Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Wejangan Malam di Rumah Pedesaan
Malam telah sepenuhnya turun menyelimuti. Kesunyian pedesaan yang khas segera menggantikan hiruk-pikuk terik siang hari, hanya diselingi oleh suara jangkrik dan katak sawah yang saling bersahutan di kejauhan. Udara malam yang sejuk bertiup perlahan meresap ke dalam teras rumah pedesaan biasa milik Mbah Harjo, tempat di mana Arkan kini duduk bersandar di atas kursi kayu jati yang keras tanpa alas busa.
Pria itu menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang dengan pandangan kosong. Punggung dan seluruh persendian di tubuh tegapnya masih terasa sangat nyeri dan kaku akibat kerja keras memeras keringat di ladang kemarin. Sesekali, ia melirik telapak tangan kanannya yang masih terbalut rapi oleh kain kasa putih bersih. Ramuan hijau daun binahong buatan Nayla kemarin benar-benar bekerja secara ajaib. Rasa panas membakar yang semula menyiksa saraf kulit halusnya kini telah mereda sepenuhnya, menyisakan rasa sejuk yang menenangkan.
Di sebelah Arkan, Mbah Harjo sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi hitam pekat yang mengepulkan asap tipis. Sementara itu, Pak Barkah baru saja melangkah keluar dari dalam rumah setelah membersihkan badan, mengambil posisi duduk di kursi kayu kosong tepat di hadapan sang Tuan Muda Jakarta.
"Bagaimana tanganmu, Arkan? Masih perih?" tanya Pak Barkah dengan nada suara beratnya, yang kali ini terdengar jauh lebih santai dan tidak sekeras saat berada di ladang siang tadi.
Arkan menarik napas pendek, menundukkan kepalanya melihat balutan kasa di tangannya.
"Sudah jauh lebih baik. Rasa panas terbakar yang kemarin terasa menyiksa sudah hilang. Ramuan dari... gadis itu ternyata sangat ampuh," jawab Arkan dengan nada suara beratnya yang pelan. Ia sengaja tidak menyebut nama Nayla secara langsung demi menyembunyikan sisa gengsi kotanya yang masih melekat di lidah.
Mbah Harjo terkekeh pelan mendengar jawaban Arkan, lalu meletakkan cangkir kopinya secara perlahan di atas meja kayu kusam. "Nayla itu anak yang cerdas dan berbakti. Sejak kecil dia sudah diajarkan oleh bapaknya untuk mengenali berbagai tanaman obat yang tumbuh liar di desa ini. Ramuan binahong itu memang tidak sekeren obat-obatan mahal yang ada di rumah sakit Jakarta, Le. Tapi tanah desa ini selalu menyediakan penyembuh terbaik bagi siapa saja yang mau menghargainya."
Arkan terdiam membisu, merenungkan setiap patah kata yang keluar dari mulut bijaksana sesepuh desa itu. Ingatan Arkan mendadak melayang kembali pada momen siang tadi di batas ladang, saat ia berhadapan langsung dengan wibawa murni yang memancar dari diri Pak Suryo, ayah kandung Nayla.
"Mbah... Pak Barkah..." panggil Arkan dengan nada suara yang ragu-ragu, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang Arkananta Dewangga yang biasanya selalu percaya diri dan bersikap angkuh di hadapan siapa pun. "Siang tadi saya bertemu dengan Pak Suryo di dekat ladang timur. Dia... dia mengancam akan menyeret saya keluar dari batas desa ini jika saya berani merusak kehormatan atau membuat masalah yang menodai nama baik anaknya."
Pak Barkah yang mendengar hal itu langsung tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuh kekarnya pada sandaran kursi kayu. Pria paruh baya itu bersedekap dada. "Lalu, apa kamu merasa tersinggung dan marah karena diancam oleh seorang petani kecil yang pakaiannya penuh noda tanah kotor, Tuan Muda?"
Arkan menggelengkan kepalanya perlahan, tatapan matanya menatap lurus pada keramik teras yang polos. "Tidak. Anehnya, saya sama sekali tidak merasa marah. Saya hanya... tertegun. Selama hidup di Jakarta, saya selalu dikelilingi oleh orang-orang kaya yang memuja saya, namun mereka dengan mudah mengkhianati atau menjual harga diri mereka demi selembar cek uang bisnis. Tapi siang tadi, seorang petani biasa justru berani menantang saya demi membela nama baik anaknya yang bahkan tidak menghasilkan uang miliaran. Saya belum pernah melihat wibawa seorang ayah seperti itu sebelumnya."
Mbah Harjo mengangguk-angguk pelan penuh kepuasan, mengelus janggut putihnya yang tipis. "Itulah yang dinamakan kekayaan murni yang sesungguhnya, Arkananta. Di kota tempat asalmu, semua hal mungkin memiliki label harga nominal yang jelas. Nilai seorang manusia sering kali diukur dari seberapa tebal dompet dan seberapa mewah mobil sport yang mereka kendarai setiap hari. Tapi di Desa ini, aturan mainnya sangat jauh berbeda."
Mbah Harjo menjeda kalimatnya sesaat, menatap Arkan dengan sepasang mata tuanya yang memancarkan kearifan yang mendalam. "Di sini, selembar harga diri, kehormatan keluarga, dan ketulusan hati tidak akan pernah bisa ditukar dengan tumpukan uang kertasmu. Pak Suryo itu orang yang jujur dan pekerja keras. Baginya, Nayla adalah harta paling berharga yang dititipkan oleh Tuhan. Wajar jika seorang bapak akan bertindak sebagai tameng paling depan untuk melindungi kesucian anak perempuannya dari ancaman luar."
Pak Barkah menimpali ucapan mertuanya dengan nada suara yang berbobot. "Bramantyo, ayahmu, mengirimmu dibuang ke desa terpencil ini bukan karena dia sudah tidak menyayangimu lagi, Arkan. Dia nekat memotong seluruh fasilitas mewahmu dan menitipkanmu di bawah pengawasan kami karena dia tahu kamu sedang tersesat di tengah dinginnya kemewahan kota besar. Kamu tumbuh menjadi pria dewasa yang angkuh, egois, pembangkang, dan gila hormat hanya karena merasa uang keluargamu bisa membeli segalanya di dunia ini."
Pak Barkah berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati Arkan dan menepuk pundak pria kota itu dengan mantap. "Menjadi seorang pria sejati itu bukan diukur dari seberapa nakal kamu bisa melanggar hukum jalanan dengan balapan liar, atau seberapa banyak wanita kota yang memujamu karena hartamu. Pria sejati itu adalah tentang tanggung jawab, tentang bagaimana kamu bisa memeras keringat sendiri untuk bertahan hidup, dan bagaimana kamu mampu berdiri tegak melindungi orang-orang yang lemah di sekitarmu tanpa mengharapkan pujian."
Kata-kata dari Pak Barkah dan Mbah Harjo malam itu benar-benar mengalir masuk meresap ke dalam relung hati Arkan yang paling dalam. Kalimat demi kalimat itu terasa bagai tamparan halus namun menohok yang langsung meruntuhkan satu demi satu keangkuhan metropolitan yang selama bertahun-tahun ini sengaja ia bangun sebagai benteng pertahanan dirinya yang kesepian di Jakarta.
Arkan menarik napas panjang yang terasa sangat lega di dadanya, lalu mengembuskannya perlahan ke udara malam yang sejuk. Ia mengepalkan tangan kirinya yang sehat dengan mantap. Di tengah kesunyian pedesaan yang sederhana ini, di bawah atap rumah pedesaan biasa yang jauh dari kata mewah, sang Tuan Muda metropolitan perlahan-lahan mulai menemukan arti esensi kehidupan yang sejati yang tidak pernah diajarkan di dalam gedung pencakar langit manapun di ibu kota.
"Terima kasih atas wejangannya, Mbah, Pak Barkah," ucap Arkan dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih tulus, rendah hati, dan matang tanpa ada sedikit pun sisa keangkuhan kaku seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Desa Sukmawarna.
Bude Lastri mendadak muncul dari balik pintu tengah sambil membawa nampan berisi pisang goreng hangat yang aromanya sangat menggugah selera. "Nah, mumpung obrolan seriusnya sudah selesai, ayo ini dimakan pisang gorengnya selagi masih hangat. Reno mana ya? Kok belum keluar kamar?"
"Reno paling sedang sibuk belajar untuk ujian sekolah besok, Bu," sahut Pak Barkah sambil mengambil sepotong pisang goreng.
Arkan tersenyum tipis, rasa lapar di perutnya kembali bangkit melihat camilan pedesaan yang menggoda itu. Suasana malam di teras rumah Mbah Harjo berubah menjadi penuh kehangatan keluarga yang sederhana.