Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di sebuah club ternama di Ibukota
Luna nampak duduk dengan santai tepat di sebelah Arkan, membuat Arkan tersenyum puas ke arah Rachel kala itu, seperti memberi sebuah kode kepada Rachel agar segera memulai aksinya.
"Lun ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepada mu..." ucap Rachel hendak mengatakan maksudnya, namun langsung di potong dengan satu tangan Luna yang di angkat di hadapannya, yang tentu saja langsung menghentikan perkataan Rachel kala itu.
"Untuk apa terlalu terburu-buru, bukankah seharusnya kita pesan sesuatu dulu yang lebih menarik di tempat ini?" ucap Luna kemudian dengan senyuman tipis yang mengembang.
"Maksudnya Lun?" tanya Arkan dengan raut wajah yang bertanya.
"Aku dengar club ini baru saja kedatangan salah satu alkohol tertua di dunia yang rasanya bisa membuat siapa saja merasa seperti berada di surga, apakah kamu tidak ingin mencobanya?" ucap Luna dengan seulas senyuman penuh arti.
"Maksud mu Rum Harewood Barbados tahun 1780? Salah satu alkohol termahal dimana harganya sekitar $29.999 atau setara dengan Rp460 juta?" ucap Arkan yang langsung bertanya dengan manik mata yang gemilang.
Mendengar perkataan Arkan yang seakan terpancing akan kata-katanya, lantas tersenyum tipis sambil mengangguk sekilas, membuat Arkan langsung merasa berbunga karena mengira jika Luna akan memberikan alkohol tersebut denga sukarela kepadanya.
"Tentu, pesan saja aku juga ingin mencobanya." ucap Luna seakan mengiyakan perkataan Arkan barusan.
Mendapat persetujuan tersebut, Arkan merasa seperti mendapat sebuah kesempatan yang langka. Tanpa membuang waktu lagi Arkan langsung memanggil pelayan dan menyuruhnya membawa beberapa botol alkohol tersebut dan langsung menikmatinya.
Suara hiruk pikuk ruangan VVIP tersebut terdengar begitu menggelegar. Alkohol tersebut benar-benar membuat siapa saja terlena setelah meminumnya.
Luna yang melihat semua orang begitu bahagia setelah mencicipinya hanya terlihat manggut-manggut sambil menunggu permainan berikutnya beraksi.
"Lun kamu tahu... Aku sungguh sangat-sangat bersyukur memiliki mu... Aku..." ucap Arkan sambil bergelayut manja di lengan Luna, entah itu karena efek alkohol atau memang akting Arkan yang terlalu over, hal tersebut tentu saja membuat tatapan tak suka terlihat jelas di wajah Rachel.
"Iya iya iya... Santai saja..." ucap Luna dengan senyum terpaksa, sambil sedikit mendorong tubuh Arkan agar menjauh darinya.
"Emmm Lun... Sebenarnya ada sesuatu yang hendak ku tanyakan kepadamu, ini soal 3% saham yang kamu janjikan untuk anniversary kalian berdua, apakah..." ucap Rachel hendak mulai bertanya.
Hanya saja Luna yang tahu akan arah pembicaraan ini, langsung menuang alkohol tersebut dan menyodorkannya ke arah Rachel, membuat Rachel langsung terdiam seketika.
"Ayolah.. Kita sedang bersenang-senang, kamu gak asik ih... Bukankah kalian ingin menikmati alkohol ini bukan? Jangan lewatkan kesempatan ini Rachel.." ucap Luna sambil memaksanya untuk meminum alkohol tersebut.
"Tapi..." ucap Rachel hendak menolak, namun tak bisa karena Luna terus menyuruhnya untuk minum.
"Sudah.. Santai saja..." ucap Luna kembali. "By the way aku ke toilet dulu ya, kalian lanjut dulu..." ucap Luna kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi.
"Tunggu.. Tapi Lun..." ucap Rachel hendak menghentikan langkah kaki Luna, namun Luna sudah keburu berlalu pergi dari sana. "Sialan!" pekik Rachel dengan raut wajah yang kesal.
***
Sementara itu di luar ruangan VVIP tersebut, Luna tampak berdiri menatap seseorang dengan tatapan yang tegang.
"Jangan lupa apa yang sudah saya katakan, apa kau mengerti?" ucap Luna pada salah satu pelayan club tersebut.
