NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 017 - Titik Lemah Formasi Altar

Rasa panas di dinding kerongkongan Gu Yuan berangsur-angsur mereda menjadi rasa kebas yang dingin dan kaku, namun ia tetap mempertahankan tubuhnya terbungkuk di atas lantai marmer putih aula balai obat. Napasnya sengaja dibuat terdengar berat, memburu, dan tersendat-sendat di tenggorokan, sementara kepalanya terkulai lemah menatap retakan batu marmer di antara kedua tangannya yang masih terus ia getarkan secara meyakinkan.

Tetua Mo Cheng yang duduk bersila di atas singgasana kayu cendana merah mengangguk perlahan dengan roman muka puas. Bagi seorang kultivator yang terbiasa menggunakan racun dan ancaman maut untuk menundukkan para bawahan, tidak ada jaminan kesetiaan yang lebih pasti daripada racun yang telah mengalir dan meresap ke dalam pembuluh darah seseorang.

“Bagus,” kata Mo Cheng dengan suara serak yang datar dan dingin. “Setetes Darah Korosi Tulang sudah cukup untuk memastikan urat-urat meridianmu tidak akan bisa mengalirkan gelombang Qi pemberontakan. Jika kau menjalankan tugasmu dengan benar malam ini, setelah ritual pengurasan darah selesai aku akan memberimu setengah butir Pil Penawar Giok untuk menetralkan sisa racun di dalam tubuhmu.”

Janji tentang pil penawar itu adalah kebohongan murah yang sudah sangat lumrah diumbar oleh para tetua sekte sesat demi memeras tenaga bawahan hingga tetes darah terakhir. Gu Yuan tahu persis watak orang-orang seperti Mo Cheng: setelah ritual pengurasan darah sebelas bejana selesai dan luka Dantian-nya mereda, saksi hidup seperti Luo Biao juga akan segera dilenyapkan tanpa jejak agar rahasia kelam pembantaian murid luar itu terkubur selamanya di dasar jurang air terjun.

“Terima kasih atas kemurahan hati Tetua yang agung…” jawab Gu Yuan dengan suara parau yang serak, sengaja dibuat terbata-bata dari balik bayangan tepi topi jerami bambunya. “Hamba siap menjalankan seluruh perintah Tetua tanpa ada cela sedikit pun.”

Mo Cheng merogoh lipatan jubah sutra merah marunnya yang longgar. Dari balik dadanya yang kurus kering, pria tua itu mengeluarkan sebuah pelat logam berbentuk segi delapan berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa. Pelat itu terbuat dari perunggu hitam kuno yang dingin, dengan ukiran tiga puluh enam titik simpul spiritual yang rumit, dihubungkan oleh garis-garis parit halus yang memancarkan pendaran cahaya merah darah redup. Di bagian tengah pelat tersebut tertanam sebutir batu giok merah darah seukuran mata kucing yang berfungsi sebagai inti pengendali seluruh formasi altar.

“Bawa pelat pengendali formasi ini ke gua air terjun sekarang juga,” perintah Mo Cheng sambil mengulurkan tangannya yang keriput dan melemparkan pelat perunggu tersebut ke arah Gu Yuan.

Gu Yuan mengangkat kedua tangannya dengan sigap dan terukur, menyambut pelat perunggu itu di udara sebelum kembali membungkukkan badannya sedalam-dalamnya. Begitu lempengan logam perunggu dingin tersebut menyentuh telapak tangan kirinya, cermin perunggu peninggalan ayah angkatnya di balik saku jubah bagian dalam seketika bergetar halus dengan ritme getaran yang sangat cepat. Getaran itu terasa seperti dua buah artefak purba yang saling mengenali struktur energi dan rajahan kuno yang terpatri pada permukaan masing-masing.

“Periksa susunan tiga puluh enam tiang penampung darah di sekeliling kolam altar,” lanjut Mo Cheng sambil memejamkan kembali kelopak matanya yang kuning keruh dan cekung. “Pastikan saluran urat darah di tiang ketujuh dan tiang kedua belas sudah terisi minyak pembakar lemak hitam tanpa ada penyumbatan debu batu kapur. Dua tiang itu adalah pasak pengatur aliran utama yang akan menyedot darah murni dari kesebelas bejana langsung ke arah Dantian-ku saat formasi berputar pada kecepatan puncaknya. Jika ada sedikit saja kesalahan pasak atau ketidakseimbangan aliran, ritual malam ini bisa tertunda dan membahayakan jiwaku.”

Pasak pengatur aliran utama di tiang ketujuh dan tiang kedua belas.

Kata-kata Mo Cheng seketika terpatri sangat kuat di dalam perhitungan ingatan taktis Gu Yuan. Tanpa disadari oleh sang tetua Fondasi Sejati, rasa percaya dirinya yang berlebihan pada racun cangkir giok telah membuatnya membocorkan titik paling rapuh dari seluruh formasi altar darahnya sendiri. Dua tiang itu adalah simpul penyalur utama yang menghubungkan kolam darah dengan Dantian sang tetua; jika simpul tersebut disabotase, dikikis rajahannya, atau dibuat tersumbat secara mendadak saat energi darah sedang ditarik masuk, arus balik tenaga yang dihasilkan akan langsung meledakkan Dantian Mo Cheng yang sudah rapuh digerogoti pembusukan racun.

Ini adalah kesempatan emas yang dicari Gu Yuan sejak lonceng subuh berdentang pagi tadi: memegang pelat pengendali formasi secara langsung di tangannya dan mengetahui persis di mana simpul paling mematikan dari jebakan sekte tersebut berada.

“Hamba laksanakan perintah Tetua sekarang juga,” kata Gu Yuan dengan nada penuh kepatuhan sambil menyelipkan pelat perunggu segi delapan itu ke dalam lipatan sabuk jubah abu-abunya, menjepitnya erat dengan tali kain.

Gu Yuan bangkit berdiri secara perlahan dari lantai marmer. Tubuhnya sengaja dibuat sedikit terhuyung-huyung saat melangkah mundur melewati tirai sutra merah, meniru gerak-gerik seseorang yang meridian dadanya baru saja dilumpuhkan dan dilemahkan oleh racun cangkir giok.

Ia melangkah keluar dari aula balai obat yang pengap dan berbau nanah basi, menghirup udara segar lembah yang membawa aroma getah pinus dan hembusan kabut siang yang sejuk. Sinar matahari yang terik menyapa wajahnya, namun Gu Yuan tidak melonggarkan kewaspadaannya barang sekejap mata pun. Pelat perunggu segi delapan di sabuk pinggangnya terasa berat dan dingin, menjadi kunci utama bagi kelangsungan hidupnya dalam beberapa jam ke depan.

Ia berbelok menyusuri jalan setapak berbatu cadas yang mengarah ke tebing belakang balai obat—sebuah jalur setapak terjal yang memotong punggung lereng bukit menuju mulut gua yang tersembunyi di balik tirai air terjun.

Namun, baru sekitar lima puluh langkah Gu Yuan menaiki jalan setapak berbatu yang licin tersebut, sebuah suara dengung yang memekakkan telinga mendadak membelah keheningan siang di seluruh lembah.

Denggg…! Denggg…! Denggg…!

Lonceng peringatan besi di menara induk Sekte Lembah Giok Hitam berdentang cepat, keras, dan berulang-ulang tanpa jeda—dentangan tanda bahaya khusus yang hanya dibunyikan jika terjadi pembobolan wilayah tahanan atau kekacauan tingkat tinggi yang mengancam keamanan sekte.

Dari arah kompleks barak luar di kaki lembah, suara teriakan puluhan prajurit penjaga mulai membahana bersahut-sahutan, disusul oleh kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari arah saluran parit limbah sebelah barat.

Bilik-bilik tahanan bawah tanah telah ditemukan kosong dan gemboknya jebol, mayat koki dapur yang terbius telah ditemukan, dan kabar tentang pelarian para murid tumbal telah meledak menjadi kepanikan massal di seluruh penjuru Lembah Giok Hitam.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!