"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Hebat Pertama 29.
Ketegangan di ruang tamu itu mendadak bisa dipotong dengan pisau.
Suara dentingan sendok teh yang beradu dengan cangkir di dapur terdengar samar, kontras dengan keheningan mematikan antara Rian dan Ziva.
Rian menatap ponselnya yang tergeletak di sofa, lalu beralih menatap Ziva. Rahangnya mengeras. Selama ini, dia mengagumi Ziva karena sifatnya yang rasional dan blak-blakan. Tapi tindakan barusan? Itu sudah melewati batas.
"Lo nggak berhak, Ziv," suara Rian rendah, tapi sarat akan penekanan. "Itu HP gue. Masalah gue. Siapa yang ngasih lo izin buat ikut campur urusan pribadi gue sampai sejauh ini?"
Ziva tidak mundur selangkah pun. Dia melipat dadanya, menatap Rian dengan tatapan menantang yang biasanya membuat lawan bicaranya ciut. "Izin? Gue nggak butuh izin buat nyelametin orang tolol yang hampir masuk ke lubang yang sama dua kali."
"Gue nggak tolol!" nada suara Rian meninggi satu oktav. Dada cowok itu naik turun. "Gue cuma kaget! Gue bahkan belum sempat mikir mau balas apa, dan lo tiba-tiba datang bertingkah seolah lo pemilik hidup gue. Kita cuma partner belajar, Ziv. Ingat itu."
Kata-kata terakhir Rian telak menghantam atmosfer ruangan. Partner belajar. Sebuah label yang dingin, profesional, dan berjarak.
Ziva terkekeh hambar, tapi ada binar terluka yang sempat melintas cepat di matanya sebelum kembali berganti menjadi dingin. "Oh, partner belajar? Jadi waktu lo curhat sambil nangis-nangis soal Keysha, itu tugas kelompok? Waktu gue nemenin lo begadang buat ngejar ketertinggalan nilai lo, itu bagian dari kurikulum?"
Rian bungkam. Wajahnya memerah antara rasa bersalah dan ego yang terusik.
"Gue peduli sama lo, Rian! Tapi lo... lo malah ngelihat tindakan gue sebagai invasi?" Ziva melangkah mendekat, jarinya menunjuk tepat ke dada Rian. "Asal lo tahu, cewek kayak Keysha itu nggak kangen sama lo. Dia cuma kangen sama perhatian lo yang murahan itu. Dia kangen punya pelayan setia setelah Marvel nyuekin dia. Dan lo? Lo malah kelihatan plin-plan begitu dapat chat sebaris!"
"Gue nggak plin-plan!" Rian membalas bentakan Ziva. Dia frustrasi karena Ziva bisa membaca ketakutan terdalalamnya dengan begitu akurat. "Gue cuma butuh waktu buat memproses semuanya! Gue butuh menutup lembaran itu dengan cara gue sendiri, bukan dipaksa dengan cara kasar lo!"
"Cara lo itu lambat dan bikin lo kelihatan kayak cowok gampangan, Yan!"
"Ziva, cukup!" Rian membentak, suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu. "Stop bertingkah kayak lo tahu segalanya tentang gue. Stop bersikap posesif seolah-olah lo punya hak atas gue. Lo bukan pacar gue, Ziv. Jangan kelewatan!"
Deg.
Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Rian. Begitu kalimat itu lepas ke udara, Rian langsung merutuki dirinya sendiri. Dia tahu dia sudah bicara terlalu jauh.
Ziva mematung. Tangan yang tadi menunjuk dada Rian perlahan turun, lemas di sisi badannya. Seluruh benteng pertahanan yang tadi dia bangun dengan keangkuhan dan ketegasan mendadak runtuh. Wajahnya memucat.
Rian bisa melihat bibir Ziva sedikit bergetar. "Ziv... bukan gitu maksud gue—" Rian mencoba melangkah maju, tangannya terulur hendak meraih pundak Ziva.
"Jangan sentuh gue," bisik Ziva. Suaranya tidak lagi meledak-ledak. Justru suara lirih itu yang terdengar jauh lebih mengerikan bagi Rian.
Ziva mundur dua langkah. Dia menatap Rian seolah-olah cowok di depannya ini adalah orang asing yang sama sekali tidak dia kenal. "Lo benar," kata Ziva, suaranya serak. "Gue yang kelewatan. Gue yang terlalu murah hati sampai lupa kalau di mata lo, gue cuma tempat singgah sementara sampai pemilik aslinya datang manggil lagi."
"Ziv, demi Tuhan, nggak kayak gitu—"
Ziva tidak mendengarkan. Dengan gerakan cepat yang berantakan, dia menyambar tas ranselnya di atas karpet. Beberapa lembar kertas latihan soal kalkulus yang mereka kerjakan tadi tergelincir keluar dan berserakan di lantai, tapi Ziva tidak peduli lagi.
Dia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu depan.
Rian panik. Dia mengejar Ziva sampai ke teras rumah. "Ziva, tunggu! Kita omongin baik-baik. Gue tadi cuma emosi!"
Saat Ziva membuka pagar rumah dan berbalik untuk terakhir kalinya, Rian terpaku di tempatnya. Setitik air mata lolos menjalar di pipi Ziva yang memerah. Mata gadis yang biasanya memancarkan kecerdasan dan kekuatan itu kini benar-benar basah dan hancur.
Ziva menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, lalu menatap Rian dengan tatapan yang akan menghantui cowok itu sepanjang malam. "Jangan cari gue lagi, Rian. Silakan buka blokirannya, dan selamat kembali jadi badutnya Keysha."
Ziva berbalik, melangkah setengah berlari meninggalkan pekarangan rumah Rian, membiarkan gerbang besi itu menutup dengan dentuman keras yang memekakkan telinga.
Rian berdiri mematung di bawah terik matahari pagi yang mendadak terasa sangat dingin. Dia menatap lembaran kertas kalkulus yang berserakan di teras karena tertiup angin—kertas yang di sudutnya penuh dengan coretan tulisan tangan Ziva yang rapi.
Rian melihat ponsel di genggamannya. Layarnya masih menampilkan menu daftar blokir. Dia hanya perlu satu ketukan untuk mengembalikan Keysha ke hidupnya. Tapi entah kenapa, dadanya justru terasa kosong melongpong, dan rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayap naik, mencekik lehernya hingga dia kesulitan bernapas.
......................
...****************...
Tbc,