NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Panggilan dari Dapur yang Sama

Ponsel Carlo bergetar saat mereka masih berdiri di tepi sungai.

Bukan getar pesan biasa, melainkan getar panjang dan tak putus, dari nomor tanpa nama. Carlo menatap layar itu sejenak dengan dahi berkerut, lalu mengangkatnya di loudspeaker karena Andien berdiri begitu dekat.

"Halo?"

Hening. Hanya desis statis, lalu suara yang membuat tengkuk Andien meremang. Suara itu dalam dan datar, terdistorsi seperti diucapkan lewat pipa logam.

*"Selamat sore, Carlo. Kamu masih ingat suara ini?"*

Wajah Carlo berubah. Seluruh warna surut dari pipinya.

"Dien," bisiknya tanpa menutup mikrofon. "Itu suara yang menelepon Pak Darto malam itu. Hendra pernah menceritakannya ke penyidik."

*"Pintar. Jadi kamu paham siapa yang bicara."* Tawa pendek, tanpa humor. *"Sebenarnya aku tidak perlu menyamar lagi. Tapi kebiasaan lama susah hilang."*

Terdengar bunyi gemerisik, lalu suara itu berubah. Distorsinya hilang, digantikan suara pria muda, tegang dan dingin.

*"Bima Prasetia. Putra Bramantyo. Kamu belum pernah bertemu aku, kan, Carlo? Ayahku selalu menyimpanku jauh-jauh. Katanya anak yang terlalu pintar harus dilindungi dari keluarganya sendiri."*

"Kamu di mana?" tanya Carlo. Suaranya tenang, tetapi Andien melihat jemarinya memutih di sekeliling ponsel.

*"Di tempat yang kamu kira aman. Aku sedang berdiri di dapur besar dengan lima kompor, Carlo. Kamu pasti tahu tempatnya."*

Andien membeku.

*"Rumah Pulang,"* lanjut Bima. *"Nama yang bagus. Seandainya ayahku tidak membusuk di sel gara-gara kalian, aku mungkin akan menyumbang."*

"Bima, dengar..."

*"Tidak. Kamu yang dengar."* Nada Bima mengeras tiba-tiba. *"Ada empat puluh dua orang di rumah ini. Keluarga pasien yang menginap. Beberapa anak kecil. Dan seorang dokter yang kalian kenal baik, Laras Prameswari, yang barusan kuminta duduk manis di kursi dapur supaya tidak melakukan hal bodoh."*

Telinga Andien berdenging. Di latar belakang telepon, samar tetapi jelas, terdengar suara anak kecil menangis dan suara perempuan berbisik menenangkannya. Suara Laras.

*"Aku tidak membawa senjata, kalau kamu bertanya,"* lanjut Bima. *"Aku hanya membawa kunci. Semua katup gas di dapur ini sudah kubuka separuh. Lima tabung besar, dan satu jendela yang kututup rapat. Kamu pernah mencium bau gas yang menumpuk selama satu jam, Carlo? Aku sudah dua jam di sini."*

Carlo memejamkan mata. Andien melihat otot di rahangnya bergerak.

"Apa maumu?"

*"Sederhana. Datang sendiri ke Menteng sebelum tengah malam. Bawa surat pelimpahan seluruh sahamku, yang ayahmu atau Hendra atau siapa pun pernah janjikan pada keluarga kami. Aku sudah siapkan dokumennya. Notaris menunggu di ruang makan, dengan senapan di punggungnya dan keluarga di depannya."*

"Notaris?"

*"Orang yang kamu kenal, tentu saja. Dia yang mengesahkan surat Hendra dulu. Dia sudah bekerja untuk keluargaku jauh lebih lama dari yang kamu kira."*

"Dan kalau aku datang?"

*"Kamu tanda tangan. Aku pergi. Mereka semua selamat."* Jeda panjang. *"Kalau kamu membawa polisi, atau wartawan, atau si gadis desa yang kamu sayang itu, aku tidak perlu menyalakan korek. Cukup menunggu kompor menyala sendiri. Dapur itu, kudengar, selalu menyala pagi-pagi."*

Andien menutup mulutnya dengan kedua tangan.

*"Perjalanan dari desa itu empat jam kalau jalannya lancar. Aku beri kamu lima. Lewat dari itu, aku tidak bertanggung jawab pada napas orang-orang di dalam."*

Sambungan terputus.

 

Selama beberapa detik, tak seorang pun bergerak. Burung bangau di atas sungai terbang rendah, bayangannya melintas di wajah mereka.

"Empat puluh dua orang," bisik Andien. Suaranya pecah. "Ibu-ibu yang kemarin makan nasi hangat di dapur saya. Anak-anak yang saya ajari mengaduk adonan."

"Dien."

"Bu Laras ada di sana, Mas. Dia sendirian dengan..."

"Dien, lihat aku."

Andien mendongak. Carlo memegang kedua bahunya, tidak keras, tetapi mantap. Matanya merah, tetapi ketakutan di dalamnya tertutup sesuatu yang lain, ketenangan dingin yang ia pelajari di ruang pemeriksaan dua tahun terakhir.

"Aku akan menelepon Komisaris Arief. Tapi pertama, kita harus berpikir jernih. Bima bilang jangan bawa polisi. Itu berarti dia mengawasi, atau berharap aku percaya dia mengawasi."

"Mas tidak akan datang sendiri."

"Aku harus." Carlo menarik napas. "Tapi aku tidak harus datang tanpa rencana."

"Rencana apa? Mas tidak tahu apa-apa soal rumah itu."

"Tapi kamu tahu."

Andien terdiam.

"Kamu yang merancang dapurnya, kamu yang tahu letak setiap pintu, setiap katup, setiap jendela. Kamu yang menghafal jalur gas karena tak mau ada kecelakaan di tempat yang melayani orang sakit." Carlo menatapnya. "Bima punya senjata, tapi dia tidak punya pengetahuanmu."

Andien menelan ludah. Pikirannya bergerak cepat, melewati lorong-lorong dan sambungan pipa yang selama ini ia pelajari dari montir yang memasangnya. "Ada katup utama di halaman belakang. Di sisi pagar, tertutup kotak besi, kuncinya ada pada saya dan Bu Laras. Kalau diputar, semua aliran gas ke dapur berhenti."

"Dan jendela yang dia tutup rapat?"

"Ada ventilasi di atap, yang bisa dibuka dari luar lewat tangga di sisi dapur. Pak Slamet, tukang kebun, yang pasang. Tapi Bima mungkin sudah..." Ia berhenti. "Tidak. Dia tidak tahu soal ventilasi itu. Tidak ada di denah resmi."

Carlo mengangguk lambat. "Berarti kita punya dua pintu yang tidak ia ketahui."

"Tiga." Andien menatap Carlo. "Pintu belakang ruang makan, yang menuju gudang beras. Hanya orang dapur yang tahu."

"Baik." Carlo mengeluarkan ponselnya lagi dan menekan nomor. "Komisaris Arief. Ya, ini Carlo. Ada situasi darurat. Saya butuh Anda dengarkan baik-baik dan bergerak tanpa suara."

 

Mereka berangkat dalam sepuluh menit.

Bu Rukmini tak bertanya apa-apa ketika Andien menjelaskan seadanya dengan suara bergetar. Ia hanya masuk ke gubuk, mengambil sesuatu dari balik tumpukan karung beras, dan menyelipkannya ke tangan putrinya.

"Bawa ini, Nduk."

Andien menatap benda itu. Segenggam daun sirih dan kunyit kering, terikat benang merah, jimat kecil yang dulu dibuat ibunya untuk menolak bala setiap kali ia pulang larut dari warung Mbok Darmi.

"Bu..."

"Ini bukan sihir. Ini cuma pengingat." Bu Rukmini menggenggam tangan anaknya erat-erat. "Kamu pernah menarik orang dari lumpur tanpa tahu siapa dia. Malam ini, kamu menarik empat puluh orang dari api. Sama saja. Tahan, tarik, jangan lepas."

Andien mengangguk, tak sanggup bicara. Ia memeluk ibunya sekilas, lalu berlari ke mobil sewaan yang sudah menunggu di ujung jalan desa, dengan Carlo di balik kemudi dan wajah yang tak lagi pucat, hanya sangat fokus.

 

Perjalanan empat jam menjadi tiga jam empat puluh menit.

Carlo mengemudi seperti orang yang menaruh seluruh hidupnya di pedal gas. Andien duduk dengan ponsel di tangan, berbicara pelan dengan Komisaris Arief lewat loudspeaker, mencoret-coret denah dapur di punggung tangan dengan pulpen yang ia temukan di laci dasbor.

"Tim Gegana sudah di jalan," kata sang komisaris. "Tapi kami harus berhati-hati. Kalau Bima melihat sorot lampu atau mendengar sirene, kita kehilangan satu-satunya keuntungan yang kita punya."

"Pak, ada satu hal," sela Andien. "Bima bilang notaris itu bekerja untuk keluarganya lebih lama dari yang kami kira. Siapa notaris yang mengesahkan surat Hendra dulu?"

