Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sisa jiwa kuno itu menatap Yang Zhen dengan mata birunya yang menyala terang.
"Gravitasi Anda mungkin bisa menariknya hingga jatuh, tapi tidak akan bisa menghancurkan organ dalamnya karena monster itu memang sudah mati."
Yang Zhen justru tertawa pelan mendengar penjelasan yang terdengar seperti ancaman mematikan tersebut.
Hahaha.
"Sebuah tumpukan tulang sisa makanan yang berjalan?" ejek Yang Zhen dengan raut wajah sangat meremehkan.
"Itu bukan senjata rahasia, itu hanyalah koleksi fosil museum yang dipaksa keluar dari kuburannya oleh orang gila."
Pemuda itu merentangkan tangannya ke arah pelataran istana yang masih dipenuhi bekas pertarungan pagi tadi.
"Pelayan Ye, formasi gravitasi sepuluh ribu pedang kita sudah siap menyambut lautan manusia itu, bukan?" instruksi Yang Zhen.
"Tapi kali ini, perluas jangkauan tarikannya hingga keluar gerbang istana untuk mencakup area jalanan kota."
Leluhur Ye menganggukkan kepala logamnya dengan sangat patuh menerima perintah tersebut.
"Saya akan mengatur ulang sirkuit intinya agar menjangkau alun-alun depan kota, Tuan," jawab golem baja itu.
Wang Hao memukul kedua tinjunya dengan semangat tempur yang membara hebat.
Bugh.
"Ini saatnya pasukan penjaga kita menunjukkan hasil latihan memakan pil itu, Bos!" seru Wang Hao tidak sabar lagi.
"Puluhan ribu manusia biasa bersenjata pedang tidak akan bisa menembus kulit baja perunggu kita yang sekeras batu."
Yang Zhen menatap Wang Hao dengan senyum licik namun penuh perhitungan.
"Jangan terlalu sombong dulu, Hao. Lima puluh ribu semut tetap bisa menggigit seekor gajah hingga mati jika gajah itu lengah," ingat Yang Zhen memperingatkan muridnya.
"Biarkan formasi penggiling daging kita memangkas setengah jumlah mereka terlebih dahulu, baru kalian habisi sisanya dengan tangan kosong."
Su Lin berdiri di samping suaminya dan memancarkan aura es yang sangat dingin ke udara sekitar.
Sring.
"Lalu bagaimana dengan Naga Tulang raksasa itu, Suamiku?" tanya gadis berambut biru itu dengan nada tenang yang mematikan.
"Jika gravitasimu tidak bisa meremukkan organ dalamnya, monster raksasa itu akan meruntuhkan istana ini hingga rata dengan tanah."
Yang Zhen memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi retakan tulang yang tajam.
Krak krak.
"Gravitasi mungkin tidak bisa membunuhnya dua kali dari dalam," jawab Yang Zhen dengan tatapan iblis yang menyala keemasan.
"Tapi gravitasiku bisa merobek setiap persendian tulang murahan itu dan menyebarkannya ke seluruh penjuru kota sebagai hiasan jalan setapak."
Pemuda itu sama sekali tidak merasa takut menghadapi ancaman mayat hidup tingkat tinggi.
Justru ia melihat ini sebagai kesempatan sempurna untuk menguji kekuatan Inti Emas puncak barunya tanpa menahan diri.
Waktu berlalu begitu cepat, matahari sore perlahan turun digantikan oleh langit senja yang berwarna merah seperti berdarah.
Suasana Kota Awan Merah sangat sunyi dan mencekam, karena seluruh penduduk telah mengunci diri di dalam rumah mereka masing-masing.
Di alun-alun depan istana, ratusan pasukan elit Asosiasi Alkemis telah berbaris rapi membentuk dinding pertahanan yang solid.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar pelan layaknya terjadi gempa bumi berskala kecil yang konstan.
Grumble grumble.
Suara derap langkah kaki dari puluhan ribu orang terdengar menggema dari arah jalan raya utama kota di kejauhan.
"Mereka datang," gumam Mulan menyipitkan matanya menatap ujung jalan yang mulai dipenuhi oleh lautan manusia berpakaian perak.
Ribuan prajurit Sekte Pedang Langit berbaris maju dengan formasi tempur yang sangat rapat dan disiplin.
Di tengah-tengah pasukan besar itu, Master Sekte Jian Tian duduk di atas sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh empat ekor badak iblis.
"Hancurkan kota ini sampai berkeping-keping! Jangan sisakan satu pun serangga hidup di tempat ini!" perintah Jian Tian dengan suara yang diperkuat energi spiritualnya.
Wush.
Aura membunuh dari puluhan ribu pasukan itu meledak secara bersamaan, menciptakan tekanan mental yang luar biasa berat.
Namun, ancaman paling mengerikan bukanlah lautan tentara manusia itu, melainkan bayangan raksasa yang berjalan tertatih di belakang barisan mereka.
Groaar.
Sebuah raungan gaib terdengar memekakkan telinga, disusul oleh kemunculan sosok kerangka tulang setinggi tiga lantai bangunan.
Monster itu tidak memiliki sisa daging sedikit pun, hanya susunan kerangka putih pucat yang diselimuti oleh kabut asap hitam di sekitar tubuhnya.
Itulah Naga Tulang raksasa, mesin pembunuh tanpa rasa sakit yang disiapkan khusus untuk meniadakan ilmu ruang hampa milik Yang Zhen.
Di atas teras istana, Yang Zhen menatap kedatangan musuh besarnya dengan senyum menyeringai yang memperlihatkan taring kebrutalannya.
"Mari kita mulai pesta pora berdarah ini sekarang juga," bisik Yang Zhen mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.
Malam pembantaian berskala besar akhirnya dimulai, dan jalanan Kota Awan Merah akan segera dibanjiri oleh sungai darah segar dari pasukan ibu kota.