"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Jarak yang Semakin Lebar
Mata Kate berkedip pelan, berusaha beradaptasi dengan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya melalui celah-celah jendela. Wanita itu mengerjap pelan, sebelum bangun dari ranjangnya.
Kate duduk di atas ranjangnya, perlahan menoleh ke sisi kanan ranjang. Begitu menyadari hanya ada dirinya disana, dahi Kate langsung menyerit keheranan. “Jadi, dia belum pulang?” Gumam Kate.
Dengan gerakan pelan, Kate turun dari ranjangnya, mengenakan alas kaki hangat dan menghela napas pelan. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Menurut kesimpulan Kate, Salvatore memang hanya menikahi dia sebagai sebuah tantangan, bukan benar-benar menginginkannya.
“Dia tidak berkata akan lembur sampai pagi begini…” helaan napas panjang terdengar. “Sekarang bahkan izinku tidak diperlukan, ya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Kate ingin sekali tidak peduli dengan hal ini. Namun hati tidak pernah bisa dibelokkan dengan logika. Istri mana yang diam saja jika suaminya bekerja dari pagi hingga pagi tanpa izin begini?
Tok. Tok. Tok.
“Nyonya, ini Rhea!”
Kate menoleh ke pintu kamar utama, suara yang sangat dia kenali. Tanpa mendekat, Kate membalas menyetujui. “Masuklah, Rhea.”
Pintu kamar yang tinggi itu didorong masuk oleh sang dayang pribadi. Rhea masuk membawa nampan berisi air hangat dan beberapa cemilan yang bisa dikonsumsi di pagi hari.
“Ini air hangatnya, nona,” katanya sambil meletakan nampan diatas meja.
Kate mengulurkan tangannya untuk meneguk air hangat itu dalam diam. Setidaknya air ini bisa sedikit menenangkan pikirannya yang berkecamuk. “Dia tidak pulang ya, Rhea?”
Ada segelintir harapan bahwa Salvatore mungkin pulang dan sengaja tidak masuk kamar untuk tidak mengganggunya, meski ketika dia menoleh kepada Rhea, jawabannya sudah ada sebelum gadis itu berbicara.
Rhea tahu siapa yang dimaksudkan oleh sang nyonya. Melihat ranjang sebelah kosong melompong, “beliau memang belum pulang sejak kemarin, nyonya. Tapi kepala pelayan bilang, kemungkinan ada pekerjaan mendadak yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan.”
Pekerjaan mendesak? Batin Kate sinis. Tentu saja. Bagi seorang jenderal agung, pekerjaan memang selalu mendesak. Mengabariku hanya membuang-buang waktu dan keefisienannya.
“Mau coba saya tanyakan ke kepala pelayan lebih rincinya, nyonya?” Tawar Rhea.
Kali ini tidak ada guratan bercanda atau ingin menggoda sang nyonya seperti biasanya. Dayang itu merasa bahwa Kate memang sedang sedih.
“Tidak perlu, Rhea,” balas Kate sambil meletakan gelas air hangatnya kembali ke meja.
Wanita itu lantas bangun dari duduknya dan siap untuk bersih-bersih memulai hari. “Bantu aku menghangatkan air untuk mandi. Aku tidak punya sisa waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting.”
Rhea menganggukkan kepalanya patuh. “Baik, nyonya.”
***
Siang harinya. Tepat setelah Salvatore selesai menyerahkan traktat perbatasan kepada sang raja. Jenderal agung itu akhirnya menampakkan kakinya di kediaman Ardan.
Langkah tegapnya langsung membawa Salvatore menuju kamar utama. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Kate sedang duduk di meja rias, merapikan rambutnya dengan tatapan lurus ke cermin, seolah kehadiran suaminya yang baru pulang setelah semalaman penuh tidak meninggalkan riak apa pun.
Salvatore menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat.
"Kate," panggilnya dengan suara bariton yang tenang.
Kate menghentikan sejenak gerakannya, tetapi ia tidak lantas memutar tubuhnya. Ia hanya menatap pantulan Salvatore di cermin, mempertahankan ekspresi sedingin porselen. "Kau baru pulang, Jenderal? Atau ini baru setengah jalan sebelum kau kembali lagi ke ruang kerjamu?" tanyanya, nada suaranya datar, tanpa ada nada protes, melainkan sebuah jarak yang sangat nyata.
Salvatore sedikit mengerutkan keningnya, menangkap ketus dan dingin yang terselip di balik kalimat itu. Pria itu menghela napas pendek, merasa perlu memberikan penjelasan singkat—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan sebelumnya.
"Maaf aku tidak pulang semalam. Pekerjaan revisi traktat di ruang kerja mendadak sangat padat dan harus diselesaikan sebelum diserahkan ke istana pagi tadi," ucap Salvatore, suaranya terdengar jujur, tanpa ada niat berbohong sedikit pun.
Namun, di telinga Kate, penjelasan itu terdengar seperti klise yang membosankan. Bahkan saat meminta maaf pun, dia terdengar seperti sedang melaporkan tugas militer.
Kate memutar kursinya perlahan, menghadap langsung ke arah sang suami. Dagunya terangkat anggun, memasang benteng pertahanan yang paling kokoh. "Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun, Jenderal. Tugasmu adalah untuk negara, dan aku bukan anak kecil yang harus terus-menerus diberi kabar."
Mendengar respons itu, dalam kepala Salvatore yang logis dan lurus, ia menyimpulkan hal lain. Kate menjawab dengan dingin dan menyuruhnya berhenti menjelaskan—berarti wanita itu sedang tidak ingin diganggu, dan masalah semalam sudah dianggap selesai oleh Kate. Salvatore, dengan segala ketidakpekaannya, merasa ia hanya perlu menyampaikan urusan penting berikutnya tanpa memperpanjang perdebatan yang menurutnya tidak efisien.
"Baiklah," balas Salvatore singkat. Ia merogoh saku seragamnya, lalu melanjutkan dengan nada datar. "Satu lagi. Pihak istana mengadakan Pesta Militer Kemenangan akhir pekan ini untuk merayakan penandatanganan traktat perbatasan. Raja meminta kita hadir."
Kate terdiam. Tangannya yang berada di atas meja rias mengepal pelan.
Pesta Militer.
Sebuah pesta yang dirancang khusus untuk merayakan keberhasilan kerja sama strategis antara sang Jenderal dan Lady Sonia. Pesta di mana semua mata pasang bangsawan akan melihat bagaimana Salvatore dan Sonia berdiri berdampingan sebagai pahlawan utama.
Sebelum Kate sempat merespons, Salvatore menambahkan kalimat penutupnya. "Aku harap kamu bisa datang dan mendampingiku sebagai Nyonya Ardan."
Setelah menyampaikan pesannya, Salvatore berbalik, melangkah pergi untuk membersihkan diri dan beristirahat, sama sekali tidak menyadari badai apa yang baru saja ia ciptakan di dalam kepala istrinya.
Di tempatnya, Kate tertawa dalam hati—sebuah tawa getir yang terasa begitu menyakitkan di tenggorokan.
Datang?
Datang ke pesta militer itu berarti berjalan sukarela ke dalam kandang singa. Menonton secara langsung bagaimana wanita lain berdiri di samping suaminya, berbagi sorotan lampu utama, sementara ia—sang istri sah—hanya duduk di pinggiran ruangan sebagai hiasan formalitas yang diabaikan.
Tetapi, jika ia menolak hadir dan memilih berdiam diri di kamar, bukankah itu sama saja dengan menyerah? Bukankah itu berarti dia membiarkan Sonia memenangkan posisi di sisi Salvatore tanpa perlawanan, dan membenarkan semua asumsi bahwa dirinya hanyalah pajangan yang tidak berguna?
Dilema itu menghantam benak Kate dengan ganas. Harga diri seorang Putri Raventhal berteriak agar ia datang, mengenakan gaun paling megah, dan menegakkan kepala setinggi-tingginya untuk menunjukkan bahwa ia tidak hancur. Namun di sisi lain, hatinya yang sudah terlantar sudah terlampau lelah untuk kembali diinjak oleh ketidakpekaan sang Jenderal.
Pesta itu menanti. Dan benteng pertahanan Kate kini diuji di garis batas yang paling tipis.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