Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan Es dan Jepit Teratai Emas
Ledakan aura Qi yang merebak dari tubuh Qian Renxue bukan sekadar dingin biasa—ini adalah dominasi mutlak dari seorang pakar Ranah Inti Jiwa (Soul Core).
Udara di gang sempit itu mendadak membeku. Dinding bata yang lembap terlapisi es kristal tipis hanya dalam hitungan detik.
Tuan Muda Klan Lei yang tadinya bertingkah angkuh, langsung ambruk berlutut di tanah basah. Napasnya tersengal-sengal parah, dadanya serasa dihimpit oleh bongkahan batu raksasa.
Pengawal senior berlevel Pembentukan Qi Puncak di sampingnya membelalakkan mata dengan wajah pucat pasi. Pria itu mengenali tekanan aura yang tak masuk akal ini.
"W-Wanita Suci... Qian Renxue dari Sekte Teratai?!" teriak Sang Pengawal Senior dengan suara gemetar hebat. "Tuan Muda! Tundukkan kepalamu! Beliau adalah Tetua Sekte Teratai!"
"Sekte Teratai?!" Tuan Muda Klan Lei tersentak.
Seluruh keberaniannya runtuh seketika. Di hadapan figur legendaris sekelas Qian Renxue, Klan Lei di Kota Seribu Pedang tak lebih dari sekadar serangga yang bisa dilenyapkan kapan saja tanpa jejak.
Qian Renxue bahkan tidak menarik pedangnya. Ia hanya berdiri anggun, menatap mereka dengan manik mata yang bersinar seperti pendar es abadi.
"Kalian..." suara Qian Renxue mengalun sangat halus namun dingin menusuk hingga ke tulang, "...ingin merampok muridku?"
"Ampun, Senior! Ampun!" jerit Tuan Muda Klan Lei panik setengah mati.
Tanpa memedulikan gengsinya, ia memukul-mukul kepalanya ke tanah meminta belas kasih. Dengan tangan gemetar, ia merogoh seluruh kantong penyimpanan dan melempar emas murni serta ratusan batu spiritual ke depan kaki Hu Jin.
"Ini... ini semua milik kami! Anggap sebagai permohonan maaf kami, Senior! Kami berjanji tidak akan pernah muncul di hadapan Anda lagi!"
Tanpa menunggu balasan sepatah kata pun, Tuan Muda Klan Lei dan sepuluh pengawalnya merangkak mundur ketakutan, lalu berlari terbirit-birit menghilang di balik kegelapan malam.
Hu Jin hanya bisa menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala.
"Guru, kau selalu saja terlalu dominan," goda Hu Jin seraya memungut kantong batu spiritual dan emas jaminan dari tanah tanpa canggung. "Padahal aku ingin mencoba teknik baruku pada mereka."
"Merek tak sepadan untuk mengotori pedangmu," sahut Qian Renxue santai.
Namun saat Qian Renxue berbalik dan menatap muridnya lebih dekat, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terbelalak heran.
Terakhir kali ia melihat Hu Jin tiga tahun lalu, anak itu masih berupa bocah sepuluh tahun yang nakal. Kini, di depannya berdiri pemuda berusia tiga belas tahun bertubuh tegap, berotot padat, dengan garis wajah tegas dan tatapan mata yang amat dewasa.
"Kau... benar-benar sudah tumbuh besar, Anak Nakal," gumam Qian Renxue pelan, menyimpan terkejut sekaligus kebanggaan yang kental di matanya.
Meninggalkan gang sempit itu, mereka berdua berjalan menuju bukit terpencil yang tenang di pinggiran kota. Di bawah naungan pohon tua dan pendar rembulan, Hu Jin mengeluarkan Kotak Giok Hitam hasil lelang, meletakkannya di atas batu datar.
Dengan dorongan Qi biru-emas dari Dantian-nya, segel array pada kotak itu berderak halus dan terbuka.
Qian Renxue dan Hu Jin mendekat. Anehnya, tidak ada kitab sakti atau senjata dewa di dalamnya. Kotak itu hanya berisi sebuah Jepit Teratai Emas yang tampak kuno namun terawat.
Meski begitu, jepit rambut itu memancarkan getaran energi murni yang hangat dan agung—energi khas peninggalan bangsawan Kerajaan Timur.
Hu Jin meraih jepit rambut tersebut. Begitu jemarinya menyentuh ukiran teratai emasnya, perasaan hangat dan tenteram yang luar biasa mengalir lembut ke dalam dadanya.
Meskipun ia belum tahu bahwa jepit rambut ini sebenarnya milik ibu kandungnya—Lin Xue—yang dijual secara ilegal oleh faksi pengkhianat Zhao Feng, Hu Jin merasakan keterikatan batin yang amat dalam.
"Benda ini..." gumam Hu Jin dengan senyum tipis yang tulus. "Aku sangat menyukainya. Terasa begitu hangat, seolah-olah... ini adalah kenangan dari seseorang yang sangat dekat denganku."
Qian Renxue menatap senyuman tulus muridnya itu. Ia bisa merasakan kehangatan yang langka dari jepit rambut tersebut.
"Jika kau menyukainya, simpanlah baik-baik. Benda yang mengandung energi sekuat ini pasti memiliki sejarah yang berharga."
Satu jam kemudian, di lantai dua sebuah kedai teh yang tenang di sudut kota, Qian Renxue dan Hu Jin duduk berhadapan. Di atas meja tersaji dua cangkir teh hangat dan piring kue tradisional.
Qian Renxue menyesap tehnya perlahan, lalu menatap Hu Jin dengan pandangan takjub.
"Ranah Pembentukan Qi Tahap Menengah..." desis Qian Renxue menggelengkan kepala. "Bagaimana mungkin kau menerobos sejauh ini hanya dalam waktu tiga tahun? Dan sendirian di alam liar?"
Hu Jin tertawa kecil, menuangkan kembali teh hangat ke cangkir gurunya.
"Semua ini berkat dasar yang Guru ajarkan di Puncak Es. Alam liar memang berbahaya, tapi bertarung demi bertahan hidup membuat Qi-ku memadat jauh lebih cepat."
Hu Jin lalu menceritakan pengalamannya secara singkat—mulai dari pertarungan melawan binatang buas, menghadapi kelompok tentara bayaran, hingga bertapa di dalam gua es tanpa bantuan sumber daya sekte.
Mendengar cerita perjalanan muridnya, Qian Renxue membisu seketika. Di dalam hatinya, rasa bangga yang luar biasa meluap. Anak laki-laki yang dulu ia angkat dari tengah hutan, kini telah membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan hidup dan berkembang pesat di dunia luar.
"Kau telah melakukan pekerjaan yang sangat baik, Hu Jin," panggil Qian Renxue lembut, mengulurkan tangan dan mengusap kepala Hu Jin dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat bangga padamu."
Hu Jin tersenyum hangat menerima belaian lembut gurunya.
Di tengah dinginnya dunia luar dan misteri masa lalu yang mulai memanggilnya, momen sederhana bersama gurunya di kedai teh ini adalah tempat berteduh terbaik yang tak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun.