Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Pengakuan
Kata-kata Ayden yang memecah keheningan ruang kerja itu bergaung bagaikan dentang lonceng kematian di atas bukit pemakaman. Udara sore yang temaram mendadak terasa makin dingin dan menghimpit, menyisakan jarak dua meter di antara mereka yang mendadak dipenuhi oleh kabut masa lalu yang beracun.
Aisyah tidak bergeming di atas lantai marmer. Matanya yang meredup menatap lurus ke arah Ayden, menantikan kelanjutan dari ucapan yang baru saja memutarbalikkan kenyataan hidupnya.
"Pembunuh?" cicit Aisyah dengan suara yang sangat tipis, nyaris seperti embusan angin malam. "Papaku... seorang pembunuh?"
Ayden tertawa pelan—sebuah tawa getir yang datar, namun bergetar oleh gelombang amarah mendalam yang telah ia pendam selama belasan tahun di relung dadanya yang paling gelap.
"Lima belas tahun lalu, Aisyah," ucap Ayden. Suaranya mengalun rendah, teratur, namun di setiap artikulasinya tersimpan penderitaan yang membara. "Namamu mungkin masih harum di sekolah swasta megah, hidup dalam kelimpahan tanpa tahu dari mana setiap sen uang jajananmu berasal. Tapi bagiku... lima belas tahun lalu adalah neraka jahanam yang diciptakan oleh tangan papamu, Surya Rahardja."
Ayden menyandarkan sebagian tubuhnya di tepi meja kayu jati, melipat kedua lengannya di dada seraya menatap ke arah jendela raksasa tempat kegelapan malam mulai merayap naik.
"Perusahaan ayahku, Khana Perdana, adalah mitra bisnis utama Dinantara Utama," lanjut Ayden, suaranya mulai bergetar tipis oleh luapan emosi masa lalu. "Ayahku menganggap papamu sebagai saudara kandungnya sendiri. Segala rahasia dagang, aset, dan formula produksi dibagikan tanpa kecurigaan. Tapi apa yang dilakukan Surya Rahardja saat perusahaan ayahku berada di titik terlemahnya?"
Ayden menoleh kembali pada Aisyah, matanya berkilat penuh dendam yang pekat.
"Papamu memalsukan dokumen pinjaman bank!" jerit Ayden pelan dalam nada yang terkontrol namun menusuk. "Dia menyuntikkan dokumen palsu, memblokir aset liquid keluarga Khana Perdana, dan menjebak ayahku dalam tuduhan penggelapan pajak bernilai ratusan miliar! Hanya dalam kurun waktu satu bulan, nama baik ayahku hancur. Perusahaannya disita, dan Surya Rahardja membeli seluruh sisa aset itu dengan harga sampah untuk membesarkan Dinantara Utama!"
Aisyah mendengar cerita itu dalam diam. Tidak ada kejutan di raut wajahnya. Tidak ada kedipan mata yang mengisyaratkan histeria.
"Kamu tahu apa akibat dari kejahatan papamu itu, Aisyah?" tanya Ayden, suaranya memelan, merendah hingga menjadi bisikan yang sangat berbahaya. "Dua minggu setelah eksekusi penyitaan rumah kami, ayahku menggantung dirinya sendiri di kamar tidur utama. Dan ibuku... wanita paling lembut yang pernah ada di dunia ini... tersiksa oleh depresi hebat hingga paru-parunya menyerah enam bulan kemudian. Dalam satu tahun, Surya Rahardja membunuh kedua orang tuaku tanpa perlu mengotori tangannya dengan darah!"
Gema suara Ayden memenuhi setiap sudut ruangan yang kian mengelap. Pengakuannya mengalir deras bagaikan lahar dingin yang membekukan atmosfer penthouse tersebut.
"Saat aku berdiri di depan dua batu nisan orang tuaku di bawah hujan deras," bisik Ayden lagi, suaranya bergetar hebat oleh amarah yang mengkristal menjadi dendam abadi, "aku bersumpah di hadapan Tuhan dan iblis. Aku bersumpah tidak akan mati sebelum melihat seluruh keturunan Surya Rahardja merasakan penderitaan yang sama persis... bahkan seribu kali lebih menyakitkan."
Aisyah tetap menatap pria di hadapannya. Manik matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan cinta kini benar-benar kosong, bagaikan dua telaga mati yang tak lagi beriak.
"Lalu kamu mulai membangun kekuasaanmu?" tanya Aisyah, suaranya terdengar sangat datar, seolah-olah ia sedang menanyakan resep masakan atau cuaca hari esok pada seorang asing.
"Ya," sahut Ayden cepat, senyum sinis kembali terukir di bibirnya yang dingin. "Aku mendedikasikan setiap detik dalam hidupku hanya untuk satu tujuan: menjadi pria yang cukup kuat untuk menghancurkan Dinantara Utama. Aku mendirikan perusahaan cangkang, mengumpulkan modal, mempelajari setiap celah hukum, dan menunggu moment yang tepat selama belasan tahun."
Ayden melangkah satu sudut lebih dekat, berdiri di atas berkas-berkas audit Dinantara yang berserakan di marmer.
"Saat papamu lengah lima tahun lalu," lanjut Ayden dengan nada bangga yang mendinginkan darah, "aku menyuntikkan utang beracun yang sama melalui perantara pihak ketiga. Aku memblokir semua pinjaman banknya. Aku memastikan tidak ada investor asing yang mau membantu Dinantara Utama. Aku menikmati setiap detik berita tentang serangan jantung papamu saat ia melihat saham perusahaannya meluncur bebas ke angka nol."
"Dan kematian Papaku..." bisik Aisyah pelan, "adalah karya besarmu?"
"Kematian papamu adalah pembayaran cicilan pertama atas dosa-dosanya," jawab Ayden tanpa ampun, matanya memancarkan kepuasan yang mengerikan. "Tapi kematian papamu saja tidak cukup, Aisyah. Pria itu mati terlalu cepat. Dia tidak sempat melihat kehancuran total dari hal paling berharga yang ditinggalkannya di dunia ini."
Aisyah memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah tampan suaminya yang kini bertransformasi menjadi rupa iblis bertopeng manusia. "Hal paling berharga itu... adalah aku?"
"Tentu saja," ucap Ayden pelan, terkekeh sinis. "Kau adalah putri tunggal kesayangannya. Darah dagingnya. Dan pernikahanku denganmu... adalah babak penutup dari skenario balas dendam terbesarku."
Ayden merentangkan kedua tangannya sedikit, seolah memamerkan panggung sandiwara yang telah ia bangun dengan begitu sempurna selama bertahun-tahun.
"Aku mendekatimu di galeri seni itu bukan karena kebetulan," aku Ayden dengan nada bicara datar yang menguliti setiap kepingan memori manis Aisyah. "Aku mempelajari hobimu, makanan favoritmu, cara bicaramu, hingga trauma masa lalumu. Aku menciptakan sosok suami idaman yang sangat kau butuhkan. Pria yang memelukmu saat hujan, pria yang menyeduhkan kopi hangat setiap pagi, pria yang mengucap janji nikah dengan air mata haru di depan penghulu..."
Ayden membungkuk, menatap lurus ke dalam manik mata Aisyah yang hampa.
"Semua kehangatan itu, Aisyah... semua sentuhan lembut dan kata-kata cinta yang kuucapkan setiap malam... hanyalah umpan," bisik Ayden, suaranya bagaikan bisikan ular yang beracun. "Aku harus membuatmu mencintaiku setinggi langit. Aku harus menjadi pusat dari seluruh duniamu terlebih dahulu. Karena hanya dengan cara itulah, saat aku menjatuhkanmu ke dasar jurang seperti siang hari ini... kau akan hancur berkeping-keping tanpa ada sisa jiwa yang bisa diselamatkan!"
Pengakuan kejam itu bergema di dalam ruang kerja yang kini hampir gulita. Setiap kata yang keluar dari mulut Ayden adalah pengakuan atas pengkhianatan paling terencana dalam sejarah hidup Aisyah.
Namun, di luar dugaan Ayden, tidak ada jeritan histeris dari mulut istrinya. Tidak ada lemparan barang. Tidak ada raungan keputusasaan atau tangisan air mata yang membasahi pipi pucat wanita itu.
Aisyah mendengarkan seluruh rentetan pengakuan kelam tentang kematian ayahnya, kebangkrutan keluarganya, dan sandiwara pernikahan mereka dengan raut wajah yang sepenuhnya tanpa ekspresi. Wajahnya begitu tenang, kaku, dan membatu—seperti sesosok patung porselen dingin yang dipajang di sudut museum.
Aisyah menatap Ayden seolah cerita mengerikan yang baru saja diuraikan pria itu adalah kisah fiksi milik orang asing di benua lain yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan dirinya. Mati rasa yang membungkus jiwanya telah menjadi benteng pertahanan mutlak, menghalangi setiap pasokan rasa sakit untuk menyentuh kesadarannya.
Keheningan yang janggal itu perlahan-lahan mengusik ketenangan Ayden. Senyum sinis di bibirnya perlahan memudar. Ketenangan Aisyah yang tak wajar itu justru memberikan sensasi aneh yang tidak nyaman di dalam dadanya—sesebab kepuasan balas dendam yang ia bayangkan bertahun-tahun lamanya tidak menghasilkan reaksi ledakan emosi yang ia harapkan.
"Kenapa kau diam, Aisyah?" tanya Ayden, nadanya sedikit berubah, ada getaran gelisah yang berusaha ia tutupi. "Mana tangisanmu? Mana makianmu pada pria yang telah membunuh papamu dan mempermainkan hidupmu?!"
Aisyah tidak menjawab. Ia hanya menatap Ayden dengan pandangan yang teramat kosong.
Merasa terusik dan terdorong oleh keheningan yang menekan itu, Ayden maju selangkah. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, berniat untuk menyentuh bahu Aisyah—mencoba mencengkeramnya demi memicu reaksi atau kejujuran emosi dari wanita yang kini tampak seperti raga tanpa jiwa.
Namun, sebelum jemari Ayden sempat menyentuh kain pakaian di bahunya, Aisyah bereaksi.
Plak!
Dengan satu gerakan cepat dan dingin, Aisyah menepis tangan Ayden secara kasar di udara. Sentuhan itu tertolak mentah-mentah sebelum sempat hinggap di kulitnya.
Aisyah perlahan berdiri menjejakkan kakinya di atas lantai marmer yang dingin. Postur tubuhnya tegak, namun tatapan matanya terkunci rapat pada manik mata Ayden.
Bukan tatapan kemarahan yang terpancar dari sana. Bukan pula tatapan ketakutan atau kebencian yang berapi-api.
Yang terpancar dari kedua mata Aisyah adalah sebuah tatapan jijik yang teramat pekat—sebuah pandangan kehampaan yang memandang Ayden bagaikan sebuah bangkai beracun yang busuk dan tak bernilai. Tatapan yang menguliti seluruh keangkuhan Ayden, menunjukkan bahwa di mata Aisyah saat ini, pria itu bukanlah seorang pemenang atau algojo yang berkuasa, melainkan hanya sesosok makhluk kerdil yang menyedihkan.
Tatapan jijik yang begitu tajam dan menusuk itu menghantam dada Ayden secara telak. Ayden terhenyak kaku. Jantungnya berdesir hebat, dan napasnya tertahan di pangkal tenggorokan, terkejut oleh dinginnya penolakan yang begitu mutlak dari wanita yang jiwanya telah ia bunuh.