NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: JAHITAN YANG TIDAK DIBICARAKAN

Empat hari setelah surat Nyonya Wen tiba, rumah Shen kembali berjalan seperti biasa, seolah segel hijau itu hanya pernah singgah sebentar.

Pagi itu Ruyin membantu pelayan menjemur gulungan kain di halaman barat. Matahari musim gugur lemah tetapi jujur, dan bau kapur barus naik dari lipatan-lipatan sutra yang dibentangkan di atas tali. Ia memegang ujung satu gulungan sementara pelayan kecil menepuknya dengan tongkat bambu, dan debu halus beterbangan seperti tepung yang tidak jadi diayak. Tidak ada yang berbicara tentang jamuan sastra. Pengurus rumah hanya sempat menyebut bahwa penjahit akan datang besok untuk memeriksa jubah-jubah mereka.

Menjelang sore, ia menemukan ibunya di ruang jahit, sendirian.

Nyonya Lin duduk di dekat jendela dengan sebuah jubah Yucheng di pangkuan, menjahit kembali kancing yang longgar. Pelayan-pelayan sudah dibubarkan. Di meja kecil di sampingnya, teh dalam cawan sudah berhenti mengepul.

"Boleh aku duduk, Ibu?"

"Tentu. Ambilkan benang yang abu-abu itu."

Ruyin mengambilnya dan duduk di bangku rendah di sisi ibunya. Untuk beberapa saat hanya terdengar bunyi jarum menembus kain dan tarikan benang yang pelan. Ia menunggu sampai kesunyian itu terasa biasa.

"Ibu, waktu di rumah Nyonya Cen, ia bercerita sesuatu."

"Hm. Apa?"

"Katanya dulu, sebelum ia berangkat ke Chengdu, ia sudah menyiapkan kamar untukku. Ia mengira aku akan ikut." Ruyin memutar ujung benang di jarinya. "Kenapa waktu itu aku tidak ikut?"

Jarum Nyonya Lin tidak berhenti. Ia menyelesaikan satu tusukan, menarik benangnya sampai rata, baru kemudian mengangkat wajah.

"Ia masih ingat kamar itu?" Ia tersenyum kecil. "Nyonya Cen memang begitu. Ia menyiapkan kamar untuk siapa saja yang lewat di depan rumahnya."

"Jadi aku memang tidak ikut karena apa?"

"Kau masih kecil, Ruyin. Perjalanan ke Chengdu itu berbulan-bulan, lewat jalur pegunungan. Mereka sendiri tidak tahu akan menetap di mana. Setelah Chengdu dipindahkan lagi ke tempat lain, dan lagi." Ia mengambil gunting kecil, memotong benang. "Dan keadaan rumah ini waktu itu tidak memungkinkan kami melepaskanmu. Ayahmu sedang sibuk, aku sedang tidak sehat. Aku tidak ingin anak kecil pergi jauh ke rumah orang dengan keadaan seperti itu."

"Ibu sakit?"

"Sebentar. Musim dingin yang buruk." Nyonya Lin menggeleng, seakan mengusir pertanyaan itu sebelum sempat mendarat. "Sudah lama sekali."

Jawabannya masuk akal, setiap bagiannya. Perjalanan jauh, keluarga yang berpindah tugas, ibu yang sakit. Tidak ada satu pun yang bisa Ruyin bantah. Tetapi ia melihat bahwa ibunya menjawab dengan urutan yang tertata, seperti jahitan yang rapi di bagian depan, dan ia tidak bisa menengok bagian belakangnya.

———

Nyonya Lin menyerahkan jubah Yucheng kepada Ruyin untuk dilipat, lalu, tanpa diminta, merapikan rambut di pelipis putrinya dengan ujung jari. Sentuhan itu singkat dan hangat.

"Kau selalu begitu kalau sedang menunggu jawaban," katanya. "Memutar benang di jari. Waktu kecil kau melakukannya dengan ujung rambutku."

"Dengan rambut Ibu?"

"Setiap kali aku menyisirmu. Kau duduk di pangkuanku, dan kalau ada yang ingin kau tanyakan, kau memilin rambutku tanpa sadar." Senyumnya melembut. "Aku sampai menyisir rambut dua kali supaya tidak kusut. Kau tidak pernah menyadarinya."

Ruyin menunduk, melihat benang abu-abu yang masih melilit jarinya. Tidak ada ingatan di sana. Hanya gambaran seorang anak kecil di pangkuan ibunya, dan perempuan itu menyisir rambutnya dua kali tanpa pernah mengeluh.

Ia ingin percaya sepenuhnya pada gambaran itu. Dan sebagian dirinya memang percaya.

"Ibu menyayangiku, ya," katanya, lebih pelan dari yang ia maksudkan.

Tangan Nyonya Lin berhenti di atas lipatan kain. "Pertanyaan macam apa itu."

"Hanya ingin mendengarnya."

"Ruyin." Nyonya Lin menatapnya, dan untuk sesaat wajahnya yang terkendali tampak jauh lebih tua. "Aku tidak pernah berhenti."

Kalimat itu sederhana, dan terdengar tulus. Ruyin tidak menemukan celah di dalamnya. Tetapi ia mencatat, seperti mencatat hal-hal lain di kepalanya, bahwa ibunya berkata "tidak pernah berhenti", bukan "tentu saja".

———

Ia mengajukan satu pertanyaan lagi, hati-hati, sambil melipat jubah.

"Berapa lama keluarga Cen berada di luar Chang'an, Ibu? Nyonya Cen bilang baru kembali dua tahun lalu."

"Sekitar sembilan tahun." Jawaban itu keluar cepat, tanpa dihitung.

Ruyin berhenti melipat. Ia sendiri baru kembali setelah delapan tahun, dan keluarga Cen pergi sebelum itu. Tetapi bila Nyonya Cen baru kembali dua tahun lalu, kepergian mereka jatuh enam atau tujuh tahun sebelum kepulangan Ruyin, atau mungkin lebih tepat bila dihitung dari tahun ketika Nyonya Cen menyiapkan kamar itu.

"Kalau mereka pergi sembilan tahun," ujarnya perlahan, "dan baru kembali dua tahun lalu, berarti mereka pamit sebelas tahun yang lalu. Aku saat itu belum..."

"Kau sudah cukup besar untuk mengingat wajah mereka, dan terlalu kecil untuk bepergian," potong Nyonya Lin lembut. "Orang tidak menghitung tahun dengan cermat setelah usia kami, Nak. Mungkin kurang, mungkin lebih. Kenapa kau mempermasalahkan hitungan?"

"Hanya ingin tahu."

"Kalau begitu cukup." Ia tersenyum dan memberikan sepotong kancing cadangan. "Simpan ini di kotak jahit. Dan bantu aku menyelesaikan jubah kakakmu sebelum petang."

Ruyin menerima kancing itu. Ia tidak menyodorkan hitungannya lagi. Angka-angka itu tidak benar-benar bertabrakan, hanya saling menggeser sedikit, seperti dua gulungan kertas yang tidak sepenuhnya sejajar ketika dibentangkan berdampingan. Mungkin Nyonya Cen lupa. Mungkin ibunya. Mungkin dirinya.

———

Yucheng muncul di ambang pintu ketika mereka hampir selesai, rambutnya agak berantakan dari ruang baca.

"Kalian berdua serius sekali. Seperti sedang menyusun surat perjanjian."

"Aku bertanya pada Ibu soal Chengdu," kata Ruyin.

"Chengdu?" Yucheng mengangkat alis, lalu tersenyum bingung. "Aku hanya ingat paket-paket oleh-oleh yang datang tiap tahun baru. Kacang-kacangan dan teh. Aku tidak pernah ke sana, dan waktu mereka berangkat..." Ia mengangkat bahu. "Aku tidak ingat. Mungkin aku masih sibuk dengan hal lain."

Ia tidak menambahkan apa-apa. Ruyin juga tidak bertanya.

Bibi Qin, yang membawa baki teh baru, berdiri sebentar di pintu, memperhatikan Ruyin dan Nyonya Lin berdampingan di dekat jendela. Ia tidak berkata sepatah pun, hanya meletakkan teh dengan sangat hati-hati, seolah suara cangkir pun bisa mengusik sesuatu yang tengah dijaga.

———

Menjelang senja, ketika Ruyin hendak keluar, ia menoleh sekali dari ambang pintu.

Nyonya Lin masih duduk di dekat jendela, jubah di pangkuannya sudah selesai. Tetapi ia tidak bangkit. Ia mengulurkan tangan ke rak kecil di sisi meja, mengambil sebuah gunting perak berukuran kecil yang tersimpan dalam sarung kain, dan memutarnya sekali di telapak tangannya. Gunting yang ujungnya sudah sedikit tumpul, bukan jenis yang dipakai untuk memotong benang.

"Ibumu juga pandai memotong kertas," gumamnya, kepada ruangan yang kosong. "Dengan yang ini."

Ia menyimpannya kembali ke sarungnya, lalu meletakkannya di rak, di barisan paling belakang, agak tersembunyi di balik keranjang benang.

Ruyin berdiri diam sebentar. Ibu dari ibunya, kata Nyonya Cen, membawa gunting kecil di lengan bajunya. Hanya itu yang ia tahu tentang gunting itu. Ia tidak menganggapnya penting, dan memutuskan tidak menanyakannya.

Ia melangkah keluar. Jawaban-jawaban hari ini cukup untuk sementara. Tetapi di sepanjang koridor yang mulai gelap, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang tidak cocok dengan apa pun: bahwa ibunya menjawab semua pertanyaan tentang Chengdu dengan lancar, dan hanya tersandung pada satu hal yang tidak ia tanyakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!