Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kerja Sama
Setelah membersihkan kamar dan menata barang-barang mereka, Meng Lin dan enam pemuda terpelajar lainnya akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.
Perjalanan selama dua hari dua malam membuat tubuh mereka terasa letih. Begitu berbaring di atas ranjang kayu yang sederhana, beberapa orang bahkan langsung tertidur tanpa sempat berbincang lebih jauh.
***
Yan Rao yang baru keluar dari kamar mandi melihat Meng Lin membawa baskom menuju dapur.
“Lin Lin, kamu mau memasak?”
“Makan siang. Bantu aku menyiapkan bahan, ya.”
“Baik.” Yan Rao tidak banyak bertanya. Ia segera mengikuti Meng Lin ke dapur bersama.
Melihat kedua gadis itu mulai sibuk, Zhang Wei, yang baru datang keluar kamar langsung mengajak seorang temannya untuk mencari kayu bakar. Sementara itu, tiga pemuda lainnya mengambil ember dan pergi ke sumur untuk menimba air.
Mereka harus mengganti air yang sebelumnya digunakan oleh para pemuda terpelajar lama untuk membersihkan kamar. Bagaimanapun, mereka telah meminjam beberapa peralatan milik penghuni sebelumnya. Mengembalikan semuanya dalam keadaan bersih merupakan hal yang sewajarnya dilakukan.
Tak lama kemudian, dapur kecil itu mulai ramai.
Yan Rao duduk di bangku pendek sambil membersihkan sayuran.
Zhang Wei dan rekannya memotong kayu di halaman, lalu menyalakan api di bawah tungku tanah liat. Tiga pemuda lainnya kembali membawa ember-ember berisi air dan mengisinya ke dalam tempayan.
“Mulai sekarang, sepertinya kita memang harus membagi tugas seperti ini,” ujar salah seorang pemuda sambil mengusap keringat di dahinya.
“Benar. Kalau semuanya dikerjakan bersama, pekerjaan akan lebih cepat selesai,” sahut Zhang Wei.
Tak seorang pun keberatan. Mereka semua sepakat untuk saling membantu selama tinggal di tempat itu.
Meng Lin juga tidak berniat menghindari pekerjaan. Ia hanya ingin semuanya berjalan teratur agar tidak ada seorang pun yang merasa dirugikan.
Setelah bahan-bahan selesai disiapkan, Meng Lin meminta Yan Rao menjaga dapur sebentar. Ia kemudian kembali ke kamar dengan alasan mengambil sesuatu dari koper.
Begitu pintu tertutup, ia memastikan tidak ada orang lain di dalam sebelum menyentuh liontin yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Dalam sekejap, kesadarannya memasuki ruang dimensi. Hamparan tanah yang luas terbentang di hadapannya. Beberapa tanaman yang ia tanam sebelumnya tumbuh subur, buah dan sayurnya terlihat masih dalam kondisi baik meski tidak panen.
Meng Lin berjalan mendekat, memeriksa keadaan tanaman-tanaman itu. Sayangnya, semuanya terlihat terlalu segar.
Jika ia membawa sayuran seperti itu keluar dan mengatakan bahwa ia membawanya dari kota, orang-orang mungkin akan bertanya-tanya bagaimana tanaman tersebut tetap segar setelah perjalanan panjang. Apalagi, jenis sayuran sudah tumbuh jauh lebih besar daripada yang sewajarnya.
Ia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu.
“Sepertinya belum waktunya mengeluarkan hasil panen,” gumamnya pelan.
Setelah berpikir sejenak, Meng Lin meninggalkan ruang dimensi dan kembali ke kamar.
Kali ini, ia benar-benar membuka koper. Ia mengambil sebungkus tepung putih dan yang sebelumnya diberikan oleh tim produksi.
Para pemuda terpelajar yang baru datang mendapatkan jatah bahan makanan dari tim produksi, termasuk biji-bijian kasar yang menjadi makanan pokok mereka. Semua bahan tersebut akan diperhitungkan sebagai bagian dari kebutuhan hidup mereka dan nantinya diganti melalui poin kerja.
Tepung putih dan telur bukan sesuatu yang bisa mereka nikmati setiap hari. Namun, Meng Lin tidak terlalu keberatan menggunakannya sekarang.
Ia masih memiliki persediaan lain di ruang dimensinya. Selama tidak menarik perhatian orang lain, ia tidak perlu terlalu berhemat sampai mengorbankan kenyamanan makan.
