NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jarum Naga dan Tirai Emas Istana Dalam

​Kereta kuda yang ditarik oleh empat ekor kuda putih berbulu salju itu terbuat dari kayu gaharu murni. Aroma wanginya yang menenangkan mengalahkan bau debu jalanan Ibukota Tianjing. Ketika kereta itu melewati Gerbang Meridian—pintu masuk utama menuju Istana Dalam Kekaisaran Zhou Agung—Li Yun bisa merasakan perubahan tekanan yang drastis di udara.

​Bagi manusia fana, Istana Dalam hanyalah simbol kekuasaan yang megah. Namun bagi Li Yun, melangkah melewati tembok setinggi lima belas tombak itu seperti masuk ke dalam medan magnet raksasa. Nadi Naga Emas di bawah tanah memancarkan aura elemen tanah yang sangat kental.

​Li Yun memejamkan matanya, memutar Sutra Pernapasan Kayu Mati hingga batas absolut. Mutiara perak di Dantiannya berhenti berputar sepenuhnya, bersembunyi di balik lapisan organ dalamnya. Ia harus menjadi seratus persen manusia fana. Di istana ini, sangat mungkin ada kultivator tingkat tinggi yang bekerja dalam bayang-bayang sebagai pelindung kekaisaran.

​Kereta berhenti di depan Balai Pengobatan Kekaisaran.

​Ketika Li Yun melangkah turun, jubah sutra putihnya berkibar ringan ditiup angin musim dingin. Di depan pintu balai, telah berdiri barisan pria tua berjubah sutra hijau—seragam resmi Tabib Istana. Di barisan paling depan berdiri Tabib Kepala Wang, seorang pria berjanggut putih panjang dengan wajah keriput yang dipenuhi arogansi.

​Di samping Li Yun, ajudan kepercayaan Adipati Zhenguo yang mengantarnya segera memberi hormat. "Tabib Kepala Wang, ini adalah Master Li. Adipati Zhenguo secara pribadi merekomendasikan beliau untuk memeriksa kondisi Yang Mulia Kaisar."

​Tabib Kepala Wang mendengus pelan, matanya menyapu Li Yun dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

​"Adipati Zhenguo sangat ahli dalam memenggal kepala musuh di medan perang, namun ilmu medis bukanlah ilmu membunuh," ucap Tabib Wang dingin. "Istana Dalam bukanlah klinik jalanan. Sebelum seorang pemuda tak berambut dada menyentuh nadi Putra Langit, ia harus membuktikan bahwa ia tahu perbedaan antara urat nadi dan usus buntu."

​Li Yun tersenyum tipis, sangat sopan dan elegan. "Tentu saja, Senior Wang. Mohon petunjuknya."

​Tabib Wang menepuk tangannya. Dua orang kasim menyeret seorang pelayan istana muda yang tubuhnya kejang-kejang. Kulit pelayan itu memerah seperti udang rebus, napasnya pendek, dan ia terus memuntahkan cairan kuning berbusa.

​"Pemuda ini tiba-tiba kolaps di dapur istana pagi ini," jelas Tabib Wang dengan senyum licik. "Kami mendiagnosisnya menderita Demam Api Beracun, sebuah penyakit langka akibat ketidakseimbangan empedu. Kami telah memberinya sup penyejuk selama dua jam, tapi kondisinya memburuk. Silakan, Master Li. Tunjukkan pada kami keajaibanmu."

​Para tabib senior lainnya saling melirik sambil tersenyum sinis. Itu adalah jebakan mematikan. Penyakit pelayan itu sama sekali bukan Demam Api Beracun, melainkan keracunan Bunga Kematian Merah yang sengaja diberikan dalam dosis rendah oleh Tabib Wang sendiri untuk menguji Li Yun. Jika Li Yun salah mendiagnosis dan menggunakan metode penyejuk biasa, pelayan itu akan mati, dan Li Yun akan langsung diseret ke penjara bawah tanah dengan tuduhan malapraktik.

​Li Yun melangkah maju. Ia tidak memeriksa denyut nadi pelayan itu, tidak menempelkan telinganya, bahkan tidak membuka kotak jarumnya. Ia hanya berdiri dua langkah dari pelayan yang kejang itu dan melirik sekilas.

​"Kalian memberinya sup penyejuk?" suara Li Yun memecah keheningan, nadanya tiba-tiba berubah dari pemuda yang sopan menjadi seorang guru yang sedang menegur murid bodoh.

​"Benar. Kenapa? Kau punya pendapat l—"

​Sebelum Tabib Wang selesai bicara, Li Yun mengangkat kaki kanannya dan menendang pelayan yang sedang kejang itu.

​Bugh!

​Tendangan itu tidak keras, namun dilandasi oleh presisi Tulang Kayu Besi-nya. Ujung sepatu Li Yun menghantam titik akupunktur Juque tepat di bawah ulu hati pelayan tersebut dengan akurasi seratus persen.

