Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Hujan,Mie Instan dan Rahasia Kecil
Sore itu, langit di atas kota universitas mendadak berubah menjadi sekelam jelaga. Badai datang tanpa peringatan tepat saat Gavin dan Kirana baru saja menyelesaikan sesi revisi jurnal di perpustakaan pusat. Hujan deras yang disertai angin kencang langsung mengguyur bumi, memaksa mereka memacu motor Astrea tua Gavin dengan kecepatan tinggi demi mencari tempat berteduh terdekat.
Mereka akhirnya terdampar di Warkop Cak Min. Tempat itu sepi, hanya ada suara gemuruh air yang menghantam atap seng dengan sangat keras, menciptakan tirai air raksasa yang mengisolasi mereka dari dunia luar.
"Walah, Mas Gavin, Mbak Kirana! Wetengne teles kabeh (badannya basah semua)!" seru Cak Min panik sambil menyodorkan dua helai kain lap bersih agar mereka bisa menyeka sisa air hujan di wajah.
"Aman, Cak! Yang penting mi instan rebus pakai telur dua mangkuk, cabai rawitnya potongnya yang banyak ya! Sama teh anget dua!" teriak Gavin, suaranya bersahut-sapaan dengan gemuruh guntur di luar.
Kirana duduk di samping Gavin di atas bangku kayu panjang. Rambutnya agak basah di bagian ujung, dan ia sesekali menggigil karena angin malam yang berembus masuk lewat celah terpal warkop. Gavin yang menyadari hal itu langsung mencopot jaket jins lusuhnya, lalu menyampirkannya ke pundak Kirana tanpa banyak bicara.
"Gak usah, Gav. Jaket kamu bau oli," protes Kirana ketus, namun ia tetap merapatkan jaket itu ke tubuhnya karena hawa dingin yang menusuk.
"Bau oli gini yang bikin lu gak masuk angin, Ran. Udah, pakai aja," sahut Gavin santai sambil menyeruput teh hangat yang baru saja diantarkan Cak Min.
Tidak lama kemudian, dua mangkuk mi instan rebus yang mengepulkan uap panas mendarat di meja mereka. Aroma gurih kaldu ayam dan pedasnya cabai rawit potong seketika mengusir keheningan di antara mereka. Mereka makan dalam diam selama beberapa menit, menikmati kehangatan sederhana yang perlahan menjalar ke dalam tubuh.
Kirana meletakkan sendoknya, menatap kepulan uap dari mangkuk mi-nya sebelum mengalihkan pandangannya tepat ke mata Gavin. "Gav... boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya aja, Bos. Mumpung gratis," sahut Gavin sambil mengunyah kerupuk.
"Kenapa sih kamu milih hidup kayak gini?" tanya Kirana pelan, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang sangat dalam. "Kamu slengean, ugal-ugalan, hobi berantem di terminal, dan tinggal di kosan gembel kayak gitu. Padahal, dari cara kamu nyelesein rumus di lab, dan... dari jam tangan yang gak sengaja kulihat di tas kamu waktu itu, kamu jelas bukan orang biasa. Kenapa kamu menyembunyikan identitas kamu?"
Gavin terdiam. Gerakan tangannya yang hendak mengambil kerupuk berikutnya terhenti di udara. Ia menatap permukaan teh hangatnya yang bergelombang kecil karena getaran suara hujan di atap seng. Untuk sesaat, topeng berandalan yang selalu terpasang kokoh di wajahnya runtuh, menyisakan tatapan mata seorang anak manusia yang kesepian.
"Gue cuma pengen tahu rasanya dihargai karena diri gue sendiri, Ran," ucap Gavin, suaranya terdengar berat dan sangat tenang, tanpa ada nada candaan sedikit pun. "Di tempat asal gue... semua orang tersenyum dan hormat sama gue hanya karena nama belakang yang gue bawa. Mereka punya ekspektasi yang bikin gue gak bisa napas. Kalau gue sukses, itu karena duit bokap gue. Kalau gue gagal, itu karena gue anak manja. Semuanya palsu."
Gavin menoleh, menatap Kirana dengan senyum miring yang kali ini terasa melankolis. "Di sini, di warkop ini, di kosan Bu Broto... kalau gue jatuh, ya karena salah gue sendiri. Kalau gue punya temen kayak Rian atau dihormati karena balapan, itu karena nyali gue sendiri. Adil, kan? Di sini gue merasa hidup sebagai manusia, bukan sebagai boneka pajangan korporasi."
Kirana tertegun seribu bahasa. Ia menatap wajah Gavin dari samping, menyadari bahwa di balik sikap ugal-ugalan dan kepribadiannya yang berantakan, pria di depannya ini memiliki prinsip hidup yang sangat kokoh dan mendalam. Rasa sinis yang dulu ia rasakan terhadap Gavin kini sepenuhnya menguap, berganti dengan rasa hormat dan sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di sudut hatinya.