-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Setengah tahun telah berlalu sejak konfrontasi sengit di tangga darurat hari itu. Bukannya mencair, hubungan antara Ivandra dan Aini justru makin mengendap dalam kecanggungan yang amat membeku. Tembok pemisah di antara mereka kini berdiri jauh lebih tebal dan tinggi.
Aini secara konsisten menjalankan seluruh kewajibannya sebagai istri dengan kepatuhan yang kaku—menyiapkan pakaian, menyajikan sarapan, hingga merapikan kebutuhan pribadi Ivandra tanpa mengeluh sedikit pun. Namun, tak ada lagi binar kehangatan, tawa kecil, atau usaha untuk mendekat. Aini menempatkan dirinya murni dalam koridor tanggung jawab formal, persis seperti yang dulu diinginkan oleh Ivandra.
Sementara itu, Ivandra tetap dikuasai oleh rasa gengsinya yang setinggi langit. Meski di dalam lubuk hatinya ada gelombang asing yang kerap kali memburu dan meremas dadanya setiap kali melihat sikap dingin sang istri, Ivandra enggan menurunkan harga diri untuk meminta maaf. Keangkuhannya sebagai dokter spesialis dan pemilik rumah sakit terus membentengi dirinya dari kenyataan bahwa ia mulai kehilangan Aini secara perlahan.
Hari Minggu yang lengang menyelimuti penthouse lantai tiga puluh. Aini yang kebetulan sedang lepas dinas dari stase terbarunya tampak tenang merapikan beberapa piring di area dapur bersih.
Ting tong!
Suara bel pintu apartemen berbunyi mendadak. Sebelum Aini sempat melangkah menuju pintu, pintu utama sudah lebih dulu terbuka dari luar. Nyonya Rosalia Wigunadi masuk dengan senyum mengembang lebar, diikuti seorang asisten rumah tangga yang membawa dua kotak bekal raksasa serta beberapa kantong belanjaan berisi bahan makanan segar.
"Aini sayang!" sapa Nyonya Rosalia hangat, langsung memeluk dan mencium kedua pipi menantunya dengan penuh kasih sayang.
Aini menyunggingkan senyum tulusnya, menyalami tangan Mama mertuanya dengan takzim. "Mama... kok tidak memberi kabar dulu? Biar Aini persiapkan penyambutannya."
"Nggak perlu repot-repot, Nak. Mama sengaja datang mampir mau mengantar masakan rumah favorit Ivan dan bahan makanan segar buat kalian," ujar Nyonya Rosalia gembira. Matanya menyapu sekeliling ruangan, hingga mendapati Ivandra melangkah keluar dari kamar kerja dengan kemeja santai dan celana kain.
"Mama?" alis Ivandra bertaut kaku melihat kedatangan ibunya yang tanpa pemberitahuan. "Ada apa datang pagi-pagi begini?"
"Astaga, Ivan! Menyapa Mama sendiri masa jutek begitu?" tegur Nyonya Rosalia gemas. "Mama itu kangen sama kalian! Sudah setengah tahun kalian menikah, tapi kalian sibuk terus di rumah sakit. Ayo, kita makan siang bersama sekarang. Mama bawa banyak makanan enak!"
Suka tidak suka, Ivandra dan Aini terpaksa memasang topeng keserasian mereka kembali. Di meja makan marmer hitam, mereka duduk berdampingan dengan jarak yang cukup rapat. Demi tidak memicu kecurigaan Nyonya Rosalia, Ivandra bahkan sempat mengambilkan sepotong lauk ke piring Aini dengan gerakan kaku, yang dibalas Aini dengan tundukan kepala dan ucapan terima kasih yang teramat formal.
Usai menyantap makan siang yang hangat, Aini pamit ke kamar mandi untuk membasuh tangan. Nyonya Rosalia memanfaatkan kesempatan singkat itu untuk melangkah mendekati Ivandra yang sedang menyeduh minuman di konter dapur.
Nyonya Rosalia menatap putranya dengan raut muka yang berubah sangat serius. Ia menepuk bahu Ivandra pelan, menyela heningnya dapur.
"Ivan..." panggil Mamanya dengan suara rendah yang amat dalam.
Ivandra menoleh pelan. "Ya, Ma?"
