Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Sampah
**
"Jadi, hari ini ngelamar ke cafe pelangi?"
Reyhan sedang memasang tali di sepatu dan bersiap-siap akan berangkat kerja.
Ayana mengangguk, terlihat masih sibuk dengan beberapa berkas buat melamar kerja. "Iya, kebetulan kak Anya shift pagi, jadi sekalian bareng sama dia."
"Gak mau dianter?"
Ayana mendengus, melirik sinis Reyhan. "Yakin? Bukannya, Anda juga sudah mau telat? Lagipula aku gak mau, ini udah dandan cantik tapi ujung-ujungnya pasti harus dorong motor kamu."
Reyhan tertawa. "Ingat terus Anda Maemunah. Cuman dorong motor sekali, tapi dibahasnya beribu kali. Dia udah ke salon kan kemarin, udah ready buat jalan-jalan habis kena tragedi kemarin. Dia juga punya jasa gede, sisayang ini yang selalu nemenin aku mencari uang untuk menafkahi kamu."
Ayana mendelik tak suka. "Sana, berisik! Cepetan berangkat!"
Setelah memastikan kedua sepatunya terpasang dengan benar di kakinya, Reyhan tersenyum bangga. Pasalnya dulu dia pernah memakai sepatu berbeda merek dan warna saat bekerja. Alhasil, seharian bekerja dia malah jadi bahan ledekan rekan-rekan kerjanya. Wajah tampan dia seakan tidak ada harga dirinya saat itu, walaupun tetap masih ada ibu-ibu yang menggodanya saat melayani pelanggan tapi saat keluar dari tempat kasir, bahkan ibu-ibu dan gadis-gadis itu malah menertawakannya.
"Salim dulu!" Reyhan sudah berdiri tepat di depan Ayana dengan tangan tepat di depan wajah gadis itu.
Ayana mendongak, memutar kedua bola matanya malas. "Gak usah banyak drama. Sana berangkat Reyhan, kamu udah telat."
"Dasar istri zaman no--"
Ayana buru-buru mengambil tangan Reyhan untuk dia salami, sebelum lelaki itu semakin berkata ngawur.
"Assalamualaikum Kakanda, semoga pekerjaan hari ini lancar dan semoga bisa mendapatkan uang yang banyak. Aku juga mau belanja di minimarket tanpa lihat harga."
Ayana tersenyum mengejek saat melihat raut wajah Reyhan yang geli. Tak lama, lelaki itu sudah berjongkok dengan tangan mereka yang masih saling menyatu.
"Sun dulu sini di bibir!" Reyhan sudah menunjuk bibirnya dengan wajah tengil.
"Reyhan!" teriak Ayana yang langsung mendorong Reyhan sampai terjungkal. Gadis itu sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Reyhan yang didorong bukannya marah, dia malah tertawa ngakak. Menggoda Ayana masih tetap selalu menjadi hobi favoritnya setiap hari. Apalagi saat ini, Reyhan mempunyai jurus godaan baru yang ampuh bisa langsung membuat Ayana malu. Dia selalu suka melihat rona merah di kedua pipi gadis itu.
"Sana berangkat kerja!" teriak Ayana yang masih menutupi wajahnya.
"Iya-iya, aku berangkat." Reyhan sudah berdiri dan bersiap pergi. Sebenarnya, dia masih ingin menggoda gadis itu tapi sekarang sudah hampir telat untuk masuk kerja.
Ini sudah seminggu setelah Reyhan keluar dari rumah sakit dan sudah tiga hari sejak dia sudah mulai bekerja lagi. Sebenarnya badan dia belum sepenuhnya sehat, tapi isi dompet dan perut tidak bisa menunggu sampai dia harus benar-benar sehat. Bisa-bisa dia dan Alana bisa mati kelaparan.
Reyhan benar-benar berangkat dengan meninggalkan Ayana yang masih menyembunyikan wajahnya. Semenjak insiden di rumat sakit waktu itu yang hampir membuat dia hilang kendali, kehidupan mereka masih tetap sama masih diisi oleh pertengkaran setiap harinya.
Walaupun ada beberapa waktu mereka sempat canggung, tapi tidak lama karena setelahnya mereka kembali ribut lagi. Ini pertama kalinya bagi Reyhan yang merasa malu setelah berciuman. Biasanya dia tetap akan biasa saja karena ini hanya sebuah ciuman. Bukan hal aneh mungkin bagi banyak orang, termasuk dirinya. Walaupun dia bukan penganut sex after married, tapi dia tetap berciuman dengan beberapa mantannya. Lagipula, itu sepertinya hal wajar.