Hening sejenak di ujung telepon. Lalu terdengar bunyi kertas dibalik.

"Pak Gunawan Santoso. Kantornya di Kebayoran. Usia enam puluh tujuh." Komisaris Arief berdehem. "Dia sudah diperiksa sebagai saksi dalam kasus Hendra. Katanya hanya mengesahkan dokumen sesuai prosedur."

"Berarti dia berbohong."

"Atau dipaksa." Carlo menyela sambil mengerem mendadak di tikungan. "Dengan keluarganya sebagai jaminan, seperti Darto dan Raka."

Andien memejamkan mata. Pola yang sama. Ancaman terhadap yang dicintai, cara paling efektif yang pernah ia saksikan menggerakkan manusia melakukan hal-hal mengerikan.

"Dan Bu Laras?" tanyanya pelan, hampir pada dirinya sendiri.

Carlo tak menjawab langsung. Rahangnya bergerak, matanya menatap jalan di depan.

"Dia dokter," katanya akhirnya. "Dia tahu cara tetap tenang ketika orang lain panik. Kalau ada yang bisa menjaga empat puluh orang itu dari kepanikan, dia orangnya."

"Mas percaya itu?"

"Aku percaya padanya lebih dari yang pernah kubilang." Suara Carlo serak. "Itu salah satu hal yang terlambat kusadari."

 

Pukul sebelas lewat dua puluh, mereka berhenti di ujung jalan Menteng yang gelap, dua ratus meter dari gerbang.

Rumah Pulang tampak tenang dari kejauhan. Lampu kuning menyala di beberapa jendela, taman terawat, papan kayu di gerbang bergoyang pelan tertiup angin. Seolah tak ada yang salah. Seolah empat puluh dua orang di dalamnya sedang tertidur lelap.

Tetapi Andien, yang tahu persis bagaimana rumah itu seharusnya terlihat pada jam segini, menyadari satu hal yang membuat dadanya mengencang.

Lampu dapur mati.

Dapur itu tak pernah mati. Setiap malam, selalu ada satu relawan yang menyiapkan bubur untuk keluarga yang terbangun dini hari, dan lampu kecil di atas kompor selalu menyala. Malam ini, sisi bangunan itu gelap seperti mulut gua.

"Mas," bisiknya. "Dapurnya."

Carlo menoleh ke arah yang ia tunjuk, dan wajahnya mengeras.

Dari balik semak di seberang jalan, bayangan seorang pria berseragam hitam muncul dan mendekat dengan langkah rendah. Komisaris Arief, dengan rompi pelindung dan wajah dilumuri arang. Di belakangnya, lima orang lain bergerak tanpa suara di antara pepohonan.

"Pak Carlo, Bu Andien." Ia berlutut di samping jendela mobil. "Kami sudah memetakan semuanya. Tapi kami butuh bantuan satu orang."

"Saya," kata Andien tanpa ragu.

Carlo menegang di sampingnya. "Dien..."

"Mas bilang tadi, saya yang tahu rumah itu." Andien menatapnya, dan di matanya tak ada lagi gadis desa yang gugup di ruang tamu rumah Prameswari. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih tenang, lebih pasti. "Ada satu pintu yang tidak ada di denah. Dan hanya satu orang yang bisa membukanya tanpa suara."

Komisaris Arief menatapnya lama, lalu menatap Carlo.

Carlo memejamkan mata, menarik napas panjang, dan ketika membukanya kembali, ia hanya mengangguk, pelan, seperti orang yang akhirnya menyerahkan sesuatu yang paling berharga pada tangan yang paling ia percayai.

"Aku akan masuk dari depan," katanya. "Supaya dia melihatku. Supaya dia tidak melihat ke arah lain."

"Mas akan jadi umpan."

"Aku akan jadi pengalih." Carlo tersenyum kecil, tipis dan getir. "Pekerjaan yang kuhafal sejak kecil, mengalihkan perhatian orang dari hal yang sebenarnya penting."

Ia meraih tangan Andien, hanya sekejap, hanya cukup untuk menggenggam.

"Tidak ada janji," katanya.

"Tidak ada janji," ulang Andien.

Dan di tengah malam yang sunyi, di ujung jalan Menteng yang gelap, dua orang yang pernah salah memilih akhirnya melangkah ke arah yang sama, menuju sebuah rumah bernama *pulang* yang malam ini menyimpan empat puluh dua nyawa, satu bom waktu, dan satu pintu rahasia yang hanya diketahui seorang gadis desa dari ujung dapur.

 

*Bersambung ke Bab 25...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!