NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:410.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar

Setelah mengatakan itu, Naya tidak menunggu jawaban Arka. Ia kembali duduk, menarik bukunya, dan melanjutkan kegiatannya memotong kertas seolah kehadiran Arka di sana tidak mengganggunya sama sekali.

Arka perlahan mengulurkan tangannya, meraih gagang cangkir hangat itu. Ia menyesapnya pelan. Kehangatan cairan hitam itu mengalir di tenggorokannya, membawa rasa pahit yang pas dengan sensasi manis yang lembut di ujung lidah. Kepalanya yang berdenyut sejak sore perlahan terasa sedikit lebih ringan. Rasa kopi ini ... sangat pas, jauh lebih menenangkan daripada kopi mahal yang biasa dibelikan sekretarisnya di kantor.

Selama beberapa menit, keheningan yang tercipta di antara mereka tidak lagi terasa mencekik atau menegangkan. Hanya ada suara gesekan gunting Naya dan helaan napas teratur dari Arka yang menikmati kopinya.

Arka berdiri diam di sana, matanya tak lepas dari jemari Naya yang lincah bergerak di atas kertas. Untuk pertama kalinya sejak seminggu pernikahan kontrak ini berjalan, Arka menyadari ada hal yang "berbeda" di rumahnya. Rumah besar yang dulunya terasa seperti bangunan mati yang dingin dan asing, malam ini terasa hangat. Ada kehidupan di dalamnya. Dan semua itu karena kehadiran wanita sederhana bernama Nayara ini.

Arka menghabiskan kopinya hingga tegukan terakhir, lalu meletakkan cangkir kosong itu ke dalam wastafel dengan pelan. Ia menatap punggung Naya yang masih sibuk bekerja.

"Terima kasih untuk kopinya," ucap Arka rendah, suaranya terdengar lebih lembut, kehilangan separuh dari kekakuannya yang biasa.

Naya tidak mendongak, namun jemarinya sempat terhenti satu detik mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari mulut sang tuan rumah. "Sama-sama. Segera istirahat, Tuan Arka. Besok Anda harus menghadapi dunia luar lagi."

"Kamu juga. Jangan tidur terlalu larut," sahut Arka pelan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju ruang kerjanya.

Naya baru mendongak setelah langkah kaki Arka benar-benar menghilang di lantai atas. Ia menatap cangkir kosong di wastafel, lalu beralih menatap tangga yang sunyi. Bibir Naya mengukir senyuman tipis yang sarat akan makna yang dalam. Pria sedingin es itu ternyata bisa melunak hanya karena secangkir kopi di tengah malam.

Namun, Naya segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pikiran-pikiran yang mulai melintasi batas aman. Ia mengingat kembali poin keempat dalam kontraknya: Dilarang keras melibatkan perasaan.

"Jangan bodoh, Naya. Dia hanya bosmu, dan kamu hanya pekerjanya," bisik Naya pada dirinya sendiri di keheningan malam, mengunci rapat-rapat hatinya sebelum badai yang sesungguhnya datang menghampiri mereka.

***

Keesokan malam...

Kemegahan kediaman utama Baskoro Dewangga malam itu terpancar dari lampu-lampu kristal gantung yang menerangi pilar-pilar kokoh bergaya klasik modern. Deretan mobil mewah berpelat nomor cantik berbaris rapi di pelataran parkir yang luas.

Di dalam mobil SUV hitamnya, Arka melirik sekilas ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Nayara tampil sangat anggun malam ini. Ia mengenakan kebaya modern brokat berwarna khaki yang dipadukan dengan kain batik tulis bermotif halus, senada dengan kemeja batik yang dikenakan Arka. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah tenangnya. Tidak ada riasan tebal, namun aura keanggunan alaminya justru terpancar kuat.

"Ingat, Naya. Begitu kita turun, pasang topengmu dengan rapat," bisik Arka, suaranya merendah penuh penekanan. "Tante Sandra adalah tipe orang yang lidahnya lebih tajam dari pisau dapur. Dan Clarissa ... dia pasti mencari celah sekecil apa pun."

Naya menoleh, menatap lurus ke dalam mata elang Arka. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tenang menghanyutkan.

"Saya sudah biasa menghadapi orang-orang yang merasa dirinya paling tinggi di dunia ini, Mas Arka," jawab Naya, dengan sengaja memanggil Arka dengan sebutan 'Mas' untuk memanaskan mesin sandiwara mereka. "Kendalikan saja ekspresi kaku Anda. Mari."

Begitu pintu mobil dibuka oleh pelayan, Arka langsung mengulurkan lengannya. Naya menyambutnya, melingkarkan jemarinya di lengan kokoh Arka dengan gerakan yang luwes, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang paling berbahagia di dunia.

Langkah kaki mereka membawa keduanya memasuki ruang makan utama yang megah. Meja makan panjang berbahan kayu jati solid itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan kelas atas. Di ujung meja, duduk Baskoro Dewangga yang berwibawa, didampingi Ibu Ambar. Namun, yang membuat suasana ruangan mendadak drop adalah kehadiran dua orang lainnya di sisi kiri meja: Clarissa Maheswari dan Tante Sandra.

"Ah, ini dia pengantin baru kita yang menghebohkan satu Jakarta!" Suara melengking Tante Sandra memecah keheningan disusul senyum yang dipaksakan.