Ketika Meng Lin kembali ke dapur sambil membawa tepung dan telur, Yan Rao langsung menghentikan pekerjaannya.
“Lin Lin, kenapa kamu mengambil tepung putih?” Yan Rao menatap bungkusan di tangan temannya dengan sedikit terkejut. “Kita bisa makan makanan biasa saja. Kamu tidak perlu menghabiskan persediaan itu sekarang.”
Meng Lin meletakkan tepung di atas meja.
“Untuk apa disimpan kalau pada akhirnya akan dimakan juga?”
“Tapi tepung putih ini berbeda dengan biji-bijian kasar yang kita dapatkan. Kalau sudah habis, belum tentu kita bisa membelinya lagi dalam waktu dekat.”
“Aku tahu.” balas Meng Lin singkat.
“Lalu kamu masih mau menggunakannya?” tanya Yan Rao dengan wajah tak rela.
Meng Lin mengangguk tenang. “Aku ingin membuat mie berbumbu. Kita sudah menempuh perjalanan jauh. Anggap saja ini makanan untuk menyambut kehidupan baru kita di sini.”
Yan Rao menatapnya beberapa saat, kemudian menghela napas kecil. “Kamu memang selalu punya alasan sendiri.”
Meski begitu, ia tidak lagi mencoba membujuk Meng Lin. Ia hanya menggeser baskom berisi sayuran ke dekat temannya agar lebih mudah dijangkau.
Meng Lin mulai menuangkan tepung ke dalam wadah besar. Ia menambahkan air sedikit demi sedikit, lalu menguleni adonan hingga kalis. Setelah itu, ia memecahkan telur dan mengolahnya untuk dijadikan pelengkap mi.
Karena jumlah mereka cukup banyak, Meng Lin membuat adonan dalam porsi besar. Selain tujuh orang yang baru datang, ia juga menghitung delapan pemuda terpelajar lama yang telah berangkat bekerja sejak pagi.
Sebelumnya, mereka telah meminjam sapu untuk membersihkan kamar. Meng Lin juga sempat mengambil beberapa batang daun bawang dari kebun kecil di belakang halaman tanpa izin. Hal-hal itu memang bukan bantuan besar, tetapi ia tidak suka menerima kebaikan orang lain tanpa berusaha membalasnya.
Membuat sedikit makanan tambahan merupakan cara sederhana untuk menunjukkan rasa terima kasih.
“Lin Lin, kamu membuat sebanyak ini?” Yan Rao menatap tumpukan adonan di atas meja.
“Ya. Kita makan bersama mereka nanti.”
“Kalau begitu, aku akan membantumu memotong sayuran.” Sayuran itu pemberian Bibi Zu secara diam-diam.
Meng Lin mengangguk. Mereka segera kembali sibuk. Yan Rao menyiapkan bumbu, sementara Meng Lin membagi adonan menjadi beberapa bagian sebelum menggiling dan memotongnya menjadi untaian mi.
Aroma tepung dan telur perlahan memenuhi dapur kecil itu. Setelah air dalam panci mendidih, Meng Lin mulai merebus mi dalam beberapa kelompok agar tidak saling menempel.
Ia kemudian menyiapkan bumbu sederhana dari bahan-bahan yang tersedia, menambahkan daun bawang cincang untuk memperkuat aromanya.
Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat. Suara kayu yang terbakar sesekali terdengar di sela-sela percakapan mereka.
Zhang Wei yang baru selesai menyusun kayu bakar melongok ke pintu dapur. “Apa yang kalian masak? Baunya enak sekali.”
“Mie berbumbu,” jawab Yan Rao sambil tersenyum.
“Mie berbumbu?” Zhang Wei mengulangi dengan nada terkejut. “Kalian tidak masak biji-bijian kasar?"
Meng Lin menggeleng singkat tanpa menghentikan pekerjaannya.
Zhang Wei tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi tatapannya tanpa sadar beralih ke panci besar di atas tungku.
Di tempat seperti ini, makanan sederhana pun bisa membuat orang merasa senang, terlebih setelah perjalanan panjang dan hari-hari yang melelahkan.
Meng Lin hanya berharap makanan itu cukup untuk semua orang.
Ia tidak berniat mencari perhatian. Ia sekadar ingin memulai kehidupan barunya dengan baik, menjaga hubungan yang wajar dengan orang-orang di sekitarnya, dan membalas bantuan kecil yang telah diterimanya.
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