"Tapi Nona, apakah kita tidak akan ketahuan? Saya benar-benar takut jika mereka tahu akan hal ini." ucap pelayan tersebut.
"Tak perlu khawatir, bukankah kamu membutuhkannya untuk biaya berobat ibumu? Lakukan saja semuanya, aku akan mempermudah urusannya nanti lewat manager club, jadi kamu tak perlu terlalu khawatir masalah ini." ucap Luna dengan seulas senyuman mengembang di wajahnya.
"Baik nona, terima kasih banyak." ucap pelayan tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Luna seorang diri.
Setelah kepergian pelayan club tersebut, Luna nampak menyandarkan dirinya pada dinding tembok di ruangan tersebut. Raut wajah bahagia terlihat jelas terukir indah di wajahnya. Luna benar-benar tidak membayangkan bagaimana wajah Arkan ketika menerima bill tagihan senilai ratusan juta tersebut.
"Untung saja dia bodoh, jadi lebih gampang aku kelabui hahahaha" ucap Luna dengan tawa yang menggema, menyisakan kebahagiaan tersendiri dalam dirinya.
"Jadi siapa di sini yang menurut mu bodoh ha? Apa itu aku Luna?" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Luna memutar tubuhnya dengan raut wajah yang bertanya.
"S a g a r a? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" ucap Luna dengan manik mata yang terbelalak.
"Bagaimana aku bisa di sini itu tidaklah penting, yang terpenting disini adalah... Apakah kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku Lun?" ucap Sagara dengan raut wajah yang tegang, membuat Luna langsung menelan ludahnya dengan kasar.
"Aku...." ucap Luna hendak mulai menjelaskan.
Belum sempat Luna menjelaskan apa yang terjadi, sebuah suara yang berasal dari ruangan VVIP tempat dimana Arkan dan yang lainnya berada, terdengar suara Rachel yang memanggil namanya berulang kali, hal tersebut membuat Luna langsung menarik paksa tangan Sagara dan membawanya masuk ke ruangan sebelah, tanpa sadar jika tangannya membekap erat mulut Sagara tepat setelah keduanya masuk ke ruangan sebelah.
"Jangan berisik nanti kita ketahuan..." ucap Luna sambil celingukan ngintip keluar memastikan apakah Rachel sudah pergi atau belum.
"Bagiaamanaa aku mememmmmm" ucap Sagara tidak jelas yang lantas membuat Luna langsung menoleh ke arah Pria tersebut.
"Ups maaf aku gak sengaja..." ucap Luna kemudian cengengesan sambil melepas tangannya dari mulut Sagara.
"Baiklah... Apakah sekarang aku sudah bisa mendapat jawabannya? Atau kita berdua masih perlu sembunyi di sini sampai besok?" ucap Sagara dengan nada sindiran.
"Baiklah baiklah... Tak perlu memasang raut wajah masam seperti itu, tenang saja aku akan menjelaskannya." ucap Luna dengan tersenyum simpul, yang semakin memunculkan tanda tanya besar di kepala Sagara saat itu.
***
Sementara itu di ruangan VVIP
Seorang pelayan terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arkan dan Rachel berada.
"Permisi tuan ini bill nya, mau dibayar lewat pembayaran apa kalau boleh tahu?" ucap pelayan tersebut, yang tentu saja langsung mengundang tanda tanya besar di benak Arkan.
"Apa 1,2 milyar? Kalian mau peras aku ya?" pekik Arkan yang tentu saja langsung membuatnya jadi pusat perhatian.
"Ini sudah sesuai dengan pesanan anda tuan, 2 botol Rum Harewood Barbados tahun 1780, dan juga beberapa wine klasik pilihan anda sebelumnya." ucap pelayan tersebut menjelaskan.
Mendengar hal tersebut Arkan menarik pelayan itu sedikit menjauh dari teman-temannya, kemudian dengan nada sedikit berbisik bertanya kembali kepada pelayan tersebut.
"Bukankan Luna sudah membayarnya? Bahkan tempat ini juga dipesan olehnya bukan?" ucap Arkan dengan nada yang berbisik.
"Maaf Tuan semuanya dipesan tepat ketika anda datang, untuk masalah tempat...ruangan ini di pesan khusus atas nama nona Rachel bukan Luna." ucap pelayan tersebut.
"Apa katamu?" pekik Arkan kemudian.
Bersambung