NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 8

"Ayo kita kemasi barang-barangmu," Theodore berucap pelan sambil menggenggam tangan Yevone, berniat menuntunnya keluar dari ruang tamu yang terasa mencekik itu.

Namun, belum sempat mereka melangkah mencapai pintu utama, suara derit rem mobil yang melengking memecah keheningan dari arah halaman depan. Bukan cuma satu, melainkan iring-iringan tiga mobil mewah Mercedes-Benz hitam berhenti tepat di depan teras rumah Keluarga Mahendra.

Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh masuk ke ruang tamu dengan napas tersengal.

"T-Tuan Besar! Ada tamu penting di depan!" seru pelayan itu menunduk panik.

Pintu ganda utama didorong terbuka lebar dari luar. Empat pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam masuk lebih dulu, berdiri berjejer seolah membuka jalan bagi bos mereka. Tak lama kemudian, seorang pemuda dengan setelan jas putih mencolok, kacamata hitam bermerek, dan rambut disisir klimis melangkah masuk dengan gaya angkuh. Ia mengunyah permen karet sambil memutar-mutar kunci mobil sport di telunjuknya.

"Wah, wah, sepertinya saya datang di waktu yang sedang panas, ya?" Zico tersenyum pongah sambil melepas kacamata hitamnya. Mata keranjangnya langsung tertuju pada Yevone, menelanjangi wanita itu dari atas sampai bawah dengan tatapan menjijikkan.

Melihat siapa yang datang, raut wajah Kakek Surya, Martha, dan Kevin yang tadinya merah padam karena amarah mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Mereka langsung memasang senyum semanis madu, seolah baru saja menyambut dewa penolong turun dari langit.

"Tuan Muda Zico! Astaga, sebuah kehormatan besar Anda sudi mampir ke kediaman kami yang sederhana ini," Kakek Surya berjalan tergopoh-gopoh menyambut pemuda itu, mengabaikan lututnya yang mulai renta.

"Mari, silakan duduk, Tuan Muda. Mau minum apa? Biar saya suruh pelayan buatkan yang paling enak," Martha ikut menimpali sambil menjilat, menunjuk sofa kulit terbaik mereka.

Zico hanya melambaikan tangannya dengan malas, menolak tawaran duduk. "Nggak usah repot-repot, Tante Martha. Saya ke sini cuma mau ngecek keadaan calon istri saya. Kudengar perusahaannya lagi di ujung tanduk semalam."

Kakek Surya tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan penuh sanjungan.

"Ah, Tuan Muda ini merendah sekali! Padahal kami sekeluarga baru saja mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Bantuan dana lima puluh miliar pagi ini sungguh menyelamatkan nyawa perusahaan Yevone. Tuan Muda benar-benar dermawan!" Kakek Surya menunduk hormat, mengira tebakannya seratus persen akurat.

Mendengar angka "lima puluh miliar", raut wajah Zico sempat menegang kaget selama sepersekian detik. Matanya sedikit melebar. Ia sama sekali tidak tahu-menahu soal dana itu, apalagi mengeluarkan uang sebanyak itu. Bisnis Keluarga Z memang besar, tapi mengeluarkan uang tunai lima puluh miliar dalam semalam tanpa persetujuan ayahnya adalah hal yang mustahil.

Namun, ego dan gengsi Zico jauh lebih besar daripada kejujurannya. Kesempatan emas ini tidak mungkin ia sia-siakan. Ia segera menguasai kembali ekspresi wajahnya, lalu tertawa terbahak-bahak seolah hal itu adalah perkara sepele.

"Hahaha! Kakek Surya ini tajam juga instingnya," Zico menyombongkan diri, menepuk pelan pundak pria tua itu. "Uang lima puluh miliar itu cuma uang jajan buat saya. Sengaja saya kirim pagi-pagi buta biar Yevone nggak pusing lagi. Saya kan nggak tega lihat calon istri saya stres."

Yevone yang masih berdiri di dekat pintu langsung mematung. Wajahnya pucat pasi. Uang yang menyelamatkan perusahaannya pagi ini ternyata berasal dari laki-laki brengsek yang paling dihindarinya? Rasa lega yang tadi sempat mekar di hatinya mendadak berubah menjadi rasa mual yang luar biasa.

"Jadi... kamu yang kirim uang itu?" Yevone bertanya dengan suara bergetar, menatap Zico dengan tatapan benci.

"Tentu saja, Sayang. Siapa lagi di kota ini yang punya uang tunai sebanyak itu dan mau berbaik hati bantuin perusahaan kecilmu kalau bukan aku?" Zico melangkah mendekati Yevone, senyum liciknya semakin lebar.

"Tuh, denger sendiri kan kamu, Yevone?!" Martha menunjuk anaknya dengan wajah penuh kemenangan. "Kamu harusnya sujud syukur Tuan Muda Zico masih mau sama kamu. Masih berani kamu nolak perjodohan ini?!"

"Tarik kembali uangmu!" Yevone membentak keras, mundur satu langkah untuk menghindari Zico. "Aku akan suruh akuntanku mengembalikan lima puluh miliar itu detik ini juga! Aku lebih baik perusahaanku bangkrut dan hancur lebur daripada harus hutang budi apalagi menikah sama laki-laki hidung belang sepertimu!"

"Yevone! Jaga mulutmu!" Kakek Surya menggebrak lantai dengan tongkatnya, matanya melotot tajam. "Kamu mau menghancurkan masa depan keluarga ini?!"

Zico sama sekali tidak marah mendengar bentakan Yevone. Ia malah terkekeh geli, merasa sedang melihat seekor kucing kecil yang mencoba mencakar.

"Silakan saja kembalikan kalau kamu bisa," Zico melipat kedua tangannya di dada dengan gaya menantang. "Tapi ingat, kalau uang itu keluar dari rekeningmu hari ini, besok bukan cuma pabrikmu yang bangkrut. Aku bakal pastiin seluruh sisa bisnis Keluarga Mahendra rata sama tanah. Kalian bakal tidur di kolong jembatan."

Ancaman itu langsung membuat Kakek Surya dan Martha menelan ludah ketakutan. Kevin bahkan sampai menundukkan pandangannya, tak berani menatap mata Zico.

"T-Tuan Muda jangan marah dulu," Martha mencoba menenangkan dengan suara memelas. "Yevone ini cuma lagi emosi. Dia pasti mau kok nikah sama Tuan Muda."

"Bagus kalau begitu," Zico mendengus puas. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Theodore yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di samping Yevone. Tatapan Zico penuh dengan rasa jijik. "Tapi sebelum itu, ada satu syarat yang harus dipenuhi sekarang juga."

"Apa pun itu, Tuan Muda. Katakan saja," Kakek Surya mengangguk cepat.

Zico menunjuk tepat ke wajah Theodore. "Usir anjing kampung ini dari rumah ini sekarang. Dan kamu, benalu," Zico maju selangkah, menatap Theodore dari jarak dekat, "tanda tangani surat cerai hari ini, dan jangan pernah berani menampakkan mukamu lagi di kota ini. Kalau aku sampai lihat wajah gembelmu ini lagi, aku akan suruh orang-orangku mematahkan kedua kakimu."

Yevone langsung menarik lengan Theodore untuk mundur, melindunginya dari Zico. "Jangan sentuh suamiku!"

Theodore tidak mundur. Ia tetap berdiri tegak di posisinya. Alih-alih ketakutan, seulas senyum tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Mata hitamnya menatap Zico dengan ketenangan yang justru terasa sangat mengerikan, seperti tatapan malaikat maut yang sedang mencatat nama targetnya.

"Kamu yakin uang lima puluh miliar itu darimu?" Theodore bertanya datar, suaranya sangat tenang tanpa intonasi emosi sedikit pun.

Zico terkejut mendengar pria yang biasanya diam seperti batu ini tiba-tiba berani bersuara melawannya. Wajahnya langsung memerah karena merasa diremehkan oleh seorang gembel.

"Berani kau mempertanyakan kata-kataku, hah?! Dasar sampah!" Zico mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap menampar wajah Theodore.

Namun sebelum telapak tangan Zico turun, Theodore memiringkan kepalanya sedikit.

"Hati-hati kalau bicara," Theodore memotong ucapan Zico dengan nada dingin yang mengiris udara. "Bisa jadi besok pabrik keluargamu yang malah hangus terbakar gara-gara omongan besarmu hari ini."

"Apa kau bilang?!" Zico menggeram marah. Pengawal-pengawalnya di belakang langsung bersiap maju.

"Sudah, Theo! Jangan perkeruh suasana!" Yevone menarik tangan Theodore dengan kuat. Ia menatap Kakek Surya dengan mata berkaca-kaca. "Kami akan pergi sekarang, Kek. Uang itu akan aku kembalikan ke Keluarga Z secepatnya!"

Tanpa menunggu persetujuan keluarganya lagi, Yevone menarik Theodore keluar dari ruang tamu itu, melewati Zico dan para pengawalnya. Theodore membiarkan dirinya ditarik pergi. Namun sebelum benar-benar melewati ambang pintu, ekor matanya melirik sekilas ke arah Zico.

*Nikmati kebohonganmu hari ini, Bocah. Besok kau akan menangisi kesombonganmu,* batin Sang Dewa Perang.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!