"Kamu pikir Mama ini buta?" tutur Nyonya Rosalia lembut, namun sarat akan intonasi teguran yang menohok. "Mama bisa lihat dari cara kamu menatap Aini, Ivan. Kamu itu masih bersikap sangat dingin dan kaku sama istri kamu sendiri."
Ivandra tertegun sejenak, mengalihkan pandangannya. "Kami baik-baik saja, Ma. Pekerjaan kami di rumah sakit memang padat."
"Pekerjaan jangan dijadikan alasan terus-terusan!" potong Nyonya Rosalia gemas, meremas bahu putranya. "Dengarkan nasihat Mama, Ivan. Aini itu wanita yang sangat baik, lembut, dan punya harga diri yang tinggi. Jangan pernah kamu menyia-nyiakan kebaikan dan kepatuhan istri kamu hanya gara-gara gengsi atau watak keras kepalamu itu... sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesal seumur hidup."
Ivandra membisu. Kata-kata sang Mama menghantam dinding hatinya yang kaku, memicu denyutan penyesalan yang coba ia tekan selama setengah tahun terakhir.
"Nih, Mama buatkan teh herbal ginseng khusus buat kamu. Diminum sampai habis," ujar Nyonya Rosalia menyodorkan cangkir porselen berisi cairan hangat beraroma rempah pekat ke depan Ivandra.
Ivandra tidak mengaruh curiga sedikit pun. Tanpa banyak bicara, pria itu meraih cangkir tersebut dan menyesapnya hingga kandas demi menyenangkan hati ibunya.
Di balik senyum hangatnya saat berpamitan tak lama kemudian, Nyonya Rosalia mengumbar senyuman puas yang tersembunyi rapat. Sang Mama paham betul, jika menunggu kesadaran dari putranya yang gengsi tinggi itu, keinginan keluarga besar untuk memiliki cucu tidak akan pernah terwujud. Tanpa disadari oleh anak dan menantunya, Nyonya Rosalia telah memasukkan ramuan gairah pemicu vitalitas herbal ramuan turun-temurun keluarga ke dalam cangkir teh herbal yang baru saja diminum habis oleh Ivandra.
Satu jam paska-kepergian Nyonya Rosalia, suasana penthouse kembali hening dan sunyi.
Aini sedang berdiri di depan tempat cuci piring dapur, mencuci beberapa cangkir bekas pakai dengan gerakan yang sangat tenang. Suara gemericik air menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan tersebut.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah suara napas yang memburu dan berat dari arah koridor tengah.
Aini mematikan keran air, keningnya berkerut halus. "Mas Ivan...?"
Aini memutar tubuhnya, dan seketika jemarinya membeku di tepi bak cuci piring.
Ivandra berdiri menjulang beberapa langkah di ambang dapur. Pria itu telah melepaskan kancing atas kemeja santainya, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun secara tak teratur. Wajah tampannya yang biasa dingin dan pucat kini memerah padam, peluh dingin bertetesan melintasi rahang tegasnya, dan manik mata elangnya memancarkan pendar gelisah serta gairah pekat yang amat asing.
Aroma herbal ginseng yang bercampur dengan hawa panas tubuh Ivandra seketika menyeruak, memenuhi area dapur yang luas.
Aini melangkah mundur satu tapak secara refleks, dadanya berdegup kencang diliputi rasa takut yang tak membendung. Sosok Ivandra di hadapannya saat ini tampak sangat berbeda—bukan pria dingin atau 'Dokter Iblis' penuh kontrol yang ia kenal selama ini, melainkan seorang pria yang tampak kehilangan kendali atas akal sehatnya sendiri akibat pengaruh ramuan pekat yang membakar alur darahnya.
"M-Mas Ivan... Anda kenapa?" tanya Aini dengan suara bergetar, meremas kain lap di tangannya sembari menatap suaminya dengan raut ketakutan yang amat transparan.
Ivandra tidak menjawab dengan kata-kata. Pria jangkung itu mengambil satu langkah lebar mendekat, menatap Aini dengan sorot mata intens yang sarat akan desakan emosi tak tertahankan, mengunci jarak di antara mereka di bawah pendar lampu dapur yang temaram.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku