih stabil.
"Brooklyn mendorongku, Liam," ucap Helena dengan suara bergetar yang terdengar begitu meyakinkan, air mata bahkan mulai menggenang di sudut matanya. "Aku hampir jatuh dari tangga ini karenanya."
"Itu tidak benar!" bantah Brooklyn cepat, suaranya penuh keterkejutan atas tuduhan yang begitu tidak berdasar. "Kami hanya berpapasan di tangga yang sempit ini, Liam. Aku tidak sengaja menyenggol bahunya, itu saja!"
Namun Liam, yang matanya kini dipenuhi kekhawatiran terhadap Helena, tampak lebih memilih untuk mempercayai versi cerita wanita yang telah lama menguasai hatinya itu dibandingkan penjelasan dari istrinya sendiri.
"Kau yakin hanya menyenggol bahunya?" tanya Liam dengan nada menyelidik, matanya menatap Brooklyn dengan kecurigaan yang jelas terlihat. "Helena bilang kau mendorongnya cukup keras."
"Aku bersumpah aku hanya menyenggolnya, Liam! Ini tangga yang sempit, sesuatu seperti ini bisa saja terjadi tanpa sengaja!"
Namun Helena, yang melihat Liam mulai sedikit ragu, memutuskan untuk memperkuat tuduhannya dengan tambahan yang jauh lebih mengejutkan. "Aku pikir dia melakukan ini karena iri padaku, Liam," ucapnya dengan nada yang dibuat seolah penuh ketakutan. "Sejak aku datang ke sini, dia jelas tidak menyukai kehadiranku. Aku bahkan takut dia mungkin berniat mencelakaiku lebih jauh jika aku terus tinggal di sini."
Tuduhan itu membuat Brooklyn terkejut bukan main, matanya membelalak tidak percaya mendengar betapa jauh Helena berani memutarbalikkan kejadian sederhana menjadi sebuah ancaman yang begitu serius.
"Itu benar-benar tidak masuk akal!" seru Brooklyn, suaranya mulai meninggi karena kemarahan yang tidak bisa lagi ia tahan. "Aku tidak pernah berniat mencelakai siapa pun! Helena hanya mengarang cerita ini untuk membuatku terlihat buruk di matamu, Liam!"
"Kenapa aku harus berbohong tentang hal seperti ini?" balas Helena dengan nada yang dibuat terluka, menatap Liam dengan mata berkaca-kaca yang penuh perhitungan. "Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan dan alami, Liam. Kau percaya padaku, bukan?"
Liam menatap kedua wanita di hadapannya secara bergantian, pikirannya jelas terlihat bergejolak antara dua versi cerita yang bertentangan. Namun kesetiaannya yang telah lama tertanam terhadap Helena, ditambah dengan kekhawatiran yang tulus melihat kondisinya yang tampak terguncang, membuat keputusannya condong ke arah yang tidak menguntungkan bagi Brooklyn.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini, Brooklyn?" ucap Liam akhirnya, suaranya penuh kekecewaan yang ditujukan pada orang yang salah. "Helena adalah tamu di rumah ini. Bagaimana mungkin kau tega mencelakainya seperti ini?"
"Aku tidak mencelakainya!" jerit Brooklyn, air mata mulai menggenang di matanya karena ketidakadilan yang begitu jelas terjadi di hadapannya. "Kau bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku dengan benar! Kau lebih memilih mempercayai kebohongannya dibandingkan kejujuranku sendiri!"
Kata-kata itu rupanya membuat kesabaran Liam yang sudah menipis akibat kekhawatiran terhadap Helena benar-benar habis. Dengan gerakan cepat yang tidak sempat diantisipasi Brooklyn, tangan Liam terangkat dan mendarat keras di pipinya, membuat kepalanya terhempas ke samping akibat kekuatan tamparan tersebut.
"Jangan pernah menyebut Helena pembohong!" bentak Liam, suaranya menggema di ruangan yang kini hening mencekam. "Aku sudah muak dengan sikapmu yang terus mencari-cari kesalahan setiap kali dia berada di dekatmu!"
Brooklyn berdiri mematung, tangannya refleks memegangi pipinya yang terasa panas membakar, matanya menatap Liam dengan campuran rasa sakit dan pengkhianatan yang begitu mendalam. Di belakang Liam, Helena tersenyum tipis yang nyaris tidak terlihat, sebuah senyuman kemenangan yang begitu tersembunyi hingga hanya Brooklyn yang menyadarinya, sementara Liam sama sekali tidak melihat ekspresi licik itu karena fokusnya sepenuhnya tertuju pada amarahnya terhadap Brooklyn.
"Aku tidak percaya kau baru saja menamparku demi membela kebohongannya," ucap Brooklyn pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang sudah tidak sanggup lagi ia bendung.
Liam tidak menjawab, hanya menatap Brooklyn dengan tatapan dingin sebelum berbalik untuk memeriksa kondisi Helena yang masih berpura-pura terguncang. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut kepada Helena, nada suaranya berubah drastis menjadi penuh perhatian, sebuah kontras yang begitu menyakitkan dibandingkan sikap dinginnya terhadap Brooklyn.
"Aku hanya sedikit terkejut," jawab Helena dengan suara lemah yang dibuat-buat, sengaja bersandar lebih dekat pada Liam untuk mendapatkan perhatian lebih. "Mungkin aku butuh sesuatu untuk menenangkan diri."
"Bagaimana kalau kita makan malam di luar saja malam ini?" tawar Liam tiba-tiba, matanya menatap Helena dengan kekhawatiran yang tulus. "Mungkin itu bisa membantu menghiburmu setelah kejadian yang mengejutkan ini."
Helena tersenyum lembut, mengangguk pelan seolah menerima tawaran itu dengan penuh rasa syukur. "Itu terdengar bagus, Liam. Terima kasih sudah memikirkanku."
Brooklyn hanya bisa berdiri diam menyaksikan interaksi hangat antara Liam dan Helena di hadapannya, hatinya semakin hancur menyaksikan bagaimana suaminya begitu mudah mengabaikan kebenaran demi menjaga perasaan wanita lain, bahkan setelah menamparnya sendiri tanpa alasan yang jelas.
Ketika Liam dan Helena akhirnya bersiap untuk pergi makan malam bersama, meninggalkan Brooklyn sendirian di penthouse yang kini terasa begitu asing dan dingin, ia hanya bisa menatap kepergian mereka dari jendela ruang keluarga dengan pipi yang masih memerah dan hati yang terasa semakin hampa.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan, namun kali ini bukan hanya kesedihan biasa yang ia rasakan, melainkan sebuah kesadaran pahit yang mulai menghantam kesadarannya dengan begitu jelas—bahwa terlepas dari segala usaha dan pengorbanan yang telah ia berikan selama bertahun-tahun, Liam akan selalu memilih Helena, bahkan ketika kebenaran begitu jelas terlihat di hadapannya.