"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman Di Tengah Badai
Angin malam berhembus semakin kencang, membawa aroma tanah basah yang pekat. Tak lama setelah Sandra keluar dari gerbang komplek perumahan elit tersebut, langit malam yang gelap gulita akhirnya tumpah. Hujan deras mengguyur bumi tanpa ampun, menyiram tubuh Sandra yang berjalan tanpa arah dan tanpa perlindungan.
Tetesan air hujan yang dingin menusuk kulitnya, membuat pakaian tipis yang dikenakannya basah kuyup dan melekat erat di tubuhnya. Namun, yang paling menyiksa adalah ketika air hujan mulai membasahi luka terbuka di kedua lutut dan telapak tangannya. Rasa perih yang amat sangat menjalar seketika, menusuk hingga ke saraf-sarafnya. Sandra meringis menahan sakit, namun ia menolak untuk berhenti atau berlutut menyerah. Air mata yang mengalir di pipinya kini menyatu sempurna dengan guratan air hujan, menyembunyikan duka mendalam yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Dengan langkah kaki yang gemetar dan terseok-seok, Sandra terus berjalan membelah kegelapan malam. Pandangannya mulai buram terhalang tirai hujan yang begitu lebat. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari area perumahan, matanya menangkap samar-samar bayangan sebuah bangunan kecil di tepi jalan raya. Sebuah halte bus yang tampak sepi dan agak kusam.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Sandra mempercepat langkahnya dan segera berlindung di bawah atap halte tersebut. Ia duduk bersandar di kursi besi halte yang dingin, mencoba meredakan napasnya yang memburu. Tubuhnya menggigil hebat karena kombinasi rasa dingin yang merasuk hingga ke tulang dan rasa syok akibat peristiwa traumatis yang baru saja dialaminya.
Sandra menatap kedua tangannya yang memar dan berdarah karena gesekan dengan paving block tadi. Hatinya kembali berdenyut perih mengingat betapa kejamnya Anton merendahkannya. "Wanita lusuh... jelek..." Kata-kata hinaan itu terus bergema di telinganya bagaikan kaset rusak yang diputar berulang kali.
Saat sedang menunduk meratapi nasibnya yang malang, pandangan Sandra tak sengaja tertambat pada selembar kertas HVS putih yang tertempel agak miring di tiang besi halte tepat di sebelahnya. Kertas itu tampak agak basah di bagian sudutnya, namun tulisan berukuran besar dan tebal di bagian atasnya masih bisa terbaca dengan sangat jelas di bawah temaram lampu halte.
"DICARI IBU BARU"
Sandra mengerutkan keningnya, membaca tulisan itu sekali lagi untuk memastikan matanya tidak salah lihat. Di tengah rasa sakit yang membelenggu fisik dan jiwanya, sebuah kekehan kecil tanpa sadar meluncur dari bibirnya yang pucat. Kekehan yang terasa begitu hampa dan ironis.
"Dicari ibu baru?" gumam Sandra pelan dengan suara parau bercampur tawa getir. "Bahasa iklan macam apa ini? Memangnya seorang ibu bisa dicari lewat pengumuman di tiang halte seperti mencari barang hilang?"
Kalimat singkat di kertas itu terasa begitu menggelitik sekaligus menyayat hati bagi Sandra. Kata 'Ibu' seolah menjadi tamparan keras lainnya bagi kenangan masa lalunya. Selama empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Anton, Sandra belum dikaruniai seorang anak pun. Kehadiran buah hati adalah hal yang paling ia impikan sejak hari pertama pernikahan mereka.
Namun, Takdir belum berpihak padanya. Dan ketidakmampuannya untuk hamil menjadi amunisi utama bagi keluarga Anton untuk menyudutkannya. Ibu mertua dan adik-adik Anton tak pernah absen melempar sindiran menyakitkan setiap kali ada kumpul keluarga. Mereka secara terang-terangan menganggap Sandra sebagai wanita mandul yang tidak berguna, wanita pembawa sial yang tidak bisa memberikan keturunan bagi keluarga besar mereka yang terpandang.
Padahal, Sandra telah berulang kali mengajak Anton untuk melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh ke dokter spesialis reproduksi. Namun, Anton selalu menolak dengan angkuh dengan alasan bahwa dirinya pasti sehat dan masalahnya tentulah ada pada tubuh Sandra. Pada akhirnya, Sandra-lah yang harus menanggung seluruh beban tuduhan dan rasa malu itu seorang diri.
Kini, duduk sendirian di halte yang sepi dalam keadaan terusir dan tercela, Sandra menatap lembaran kertas pengumuman itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalamnya tertera beberapa persyaratan unik dan sebuah nomor telepon yang ditulis tangan di bagian bawah.
Tepat di saat harapan hidupnya berada di titik terendah, sebuah rasa penasaran yang aneh mendadak menyusup ke dalam hatinya. Kertas pengumuman konyol itu seolah hadir di hadapannya bukan tanpa alasan di tengah badai malam yang mengepung hidupnya.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati