Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Mario berjalan mendekati meja Dera dengan langkah tenang. Senyum tipis sudah terulas di bibirnya sejak tadi memperhatikan dari kejauhan. David yang masih berdiri di dekat meja mereka hanya menggeleng pelan, sudah hafal dengan tingkah bosnya.
“Hai, Nona Dera. Kita berjumpa lagi,” sapa Mario ramah.
Dera yang sedang menyuap makanannya langsung mendongak. Sendok di tangannya terhenti di udara. Matanya membelalak sedikit melihat sosok yang kemarin menyusulnya di depan klinik kini berdiri di depan mejanya. Ia segera menelan makanan di mulutnya, lalu membalas dengan nada basa-basi yang kaku.
“Anda di sini juga…”
“Iya,” jawab Mario ringan. “Bolehkah kami bergabung?”
Dera tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah dua temannya yang duduk di seberang, Cika yang kebetulan sedang makan siang bersamanya hari itu. Tatapannya jelas meminta pendapat.
“Bagaimana?” tanya Dera pelan.
Cika mencondongkan tubuh, berbisik dengan mata yang membesar. “Kamu kenal dia? Dia bukannya pemilik perusahaan sebelah? Yang gedungnya besar itu?”
Dera menggeleng kecil. “Aku tidak tahu…” suaranya pelan, penuh keraguan.
Mario yang berdiri di samping meja mendengar bisikan mereka. Ia terkekeh pelan, suaranya rendah dan tidak mengancam. “Tenang saja. Aku tidak gigit.”
Tanpa menunggu jawaban dari Dera, Mario sudah menarik kursi kosong di sampingnya dan duduk dengan santai. David yang berdiri di belakang hanya menghela napas, lalu ikut duduk di kursi tersisa dengan wajah sedikit kikuk.
Suasana di meja langsung berubah canggung. Dera menunduk, pura-pura fokus pada makanannya. Jari-jarinya memegang sendok lebih erat dari sebelumnya. Setelah semua yang ia alami, kehadiran laki-laki yang tiba-tiba mendekat selalu membuatnya waspada. Apalagi laki-laki yang kenal dengannya adalah pemilik perusahaan besar di seberang jalan.
Cika menatap Mario dengan curiga. “Anda kenal Dera dari mana?” tanyanya.
Mario tersenyum, tidak terganggu dengan nada waspada itu. “Kebetulan kemarin kita bertemu di klinik. Dia pasien teman saya".
Dera mengangkat wajahnya sekilas, lalu kembali menunduk. Ia tidak menyangkal, tapi juga tidak menjelaskan lebih jauh. Di dalam hatinya, rasa tidak nyaman semakin menguat. Ia datang ke kafe ini hanya untuk makan siang santai bersama temannya, bukan untuk berhadapan lagi dengan pria yang kemarin tiba-tiba menyusulnya.
Mario seolah tidak merasakan ketegangan itu. Ia menyandarkan tubuh di kursi, menatap Dera dengan tenang. “Makan siangnya enak? Aku bingung, tidak tahu harus pesan apa"
Dera hanya mengangguk singkat, "Enak. Pasan saja yang anda suka" ucapnya.
*
Mario sudah duduk nyaman di hadapan Dera, seolah undangan sudah diberikan. David duduk di seberangnya, masih terlihat sedikit canggung. Di meja itu kini ada empat orang, dan suasana yang semula santai berubah menjadi lebih kaku.
Pelayan datang menghampiri mereka. Mario dengan tenang memesan makanan yang dia mau. “Nasi goreng seafood dan es teh manis” Lalu ia menoleh ke Dera. “Kamu mau tambah sesuatu?”
Dera menggeleng cepat. “Tidak. Saya sudah kenyang.”
Cika yang duduk di seberang menatap Mario dengan mata tajam. “Anda benar-benar teman psikolog Dera?”
“Benar,” jawab Mario santai. “Gio teman kuliah saya. Kemarin kebetulan saya mampir ke kliniknya.”
“Anda Mario Pratama kan? Yang punya perusahaan di seberang itu?” tanyanya lagi.
Mario tersenyum tipis. “Iya. Tapi sekarang saya sedang tidak dalam mode kerja. Hanya ingin makan siang.”
Dera tetap diam. Ia menyuap sisa makanannya pelan-pelan, menghindari tatapan Mario sesering mungkin. Setiap kali Mario berbicara, ia hanya mengangguk atau menjawab singkat. Di dalam hatinya, rasa waspada masih kuat. Laki-laki yang tiba-tiba dekat selalu membuatnya ingat pada Galih, senyum manis di awal, lalu pengkhianatan di belakang.
Cika seolah merasakan ketidaknyamanan temannya. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan. “Kami harus kembali ke kantor. Sebentar lagi waktu istirahatnya selesai".
Mario mengangguk. “Tidak apa-apa. Saya juga tidak akan lama.”
Makanan Mario segera datang. Ia makan dengan tenang, sesekali melontarkan pertanyaan ringan yang tidak terlalu pribadi. Tentang cuaca Jakarta yang panas, tentang kafe ini yang cukup nyaman, tentang lalu lintas di sekitar kawasan itu. Ia tidak menyinggung klinik, tidak menyinggung pesan dari kakak Dera, dan tidak memaksa percakapan yang dalam.
Perlahan, suasana di meja sedikit mencair. Cika mulai tertarik bertanya tentang bisnis. Dera tetap banyak diam, tapi setidaknya ia tidak lagi terlihat ingin segera pergi.
Di sela-sela makannya, Mario menoleh ke Dera. Suaranya lebih pelan."Kamu terlihat jauh lebih baik, daripada kemarin"
Dera terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menatap Mario sebentar, lalu mengalihkan pandangan. “Iya"
Mario hanya tersenyum kecil, tidak memaksa jawaban lebih panjang. Ia mengerti batas yang Dera pasang.
Makan siang itu berlangsung sekitar tiga puluh menit. Dera dan temannya bersiap pergi, Mario tidak menahan. Ia hanya berdiri dan mengangguk.
“Terima kasih sudah membiarkan saya bergabung. Sampai jumpa lagi, Nona Dera.”
Dera mengangguk singkat, lalu segera berjalan keluar bersama Cika. Di belakang, Mario masih berdiri di dekat meja, menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu kaca.
David yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Tuan, Anda serius kali ini?”
Mario tersenyum kecil, masih menatap arah kepergian Dera. “Entahlah. Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang dia.”
"Ajukan kerjasama dengan perusahaan sebelah. Aku ingin lebih sering bertemu dengannya" perintah Mario.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa