Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 5
"Oh, ini Zheana, Jeng. Adiknya Niken. Ya... cuma anak kedua yang kerja kantoran biasa. Zhea, cepat habis tuang teh langsung ke belakang lagi, lap meja pantry yang kotor!"
Khadafy mengepal jemarinya di dalam saku celana. Suara ibunya kembali terdengar, memotong perintah Irma secara halus.
"Tunggu sebentar, Nak," panggil Mama Rina lembut, menahan jemari Zheana yang hendak menarik bakinya kembali.
"Kamu yang memasak semua hidangan luar biasa ini?"
Zheana meremas pinggiran bakinya, sempat melirik Irma yang menatapnya penuh ancaman sebelum akhirnya menunduk lagi.
"Iya, Bu... maaf kalau rasanya masih ada yang kurang di lidah Ibu dan Bapak. Saya masih belajar, Bu..."
"Panggil Umi, Nak. Kurang bagaimana?" Mama Rina tersenyum hangat, menepuk pelan punggung tangan Zheana.
"Aroma rendang dan sup buntutnya saja sudah bikin ketagihan. Kamu santun sekali, Nak. Dari tadi mata kamu selalu menjaga pandangan, bicaranya juga lembut."
"Terima kasih atas pujiannya, Bu Rina... Maksud saya Umi..." sahut Zheana tulus dengan senyum tipis di bibirnya yang pucat. Sedangkan Bu Irma medelik melihat calon besannya malah terlihat suka kepada Zheana.
"Jeng Irma," ucap Mama Rina tiba-tiba sambil menatap Irma lekat-lekat.
"Menaungi anak sejeli, sesantun, dan sepandai ini memasak pasti membuat rumah selalu adem, ya? Kenapa Zheana disuruh ke belakang terus? Biarkan dia ikut makan bersama kita di sini."
Wajah Irma seketika membeku. Senyum kemenangannya luntur berganti kecanggungan yang luar biasa di depan calon besan kayanya. "
"A...duh, Jeng Rina... Zhea kan cuma membantu dapur..."
"Saya yang minta, Jeng Irma... Apalagi dia adalah adik Niken,," potong Mama Rina tegas namun tetap berwibawa. Beliau lalu menarik satu kursi di sebelah tempat duduknya sendiri.
"Sini, Zheana. Duduk di samping Umi. Khadafy, kamu duduk di sebelah adikmu ini."
Khadafy langsung melangkah maju tanpa ragu sedikit pun.
"Baik, Umi," jawabnya mantap, lalu menarikkan kursi untuk Zheana.
"Pak Khadafy, tidak usah..." bisik Zheana panik, matanya membelalak kaget melihat atasannya bersikap sebegitu perhatian di depan semua orang.
"Duduklah, Zheana. Ini perintah Umi saya," gumam Khadafy pelan, matanya menatap Zheana dengan kehangatan yang tak pernah gadis itu lihat sebelumnya di kantor.
Irma dan kerabatnya dari kampung hanya bisa melotot tak percaya melihat Zheana justru dijadikan pusat perhatian utama oleh keluarga calon besan kaya mereka.
Suasana makan malam yang terasa seperti santap siang bagi keluarga Khadafy yang sibuk berlangsung sangat hangat di meja makan. Mama Rina terus-terusan mengimbau Zheana untuk menambah porsi makannya, bahkan tak ragu mengambilkan sepotong daging rendang empuk ke atas piring gadis itu.
"Kamu ini kurus sekali, Nak Zheana. Pasti capek ya seharian ini?" puji Mama Rina tulus, matanya tak lepas menatap keanggunan Zheana.
"Jeng Irma, mantap sekali didikannya. Bahkan saya jarang mengobrol dengan calon mantu saya,"
"Ah jeng Rina, mungkin karena Niken itu sedang sibuk akhir-akhir ini. Semoga setelah menikah nanti, Jeng Rina dan Niken bisa jauh lebih bekat. Insyaallah Niken itu jauh lebih baik segalanya dari Zheana," Irma memuji Niken.
"Semoga saja setelah menikah, Niken punya banyak waktu untuk saya dan Khadafy, karena saya juga ingin merasakan punya anak perempuan..."
"Insyaallah, semua yang Jeng Rina mau ada pada Niken..." Jawab Bu Irma menyombongkan anaknya.
Ia mengepalkan tangan di bawah meja, matanya memancarkan rasa dengki yang mendalam melihat anak yang selalu ia sepelekan justru disanjung setinggi langit oleh calon besan kayanya. Irma merapat ke arah Bagus, lalu menyikut rusuk suaminya dengan sangat keras hingga Bagus tersedak air minumnya.
"Bagus! Bisikin anak kesayanganmu itu!" bisik Irma tajam dan penuh ancaman di telinga Bagus, matanya mendelik tajam ke arah Zheana.
"Cepat suruh dia pergi ke dapur atau pura-pura ke kamar! Jangan bikin Mama kepanasan di sini!"
"Ma, apa-apaan sih? Bu Rina sendiri yang nyuruh Zheana duduk di situ," bisik Bagus berusaha membela dengan suara sangat pelan.
"Kamu jangn banyak alasan!" geram Irma dengan gigi terketap, matanya makin melotot.
"Lihat itu! Ibu Rina malah muji-muji dia terus! Harusnya malam ini itu panggungnya Niken! Kalau keluarga Khadafy malah makin nempel sama Zheana, nanti posisi Niken bagaimana? Cepat suruh Zheana pergi dari situ sekarang juga, atau Mama bikin keributan sekalian di sini!"
Bagus menghela napas berat, merasa amat bersalah pada anak perempuannya. Dengan ragu, Bagus berdeham pelan.
"Zheana..."
Zheana langsung menoleh, menghentikan sendoknya di udara.
"Nak, itu... di dapur kayaknya ada teko air yang masih menyala di atas kompor. Coba kamu cek ke belakang sebentar," ucap Bagus pelan, menatap Zheana dengan pandangan penuh penyesalan.
Zheana sangat paham. Ia melirik sekilas ke arah ibunya yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Dengan sangat santun, Zheana meletakkan sendok dan garpunya tanpa menimbulkan suara.
"Umi Rina, Abi Haris, Pak Khadafy... maaf, Zheana izin ke belakang sebentar untuk mengecek dapur," pamit Zheana seraya menundukkan badannya sedikit.
"Oh, iya Nak, silakan," jawab Mama Rina penuh kehangatan.
Namun, saat Zheana berdiri dan melangkah mundur, Khadafy ikut meletakkan sendoknya. Mata tajamnya sempat menangkap lirikan penuh kebencian dari Irma kepada Zheana serta bisikan menekan antara orang tua Zheana tadi.
"Bu, Pak, saya izin ke kamar mandi sebentar," ucap Khadafy mendadak.
Tanpa menunggu jawaban, Khadafy berdiri dan melangkah lebar mengikuti arah Zheana pergi ke area dapur.
Dapur rumah itu lengang, terpisah dari keriuhan ruang tamu oleh sekat tembok tipis. Suara gemericik air keran memecah keheningan saat Zheana menyiram telapak tangannya dengan sabun cuci, suara keran setidaknya bisa membuat isakknya tak terdengar. Di depannya ada segunung cucian piring, gelas dan alat-alat masak yang harus dia cuci. Dia tak bisa mengatakan lelah atau capek, sehingga dia lebih memilih diam dan mengerjakan semuanya. Daripada ayah dan ibunya harus bertengkar karena dia, apalagi keluarga besar ibunya dari kampung sudah mulai berdatangan ke rumah.
Khadafy berhenti dan melihat bagaimana Zhafea mengerjakan semua pekerjaan di dapur, sedangkan seluruh keluarga besarnya malah sedang tertawa dan bercanda di ruang keluarga, tak ada satupun dari mereka yang mau membantu ke dapur.
"Apa kamu mengerjakan semua pekerjaan ini sendiri?."
Zheana tersentak kaget. Ia berbalik tergesa-gesa, usapannya di pipi menyapu air mata dengan kasar. Khadafy berdiri tegak di ambang pintu dapur, bersedekap tangan dengan tatapan tajam yang tak lagi dingin, melainkan dipenuhi sorot keprihatinan yang mendalam.
"Pak... Pak Khadafy?" cicit Zheana, suaranya parau dan gemetar. Ia buru-buru menunduk, tak berani menatap langsung ke arah atasannya.
"Maaf, Pak, tempat ini kotor. Bapak sebaiknya kembali ke ruang tamu..."
"Teko airnya bahkan tidak menyala, Zheana," potong Khadafy pelan, selangkah demi selangkah melangkah mendekati meja pantry tempat gadis itu berdiri.
"Papamu terpaksa menyuruhmu pergi karena Ibumu mengancamnya, kan?"
Mata Zheana membelalak. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, panik luar biasa.
"Bukan begitu, Pak... Mama hanya... Mama hanya ingin saya fokus merapikan dapur. Lagi pula, malam ini acara untuk Mbak Niken. Saya memang tidak pantas ada di sana."
Khadafy menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Zheana. Tinggi badannya yang menjulang membuat bayangannya menutupi tubuh mungil gadis itu.