"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Jadi Istri
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra di kamar utama mansion Velmore. Levara terbangun dengan napas sedikit tertahan. Selama beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada, sampai matanya menangkap interior serba abu-abu dan sosok pria yang duduk di atas kursi roda di dekat jendela besar.
Dante Castillo Velmore sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga siku. Pria itu sedang memeriksa tablet digitalnya, menikmati cangkir kopi hitam yang masih mengpulkan asap tipis.
"Pagi," suara bass Dante memecah keheningan kamar. Tanpa menoleh, ia tahu Levara sudah terbangun dari deru napasnya. "Kamar mandi sudah disiapkan. Pakaianmu ada di lemari sebelah kanan."
Levara mendudukkan diri di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya yang masih terasa hangat. Mengingat kembali kejadian semalam, saat ia jatuh tepat di atas dada Dante membuat rona merah kembali menjalar tipis di pipinya.
"Terima kasih," sahut Levara pelan seraya menyibak selimut. "Kamu ... sudah bangun dari jam berapa?"
"Jam lima pagi," jawab Dante ringkas. Ia memutar kursi rodanya, menatap Levara dengan raut wajah datar namun menelisik. "Di rumah ini, sarapan disajikan tepat pukul tujuh. Pelayan sudah menyiapkan makanan di bawah. Kalau kamu butuh penyesuaian menu, katakan saja padanya."
"Oke," lirih Levara.
"Minta pelayan ganti sarung bantal, kamu ilermu membasahi bantalku," ucap Dante yang membuat Levara mengambil bantalnya dan memeluknya dengan rasa malu. Melihat itu, Dante menahan senyumnya.
.
.
.
.
Dua puluh menit kemudian, Levara turun ke lantai bawah setelah membersihkan diri. Pakaian kasual berupa rajut tipis cream dan celana kain longgar membalut tubuhnya dengan pas. Rumah ini terlampau besar dan sepi untuk didiami satu orang pria dan beberapa asisten rumah tangga. Langkah kakinya bergaung pelan di atas marmer.
Di meja makan panjang berkapasitas sepuluh orang, Dante sudah berada di posisinya, di ujung meja. Suasana terasa begitu canggung. Hanya ada suara denting sendok dan piring yang beradu tipis dengan gelas.
Levara mengambil tempat duduk di sisi kanan, tepat di samping Dante. "Biar aku tuangkan minumannya," ujar Levara mencoba mencairkan kekakuan. Ia berdiri dan menuangkan jus jeruk segar ke gelas Dante.
Dante menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong roti panggang. Ia menatap jemari Levara yang memegang teko kaca.
"Levara," panggil Dante pelan.
"Ya?"
"Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi istri sempurna di depan para pelayan atau di depan saya," kata Dante, suaranya tenang namun lugas. "Pernikahan ini didasari kesepakatan bisnis dan investigasi. Jangan membuat dirimu merasa tertekan dengan melayaniku seolah kamu adalah asisten pribadiku."
Levara meletakkan teko kaca kembali ke atas meja, lalu menatap mata cokelat gelap milik Dante tanpa gentar.
"Aku tidak berpura-pura, Dante. Menyediakan minum untuk suami, meski dalam pernikahan kontrak adalah hal dasar yang sopan. Aku hanya mencoba beradaptasi dengan situasi baru ini," balas Levara tegas.
Dante menatapnya sejenak, lalu meletakkan pisau rotinya. Ada hening yang menggantung di udara sebelum pria itu mengangguk tipis. "Baiklah. Kalau begitu mari kita buat pembagian tugas dan aturan main di rumah ini agar tidak ada benturan di antara kita."
Dante menggerakkan kursi rodanya sedikit lebih dekat ke arah meja. "Pertama, area lantai tiga adalah area privat saya dan ruang kerja kearsipan mendiang Ayah Darian. Kamu bebas menggunakan seluruh fasilitas di lantai satu dan dua, tetapi untuk lantai tiga, kamu harus selalu bersama saya atau membawa kartu akses khusus."
"Kartu aksesnya sudah ada?" tanya Levara cepat.
"Ada di meja kerja di kamar," jawab Dante. "Kedua, mengenai publikasi dan pihak luar. Paman Julian dan jaringan Keluarga Veyron pasti menempatkan mata-mata di sekitar lingkungan ini. Apapun yang terjadi di dalam rumah ini, tidak boleh ada satu pun informasi yang bocor ke media tanpa persetujuan saya."
"Aku jurnalis, Dante. Aku tahu persis cara menjaga kerahasiaan narasumber dan investigasi," potong Levara mantap. "Bagaimana dengan jadwal harianmu?"
"Ketiga, jadwal latihan fisik dan terapi saya dilakukan setiap Selasa dan Kamis sore bersama tim medis pribadi di ruang fisioterapi lantai dua," lanjut Dante, menatap Levara tajam. "Kamu tidak wajib mendampingi, kecuali jika kamu merasa perlu."
"Aku wajib mendampingi," sahut Levara tanpa ragu.
Dante menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan respon spontan wanita di depannya. "Alasannya?"
"Jika pengintai Keluarga Veyron mengawasi rumah ini, akan terasa sangat tidak masuk akal kalau seorang istri yang baru menikah tiga hari tidak pernah tahu jadwal terapi suaminya," alasan Levara rasional. "Lagipula, aku perlu memastikan kondisi fisik partnerku dalam keadaan stabil selama misi ini berjalan."
Sudut bibir Dante terangkat tipis, sebuah ukiran senyum samar yang teramat langka. "Penalaran yang sangat kritis. Baik, diizinkan."
"Sekarang giliranku," ujar Levara memajukan tubuhnya sedikit, menopang dagu dengan satu tangan. "Tugas pertamaku adalah memeriksa berkas rahasia kasus Papa Edlan 21 tahun lalu. Kapan aku bisa mulai mengakses dokumen fisik yang disimpan Ayahmu?"
Dante mengamati ketegasan di mata Levara. Antusiasme wanita itu untuk mencari kebenaran tentang ayahnya begitu membara.
"Setelah sarapan ini selesai," jawab Dante pelan namun pasti. "Ikut saya ke ruang kerja lantai tiga. Ada satu brankas tua milik Ayah saya yang belum pernah dibuka lagi sejak kecelakaan dua tahun lalu. Kunci kombinasinya ada pada saya, tapi petunjuk isinya mungkin hanya kamu yang bisa mengenali."
Jantung Levara berdegup kencang mendengarnya. Rasa canggung yang semula menyelimuti meja makan itu seketika sirna, berganti dengan perasaan tegang yang membakar semangatnya.
"Terima kasih, Dante," ucap Levara tulus.
Dante menatapnya dalam-dalam, lalu menyahut dengan nada berat, "Jangan berterima kasih dulu, Levara. Apa yang tersimpan di dalam brankas itu mungkin akan membuka luka lama yang jauh lebih menyakitkan dari yang kamu bayangkan."
Levara diam sejenak, "Aku sudah siap untuk itu," bisiknya.
Kreeet!
Levara terkejut, ia menoleh ke arah kursi yang bergeser di sebelahnya. Sebuah tangan gembul meletakkan botol susu di atas meja, dan tak lama muncul kepala botak yang akhirnya menampakkan wajahnya.
"Dante, kamu kaya karena pelihara tuyul?" pekik Levara membuat kedua sosok pria berbeda usia itu terkejut.
"Heh olang betina, kulas dulu otaknya cituuuu! Cembalangan!" pekik bocah laki-laki berusia 4 tahun itu menatap Levara dengan tajam.