Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Hari keberangkatan Sena ke Singapura akhirnya tiba.
Sejak pagi, suasana rumah sakit terasa berbeda bagi Alina. Sebentar lagi dia akan melepaskan kepergian orang tuanya yang entah sampai berapa lama untuk menjalani pengobatan.
Di dekat pintu ruang perawatan, beberapa perawat sedang mempersiapkan pemindahan Sena. Dokumen perjalanan, obat-obatan, serta barang-barang yang dibutuhkan selama perawatan sudah diperiksa berulang kali oleh Bunda.
Sementara itu, Alina tidak sedikitpun beranjak dari sisi ayahnya.
Gadis itu berdiri di samping ranjang, menggenggam tangan Sena yang terasa hangat. Sejak tadi, ia terus berusaha tersenyum meskipun hatinya terasa berat untuk meninggalkan putrinya meskipun Alina sudah ada yang menjaga tapi tetap saja perasaan khawatir tidak bisa dia sembunyikan.
"Ayah nanti jangan lupa makan, ya. Obatnya juga harus diminum sesuai jadwal. Jangan sampai Bunda yang harus mengingatkan terus," ucap Alina sambil berusaha terdengar santai.
"Iya, cerewet sekali anak Ayah." Sena merasa gemas dengan putrinya yang mengaktifkan mode cerewet.
"Memangnya siapa lagi yang mau cerewet kalau bukan Alin? Bunda aja sabarnya ga ketulungan" ucap Alina sambil melirik bundanya yang berdehem mendengar ucapan putrinya.
Sena mengangkat tangan, mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Alin."
"Iya, Yah?"
"Jaga diri baik-baik selama Ayah pergi, ya."
Alina mengangguk cepat. "Iya, Ayah. Ayah juga harus jaga diri. Alin tunggu Ayah pulang."
"Kalau Ayah bilang jangan terlalu memikirkan Ayah selama di sana, kamu mau dengar?"
Alina mengerucutkan bibirnya,"Enggak bisa, Yah. Ayah itu ayah Alin. Mana mungkin Alin enggak mikirin Ayah?"
Sena tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau begitu ayah harus segera sembuh,biar sayangnya ayah ga kepikiran terus."
"Harus dong, Nanti Alina mau minta beliin tiket konser kalau ayah udah sembuh." Alina mencoba mencairkan suasana.
"Kamu ini tetap saja mikiri pacar-pacar halu kamu,ingat sekarang udah punya suami." mendengar ucapan ayahnya Alina langsung cemberut.
"Mereka itu tidak bisa tergantikan asal ayah tau."
Melihat Alina yang kembali ceria atau mungkin berpura-pura tidak terjadi apa-apa sedikit mengurangi kesedihan dihati Sena.
Sedangkan, Alina tidak ingin membuat keberangkatan ayahnya dipenuhi penyesalan.
"Alin akan baik-baik saja, Yah. Ayah fokus saja menjalani pengobatan. Jangan pikirkan Alin terus, nanti bunda cemburu."
"Dari tadi bunda diam aja masih kena juga." Akhirnya bunda mengeluarkan suaranya. Alina dan ayahnya langsung tertawa bersama karena berhasil membuat bundanya kesal.
"Benarkah kamu akan baik-baik saja?" Kembali Sena bertanya untuk memastikan.
Alina mengangguk mantap, meskipun hatinya sendiri belum tahu bagaimana caranya menjalani hari-hari mendatang tanpa kehadiran mereka.
"Iya. Alin janji."
Sena menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencari kepastian dari mata putrinya. Kemudian, ia menarik tangan Alina dan mengecup punggung tangannya.
"Maafkan Ayah untuk semuanya, Nak."
Air mata yang sejak tadi ditahan Alina akhirnya mengalir juga.
"Ayah, jangan minta maaf terus. Alin enggak mau Ayah berangkat dengan perasaan sedih. Alin mau Ayah sembuh. Itu saja."
"Sudah, Yah." Alina menggeleng sambil tersenyum di antara air matanya. "Nanti kalau Ayah terus-terusan minta maaf, Alin malah nangis lebih kencang. Ayah mau lihat Alin nangis sampai sesenggukan? Atau mau ditambahin sambil guling-guling di lantai."
Sena terkekeh pelan.
"Memangnya kamu engga malu dilihat sama suami dan mertua kamu?"
Alina mengusap pipinya dengan cepat.
"Ga jadi deh,bener ayah, Alin malu." Alina berkata sambil melirik pintu takut tiba-tiba Farhan dan keluarganya masuk. Bunda dan ayah langsung tertawa melihat tingkah lucu Alina.
Tawa kecil itu hanya bertahan sebentar sebelum suasana kembali haru.
Bunda kemudian mendekat dan memeluk Alina. Perempuan itu mengusap punggung putrinya berkali-kali, seolah ingin memberikan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
"Jaga diri baik-baik, Sayang. Jangan lupa makan. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Bunda, ya."
Alina mengangguk di dalam pelukan ibunya.
"Iya, Bun."
"Bunda mungkin enggak bisa selalu ada di samping kamu selama menemani Ayah berobat. Tapi bukan berarti kamu sendirian. Kamu bisa menghubungi Bunda kapan saja."
"Alin ngerti, Bun. Bunda jangan terlalu khawatir, ya. Temani Ayah sampai sembuh. Alin bisa menjaga rumah."
Bunda mengecup kening putrinya lama sekali sebelum akhirnya melepaskan pelukan.
Sena kemudian menoleh ke arah Farhan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Baru saja Farhan masuk, laki-laki itu lebih banyak diam, memberikan ruang bagi keluarga kecil tersebut untuk menghabiskan waktu bersama.
"Farhan, bisa mendekat sebentar?"
"Iya, Om." Farhan berjalan mendekat ranjang Sena.
Sena mengulurkan tangannya. Farhan menyambutnya dengan kedua tangan, kemudian sedikit membungkuk agar bisa mendengar suara pria itu dengan jelas.
"Om titip Alina, ya." Perkataan Sena membuat Farhan membeku karena tidak tau apa yang harus dia katakan.
Sena melanjutkan dengan suara pelan, "Om tahu pernikahan kalian terjadi mendadak. Om juga tahu kalian mungkin masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal. Om tidak meminta kamu melakukan sesuatu yang berlebihan."
Pandangan Sena beralih kepada Alina yang sedang mengecek kebutuhan bersama bundanya.
"Tapi selama Om dan Bunda berada di Singapura, tolong sesekali sapa Alina. Tanyakan kabarnya. Pastikan dia baik-baik saja."
Permintaan itu terdengar sederhana.
Namun, justru hal sesederhana itulah yang membuat Farhan merasa semakin bersalah karena takut jika dia lalai.
Sekarang ini, di hadapannya, seorang ayah sedang menitipkan putrinya kepada seorang laki-laki yang bahkan belum mampu memberikan kejujuran dalam pernikahannya sendiri.
"Iya, Om. Saya akan mengusahakannya," jawab Farhan akhirnya.
"Terima kasih."
Tak lama kemudian, petugas mengabarkan bahwa mereka harus segera berangkat.
Bunda mengecup kening Alina sekali lagi. Sena pun menggenggam tangan putrinya untuk terakhir kalinya sebelum ranjangnya didorong menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke bandara.
"Ayah!" panggil Alina spontan.
"Alin sayang Ayah. Ayah harus pulang dalam keadaan sehat, ya!"
"Ayah juga sayang Alin."
Alina melambaikan tangan sambil terus tersenyum. Ia bertahan di tempatnya sampai sosok kedua orang tuanya benar-benar menghilang dari pandangan.
Barulah setelah itu, senyumnya perlahan runtuh.
"Alina, kamu ikut Mama pulang saja, ya?"
Suara Mama Farhan membuyarkan lamunan Alina. Perempuan paruh baya itu menghampirinya setelah memastikan Sena dan Bunda sudah berangkat.
"Di rumah Mama ada kamar kosong. Kamu bisa tinggal di sana selama Ayah dan Bundamu di Singapura. Setidaknya ada orang yang menemani kamu."
Alina menoleh, lalu tersenyum sopan.
"Terima kasih banyak, Ma. Tapi Alina mau tinggal di rumah sendiri saja."
"Sendirian? Kamu yakin?"
"Iya, Ma. Rumahnya juga enggak terlalu jauh dari sini. Alina bisa mengurus semuanya sendiri."
"Tapi kamu baru saja melewati banyak hal. Mama khawatir kamu kelelahan atau jatuh sakit. Kalau ada apa-apa, siapa yang akan membantu kamu?"
Alina memahami kekhawatiran Mama Farhan. Perempuan itu sudah cukup baik kepadanya, bahkan sejak pernikahan mendadak tersebut berlangsung. Namun, Alina masih membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan kenyataan bahwa sekarang ia sudah menjadi seorang istri.
"Alina benar-benar enggak apa-apa, Ma. Alina sudah terbiasa mengurus rumah. Nanti kalau butuh sesuatu, Alina bisa pesan makanan atau meminta bantuan Bibi."
Mama Farhan masih terlihat ragu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Farhan mengantar kamu pulang? Setidaknya Mama tahu kamu sampai rumah dengan selamat."
Alina buru-buru menggeleng.
"Enggak usah, Ma. Alina bisa pulang sendiri. Rumah Alina juga dekat."
Mama Farhan menoleh kepada putranya.
"Farhan, antar istrimu pulang. Jangan biarkan dia pergi sendirian."
"Engga usah ma, Alin bawa motor kok." Kembali Alina menolak untuk diantarkan Farhan.
"Kamu beneran gapapa pulang sendirian?." Mama Farhan masih khawatir karena dia tau jika kondisi Alina tidak sebaik kelihatanya.
"Beneran ma, aku bisa sendiri." Dengan berat hati akhirnya Alina pulang tanpa didampingi oleh siapapun.
Farhan mengembuskan napas pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, hati-hati di jalan."
Alina mengangguk sebagai tanda dia akan berhati-hati.
Mama Farhan tampak belum sepenuhnya puas, tetapi akhirnya ia mengalah karena tidak ingin membuat Alina tertekan jika dia terus memaksa.
"Kalau sudah sampai, kabari Mama, ya. Anggap saja Mama juga orang tuamu. Kamu enggak perlu sungkan kalau butuh bantuan."
"Terima kasih, Ma. Alina pasti mengabari Mama." Alina tersenyum karena melihat ketulusan Mama lara kepadanya.
Farhan memperhatikan punggung istrinya sampai perempuan itu menghilang dari pandangan.
Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman yang muncul ketika melihat Alina pergi sendirian. Mungkin karena ia masih mengingat permintaan Sena.
Namun, pikiran itu segera ia singkirkan.
Farhan tidak boleh membiarkan perasaan bersalah membuat hidupnya semakin rumit.
Perjalanan menuju rumah yang selama ini ditinggalinya bersama Renata terasa lebih panjang daripada biasanya.
Farhan menyetir dalam diam. Sesekali, pikirannya kembali kepada kejadian pagi tadi. Bayangan Sena yang menggenggam tangannya, tangisan Alina dalam pelukan ayahnya, serta permintaan sederhana agar ia menyapa putrinya selama menjalani pengobatan terus terlintas di kepalanya.
"Jangan dipikirkan terus, Farhan. Semua ini cuma sementara," gumamnya.
Farhan berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan kembali seperti semula. Setelah Sena menyelesaikan pengobatannya, Farhan akan membicarakan semuanya dengan keluarga Alina. Farhan akan memastikan bahwa tanggung jawabnya selesai tanpa harus menghancurkan hubungannya dengan Renata.
Ketika mobilnya memasuki halaman rumah, Farhan langsung menyadari sesuatu yang berbeda. Aroma masakan yang sedap tercium bahkan sebelum dia membuka pintu.
