Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak
"Naura!" teriak Cakra marahi gadis itu dengan mata ingin menerkamnya.
Tak peduli, Naura justru berjalan meninggalkan Cakra dan Nada, yang mengamuk marah-marah.
Gadis itu berjalan menuju gerbang untuk mencari angkutan umum.
Naura sebelumya biasa ke rumah sakit menggunakan sepeda motornya, akan tetapi karena semalam dia membawa koper berisi pakaiannya, memaksamu harus memesan Greb.
Tak bisa menunggangi sepeda motornya, yang saat ini masih ada di rumah Kakek Rama.
"Awas saja kamu nanti, Naura!!" Saking kesalnya Cakra, Naura bahkan masih bisa mendengar suara teriakan amarahnya.
Belum beberapa menit dia berjalan keluar dari gerbang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Itu adalah Anggara.
"Naiklah, aku akan mengantarmu," tutur pria itu menurunkan kaca mobilnya.
Naura terpaksa menghentikan langkahnya, menatap tajam pada mantan calon suaminya.
"Tidak usah, saya bisa pergi sendiri! Dan tidak usah sok baik! Pasti sekarang, Anda sedang tertawakan saya, kan?"
"Kau terlalu suuzon."
"Terus? Saya harus berprasangka baik begitu? Setelah apa yang Anda lakukan pada saya?" Gadis itu menolak pinggang di hadapan Anggara.
"Dengarkan baik-baik, kalau bukan karena Anda, saya tidak akan terjebak menikah dengan adik Anda yang tidak punya sopan santun itu!" Tambah Naura, kembali melanjutkan langkah kakinya.
Bukannya pergi, Anggara justru terus memelankan mobilnya, berjalan mengikuti Naura.
"Naiklah. Bukannya kau sudah telat?"
Naura menghentikan langkah kakinya. Apa yang dikatakan pria itu benar, bahwa dia sudah terlambat.
Mau tidak mau, akhirnya Naura menerima tawaran Anggara dan mengambil tempat duduk di kursi penumpang belakang.
Setelah mobil berjalan beberapa menit. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara diantara mereka berdua. Sampai tiba-tiba Naura yang memulai.
"Sekitar sebulan, Kakek menjodohkan saya dengan Anda, dan Anda menerimanya. Tapi di detik-detik terakhir, Anda tiba-tiba membatalkan pernikahan, membuat saya harus terjebak dengan adik Anda. Hebat sekali Anda ini. Anda pikir kehidupan saya itu panggung sandiwara?" ujar Naura menyindir Anggara.
Anggara melirik gadis itu melalui kaca spion. Dia berniat untuk menjelaskan, akan tetapi Anggara yang sudah tahu respon Naura, memilih untuk mengurung niatnya.
"Kalau begitu, menikah saja lagi denganku," jawab Anggara, enteng.
Naura menatap punggung Anggara dengan tatapan siap membunuh pria itu. Bisa-bisanya Anggara dengan enteng mengatakan hal demikian, tanpa memikirkan perasaannya.
"Anda memakai seragam terhormat, tapi sikap Anda sama sekali tidak mencerminkan!" Lagi-lagi Naura menyindir pria itu.
"Kau terlalu emosian,"
"Anda bilang saya terlalu emosian? Kalau Anda jadi saya, bukan saja emosian. Anda pasti sudah berteriak-teriak karena merasa hidup Anda dipermainkan!" Tutur Naura, melempar pandangannya keluar jendela.
Akhirnya, Anggara memilih untuk tidak bersuara lagi. Tahu, perasaan gadis itu pasti sedang tidak baik-baik saja. Belum lagi ditambah dengan sikap Cakra yang terus memojokkan Naura sejak pagi tadi dirumah.
Belum lama berada di dalam mobil, mereka sudah tiba di depan rumah sakit swasta tempat Naura bekerja.
Memilih langsung membuka pintu dan keluar dari mobil Anggara.
Di luar dugaan, Anggara juga ikut turun.
Naura melihat pria itu, dengan tatapan semakin terusik.
Apalagi beberapa perawat yang baru datang melempar pandang ke arah Naura yang tampak didampingi oleh seorang pria berseragam aparat dengan pangkat komandan.
Sehingga tanpa sengaja menimbulkan bisik-bisik dan tanda tanya mengenai siapa sosok pria tersebut.
"Kenapa Anda ikut keluar?" tanya Naura, berusaha menahan diri.
Bukannya menjawab, Anggara justru tiba-tiba mengulurkan tangannya.
"Sebelumnya kita belum berkenalan dengan cara yang baik. Bagaimana kalau kita berkenalan sekarang dengan cara yang jauh lebih baik?" Ucap pria itu.
Menatap datar pria itu, dari balik cadarnya.
"Simpan saja. Saya tidak tertarik untuk kenal sama laki-laki yang sejak awal memang tidak pernah menginginkan saya." Kata Naura, tak menutupi sedikitpun perasaannya. Kemudian berbalik pergi meninggalkan Anggara.
Pria itu kembali menarik tangannya, dan masuk ke dalam mobil.
Dia melaju mobil membelah jalan yang sudah padat di pagi hari yang sesak, menuju kantor.
Sebagai seorang perwira di Markas Komando Distrik Militer, hari-hari Anggara dipenuhi dengan urusan operasional, koordinasi, dan tumpukan berkas laporan yang harus diselesaikan di ruang kerjanya.
Tak membutuhkan waktu lama, pria itu sudah tiba di markas dan melangkah masuk ke area perkantoran, ia langsung disambut oleh beberapa anak buahnya yang memberikan hormat.
Anggara membalasnya dengan angguk tegas sebelum berjalan menuju ruangannya.
Saat berjalan ke dalam ruangannya, dia mengeluarkan suara ketika melewati seorang prajurit wanita, yang dari tatapan wanita itu seperti memang menunggu kedatanganya setiap saat.
"Dalia, ke ruangan saya sekarang!" Suaranya terdengar tidak bersahabat.
"Baik, Komandan!"
Dalia dengan semangat 45 menyusul di belakang punggung Anggara yang masuk ke dalam ruangannya.
Saat pintu baru saja tertutup.
Tak!
"Argh!!" Dalia meringis kesakitan, saat sebuah berkas keras mendapat di bahunya.
"Kenapa---"
"Tanyakan pada dirimu, Dalia! Berani sekali kau mencampuri urusan pribadi saya!" Murka Anggara pada wanita dihadapannya.
Ternyata, Anggara sudah tahu dan punya bukti kalau Dalia dalang dari pernikahannya yang gagal.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls