NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - PERAWATAN PENUH KELEMBUTAN

Waktu seakan berhenti berdetak di dalam bunker beton yang terisolasi dari dunia luar itu. Jam digital di atas meja monitor menunjukkan pukul 03:15 pagi, tapi bagi Kael, malam ini terasa lebih panjang dari sepuluh tahun masa pengabdiannya.

Di atas ranjang *king size*, Valeria masih tertidur lelap. Napas wanita itu mulai teratur, tidak lagi memburu dan kasar seperti beberapa jam yang lalu. Obat penurun panas dosis tinggi yang dipaksa masuk oleh Kael tadi akhirnya bekerja. Tubuh Valeria sekarang dibanjiri keringat dingin, tanda bahwa suhu tubuhnya sedang turun melawan infeksi.

Kael sama sekali belum menutup matanya. Pria raksasa itu setengah berbaring di sebelah Valeria, membiarkan tubuhnya menjadi guling sandaran bagi sang ratu. Tangan kirinya dengan sangat sabar dan lembut terus mengusap punggung Valeria yang bergetar ringan.

Merasa suhu tubuh Valeria mulai stabil, Kael perlahan-lahan melepaskan pelukan wanita itu dari pinggangnya. Gerakannya luar biasa pelan dan hati-hati, persis seperti orang yang lagi menjinakkan bom waktu. Dia nggak mau membangunkan Valeria yang baru aja bisa istirahat tenang.

Setelah berhasil membebaskan diri, Kael bangkit duduk di tepi ranjang. Pria itu meringis pelan, mengertakkan rahangnya saat rasa ngilu yang tajam menusuk bahu kanan dan lengan kirinya. Obat bius lokal yang disuntikkan Valeria tadi udah habis masa berlakunya. Sekarang, rasa sakit dari daging yang robek dan otot yang kelelahan mulai menagih haknya secara brutal.

Tapi Kael cuma menarik napas panjang, menekan semua rasa sakit itu ke sudut terdalam otaknya. Fokusnya sekarang cuma satu: Valeria.

Kael berjalan tanpa suara menuju meja medis. Dia mengambil baskom kecil, mengganti airnya dengan air hangat yang baru, lalu membawa sehelai handuk bersih kembali ke sisi ranjang.

Pria yang biasanya menggunakan tangannya untuk mematahkan leher dan mencabut nyawa orang itu kini duduk bersila di lantai, tepat di samping wajah Valeria. Kael memeras handuk hangat tersebut, lalu dengan sentuhan yang luar biasa lembut—nyaris seperti belaian bulu angsa—dia mulai menyeka keringat yang membanjiri dahi, pipi, dan leher Valeria.

"Enggh..." lenguh Valeria pelan, alis cantiknya sedikit berkerut merasa terganggu.

"Sstt... tidak apa-apa, Val. Tidurlah," bisik Kael dengan suara baritonnya yang menenangkan, persis seperti merapal mantra. Tangan besarnya mengusap puncak kepala Valeria dengan penuh kasih sayang.

Ajaibnya, mendengar suara Kael, kerutan di dahi Valeria langsung menghilang. Wanita itu kembali bernapas dengan tenang, menyusupkan wajahnya lebih dalam ke bantal.

Kael tersenyum sangat tipis. Sebuah senyum tulus yang hanya muncul jika dia sedang menatap wanita ini.

Kael terus menyeka keringat di tubuh Valeria dengan telaten. Dia membersihkan lengan dan telapak tangan Valeria yang kotor oleh sisa debu mesiu dan darah kering. Setelah memastikan bagian atas tubuh Valeria bersih dan nyaman, Kael beralih memeriksa luka di betis wanita itu. Perbannya masih bersih, tidak ada rembesan darah atau nanah baru, dan area sekitarnya tidak lagi terasa sepanas oven. Infeksinya berhasil ditekan.

Kael menghela napas sangat lega. Beban berat seolah baru saja diangkat dari dadanya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kerangka ranjang, membiarkan dirinya duduk di lantai beralaskan karpet sambil terus mengawasi dada Valeria yang naik turun dengan teratur.

Mata elang Kael tak henti-hentinya menatap wajah damai sang ratu mafia. Di luar sana, Valeria adalah sosok iblis betina yang ditakuti seluruh dunia bawah. Wanita yang bisa memerintahkan eksekusi mati tanpa berkedip. Tapi malam ini, di ruangan sempit ini, Valeria hanyalah seorang wanita rapuh yang hampir kehilangan nyawanya, dan Kael adalah satu-satunya perisai yang tersisa untuknya.

*Saya tidak akan membiarkan siapa pun melukai Anda lagi, Val. Walau saya harus membakar seluruh kota ini,* batin Kael mengikat sumpah dalam diam.

Waktu merayap perlahan. Angka di jam digital berubah menjadi 06:00 pagi.

Lampu bunker yang di-*setting* otomatis mulai meredup dan berubah warna menyerupai cahaya pagi yang natural.

Valeria perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa agak berat, tapi pusing yang menyiksa dan rasa dingin yang membekukan tulang semalam sudah hilang sepenuhnya. Badannya terasa jauh lebih ringan.

Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan Valeria yang masih kabur adalah langit-langit beton abu-abu. Sedetik kemudian, memorinya tentang pengkhianatan Paman Surya, ledakan pelabuhan, dan pelarian gila mereka menembus hutan bakau kembali membanjiri otaknya.

Valeria buru-buru menoleh ke samping. Sisi kiri kasur itu kosong.

Kepanikan kecil sempat merayap naik, sebelum akhirnya mata Valeria menangkap sosok besar Kael yang sedang duduk bersandar di lantai, tepat di sebelah ranjangnya.

Pria raksasa itu tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya tertunduk ke dada, napasnya teratur. Tangan kiri Kael masih menggenggam pinggiran selimut Valeria, seolah bersiap menariknya kapan saja wanita itu kedinginan lagi. Baskom air dan handuk hangat tergeletak di sebelahnya.

Valeria mematung. Hatinya mencelos melihat pemandangan itu.

Kael masih bertelanjang dada. Perban di bahu kanannya terlihat sedikit merembeskan darah baru karena pria itu pasti banyak bergerak saat merawatnya semalaman. Wajah Kael terlihat sangat lelah, kantung matanya menghitam jelas, dan rahangnya dipenuhi sisa-sisa debu yang belum sempat dia bersihkan dari wajahnya sendiri karena terlalu sibuk membersihkan wajah Valeria.

Ratu mafia itu merasakan matanya kembali memanas. Rasa hangat yang aneh namun nyaman memenuhi rongga dadanya. Sepanjang hidupnya, dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan kekuasaannya, uangnya, atau tubuhnya. Tapi pria ini... pria ini rela terjaga semalaman menahan rasa sakit dari luka tembaknya sendiri, hanya untuk mengelap keringat dan menjaga demamnya.

Valeria bergerak pelan, menyingkap selimutnya.

"Haus..." gumam Valeria serak, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir.

Suara sekecil apa pun di ruangan itu rupanya cukup untuk membangunkan insting monster Kael. Pria itu langsung tersentak bangun, matanya terbuka lebar memancarkan kewaspadaan penuh. Begitu melihat Valeria sudah bangun dan duduk di kasur, raut tegang di wajah Kael langsung mencair.

"Anda sudah bangun, Val?" tanya Kael buru-buru berdiri. Pria itu sedikit terhuyung karena kakinya kram dan lukanya berdenyut, tapi dia langsung menyeimbangkan dirinya. Kael menempelkan punggung tangannya ke dahi Valeria. "Suhu tubuh Anda sudah normal. Syukurlah."

"Aku haus, Kael," ulang Valeria pelan, menatap mata Kael lekat-lekat.

"Tunggu sebentar."

Kael bergegas menuju dapur kecil, mengambil sebotol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas. Dia kembali ke ranjang dan membantu memegangi gelas itu sementara Valeria minum dengan rakus.

"Pelan-pelan, Val," tegur Kael lembut, menyeka sudut bibir Valeria dengan ibu jarinya saat ada air yang menetes.

Setelah menghabiskan setengah gelas, Valeria menarik napas panjang. Dia menatap Kael yang kini berdiri menjulang di samping ranjangnya.

"Kamu nggak tidur sama sekali semalaman?" selidik Valeria, nada suaranya terdengar galak tapi matanya memancarkan kelembutan.

Kael meletakkan gelas itu ke nakas. "Saya sempat tertidur sebentar barusan."

"Jangan bohong. Kantung matamu itu udah kayak panda kurang gizi," omel Valeria mendecak sebal. "Aku kan udah bilang, kamu juga butuh istirahat. Luka jahitanmu itu baru aja aku benerin, dan sekarang udah merembes lagi darahnya karena kamu kebanyakan gerak ngurusin aku."

"Saya hanya menjalankan tugas saya, Nyonya. Memastikan Anda selamat adalah prioritas mutlak," jawab Kael keras kepala dengan wajah datarnya yang khas.

"Tugas, tugas, tugas. Otakmu isinya cuma tugas," rutuk Valeria menggeser tubuhnya ke tengah kasur. Wanita itu lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya dengan keras. "Naik. Sekarang."

Kael mengerjap pelan, sedikit ragu. "Tapi Val, Anda baru saja pulih. Ruang kasur ini lebih baik Anda—"

"Kael, aku nggak mau ngulang perintahku dua kali," potong Valeria menyipitkan matanya tajam. "Naik ke kasur, atau aku yang bakal turun dan tidur di lantai lagi sama kamu."

Ancaman itu masih ampuh. Kael akhirnya menghela napas pasrah, menuruti perintah wanita keras kepala itu. Dia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuh besarnya perlahan, berhati-hati agar bahunya tidak tertekan.

Begitu Kael berbaring, Valeria langsung memiringkan tubuhnya. Tanpa rasa canggung sedikit pun, wanita itu merangsek masuk, menempelkan tubuhnya ke sisi kiri Kael. Valeria melingkarkan lengannya di atas perut keras Kael, menjadikan dada bidang pria itu sebagai bantal pribadinya.

Tubuh Kael langsung menegang, persis seperti patung es.

"V-Val..." tegur Kael gugup, jantungnya kembali berdegup gila.

"Diam. Aku masih agak pusing, butuh bantal yang hangat," gumam Valeria memejamkan matanya santai.

Tangan kiri Valeria bergerak pelan, mengelus dada Kael dengan gerakan memutar yang sangat ringan. Sentuhan itu tidak bermaksud menggoda, melainkan sebuah gestur menenangkan, seolah dia sedang menjinakkan seekor anjing buas yang baru saja selesai bertarung mati-matian untuknya.

"Terima kasih, Kael," bisik Valeria tulus, suaranya teredam di dada pria itu. "Makasih udah jagain aku semalaman. Makasih udah narik aku dari neraka."

Kael menelan ludah. Hatinya terasa penuh hingga nyaris tumpah. Perlahan, lengan kirinya bergerak membalas pelukan Valeria, mendekap tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati, seolah Valeria adalah porselen paling rapuh di dunia.

"Tidak perlu berterima kasih, Val. Seluruh keberadaan saya di dunia ini diciptakan hanya untuk memastikan Anda tetap hidup," bisik Kael, menempelkan dagunya di puncak kepala Valeria.

Valeria tersenyum dalam dekapannya. Sisi lembut Kael yang keluar malam ini benar-benar membuat dinding pertahanan hatinya runtuh total. Di luar sana, mereka mungkin kehilangan segalanya. Tapi di atas ranjang ini, Valeria merasa menjadi wanita paling aman dan paling beruntung di dunia.

"Tidurlah, Kael. Beneran tidur kali ini. Kalau kamu melek lagi, aku tembak kakimu," ancam Valeria dengan suara yang semakin memelan, terbuai oleh rasa nyaman.

Kael terkekeh pelan, suara tawa yang sangat jarang terdengar, bergetar dalam di dadanya. "Siap, Nyonya."

Tak lama kemudian, dengkuran halus terdengar dari keduanya. Malam panjang yang dipenuhi darah dan air mata itu akhirnya benar-benar berakhir, digantikan oleh kehangatan dan kelembutan yang akan merubah dinamika hubungan mereka untuk selamanya.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!