Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Dominan
Bab 19 Istri Polos Tuan Garra
"Tolong!!! Siapapun ... tolong!"
Elisa ketakutan melihat tatapan Garra. Pengaruh alkohol yang diminum lelaki itu, membuatnya jadi agresif dan hilang kendali.
Ia mencengkram pergelangan tangan Elisa dengan kuat.
"Tolong ..."
Elisa menatap ke semua arah. Seolah ingin mencari bala bantuan.
"Jangan berisik. Kau tidak bisa diam dan patuh ... seperti malam itu," bisik Garra.
Ingat kejadian kelam itu, Elisa langsung punya kekuatan. Ia dorong tuhhh Garra, tapi tengah wanita dan pria jelas tak imbang. Meskipun Garra sudah setengah mabuk, badan nya terlalu besar, sulit bagi Elisa untuk melawannya.
"Lepaskan!!"
Tangan Garra justru makin erat. Kini mencengkram pinggang Elisa dengan kuat. Seolah-olah tidak membiarkan mangsanya lepas.
"Pak Garra! Saya mohon! lepaskan saya!" Elisa kali ini memohon. Barangkali Garra mau melepaskannya karena iba.
Harapan Elisa sia-sia, pria itu malah memutar tubuh Elisa hingga kedua wajah mereka saling bertatapan. Satu tangan sudah dipanggang Elisa, satunya sibuk menyentuh pipi lembut wanita itu.
"Pak Garra ... jangan lakukan!" lirih Elisa dengan kepala yang menggeleng pelan.
Tangan Garra tak peduli. Semakin menolaknya, semakin Garra suka. Ini lebih menarik dari pada main-main dengan perempuan yang mudah sekali diperintah.
"Layani aku malam ini, aku akan membayar mu lebih dari waktu itu," bisik Garra.
Elisa menggeleng cepat, bibirnya bergetar. Matanya sudah mengembun. Air mata sudah siap-siap untuk tumpah.
"Tolong jangan, Pak Garra!!!!"
Tangan Elisa melindungi tubuhnya sendiri, karena mendorong tubuh pria itu sudah tidak bisa lagi. Ia memeluk kuat badannya, ketakutan karena Tuan Anggara dalam pengaruh minuman alkohol.
"Diam lah...!"
Lelaki itu tersenyum miring, mengerikan. Elisa bergidik semakin ketakutan.
"Jangan takut, waktu itu kau sudah bisa membuatku puas," bisik Garra sambil mendekatkan wajahnya. Tangannya meraba hidup dan bibir Elisa.
Jemarinya mengusap lembut sudut bibir Elisa.
Dengan gerakan cepat, Elisa membuka mulutnya. Langsung mengigit jari Anggra yang suka kelayapan tersebut.
"Ish!"
Dia cuma mengadu sesaat, meringis. Namun, tidak marah. Malah tersenyum jahat.
"Kau mau bermain kasar rupanya ...!"
Garra langsung mencengkram rahang Elisa. Mengangkat sedikit naik. Elisa menatap dengan wajah gelisah dan takut.
"Lepaskan," Elisa masih memohon.
Namun, permintaannya tidak pernah diwujudkan oleh pria dewasa itu.
"Akan aku lepaskan, tapi ..."
Tuan kaya raya itu, yang merasa segalanya bisa dibeli dengan uang miliknya, segala sesuatu bisa ia dapatkan, malam itu mengulang sejarah kelam untuk Elisa.
Dengan paksa, dia menciyum bibir Elisa. Lidahnya menerobos masuk, Elisa sudah menutup rapat mulutnya. Tapi dia kalah oleh kuatnya tenaga Pak Anggara yang dominan tersebut.
Tidak cukup di situ, setelah berhasil mencuri ciyuman Elisa, dia langsung mengangkat tubuh Elisa bagai karung beras. Langsung diangkat dan ditaruh di atas satu pundaknya.
Air mata Elisa sudah tumpah sejak bibir Anggara menyerang. Bahkan sudut bibirnya merah, bekas gigitan kasar pria itu.
Saat Elisa menangis tak berdaya, pak Anggara justru sebaliknya. Ia memperlihatkan siapa dirinya, memperlihatkan kuasanya, di depan gadis miskin dan polos itu, dia menunjukkan siapa dirinya.
BUGH!
Bagai membuang karung beras, ia melempar tubuh Elisa ke atas ran Jang.
Elisa menggeleng, memohon dengan tatapan mengiba.
Anggara justru menyeringai, melepaskan satu persatu kancing baju miliknya.
Elisa menoleh ke sebelah, ada vas bunga kaca di atas nakas, tangannya mencoba meraih dan bersambung.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,