​Mata pelayan itu membelalak lebar. Mulutnya terbuka paksa, dan ia memuntahkan segumpal besar cairan merah kehitaman yang berbau sangat amis, disertai serbuk bunga yang belum tercerna.

​Seketika itu juga, kejangnya berhenti. Kulitnya yang memerah berangsur-angsur pucat kembali, dan napasnya menjadi teratur. Pelayan itu pingsan karena kelelahan, namun nyawanya telah selamat.

​Keheningan total menyelimuti pelataran Balai Pengobatan. Rahang para Tabib Senior nyaris jatuh ke tanah.

​"Bunga Kematian Merah, racun yang melumpuhkan sistem saraf dari lambung. Jika kalian memberinya sup penyejuk, cairan itu hanya akan mempercepat penyerapan racun ke ususnya," ucap Li Yun dingin, menatap lurus ke arah Tabib Kepala Wang yang kini pucat pasi. "Jika kau tidak bisa membedakan antara racun lambung dan demam empedu, sebaiknya kau pensiun dan merawat cucumu di desa, Tabib Wang."

​Tidak ada mantra. Tidak ada Qi spiritual. Hanya pengetahuan medis fana yang absolut, dieksekusi dengan kekuatan fisik yang sempurna.

​Tabib Wang gemetar karena malu dan marah, namun ia tidak bisa membantah. Ajudan Adipati Zhenguo yang menyaksikan itu tersenyum lebar dan segera membungkuk. "Master Li sungguh dewa medis! Mari, saya antar Anda ke Istana Kedamaian Surgawi. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu."

​Meninggalkan para tabib senior yang mematung, Li Yun berjalan mengikuti sang ajudan. Babak pertama telah ia menangkan tanpa mengotorkan jarumnya.

​Istana Kedamaian Surgawi berbau sangat berat oleh kemenyan dan gaharu. Puluhan prajurit elit lapis baja menjaga setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan, di atas ranjang naga berlapis sutra kuning, duduk Kaisar Zhou Agung.

​Kaisar baru berusia empat puluh tahun, namun wajahnya tampak seperti pria berumur enam puluh tahun. Kantung matanya hitam legam, kulitnya keriput, dan ia terus memegangi pelipisnya sambil mengerang kesakitan.

​"Masuklah..." suara Kaisar parau dan bergetar. "Adipati Zhenguo bilang kau bisa mencabut rasa sakit ini."

​"Hamba Li Yun, menyapa Yang Mulia Putra Langit," Li Yun membungkuk dengan sopan santun yang tanpa celah.

​Ia mendekati ranjang naga. Saat Li Yun berada dalam jarak tiga langkah dari Kaisar, insting kultivatornya berdering keras. Di balik bau gaharu yang menyengat, hidung Li Yun menangkap aroma herbal yang sangat familier. Itu bukan obat fana. Itu adalah aroma Pil Pengumpul Qi—pil spiritual tingkat rendah yang biasanya dikonsumsi oleh kultivator pemula untuk membuka meridian mereka.

​Li Yun memegang pergelangan tangan Kaisar untuk memeriksa nadinya.

​Deg! Deg! Deg!

​Nadi Kaisar berdetak dengan sangat liar dan tidak beraturan. Di bawah jari-jarinya, Li Yun bisa merasakan arus energi spiritual elemen api yang sangat kasar terjebak di dalam pembuluh darah Kaisar.

​Dugaannya tepat. Kaisar Zhou, yang haus akan umur panjang dan keabadian, secara diam-diam telah mengonsumsi pil spiritual yang entah ia dapatkan dari kultivator liar atau selir yang menipunya.

​Namun, Kaisar adalah manusia fana seutuhnya. Ia tidak memiliki Dantian yang terbuka dan tidak memiliki teknik kultivasi untuk memproses energi tersebut. Akibatnya, energi spiritual murni dari pil itu mengamuk di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar, dan akhirnya menumpuk di atas kepala—menyumbat meridian otaknya dan menciptakan tekanan intrakranial yang luar biasa menyiksa. Ini bukan sakit kepala, ini adalah bom waktu spiritual yang akan meledakkan kepala Kaisar dalam hitungan bulan.

​Tabib Istana tak akan pernah bisa menyembuhkannya karena obat fana tidak bisa mencairkan Qi kultivator.

​"Bagaimana, Tabib Li?" tanya Kaisar, napasnya tersengal menahan sakit. "Apakah... apakah ini kutukan dari leluhur?"

​"Yang Mulia," ucap Li Yun perlahan, menarik tangannya. Ia harus menyusun kebohongan yang masuk akal bagi seorang kaisar fana tanpa membongkar rahasia kultivasi. "Ini bukan kutukan. Ini adalah berkah yang terlalu besar untuk ditampung."

​Kaisar mengerutkan kening. "Berkah?"

​"Benar. Tubuh Yang Mulia secara alami menyerap terlalu banyak 'Hawa Naga' dari istana ini. Hawa itu sangat panas dan suci, menumpuk di meridian pikiran Yang Mulia," jelas Li Yun dengan wajah sangat serius. "Hamba menduga Yang Mulia mengonsumsi ramuan umur panjang rahasia yang mempercepat penyerapan Hawa Naga tersebut. Tubuh fana Anda tidak sanggup menahannya."

