NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Sang Pewaris

Gedoran di pintu depan semakin keras, menggetarkan dinding papan rumah tua itu. Aira Kirana menoleh ke arah pintu dengan jantung berdebar.

"Herman! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut!" teriak seseorang dari luar.

Aira menatap ayahnya yang terduduk di lantai. Herman mencengkeram lututnya sendiri dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.

"Yah, buka pintunya," ujar Aira pelan.

"Jangan, Ra! Mereka orang-orangnya Pak Sukarma!" Herman menggeleng panik. "Mereka bisa mengacak-acak rumah kita!"

"Kalau tidak dibuka, mereka bisa mendobraknya, Yah." Aira berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi. "Ibu sedang sakit. Ratih, Bima, dan Maya juga ada di dalam. Ayah mau mereka ikut ketakutan?"

Herman terdiam.

Aira mengembuskan napas, kemudian berjalan menuju pintu. Jemarinya terasa dingin saat membuka kait kayu yang mengunci pintu dari dalam.

Di teras, tiga pria bertubuh kekar berdiri menghadapnya. Mereka mengenakan jaket gelap, dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka tidak datang untuk berbasa-basi.

Seorang pria paruh baya berkumis tebal berdiri paling depan. Aira mengenalnya. Pak Sukarma, orang yang memberikan pinjaman kepada ayahnya.

"Akhirnya dibuka juga," ujar Pak Sukarma sambil menyeringai. Pandangannya menyapu penampilan Aira sebelum kembali menatap wajah gadis itu. "Mana ayahmu? Katanya malam ini uangnya sudah ada. Ditelepon tidak diangkat, dicari ke rumah malah bersembunyi."

"Ayah ada di dalam, Pak. Saya mohon, jangan berteriak-teriak. Ibu saya sedang sakit."

Pak Sukarma tertawa pendek.

"Ibumu sakit itu urusan keluargamu. Aku datang untuk menagih uang!" bentaknya. "Utang ayahmu seratus lima puluh juta rupiah. Besok pagi bunga sepuluh juta harus dibayar. Sekarang, mana uangnya?"

Aira menelan ludah.

Herman akhirnya muncul dari balik pintu dengan langkah ragu.

"Pak, saya minta tambahan waktu sampai besok malam," katanya terbata-bata. "Saya sedang berusaha mencari uangnya."

Pak Sukarma tertawa pendek.

"Kamu bilang sedang berusaha? Utang pokokmu seratus lima puluh juta rupiah. Bunga sepuluh juta saja yang kamu janjikan besok pagi belum sanggup membayar. Sampai kapan aku harus menunggu?"

"Saya mohon, Pak. Beri saya kesempatan sekali lagi."

"Kesempatan apa lagi? Sertifikat rumah dan sanggar ini sudah ada padaku. Kalau besok malam uangnya belum ada. Jangan salahkan aku kalau rumah ini harus dikosongkan!"

Pak Sukarma kemudian berbalik dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi.

Sebelum meninggalkan teras, ia sempat menoleh kepada Aira.

"Ingat, besok malam adalah batas waktunya. Jangan sampai aku harus datang lagi untuk mengingatkan kalian."

Setelah ketiga pria itu pergi, Aira segera menutup pintu.

Ia menatap Herman yang kembali terduduk lemas di lantai.

"Yah, bagaimana bisa Ayah melakukan ini kepada kita?" tanyanya dengan suara tertahan.

Herman mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Ayah salah, Ra. Ayah benar-benar salah."

"Kalau Ayah tahu itu salah, kenapa Ayah tetap melakukannya?"

Herman terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa menghapus kesalahannya.

Aira ingin terus memarahinya, tetapi suara batuk dari kamar membuatnya segera berbalik. Ia tidak ingin pertengkaran mereka mengganggu ibunya.

"Ayah jangan pergi ke mana-mana lagi," ucap Aira sebelum meninggalkan ruang tamu. "Besok pagi kita harus membawa Ibu ke rumah sakit."

Ia masuk ke kamar dan mendapati ibunya terbaring dengan napas yang terdengar berat. Ratih duduk di samping ranjang, sedangkan Bima dan Maya berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas.

"Mbak, Ibu dari tadi mengeluh sesak," kata Ratih.

Aira segera mendekati ranjang.

"Ibu kenapa?"

Ibunya membuka mata perlahan.

"Tidak apa-apa, Nduk."

Aira menggenggam tangannya. Ia tahu kondisi ibunya tidak sebaik yang dikatakan wanita itu.

"Besok kita ke rumah sakit, Bu. Ibu istirahat saja dulu."

Ibunya mengangguk lemah.

Aira kemudian meminta Ratih menjaga ibu sebentar dan memastikan Bima dan Maya kembali ke kamar.

Malam itu, Aira memutuskan mendatangi rumah pamannya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Ia berharap masih ada keluarga yang bersedia membantunya.

Pamannya tampak terkejut ketika Aira datang pada malam hari. Setelah mendengar penjelasannya, pria itu menghela napas panjang.

"Maaf, Ra. Paman juga sedang kesulitan. Uang yang ada sudah dipakai untuk kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak."

Aira menunduk.

"Tidak apa-apa, Paman. Maaf sudah merepotkan."

Ia pulang dengan langkah berat. Meski kecewa, ia memahami bahwa tidak semua orang memiliki uang yang bisa dipinjamkan begitu saja.

Keesokan paginya, Aira mencoba meminta bantuan bibinya dan beberapa tetangga yang selama ini mengenal keluarganya. Ada yang memberikan sedikit uang, tetapi jumlahnya masih jauh dari kebutuhan. Sebagian lainnya hanya bisa menyampaikan rasa prihatin.

Aira tetap mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Menjelang siang, uang yang berhasil dikumpulkannya belum mencapai satu juta rupiah.

Ia duduk di bangku depan sanggar sambil menghitung uang tersebut untuk kesekian kalinya. Matanya mulai panas, tetapi ia berusaha menahan air mata.

Bagaimana mungkin ia mendapatkan sepuluh juta rupiah sebelum batas waktu berakhir?

Ia bahkan belum memikirkan biaya perjalanan ke rumah sakit dan kebutuhan pengobatan ibunya.

Ketika Aira sedang memikirkan jalan keluar, suara gaduh terdengar dari ujung jalan. Beberapa warga berkumpul di depan sebuah toko. Aira tidak terlalu memperhatikannya sampai seorang tetangga datang tergesa-gesa.

"Aira! Kamu sudah dengar kabar tentang ayahmu?"

Aira langsung berdiri.

"Ada apa dengan Ayah?"

"Katanya, ayahmu ditangkap karena mengambil uang milik orang lain. Sekarang dia dibawa untuk diperiksa."

Aira terdiam.

Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata-kata. Ia kemudian bergegas mencari informasi lebih lanjut. Kabar itu ternyata benar. Herman ditahan setelah kedapatan mengambil uang milik seseorang.

Aira merasa lututnya melemas.

Ia kecewa, marah, sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. Ayahnya bukan hanya meninggalkan utang besar, tetapi kini juga harus menghadapi masalah hukum akibat perbuatannya sendiri.

Meski demikian, Aira tidak memiliki waktu untuk terus memikirkan semuanya. Ia masih harus menjaga ibu dan adik-adiknya.

Sore harinya, kondisi ibunya kembali memburuk. Wanita itu tampak semakin lemah dan beberapa kali mengeluhkan sesak.

Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan ibunya sambil berusaha menenangkan diri.

"Maaf, Bu," bisiknya. "Aira belum bisa menyelesaikan semuanya."

Ibunya menggerakkan jari, membalas genggaman putrinya dengan sisa tenaga.

"Kamu sudah berusaha, Nduk."

Mendengar itu, air mata Aira akhirnya jatuh. Ia tidak ingin ibunya ikut memikirkan masalah keluarga, tetapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Di tempat lain, Devan sedang memeriksa beberapa dokumen ketika Arga memasuki ruang kerjanya.

“Sepertinya saya sudah menemukan gadis yang tepat untuk Tuan,” ujar Arga.

Devan mengangkat pandangan. “Siapa?”

“Namanya Aira Kirana. Saya mendapat informasi tentangnya dari rekan bisnis lokal saat mengurus pekerjaan di Bantul. Keluarganya sedang terlilit utang, sementara ibunya membutuhkan biaya pengobatan.”

“Informasinya sudah kamu pastikan?”

“Sudah, Tuan. Saya juga sudah memeriksa latar belakangnya.”

Devan terdiam sejenak sebelum menutup dokumen di hadapannya.

“Siapkan mobil. Kita berangkat ke Bantul.”

“Baik, Tuan.”

...____🍀🍀🍀🍀____...

Malam semakin dekat.

Aira baru saja selesai membantu ibunya ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Ia menoleh ke arah jendela dan mendapati beberapa orang berdiri di dekat pagar.

Jantungnya berdegup kencang.

Pak Sukarma datang lagi.

Aira segera keluar dan menutup pintu rumah di belakangnya. Ia tidak ingin keributan di luar membuat ibunya semakin tertekan dan kondisinya semakin memburuk.

Pak Sukarma berdiri di teras bersama dua anak buahnya. Wajahnya tampak lebih keras daripada malam sebelumnya.

"Mana uang yang kujanjikan?" tanyanya.

Aira menunduk sesaat sebelum kembali menatapnya.

"Maaf, Pak. Saya sudah berusaha mencari pinjaman ke keluarga dan tetangga, tetapi uangnya belum cukup."

Pak Sukarma menggelengkan kepala.

"Aku sudah memberi kalian kesempatan. Sekarang waktunya menepati janji."

"Saya mohon, Pak. Beri kami sedikit waktu lagi. Saya akan berusaha membayarnya."

"Sudah cukup!" bentak Pak Sukarma. "Aku tidak mau mendengar alasan lagi. Anak buahku akan mulai mengeluarkan barang-barang kalian malam ini."

Dua pria di belakangnya segera melangkah mendekati pintu.

Aira berdiri menghalangi mereka.

"Jangan masuk!" katanya tegas. "Ibu saya sedang sakit parah. Kalau Bapak ingin menyelesaikan masalah utang ini, bicarakan dengan saya. Jangan ganggu ibu dan adik-adik saya."

Pak Sukarma menatapnya tajam.

"Kamu pikir bisa menyelesaikan utang sebesar itu?"

"Saya tahu utang Ayah saya besar, Pak. Tapi saya mohon, jangan usir kami malam ini."

Pak Sukarma tidak menghiraukannya. Ia justru memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melanjutkan pekerjaan.

Aira menahan pintu dengan kedua tangannya. Ia tahu tenaganya tidak sebanding dengan dua pria di hadapannya, tetapi ia tidak sanggup membiarkan mereka masuk begitu saja.

"Berhenti."

Suara seorang pria terdengar dari arah jalan.

Semua orang menoleh.

Sebuah sedan hitam terparkir tidak jauh dari pagar. Seorang pria jangkung keluar dari mobil dengan setelan jas abu-abu gelap dan kemeja putih. Wajahnya tegas, sementara tatapannya dingin saat mengamati keributan di depan rumah itu.

Seorang pria berpakaian rapi turun dari sisi lain mobil sambil membawa tas dokumen.

Pak Sukarma mengernyitkan dahi.

"Siapa lagi kamu? Ini urusan keluarga orang. Jangan ikut campur."

Pria itu tidak menjawab. Ia justru menatap Aira sejenak sebelum mengalihkan pandangan kepada Pak Sukarma.

"Arga."

Asistennya segera mendekat.

"Ya, Tuan Devan."

"Berapa jumlah utangnya?"

Pak Sukarma tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Utang pokoknya seratus lima puluh juta rupiah. Dengan bunga dan denda, jumlahnya sudah mencapai seratus tujuh puluh juta. Memangnya kenapa?"

"Aku akan menyelesaikannya."

Pak Sukarma menatapnya dengan curiga.

"Kamu mau membayar utang Herman?"

"Ya."

Devan memberi isyarat kepada Arga. Asistennya membuka tas dokumen dan mengeluarkan cek senilai dua ratus juta rupiah.

"Jumlah ini untuk melunasi seluruh tagihan yang kamu sampaikan, termasuk bunga dan denda," jelas Arga. "Sisa pembayarannya menjadi bagian dari penyelesaian ini. Sertifikat rumah dan sanggar harus dikembalikan kepada pemiliknya."

Pak Sukarma menatap cek itu dengan mata membelalak. Ia tampak ragu, tetapi setelah memastikan jumlahnya, ia akhirnya menyerahkan amplop berisi sertifikat kepada Arga.

"Urusan kita selesai," kata Devan singkat.

Pak Sukarma memasukkan cek tersebut ke dalam mapnya. Setelah memberikan tatapan kesal kepada Aira, ia pergi bersama kedua anak buahnya.

Suasana di depan rumah perlahan kembali tenang.

Aira masih berdiri di ambang pintu. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi. Beberapa saat lalu, rumahnya hampir dikosongkan. Kini, orang asing yang tidak dikenalnya telah menyelesaikan masalah utang keluarganya.

Herman tidak ada di rumah. Tidak ada pula orang lain yang bisa menjelaskan mengapa pria itu datang dan bersedia membayar begitu banyak uang.

Devan melangkah mendekati Aira.

"Nama saya Devan Mahendra."

Aira mengangguk kecil.

"Terima kasih, Tuan. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Anda."

"Jangan salah paham. Aku tidak datang untuk berbuat baik."

Aira terdiam.

Devan menatapnya dengan ekspresi datar.

"Uang yang kubayarkan bukan sumbangan. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

"Apa itu, Tuan?"

Devan tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Aira yang masih menyimpan sisa kecemasan. Gadis itu terlihat lelah, tetapi tetap berusaha berdiri tegak di hadapannya.

"Aku sudah mencari tahu tentang keluargamu," katanya kemudian. "Aku tahu ayahmu memiliki utang, ibumu membutuhkan pengobatan, dan kamu berusaha menghidupi keluarga melalui sanggar tenun itu."

Aira mengerutkan kening.

"Mengapa Tuan mencari tahu tentang keluarga saya?"

"Aku punya alasan sendiri."

Jawaban itu tidak membuat Aira merasa lebih tenang. Ia justru semakin curiga.

Devan kemudian menatapnya lurus-lurus.

"Aku membutuhkan seorang istri."

Aira tertegun.

"Apa?"

"Aku ingin kamu menjadi istriku."

Aira memandang pria itu tanpa berkedip. Ia tidak pernah membayangkan akan mendengar permintaan seperti itu dari seseorang yang baru saja ditemuinya.

"Tapi kita bahkan tidak saling mengenal, Tuan."

"Itu bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan."

Devan mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya, lalu menyerahkannya kepada Aira.

"Besok, kita akan membicarakan persyaratannya. Pikirkan baik-baik sebelum memberikan jawaban."

Aira menerima kartu itu dengan tangan kaku.

Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi Devan sudah berbalik menuju mobilnya. Arga mengikuti dari belakang.

Aira berdiri di teras, menatap mobil hitam itu sampai menghilang di ujung jalan.

Rumahnya memang tidak jadi disita. Namun, kedatangan Devan Mahendra justru membawa persoalan baru yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.

Ia menatap kartu nama di tangannya.

Siapa sebenarnya pria itu, dan mengapa ia menginginkan Aira menjadi istrinya?

Bersambung...

1
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!