FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Hanya Lelucon Bodoh
"Setiap kali Mama singgung soal perjodohan atau wanita, alasanmu selalu pekerjaan. Kamu itu sudah dua puluh delapan tahun, Noah! Mau sampai kapan kamu melajang dan mengurung diri seperti ini? Kamu itu satu-satunya penerus keluarga Rajendra!"
"Penerus Rajendra Group tidak harus buru-buru menikah hanya untuk memuaskan gengsi perkumpulan arisan Mama," balas Noah dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh kekesalan mamanya.
Telinganya sudah kebal. Omelan, bujukan, hingga ancaman soal pernikahan sudah menjadi menu wajib yang disajikan sang mama hampir setiap hari di meja makan ini.
"Noah! Menjaga martabat keluarga itu penting!" tegas Nyonya Eleonora.
"Mama cuma mau melihat kamu bahagia, punya keluarga, punya istri yang mendampingi kamu. Jangan karena trauma masa lalu, kamu jadi menutup diri dari seluruh wanita di dunia ini!" terus mama Eleonora.
Trauma masa lalu.
Kata-kata itu bagaikan sembilu yang menyayat luka lama di dada Noah. Pandangan matanya mendadak berubah makin gelap. Kenangan lima tahun lalu mendadak berputar cepat di kepalanya yaitu tentang seorang wanita yang dulu sangat dia cintai dan percayai, wanita yang mengumbar janji setia, namun pada akhirnya menghempaskan Noah begitu saja tepat di hari ulang tahunnya, meninggalkan Noah demi pria lain yang dianggap memiliki prospek bisnis lebih menjanjikan saat proyek awal Rajendra Group sempat goyah.
Sejak hari itu, Noah Raja Rajendra bersumpah tidak akan pernah lagi menyerahkan hatinya pada wanita mana pun. Bagi Noah, wanita hanya makhluk manipulatif yang mendekat karena harta, status, dan kekuasaan.
"Cukup, Eleonora."
Sebuah suara berat dan berwibawa menengahi pertengkaran itu. Tuan Hendra Rajendra, pria separuh baya dengan rambut memutih yang duduk di kepala meja, akhirnya membuka suara setelah sejak tadi diam menikmati santap malamnya.
Tuan Hendra menatap putranya, lalu beralih menatap istrinya. "Jangan mendesak Noah terus-terusan di meja makan. Ini tempat untuk makan, bukan arena debat."
"Tapi Pa, kalau tidak didesak, anakmu ini tidak akan pernah bergerak!" kilah Nyonya Eleonora tidak mau kalah.
"Papa lihat sendiri, sudah hampir lima tahun sejak perempuan tidak tahu diri itu pergi, Noah hidup seperti robot! Pergi pagi pulang malam, di rumah cuma mengurung diri di ruang kerja. Dia tidak pernah tersenyum lagi!" seru Mama Eleonora, sebagai seorang ibu Mama Eleonora begitu khawatir dengan kondisi sang anak.
"Mama kira dengan menjodohkanku pada wanita-wanita murahan yang sengaja dipamerkan teman-teman Mama itu bakal membuatku tersenyum?" tembak Noah tajam, tatapannya menghujat.
"Mereka cuma mengincar marga Rajendra dan isi rekeningku, Ma. Sama seperti yang dulu." ujarnya muak.
"Clarissa beda, Noah! Dia wanita berpendidikan..." ucap Mama Eleonora terpotong.
"Semua wanita sama saja," potong Noah tegas tanpa ragu. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya yang sama sekali tidak kusut. "Aku sudah kenyang. Terima kasih makan malamnya."
"Noah! Duduk kembali! Mama belum selesai bicara!" panggil Nyonya Eleonora dengan nada naik satu okta.
Namun Noah sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Dia melangkah lebar meninggalkan ruang makan yang megah namun terasa menyesakkan itu.
Tuan Hendra hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putra tunggalnya, lalu menghembuskan napas panjang.
"Biarkan dia, Ma. Kamu tidak bisa memaksa hati orang yang pernah patah dengan cara kasar seperti ini." tutur Papa Hendra.
