NovelToon NovelToon
Office Girl Milik Tuan Mahrup

Office Girl Milik Tuan Mahrup

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!

Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!


Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?


Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OGMTM-15

..."Jadi... ini cewek baru yang bikin Mahrup mendadak lupa sama luka masa lalunya?" gumam Dion pelan sembari melangkah mantap menghampiri Hazel.

Pria asing berjas mahal itu sempat menatap Hazel dengan senyum miring yang ganjil, sebelum akhirnya melengos menuju tangga eksekutif.

Hazel menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan tatapan aneh pria itu dan fokus melangkahkan kakinya menuju ruang pantry dan istirahat tim kebersihan di lantai dasar. Ada satu hal penting yang harus ia selesaikan sebelum resmi menempati mejanya di lantai dua belas: berpamitan dengan teman-teman seprofesinya.

Pintu ruang OG yang sedikit kusam itu didorong pelan oleh Hazel. Suara engsel besi berdecit pelan, memotong heningnya ruangan kecil yang penuh dengan deretan loker dan alat kebersihan tersebut.

Di dalam, suasana mendadak membeku. Luna sedang berdiri membelakangi pintu sembari meremas kain lap, sementara Vita duduk di sudut meja berpangku tangan. Akbar yang sedang merapikan gagang pel di pojok ruangan langsung menoleh mendapati sosok Hazel yang kini tampil beda mengenakan pakaian formal yang rapi dan anggun.

Hazel menarik napas panjang, memoles senyum tulus di bibirnya meski dadanya berdebar penuh cemas.

"Teman-teman..." sapa Hazel pelan, suaranya mengalun lembut. "Hazel datang mau ambil barang-barang di loker... sekalian mau pamitan sama kalian semua."

"Pamitan?" potong Luna tiba-tiba.

Gadis itu membalikkan badan dengan hentakan kasar, menatap Hazel dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan membakar. Matanya memerah, menahan amarah dan kekecewaan yang sudah membumbung tinggi di dadanya.

"Nggak usah sok drama deh,zel!" bentak Luna dengan nada penuh racun. "Kamu datang ke sini cuma mau pamer, kan? Mau tunjukin ke kita kalau kamu udah naik kelas dan nggak sudi lagi kotor-kotoran sama kita di sini?!"

"Mbak Luna, demi Allah bukan gitu..." bisik Hazel pilu, melangkah mendekat. "Hazel cuma ikuti perintah Tuan Mahrup. Hazel juga nggak pernah minta jabatan ini..."

"Halah! Basi!" tukas Luna melangkah maju, menuding dada Hazel dengan jarinya yang gemetar. "Aku udah bertahun-tahun kerja keras di gedung ini, Hazel! Aku yang selalu penuhi semua standar, tapi kenapa kamu cewek ingusan yang baru masuk kemarin sore yang ditarik ke atas?! Kamu pancing Pak CEO pakai cara apa, hah?! Pakai tampang polosmu itu?!"

"Luna, jaga ucapanmu!" potong Akbar tegas, melangkah cepat menengahi Luna dan Hazel. Wajah pria itu mengeras menahan amarah atas tuduhan melenceng rekannya.

"Hazel nggak pernah minta dipromosikan. Ini keputusan murni dari Tuan CEO, jangan salahkan Hazel!"

Luna tertawa sumbang, menyapu air mata cemburu yang menetes di pipinya. "Bagus, Bar! Bela terus anak kesayanganmu ini! Kalian semua memang sudah buta!"

Tanpa menunggu balasan lagi, Luna menyambar tas bahunya dan membanting pintu ruang OG hingga bergetar hebat.

BAM!

Keheningan yang menyakitkan kembali menguasai ruangan kecil itu. Vita menghela napas panjang, berdiri dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memandang Hazel dengan tatapan rumit yang dingin, lalu berjalan keluar menyusul Luna.

Kini, hanya tersisa Hazel dan Akbar di dalam ruangan yang mendadak terasa makin sempit.

Hazel menunduk dalam, menahan napas yang terasa sesak di dadanya. Hatinya perih. Kepindahannya yang seharusnya menjadi awal harapan baru justru menghancurkan hubungannya dengan orang-orang yang biasanya menjadi tempatnya berbagi tawa.

"Hazel..." panggil Akbar lembut, suaranya bergetar pelan.

Hazel mendongak, mendapati Akbar menatapnya dengan binar mata yang sarat akan perhatian mendalam. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, meski ada jejak kesedihan dan kecemasan yang teramat sangat di balik raut wajahnya.

"Selamat ya, Zel," ucap Akbar tulus, walau tenggorokannya terasa tertahan. "Kamu... layak dapat kesempatan ini. Kamu anak yang rajin dan jujur."

"Mas Akbar..." air mata Hazel akhirnya lolos membasahi pipinya. "Hazel takut, Mas. Hazel takut nggak bisa jalani tugas ini... Hazel takut sendirian di atas sana."

Akbar melangkah mendekat, menghentikan tangannya yang refleks ingin mengusap air mata Hazel, lalu mengepalkan jemarinya sendiri di samping tubuh. Hati Akbar bergemuruh hebat. Ada cemburu dan cemas yang membakar batinnya,ia tahu betul betapa dingin dan berbahayanya dunia Tuan Mahrup, dan ia takut Hazel akan terluka di dalam pusaran tempat orang-orang berkuasa itu.

"Kamu kuat, Hazel. Kamu pasti bisa," bisik Akbar dengan nada parau, menatap mata jernih Hazel dalam-dalam. "Tapi janji sama Mas... kalau di atas sana terasa terlalu berat atau ada orang yang berniat jahat sama kamu, langsung cerita sama Mas. Mas bakal selalu ada di sini buat lindungi kamu."

Hazel mengangguk pelan, tersenyum haru di balik lelehan air matanya. "Makasih ya, Mas Akbar..."

Setelah berpamitan dan mengambil tasnya dari loker, Hazel kembali melangkah ke lantai dua belas. Namun saat ia baru saja menginjakkan kaki di depan meja kerjanya yang baru, ia dikejutkan oleh sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak tepat di atas iPad operasinya.

Di atas amplop itu, tertera tulisan tangan tebal dengan tinta merah:

UNTUK ASISTEN PRIBADI BARU: Buka ini kalau kamu mau tahu alasan sebenarnya kenapa Mahrup membiarkan ibumu dirawat di rumah sakit milik keluarganya.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!