Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Tanda Tangan Terakhir
...#...
...Rico tidak membawa Bima ke mobil. Ia membawanya menyusuri parit kecil di belakang kebun, tempat air hujan yang tadi sore turun tergenang setinggi mata kaki. Sepatu Bima masuk ke lumpur dan terasa berat. Lengan kirinya ia tekan ke dada, dan setiap kali kakinya menginjak batu yang licin, perihnya naik sampai ke rahang....
..."Pelan," kata Rico. "Jangan bikin suara."...
..."Saya nggak bikin suara."...
..."Napasmu kayak tukang becak."...
...Di depan mereka, pagar kawat berubah menjadi tembok bata yang ditumbuhi lumut. Rico berhenti, menoleh ke belakang, lalu menunjuk celah di antara dua pohon mangga....
..."Lewat situ. Ada motor di jalan sebelah. Kunci kontaknya sudah di dalam."...
..."Mbak Alessia suruh saya pergi sendiri?"...
..."Dia suruh kamu ke pelabuhan."...
..."Saya nggak mau ke pelabuhan."...
...Rico menarik napas pendek lewat hidung. Ia menatap Bima sebentar, lalu menatap ke rumah putih di belakang mereka. Dari sana, dari balik pohon, terdengar suara pintu yang dibuka dan langkah yang terburu-buru di atas marmer....
..."Kamu tahu kenapa Mbak Alessia nggak pernah nyuruh orang ke tempat yang nggak dia pikirin dulu?" tanya Rico....
..."Nggak."...
..."Karena dia sudah pernah nyuruh orang ke tempat yang nggak dia pikirin, dan orangnya nggak pulang."...
...Bima tidak membalas. Ia memanjat tembok rendah dengan satu tangan. Kakinya tergelincir, dan ia jatuh ke sisi jalan dengan pinggul lebih dulu. Ia menahan teriakan, lalu bangkit....
... ...
...Motor itu ternyata tua. Catnya merah, setangnya dibungkus lakban hitam, dan bensinnya tinggal separuh. Bima naik, menyalakannya dengan dua kali percobaan, dan motor itu meraung seperti mengeluh....
...Lampu jalan di ujung gang menyala kuning. Ia belok ke kiri, lalu ke kanan, menuju jalan pesisir yang sepi. Di kaca spion ia melihat dua lampu sorot muncul dari gerbang rumah putih. Mobil pertama langsung berbelok ke arahnya....
...Bima menarik gas lebih keras....
...Angin laut menampar wajahnya. Jalannya sempit, hanya cukup untuk dua motor, dan di sisi kiri ada pagar besi yang menghadap jurang kecil tempat air laut bergulung. Ban belakang motor itu sempat selip di batu kerikil. Bima hampir terlempar, tapi tangan kanannya mencengkeram setang dan ia berhasil menjaga keseimbangan....
...Mobil di belakangnya makin dekat....
...Ia tidak tahu jalan. Ia hanya tahu ke mana arah laut, dan itu saja. Di depan ada tikungan tajam dengan bak sampah besar di tepi jalan. Bima menurunkan kecepatan sedikit, lalu memiringkan motor ke kanan, dan melewati tikungan itu dengan lutut hampir menyentuh aspal....
...Di belakangnya terdengar bunyi rem yang panjang, lalu suara benturan logam. Ia tidak menoleh....
...Lampu sorot mobil kedua muncul dari arah berlawanan. Bima menekan rem, ban depan menjerit, dan motor itu berhenti miring di tengah jalan. Mesinnya mati....
...Mobil itu berhenti tiga meter di depannya. Pintu terbuka....
...Yang turun bukan laki-laki berjas abu-abu. Laki-laki muda dengan rambut cepak. Laki-laki yang tadi mengetik di ujung jalan bengkel. Ia mengangkat tangan kosong, seperti sedang menenangkan anjing....
..."Mas Bima," katanya. "Jangan lari, Mas. Kita cuma mau antar pulang."...
..."Saya nggak mau pulang sama kalian."...
..."Itu bukan pilihan, Mas."...
...Bima turun dari motor. Lututnya gemetar, dan ia menjaga jarak sejauh yang ia bisa dengan pagar besi di belakangnya. Di dalam mobil, ia melihat sosok lain duduk di kursi belakang, tapi kaca gelapnya memantulkan lampu jalan dan wajah itu tidak terlihat....
