NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: WARISAN DI BALIK AIR TERJUN TUJUH WARNA

Namanya Bima Samudra.

Sesuai namanya, pemuda itu memiliki pesona seluas samudra. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, sorot matanya tajam penuh kecerdasan, dan pembawaannya tenang namun memabukkan.

Di saat pemuda seusianya sibuk dengan gemerlap Jakarta, media sosial, dan kopi kekinian, Bima justru memilih mengasingkan diri di sebuah padepokan tua di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Bersama satu orang guru dan tujuh kakak seperguruannya.

Gurunya adalah seorang wanita bernama Ratu Ayu Kirana. Usianya sulit ditebak, wajahnya cantiknya kelewatan, anggun, namun wibawanya membuat langit pun seolah segan.

Dan tujuh kakak seperguruannya adalah tujuh bidadari dengan karakter berbeda: Kak Sinta, Kak Laras, Kak Anjani, Kak Sekar, Kak Ratih, Kak Dewi, dan Kak Bulan. Tujuh wanita cantik, cerdas, dan mematikan dalam ilmu kanuragan.

Hari-hari Bima dihabiskan dengan cara yang tidak biasa. Pagi ditempa dengan Jurus Bayu Pamungkas, siang meracik jamu dan mempelajari titik akupuntur warisan pengobatan Jawa Kuno, malam bermeditasi di bawah sinar bulan. Semua itu adalah bekal yang dipersiapkan Gurunya sebelum ia diizinkan turun gunung.

Waktu berjalan begitu cepat. Tahun berganti tahun. Tawa, keringat, dan kasih sayang mengisi padepokan itu. Ketujuh kakaknya begitu memanjakan dan melindungi Bima. Bagi mereka, Bima bukan sekadar adik seperguruan, melainkan belahan jiwa mereka yang paling berharga.

Hingga hari itu tiba.

Pagi yang berkabut, Ratu Ayu Kirana mengumpulkan semua muridnya di pendopo utama.

"Sinta, Laras, Anjani, Sekar, Ratih, Dewi, Bulan," suara Ratu Ayu lembut namun mengandung perintah mutlak, "Sudah waktunya kalian turun gunung. Kembalilah ke kota kalian masing-masing. Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Bali, Solo, Semarang, Jakarta. Dunia di bawah sana membutuhkan kalian. Selesaikan urusan keluarga kalian."

Tangis pun pecah. Pelukan demi pelukan diberikan pada Bima. Berat, sesak, penuh rindu yang belum terjadi.

"Jaga diri baik-baik, Bim. Jangan nakal sama Guru, ya. Kakak tunggu kamu di bawah," bisik Kak Sinta sambil mengusap kepala Bima.

Bima hanya bisa mengangguk, dadanya sesak menahan perpisahan. Namun ia tetap patuh. Ia tetap tinggal di padepokan bersama Gurunya untuk memperdalam ilmunya hingga ke puncak.

Tiga hari setelah kepergian ketujuh kakaknya, suasana padepokan terasa begitu sunyi dan hampa.

Saat fajar menyingsing, Ratu Ayu Kirana menghampiri Bima yang sedang bermeditasi di pelataran.

"Bima," panggilnya.

"Bima, ikut Guru," lanjutnya.

Mereka berjalan menembus hutan pinus yang lebat, melewati jalan setapak yang bahkan tidak diketahui para pendaki, menuju ke sebuah tempat terlarang yang disembunyikan oleh kabut abadi.

Air Terjun Jumog Tujuh Warna di Tawangmangu.

Air terjun itu tidak seperti air terjun biasa. Airnya berkilauan memantulkan tujuh warna pelangi bahkan saat matahari belum tinggi. Auranya begitu mistis, tenang, namun menyimpan kekuatan dahsyat.

"Tempat ini adalah gerbang," jelas Ratu Ayu Kirana, tatapannya dalam. "Di balik tirai air itu, ada warisan takdirmu yang sesungguhnya."

Ia menatap Bima lekat-lekat, lalu meletakkan telapak tangannya di dada Bima.

"Ingat pesan Guru, Nak. Bersihkan hatimu, maka jalanmu akan dimudahkan. Jangan biarkan hawa nafsu dan amarah menguasai lautan jiwamu."

Bima mengangguk mantap. Tanpa ragu, ia melangkah maju. Tepat saat tubuhnya menyentuh tirai Air Terjun Tujuh Warna itu, tubuhnya seperti tersedot oleh pusaran tak terlihat.

"Wussshhh..."

Dunia berputar, kepalanya terasa berat, kesadarannya ditarik paksa masuk ke dalam dimensi lain.

Bruk.

Ia terjatuh di atas rerumputan yang sangat lembut. Saat ia membuka mata, ia tertegun.

Ia berada di sebuah lembah yang mustahil ada di dunia nyata. Langitnya berwarna lembayung, bunga-bunga raksasa bermekaran, udaranya harum dan dipenuhi energi murni. Seindah lukisan dunia dongeng.

Bima bangkit dan terus berjalan, mengikuti intuisi. Langkahnya membawanya ke mulut sebuah gua kristal yang berkilauan.

Di dalam gua, sebuah cahaya putih keemasan berdenyut memanggilnya. Jantung Bima berdegup kencang. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh cahaya itu.

Dalam sekejap mata, ia berpindah lagi.

Kini ia berdiri di tengah sebuah Kuil Kuno yang megah. Pilar-pilarnya menjulang tinggi terbuat dari batu candi kuno, ukirannya begitu hidup.

"Selamat datang, Anak Muda..."

Sebuah suara berat, bijaksana, dan penuh kerinduan menggema di seluruh kuil.

"Akhirnya kau datang juga. Sudah ribuan tahun aku menunggumu."

Bima terlonjak kaget dan langsung memasang kuda-kuda. "Siapa kamu...? Tunjukkan dirimu...!"

Dari tengah kuil, perlahan muncul sosok bayangan seorang kakek tua berjubah putih dengan tatapan setajam elang. Tubuhnya transparan, seperti sisa-sisa jiwa.

"Dulu, orang-orang memanggilku Eyang Jagat Buana. Aku adalah pendekar yang pernah berdiri di puncak tertinggi Nusantara ini. Namun karena kekuatanku, banyak pendekar berhati dengki yang iri. Mereka menjebak dan menghabisiku."

Suaranya terdengar getir, namun penuh kebesaran.

"Sebelum ragaku hancur, aku membakar sisa tenagaku untuk menyisakan seberkas kesadaran jiwa ini. Untuk menunggu pewaris sejatiku... dan itu adalah kamu, Bima Samudra."

Bima terdiam, mencoba mencerna semua ini.

"Sudahlah, masa lalu tidak penting lagi," lanjut Eyang Jagat Buana sambil tersenyum. "Yang penting, takdir telah mempertemukan kita. Aku harap kau bisa menggunakan warisanku ini untuk menumpas kebatilan dan melindungi yang lemah."

Bima mengepalkan tangannya, matanya menyala penuh tekad. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Eyang...?"

"Masuklah ke dalam Telaga Suci yang ada di tengah kuil ini. Seraplah seluruh Sari Air Suci itu. Biarkan ia menempa ulang setiap jengkal tubuh, meridian, dan jiwamu. Seluruh ilmu, pengalaman, dan ingatanku selama ribuan tahun akan mengalir ke lautan jiwamu. Lakukan perlahan, dengan hati yang bersih."

Tanpa keraguan sedikit pun, Bima melepas jubah luarnya dan masuk ke dalam telaga. Airnya hangat, bercahaya, dan begitu murni. Ia duduk bersila dalam posisi lotus, memejamkan mata, dan mulai bermeditasi.

Perlahan, keajaiban terjadi.

Air suci itu berputar, masuk melalui pori-pori kulitnya. Seluruh organ dalamnya diperbarui, darahnya mendidih dan dimurnikan, tulangnya berderak ditempa ulang. Titik-titik meridiannya yang tersumbat terbuka satu per satu, membesar dan mengalir deras seperti sungai besar.

Bima Samudra terlahir dengan Sembilan Meridian, sebuah bakat yang sudah disebut jenius satu dalam sejuta.

Namun saat itu, dua cahaya baru tumbuh dari punggungnya. Meridian kesepuluh, dan meridian kesebelas mekar dengan sempurna.

Di dunia kultivasi, para kultivator normal hanya memiliki sembilan meridian. Pemilik sebelas meridian hanyalah legenda yang tertulis di lontar-lontar kuno. Konon, pemiliknya akan melampaui kekuatan para dewa dan mencapai tingkat yang mustahil: Alam Nirvana.