Clarissa yang duduk di sebelah Tante Sandra hanya menatap Naya dengan pandangan mata yang dingin, sarat akan kebencian yang tertahan.

"Malam, Ayah, Ibu," ucap Arka sopan, menundukkan kepalanya sedikit sebelum menuntun Naya menuju kursi yang tersisa.

Naya melangkah maju, memberikan penghormatan yang sangat takzim kepada Papa Baskoro dan Mama Ambar. "Malam, Papa, Mama. Mohon maaf jika kami membuat semuanya menunggu."

Baskoro Dewangga mengangguk pelan, matanya yang tajam dan sarat pengalaman mengamati gerak-gerik Naya sejak pertama kali masuk. "Duduklah. Kita mulai makan malamnya."

Acara makan malam dimulai dengan keheningan yang formal. Denting sendok porselen dan pisau perak beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mendominasi. Namun, ketenangan itu sengaja dirobek oleh Tante Sandra yang tampaknya sudah tidak sabar untuk melancarkan serangan.

"Ngomong-ngomong, Naya," Tante Sandra meletakkan garpunya, menopang dagu sambil menatap Naya dengan senyuman palsu yang kentara. "Tante dengar dari Ambar, kamu ini cekatan sekali ya mengurus Kenzie. Ya ... wajar sih, ya. Namanya juga perempuan dari ... kalangan biasa, pasti sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan seperti itu."

Gerakan tangan Arka yang sedang memotong daging steak-nya seketika terhenti. Rahangnya mengeras. Ia bersiap untuk membuka suara untuk membela Naya demi kelancaran sandiwara mereka, namun Naya di sebelahnya dengan halus menyentuh punggung tangan Arka di atas meja—sebuah isyarat tenang agar pria itu tetap diam.

Naya menelan makanannya dengan tenang, mengelap bibirnya dengan serbet kain dengan gerakan yang sangat anggun dan teratur. Ia menatap Tante Sandra tanpa ada kilat kemarahan sedikit pun di matanya.

"Terima kasih atas pujiannya, Tante Sandra," sahut Naya, suaranya mengalun sangat lembut dan stabil, mengontrol penuh jalannya pembicaraan. "Bagi saya, mengurus anak bukan sekadar pekerjaan rumah tangga yang melelahkan, melainkan sebuah kehormatan tertinggi bagi seorang wanita. Menjadi seorang ibu adalah tentang memberikan ketulusan hati, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan materi atau diukur dari kelas sosial mana kita berasal."

Jawaban tenang namun sarat makna itu membuat Tante Sandra sedikit salah tingkah. Clarissa yang melihat tantenya terdesak segera mengambil alih pembicaraan dengan nada yang lebih sinis.

Bersambung...

1
Violet
Hadapin para ular yaitu bakar surat kontrak pernikahan! Musnahkan smua bukti perjanjian! Barang bukti musnah Naya ttp profesional kok kalo Arka masih mau lanjutin dramanya
Violet
Jiwa barbar ku di kasih poin 1 & 2 dgn senang hati ku sambut 💃💃 jdnya kan bisa hemat energi ga usah repot² ngelakuin job desk ART 😁
Nanik Kusno
Alhamdulillah.... terima kasih atas ceritanya Kak Othor.... semoga sehat selalu dan semangat untuk terus berkarya.....
Nanik Kusno
Bahagia selalu semuanya.... dikelilingi orang-orang tercinta.....🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷
Nanik Kusno
Alhamdulillah....SAH... semoga SAMARA....
Nanik Kusno
Sheeeppp.....selangkah lagi menuju kebahagiaan...👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Semoga bahagia selalu menyertai seluruh keluarga.....
Nanik Kusno
Alhamdulillah....Bu Ambar sadar juga...
Nanik Kusno
Alhamdulillah.....👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Sebenarnya.... Arka Naya sudah cerai belum sih????🤔🤔🤔🤔🤔
Nanik Kusno
😭😭😭😭😭Arka sudah bener2 menyerah.....apapun yang sudah dimiliki...g ada harganya ketika anaknya sakit karena merindukan mamanya....
Nanik Kusno
Selalu anak yang jadi korban..... kasian Kenzie
Nanik Kusno
Semangat Arka.....usaha g mengkhianati hasil....💪💪💪💪💪
Nanik Kusno
Sabar ya Arka.... tembok baja bernama Naya akan luluh.... meskipun membutuhkan waktu lama.... jangan pernah putus asa.... berjuanglah untuk kebahagiaan keluargamu...
Nanik Kusno
Nah gitu Arka.... berusahalah dengan sungguh-sungguh....dekati Naya mulai awal.... pelan-pelan....sabar....
Nanik Kusno
Kejar kembali Naya.....kamu punya segalanya untuk menemukan dan berjuang mendapatkan hati Naya...
lakukan dengan cara yang paling baik Arka....😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Nanik Kusno
😭😭😭😭😭😭😭 bagaimana dengan Kenzie nantinya....dis g tau kalau mamanya g akan kembali ke rumah ini lagi......
Nanik Kusno
Kita lihat berikutnya pemirsah..... apakah Naya akan luluh.......🤔🤔🤔🤔🤔
Nanik Kusno
Wanita yang mereka sebut kampungan.... menghempaskan seluruh argumen lawan.... tanpa celana.... tanpa emosi....👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Masalah ketulusan....Naya tiada duanya.... masalah membela harga diri.... Naya juaranya......👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!