Beda dengan Ayana, gadis itu bukan gadis seperti biasanya di sini. Dia belum pernah berciuman. Jujur Reyhan merasa bangga karena menjadi ciuman pertama bagi gadis itu.
Ajaibnya, gadis itu masih tetap merasa malu setiap kali Reyhan mengungkit tentang ciuman. Dia terlihat lucu saat sedang malu begitu.
Sebenarnya lebih ke 30% malu, 70% sisanya mengamuk seperti kuda lumping sedang mengamuk.
*
Reyhan menarik napas berat, dia berkali-kali berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk masuk. Sebelumnya, dia melihat motor honda lama sudah ada di depan rumah, pertanda jika bapaknya juga sudah pulang.
"Sekali dua kali kena pukul, masih sanggup lah gue."
Reyhan baru pulang kerja dan dia langsung pergi ke rumah orangtuanya. Semenjak saat di rumah sakit waktu itu, orangtuanya tidak pernah datang lagi untuk menjenguknya. Reyhan mengerti, sekecewa apa mereka saat ini.
Pernikahan adalah sebuah hubungan sakral yang tidak bisa dibuat untuk main-main, begitupun bagi orangtua. Momen dimana semua orang ingin menyaksikan momen indah anaknya itu, tapi Reyhan tiba-tiba memberitahu kabar pernikahannya yang sudah terjadi, tanpa melibatkan mereka sama sekali.
Baru saja Reyhan akan mengetuk pintu, tapi sudah terbuka oleh adiknya yang paling kecil.
"Kenapa gak bilang-bilang mau ke sini?" Rai adiknya paling bungsu yang sekarang sedang kelas 4 SD.
Reyhan tersenyum, mengelus puncak kepala Rai. "Suprise!"
Rai melihat kedua tangan Reyhan, kemudian wajahnya cemberut. "Kak Rey, gak bawa apa-apa? Jahat banget!"
Reyhan menjadi bingung, dia lupa jika adiknya selalu meminta oleh-oleh jika datang. Pikirannya sangat kacau, mana sempa ingat untuk membawa oleh-oleh. Melihat adiknya yang terus merengek, dia semakin merasa bersalah. Kemudian, Reyhan buru-buru merogoh saku celananya, dia ingat tadi ada uang sepuluh ribu sisa kembalian membeli bensin.
Reyhan memberikan uang itu ke Rai yang langsung diambil antusias. Raut wajahnya kembali ceria. "Ini ada uang sepuluh ribu, sana beli dadar gulung mang Juned!"
"Ini buat aku aja, kan? Gak usah bagi-bagi sama kak Rama dan Kak Rima?"
Reyhan mengangguk, ikut tersenyum melihat raut bahagia Rai. "Iya, buat kamu sendiri."
"Asyik! Makasih Kak."
"Sama-sama, Rai."
Setelah mengatakan itu, Rai langsung berlari kesenangan dengan membawa uang 10 ribu. Sesederhana itu memang kebahagiaan seorang anak kecil. Seandainya, bahagia dia juga bisa diukur dengan uang 10 ribu seperti itu.
Semakin dewasa memang semakin berat, takaran bahagianya sudah beda takaran, lebih ribet tidak bisa sesederhana itu.
"Assalamualaikum!"
Reyhan masuk ke dalam rumah. Sebuah rumah yang bukan rumah mewah, hanya rumah sederhana warisan dari nenek dan kakek dari pihak ibunya. Terlalu sederhana bahkan nyaris bisa dibilang sangat kecil.
"Ibu!" Sapa Reyhan, saat melihat ibunya baru saja keluar dari arah dapur.
"Datang juga kamu. Ibu pikir, kamu sudah lupa dengan rumah ini jadi gak akan datang lagi," jawab Ibunya dengan nada datar.
"Aku pasti datang Ibu, ini baru seminggu yang lalu pulang dari rumah sakit terus aku udah kerja lagi, jadi baru bisa datang lagi." Reyhan sudah mendudukkan dirinya di sofa di sana. "Rima sama Rama kemana?"
"Lagi main. Tunggu, Ibu mau panggil bapak dulu."
Ini pertama kalinya, dia merasa gugup duduk di ruang tamu yang jadi saksi hidupnya dari kecil bahkan menjadi tempat tidurnya. Perasaannya tidak karuan, padahal dulu dia sering berbicara dengan orangtuanya di sofa ini, tapi sekarang rasanya berbeda mungkin karena dia akan melakukan pengakuan dosa.