...Dari arah rumah putih, dari jalan yang tadi ia lewati, terdengar suara mesin kedua. Lalu ketiga....
...Laki-laki muda itu menoleh sebentar ke belakang. Wajahnya berubah, meski hanya sedikit....
..."Oke, Mas," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya ia terdengar tidak yakin dengan kalimatnya sendiri. "Kita tunggu sebentar."...
... ...
...Mereka menunggu lebih lama dari yang Bima kira. Suara mesin dari belakang berhenti, lalu ada teriakan singkat, lalu suara tembakan yang pendek, bukan dari arah Bima....
...Laki-laki muda itu langsung menunduk. Ia menarik pintu mobil terbuka dan bersembunyi di baliknya, dan Bima melihat tangannya meraba pinggang, mencari sesuatu yang tidak ada di sana....
...Bima tidak berpikir. Ia menaiki motornya lagi, memutar kunci, dan motor itu menyala di percobaan pertama, seolah ikut ketakutan. Ia menarik gas, berputar tajam, dan melaju ke arah yang berlawanan dengan mobil....
...Peluru menghantam tiang lampu di sisinya. Serpihan semen beterbangan. Ia menunduk sampai dagunya hampir menyentuh tangki....
...Jalan di depan menurun, berbelok ke arah pasar ikan. Ia melihat cahaya kuning dari tenda-tenda, bau amis masuk ke hidung, dan orang-orang yang berteriak sambil melompat menyingkir. Ember berhamburan. Seekor kucing lari ke bawah gerobak....
...Bima menyelip di antara dua truk pengangkut es, mengerem mendadak, dan turun begitu motor berhenti. Ia meninggalkan motor itu begitu saja dan berlari ke lorong sempit di antara lapak....
...Di belakangnya tidak ada suara mesin lagi. Hanya teriakan penjual yang masih bingung, dan langkah kakinya sendiri yang bergema di antara dinding seng....
...Ia berhenti di belakang bak es yang sudah kosong. Dadanya naik turun. Lengan kirinya basah, dan ia tidak perlu melihat untuk tahu perbannya sudah merah....
... ...
...Ponsel tua di sakunya bergetar....
...Ia mengeluarkannya dengan tangan kanan. Satu pesan, tanpa nomor....
...*Jangan kembali ke warung. Dan jangan naik ke gedung dermaga.*...
...Bima mengetik balasan dengan jempol yang gemetar. *Saya mau tahu tanda tangan terakhir bapak di mana.* Ia menatap layar, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi. *Nenek bilang apa?*...
...Balasannya datang cepat....
...*Nenek tidak akan bicara lagi malam ini. Ilaria yang akan kasih.*...
...Bima menatap kata itu lama. Ilaria. Gadis yang tadi mengangkat tangannya dari jendela dengan cincin perak di jari....
...Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara sepatu yang berlari di atas aspal basah, ringan dan tergesa. Lalu suara napas yang terengah. Bima merapat ke bak es....
..."Mas Bima!" suara perempuan. Pelan, tapi cukup keras. "Mas, jangan ngumpet kayak tikus, aku udah lihat kakimu dari tadi."...
...Bima keluar sedikit dari balik bak. Ilaria berdiri di ujung lorong. Cardigan kebesarannya basah di bahu, dan piamanya tertutup lumpur sampai ke lutut. Ia memegang map cokelat tipis di satu tangan, dan tangan itu gemetar....
..."Kamu gila," kata Ilaria. "Lari dari mobil kayak gitu."...
..."Kamu ngapain ke sini?"...
..."Nenek suruh."...
..."Nenek tadi bilang nggak mau ngomong lagi."...
..."Nenek ngomong ke aku. Bukan ke kamu." Ilaria mengangkat map itu sedikit. "Dia bilang kamu harus baca sendiri. Dan jangan kasih lihat ke Mbak Alessia dulu."...
...Bima menatap map itu, lalu menatap wajah Ilaria. Gadis itu tampak lebih muda dari di tangga tadi, dan lebih takut. Tapi ia tidak menurunkan tangannya....
..."Kenapa?" tanya Bima....
..."Karena kamu mau tanya dia kenapa dia nggak pernah cerita." Ilaria menggigit bibir. "Dan dia nggak akan jawab jujur kalau kamu tanya di depan dia."...
... ...
...Bima mengambil map itu dengan tangan kanan. Kertasnya dingin dan sedikit lembab. Di dalamnya ada selembar fotokopi, buram di bagian pinggir, seperti salinan dari salinan....
...Judulnya ditulis dengan mesin tik. *Surat Pengalihan Hak Atas Gudang Empat.*...
...Di bawahnya tanggal. Empat belas Maret, dua belas tahun lalu....
...Bima membaca nama pemberi kuasa, lalu nama notaris yang tidak ia kenal, lalu kolom tanda tangan. Di sana ada tulisan tangan yang miring dan naik sedikit ke kanan....
...*Hadi Ardhana.*...
...Tangannya berhenti....
...Ia mengenal tanda tangan itu. Ia melihatnya setiap kali ayahnya menandatangani buku kas warung, setiap kali menulis angka di belakang kalender, dan setiap kali menulis kata *Sate Ardhana* di papan kapur yang sekarang sudah pudar....
...Lalu ia melihat kolom saksi....
...Ada dua nama. Yang pertama tulisan tangan biasa. *Darto S.*...
...Yang kedua ditulis dengan tinta biru yang lebih tebal, tegas, dan rapi....
...*Carla Vieri.*...
...Di bawah nama itu, ada satu baris kecil yang ditulis dengan pensil, hampir tidak terbaca. Bukan tulisan notaris. Tulisan yang sama dengan coretan di belakang kartu hitam....
...*Jangan biarkan Bima tahu dulu. Biar dia tanya sendiri.*...
...Bima membaca baris itu dua kali. Lalu ia mendongak....
..."Ilaria," katanya pelan. "Nenek kamu nulis ini?"...
...Ilaria tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke arah pasar, ke arah jalan tempat mobil-mobil tadi menghilang, dan ia menggenggam cincin perak di jarinya dengan dua jari....
..."Aku nggak tahu siapa yang nulis tulisan pensil itu," katanya. "Tapi aku tahu siapa yang ngasih cincinnya ke Nenek."...
..."Siapa?"...
...Ilaria menatap Bima, dan dari wajahnya Bima melihat bahwa gadis itu sendiri sedang mempertimbangkan apakah ia akan menyesal sudah mengatakan ini....
..."Mbak Alessia," katanya. "Waktu dia masih tujuh belas. Dia yang minta Nenek nyimpen cincin itu, katanya biar nggak ada yang bisa pakai buat nipu."...
..."Terus kenapa Mbak Alessia sekarang nyuruh saya ngambil?"...
..."Karena cincin itu bukan miliknya lagi," kata Ilaria. "Dia sendiri yang bilang gitu ke Nenek, tadi sore, sebelum kamu datang."...
...Dari kejauhan, di ujung pasar, terdengar suara sirene polisi yang masih jauh tapi makin dekat. Ilaria langsung menoleh ke arah itu, wajahnya menegang....
..."Pergi," katanya. "Sekarang. Jangan lewat jalan utama."...
..."Kamu gimana?"...
..."Aku bisa pulang sendiri. Mereka nggak akan ngapa-ngapain aku. Aku anak Papa."...
...Bima ingin bertanya lebih banyak. Tentang Papa, tentang Mbak Alessia, tentang siapa yang sebenarnya menulis baris pensil itu. Tapi Ilaria sudah berbalik, dan ia berkata tanpa menoleh, dengan suara yang sedikit pecah....
..."Mas Bima. Tanda tangan itu bukan yang terakhir."...
...Ia berlari kembali ke arah rumah putih, sepatunya berbunyi di atas aspal basah....
...Bima berdiri sendirian di lorong pasar ikan, dengan map di tangan dan ponsel tua yang masih bergetar di saku....
...Layar menyala. Satu foto, diambil dari jarak dekat dan agak miring. Sebuah lembaran kosong, dengan satu kotak tanda tangan yang belum terisi. Di sudutnya ada cap notaris dengan tanggal yang sama....
...Dan di bawah foto, satu pesan pendek....
...*Kotak itu belum pernah diisi. Ayahmu tidak sempat. Sekarang tinggal kamu yang bisa.*...