"Tapi sampai kapan, Pa? Rumah sebesar ini rasanya sunyi sekali. Apalagi Mbak Mirna baru saja berhenti kerja," keluh Nyonya Eleonora seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, suaranya melemah. "Rumah jadi makin sepi dan berantakan."
"Soal pengganti Mbak Mirna, kamu sudah dapat?" tanya Tuan Hendra tenang.
Nyonya Eleonora mengangguk pelan. "Tadi sore Mbok Sri, kepala pelayan kita, bilang kalau sepupunya di kampung punya kenalan gadis muda yang butuh pekerjaan. Katanya anaknya rajin, jujur, dan sopan. Besok lusa mungkin sudah sampai di ibu kota bersama adiknya yang sedang sakit." Mama Eleonora memberikan informasi yang baru saja dia dapatkan.
"Gadis muda? Apa dia sanggup mengurus rumah seluas ini?" Tuan Hendra menyipitkan mata ragu.
"Katanya dia butuh uang banyak untuk pengobatan adiknya. Biasanya orang yang terdesak kebutuhan hidup akan bekerja jauh lebih giat dan jujur daripada orang biasa," jawab Nyonya Eleonora datar. "Semoga saja dia tidak membuat masalah di rumah ini, terutama jangan sampai membuat Noah makin marah."
Sementara itu, Noah melangkah menyusuri lorong panjang lantai dua mansion menuju ruang kerja pribadinya. Langkah kakinya terdengar bergema di atas lantai kayu berkualitas tinggi. Pria itu membuka pintu kayu jati yang tebal, lalu melangkah masuk dan menguncinya dari dalam.
Ruang kerja Noah sangat luas namun teratur kaku. Rak buku raksasa memenuhi salah satu dinding, sementara di dinding lainnya terpajang kaca besar yang memperlihatkan pemandangan taman belakang mansion yang diterangi lampu-lampu taman yang redup.
Noah berjalan menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni gelap. Dia tidak menyalakan lampu utama, hanya membiarkan lampu meja yang temaram menerangi ruangannya. Pria itu menuangkan sedikit minuman dari botol kaca di sudut meja ke dalam gelas kristalnya, lalu meminumnya dalam sekali teguk.
Rasa hangat menjalar di tenggorokannya, namun dingin di dadanya sama sekali tidak berkurang.
Noah menyandarkan tubuhnya pada kursi kulitnya yang empuk, memejamkan mata rapat-rapat. Suara mamanya di ruang makan tadi kembali berputar di kepalanya, bercampur aduk dengan kenangan masa lalunya yang kelam.
"Kamu hidup seperti robot... Kamu tidak pernah tersenyum lagi..."
Noah membuka matanya, menatap lurus ke arah kegelapan di luar jendela.
"Tersenyum?" bisik Noah pada dirinya sendiri dengan nada cemooh yang dingin.
"Untuk apa? Cinta hanya lelucon bodoh yang membuat orang menjadi lemah." tembok besar dan tinggi begitu erat menjerat hati Noah.
Bagi Noah Raja Rajendra, dunia ini adalah tempat bertarung di mana kekuasaan dan uang adalah satu-satunya pelindung mutlak. Perasaan, empati, dan cinta hanyalah celah berbahaya yang bisa dimanfaatkan orang lain untuk menghancurkannya. Dia sudah membangun tembok tebal di sekeliling hatinya, tembok yang begitu kokoh hingga tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk.
Telepon genggamnya di atas meja bergetar, menampilkan nama sekretaris pribadinya. Noah meraih ponsel itu dan menempelkannya di telinga.
^^^Noah: [Ya, Nakula?] tegur Noah cepat.^^^
Nakula: [Selamat malam, Tuan Noah. Maaf mengganggu waktunya,] suara Nakula, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya, terdengar dari seberang telepon.
Nakula: [Saya cuma mau mengingatkan bahwa berkas analisis investasi untuk proyek di Daerah B besok pagi sudah saya kirimkan ke email Tuan. Dan juga, jadwal rapat dengan direksi dimajukan menjadi pukul delapan pagi.]
^^^Noah: [Bagus. Persiapkan semuanya dengan teliti. Jangan sampai ada celah sedikit pun saat rapat besok,] perintah Noah tanpa basa-basi.^^^
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semangat author yah