​Mata Kaisar membelalak panik. Sang Kaisar memang telah meminum pil keabadian dari seorang pendeta Tao misterius selama setengah tahun terakhir. Ia tidak menyangka pil itu justru menjadi racun yang mencekiknya.

​"S-Selamatkan aku, Tabib Li! Cabut hawa naga yang berlebih ini!" perintah Kaisar putus asa.

​Li Yun tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuka kotak peraknya dan mencabut tiga batang jarum emas panjang.

​"Proses ini akan sedikit menyakitkan, Yang Mulia. Hamba harus membuka katup di kepala Anda untuk membuang Hawa Naga yang bergejolak," ucap Li Yun.

​Dengan gerakan kilat, Li Yun menusukkan ketiga jarum emas itu ke titik Baihui (puncak kepala), Taiyang (pelipis), dan Fengchi (belakang leher) milik Kaisar.

​Kaisar menjerit tertahan.

​Pada detik yang sama, Li Yun menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas jarum emas di titik Baihui. Secara diam-diam, tanpa memancarkan aura apa pun, Li Yun memutar Sutra Pernapasan Kayu Mati dengan fungsi menyerap.

​Energi spiritual elemen api yang mengamuk di kepala Kaisar menemukan jalan keluar. Energi itu mengalir deras melalui jarum emas langsung ke telapak tangan Li Yun. Bagi Kaisar fana, energi liar ini adalah racun mematikan. Namun bagi Li Yun yang telah memiliki Tulang Kayu Besi, energi ini adalah camilan gratis yang lezat.

​Mutiara perak di Dantian Li Yun menyedot seluruh sisa energi pil tersebut dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, mengubahnya menjadi tambahan kecil untuk fondasinya sendiri.

​Saat tetes Qi terakhir berhasil diserap, Li Yun menarik jarum-jarum emasnya dengan satu gerakan anggun. Dari titik-titik akupunktur tersebut, menetes sedikit darah kotor berwarna kehitaman.

​Kaisar terdiam. Matanya yang sebelumnya dipenuhi urat merah kini berangsur jernih. Erangan kesakitannya lenyap. Rasa berat yang seolah ada sebongkah batu raksasa menekan tengkoraknya menguap begitu saja.

​"Sakitnya... sakitnya hilang," bisik Kaisar tak percaya. Ia menyentuh kepalanya sendiri, lalu tertawa keras dengan penuh kelegaan, tawa yang menggema ke seluruh Istana Kedamaian Surgawi. "Hahaha! Benar-benar hilang! Tabib Wang dan anjing-anjing medis itu pantas dipenggal, mereka membiarkanku tersiksa berbulan-bulan!"

​Kaisar menatap Li Yun dengan pandangan penuh kekaguman. "Tabib Li, kau bukan sekadar tabib, kau adalah dewa yang diturunkan langit untuk Kekaisaran Zhou! Katakan, apa yang kau inginkan? Emas? Tanah? Wanita?"

​Li Yun segera berlutut, menundukkan kepalanya dalam postur abdi yang setia. Wajahnya disembunyikan dalam bayang-bayang.

​"Hamba tidak menginginkan kekayaan, Yang Mulia. Namun, penyakit Hawa Naga ini belum sepenuhnya sembuh. Untuk memastikan Yang Mulia panjang umur, hamba perlu meracik obat penstabil dari akar teratai yang tumbuh di tempat yang paling kaya akan Hawa Naga..."

​Li Yun menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan Kaisar yang menebak.

​"Katakan saja tempatnya!" sahut Kaisar tak sabar.

​"Menurut perhitungan fengshui hamba, tempat dengan Hawa Naga terkuat ada di bawah istana ini," jawab Li Yun perlahan. "Jika hamba diizinkan mengumpulkan embun dari Paviliun Leluhur Bawah Tanah..."

​Kaisar terdiam sejenak. Paviliun Leluhur Bawah Tanah adalah area paling sakral dan terlarang. Namun, rasa takut akan sakit kepalanya yang menyiksa jauh lebih besar daripada rasa hormatnya pada leluhur yang sudah mati.

​"Diberikan!" titah Kaisar mutlak. Ia melemparkan sebuah medali naga emas ke pangkuan Li Yun. "Mulai hari ini, kau adalah Tabib Agung Kekaisaran. Medali ini memberimu akses ke seluruh penjuru Istana, termasuk Paviliun Bawah Tanah. Selama kau bisa membuatku bernapas lega, seluruh istana ini adalah taman bermainmu!"

​Li Yun menggenggam medali emas yang dingin itu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tak terlihat oleh siapa pun.

​Tiga bulan kesabaran di Sektor Ketiga, pembantaian Diakon Han Mo, dan aktingnya di ibu kota telah membuahkan hasil.

1
yudie yudie
lanjut thor
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!