"Reyhan, Bapak sudah lama menunggu kamu. Bapak tidak mau basa-basi, cepat jelaskan apa maksud kamu di rumah sakit waktu itu?" Bapak muncul dari pintu kamar, kemudian beliau duduk di sebrang Reyhan.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf jika ini melukai perasaan kalian. Aku tidak ada maksud seperti ini," ujar Reyhan masih gugup saat ditatap tajam oleh kedua orangtuanya.
"Jelaskan Reyhan! Kami tidak tahu apa-apa, jika kamu tidak memberitahu!"
Setelah berulang kali menarik napas dalam, akhirnya Reyhan sudah bisa jauh lebih tenang. Setelah itu, mengalirlah cerita dari mulut Reyhan dengan sejujurnya tanpa dikurangi dan dilebihkan. Reyhan harap, mereka bisa mengerti keadaan dia saat itu yang mendesak dan tidak bisa berbuat apapun untuk membuat pilihan lain.
"Tapi kamu benar-benar tidak melakukan perbuatan itu, kan?" tanya Bapak yang perlahan ketegangan itu mulai melunak, walaupun masih terlihat raut wajah khawatir.
Reyhan buru-buru menggeleng. "Sumpah, demi Allah ... enggak! Aku masih tahu batasan norma dan agama, Pak!"
"Terus, sekarang kenapa kamu tidak membawa istri kamu untuk dikenalkan kepada kami secara resmi, Rey?" tanya Ibu masih terlihat sinis.
"Aku mau minta izin secara pribadi dulu kepada kalian, sebelum dia dikenalkan dan dibawa ke sini, Bu."
Reyhan bisa melihat raut wajah bapaknya sudah melunak, walaupun di wajah ibunya masih terlihat masam. Reyhan sendiri sekarang sudah merasa lebih tenang. Semoga, ini pertanda jika pernikahan dia sudah direstui.
"Sebenarnya, ibu masih sangat kecewa Reyhan. Kamu menikah muda saat kamu masih belum sukses dan belum bisa membalas jasa kamu sebagai anak kepada orangtua yang sudah membesarkan kamu." Masih terlihat wajah masam dari ibunya. "Ibu malah berharap walau kamu tidak sukses, setidaknya kamu bisa menikah dengan wanita kaya seperti Bella yang sudah tentu pasti bisa menjamin kebahagian masa depan kamu."
"Bu, kebahagiaan tidak selalu diukur dengan kekayaan." Reyhan menahan emosi. "Maaf, kalau Reyhan belum bisa sukses. Maaf, sudah sangat mengecewakan ibu dan bapak, tapi pernikahan ini sudah bisa membuat Reyhan bahagia sekarang."
Reyhan tidak bohong, saat dia mengatakan pernikahan ini sekarang sudah bisa membuat dia bahagia. Walaupun bahagia dalam versi berbeda dengan pikiran ibunya.
"Iya, kamu tetap saja di mata Ibu sudah gagal menjadi seorang anak. Ibu tetap sangat kecewa sama kamu!"
Setelah mengatakan itu, ibunya sudah berlalu masuk ke dalam kamar.
"Segera bawa istri kamu, perkenalkan dengan kami secara resmi. Tidak usah dipikirkan omongan ibu, kita semua sudah tahu ibu wataknya bagaimana."
Setelah mengatakan itu, bapaknya juga sudah berlalu keluar setelah menepuk pelan pundaknya.
Di ruang tamu sekarang tinggal Reyhan yang masih duduk dengan segala pikirannya.
Memang sedari dulu, takeran bahagia hanya berupa uang di mata ibunya. Berprestasi apapun dia di sekolah, tidak pernah membuat ibunya bahagia. Ibunya lebih bahagia saat dia membawa pacar dari orang kaya. Reyhan selalu didoktrin bisa menjadi kaya sedari kecil apapun caranya oleh ibunya. Saat kecil, Reyhan sangat percaya itu tapi semakin dewasa dia semakin sadar, jika kebahagiaan dari uang hanya berupa semu tidak abadi. Banyak hal yang bisa memberikan kebahagiaan selain uang.
Tapi mungkin di mata ibunya, Reyhan sudah sangat gagal menjadi seorang anak sampai kapanpun. Bisa juga, sekarang dia merasa menyesal telah melahirkan Reyhan ke dunia ini.
"Udah gak berguna lo, Rey! Dasar, anak sampah!"
Kata-kata 'anak sampah' yang selalu ibunya ucapkan sedari kecil itu memanglah sebuah kenyataan.
##