Ayam goreng dengan bumbu rempah dan tumisan sayur. Menu sederhana yang hampir selalu membuatnya ingin segera duduk di meja makan setiap kali pulang bekerja.
Sudut bibir Farhan terangkat, Renata pasti sedang memasak.
Setelah memarkir mobil, ia membuka pintu rumah menggunakan kunci cadangan. Suasana di dalam terasa hangat. Televisi menyala pelan di ruang tengah, sementara dari arah dapur terdengar bunyi spatula beradu dengan wajan.
Farhan meletakkan tas kerjanya di sofa, kemudian berjalan menuju dapur.
Dan benar saja, Renata berdiri membelakanginya, mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat sederhana, sementara satu tangannya memegang spatula dan tangan lainnya sibuk menyiapkan bumbu.
Perempuan itu bahkan tidak menyadari bahwa Farhan sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pemandangan itu begitu akrab. Pemandangan yang selama ini selalu berhasil membuatnya merasa pulang, seolah seluruh kelelahan di luar rumah akan hilang begitu saja ketika ia melihat perempuan tersebut.
Tanpa banyak berpikir, Farhan melangkah mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Renata dari belakang.
Renata tersentak, "Astaga! Farhan!"
Renata hampir menjatuhkan spatulanya, tetapi Farhan buru-buru tertawa kecil sambil mempererat pelukannya.
"Kenapa, Sayang? Kangen, ya?"
Renata menoleh setengah, lalu memukul pelan lengan laki-laki itu.
"Kamu bikin kaget! Kalau spatulanya sampai jatuh bagaimana?"
Farhan terkekeh kemudian mengecup pipi Renata, lalu menyandarkan dagunya di bahu perempuan itu.
"Maaf. Aku cuma kangen."
Renata akhirnya tersenyum.
"Kangen atau lapar? Ini masakan belum selesai, tahu."
"Dua-duanya."
"Dasar."
Renata kembali menghadap kompor, sedangkan Farhan tetap memeluknya dari belakang.
Namun, semakin erat ia memeluk Renata, semakin besar pula rasa bersalah yang memenuhi dadanya.
Renata tidak tahu bahwa kemarin Farhan telah duduk di hadapan penghulu dan mengucapkan akad nikah dengan nama perempuan lain.
Renata tidak tahu bahwa sekarang Farhan sudah memiliki seorang istri.
Dan yang paling menyakitkan, Renata masih menyambutnya dengan senyum yang sama, tanpa sedikit pun mencurigai sesuatu.
"Sayang," panggil Renata sambil mengecilkan api kompor. "Urusan kamu sudah selesai?"
Pelukan Farhan sedikit mengendur, Farhan menatap wajah Renata yang kini menoleh kepadanya.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Syukurlah. Aku sempat khawatir kamu bakal pulang terlalu malam."
Renata kemudian kembali sibuk dengan masakannya.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Sebentar lagi makan malam siap. Hari ini aku masak makanan kesukaan kamu."
Ada dorongan kuat untuk mengatakan semuanya. Untuk mengakui bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan hubungan mereka jika suatu hari nanti terbongkar.
Namun, dia takut kehilangan perempuan yang selama ini dicintainya.
Dan, yang paling egois, takut harus memilih antara tanggung jawabnya sebagai suami Alina dan keinginannya mempertahankan kehidupan bersama Renata.
"Sayang? Kok diam saja?"
Farhan tersadar.
"eh iya, Sayang." Farhan mengecup kening Renata sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Aku mandi dulu."
Renata mengangguk sambil tersenyum.
"Habis itu langsung makan, ya!"
"Iya."
Farhan berjalan meninggalkan dapur, baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh sekali lagi.
Renata masih sibuk memasak, sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang terdengar dari televisi.
Aku enggak bermaksud mengkhianati kamu. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku janji, pernikahan ini tidak akan mengubah apa pun di antara kita.