Waktu terasa berhenti. Tidak terasa tiga bulan telah berlalu di dalam kuil, padahal di dunia luar mungkin hanya beberapa jam.

Tiba-tiba, terdengar ledakan yang mengguncang langit-langit kuil.

"Buuummm...!!"

Bima yang awalnya berada di tingkat Alam Dewa, kini menerobos batas yang mustahil. Auranya meledak, rambutnya berkibar, matanya terbuka memancarkan cahaya keemasan.

Ia telah resmi menembus ke Alam Nirvana.

Perlu diketahui, tingkatan kultivasi di zaman Bima sekarang terbagi menjadi:

- Tingkat Alam Manusia

- Tingkat Alam Satria

- Tingkat Alam Bumi

- Tingkat Alam Langit

- Tingkat Alam Surgawi

- Tingkat Alam Dewa

- Tingkat Alam Nirvana

Di era modern ini, karena menipisnya energi alam dan langkanya sumber daya, kultivator terkuat di Indonesia seperti di Jakarta dan Tanah Jawa pun mentok hanya bisa mencapai Alam Langit.

Lalu, bagaimana jadinya jika dunia persilatan tahu ada seorang pemuda berusia 20-an di Gunung Lawu yang sudah mencapai Alam Nirvana. Bukankah dunia akan gempar.

Perlahan Bima membuka matanya. Telaga Suci telah kering, seluruh airnya telah ia serap sempurna. Ia bangkit.

"Selamat, Anak Muda. Kau telah menyelesaikan pewarisan dengan sempurna," suara Eyang Jagat Buana terdengar bangga. "Lihatlah dirimu sekarang."

Bima menatap bayangannya di sisa air telaga. Tubuhnya berubah total. Ototnya terbentuk sempurna, gagah, proporsional, aura kejantanannya memancar begitu kuat dan berwibawa. Penuh percaya diri. Sebuah senyum nakal dan penuh pesona terukir di wajah tampannya, entah apa yang sedang ia pikirkan tentang kakak-kakak seperguruannya di kota.

Eyang Jagat Buana berdehem melihat tingkah Bima yang mematut diri, membuat Bima nyengir malu.

Eyang mengulurkan tangan transparannya. Sebuah cincin hitam pekat dengan ukiran naga melingkar muncul.

"Itu namanya Cincin Semesta. Di dalamnya ada seluruh harta, senjata pusaka, kitab, dan kekayaan yang kukumpulkan selama hidup. Mulai dari Keris Empu Gandring hingga mustika-mustika tanah Jawa."

"Bagaimana cara pakainya, Eyang...?" tanya Bima penasaran.

"Teteskan darahmu ke atasnya. Maka ia akan terikat dengan jiwamu dan tak akan pernah terlepas. Gunakan kekuatan jiwamu untuk mengambil dan menyimpan benda di dalamnya," jelas Eyang.

Bima segera menggores jarinya dan meneteskan darahnya. Cincin itu berdengung dan menyatu sempurna di jari manisnya.

"Semua ingatanku sudah ada di lautan jiwamu. Kau bisa membukanya kapan saja," lanjut Eyang. "Sekarang, cobalah pelajari Teknik Pembukaan Alam Jiwa. Ciptakan duniamu sendiri di dalam dirimu."

Bima memejamkan mata, menyelami lautan ingatan warisan itu. Ia menemukan teknik tersebut. Dengan satu hentakan, ruang di antara kedua alisnya terbuka.

Ia masuk ke dalam Alam Jiwanya sendiri.

Luasnya tak berujung. Pemandangannya indah luar biasa. Dengan pikirannya, Bima membangun sebuah Joglo megah bertingkat tiga yang dikelilingi air terjun pribadi. Tempat yang begitu asri, tenang, dan penuh energi spiritual. Sempurna.

Setelah selesai, ia keluar dan bersujud hormat pada Eyang Jagat Buana.

Eyang tersenyum haru, lalu menepukkan tangannya pelan.

Seketika, dari kedalaman kuil yang paling gelap, sebuah aura buas, kuno, dan sangat kuat muncul mendekat dengan cepat.

Bima mengernyitkan dahi, namun tidak takut. Hanya ada rasa penasaran yang membuncah.

"Makhluk apa itu...? Dengan aura sedahsyat itu..."

BERSAMBUNG..

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!