Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutannya.
Pintu kamar rawat VIP terbuka lebar, memperlihatkan sosok wanita paruh baya berbusana elegan bergaya bangsawan Eropa yang berdiri tegak.
Devan terperanjat kaget, matanya membelalak tak percaya menatap wanita yang sangat ia kenal itu.
"Mam...? Kapan Mama tiba? Kapan Mama bebas?" tanya Devan terbata-bata, lidahnya serasa kaku melihat ibunya berada di depannya secara langsung.
Ibu Devan tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dengan langkah anggun namun tergesa-gesa, wanita itu melangkah masuk mendatangi Devan, lalu merengkuh tubuh putranya dalam sebuah pelukan hangat yang amat erat.
"Devan... anak Mama..." bisik ibunya dengan suara bergetar menahan air mata.
Namun, di tengah dekapan hangat itu, mata ibu Devan melirik sinis ke arah Aura yang terbaring lemah di atas ranjang.
Tatapan mata wanita itu dingin dan penuh kebencian. Dalam pikirannya, cewek biasa inilah yang menjadi penyebab utama putranya sampai babak belur, terlibat masalah Interpol, dan membangkang pada keluarga besar Alandra di London.
Setelah melepas pelukannya, ibu Devan mengusap lembut pipi putranya yang memar. "Kita balik ke London ya, Nak? Pesawat pribadi kita sudah menunggu di bandara."
Devan melangkah mundur satu tindak, menggelengkan kepalanya pelan namun mantap. "Mam, Devan nggak bisa. Devan udah nyaman di sini."
Wajah ibunya menyipit kaget, lalu berusaha meyakinkan Devan dengan suara selembut mungkin.
"Sayang, Ayah tidak membenci Devan, Nak. Ayah cuma ingin yang terbaik untuk kamu."
"Ma!" potong Devan dengan nada suara menaik. "Ayah menjadikan Devan tahanan di Interpol! Ayah bikin Devan jadi buronan internasional! Apa kayak gitu yang dinamakan nggak benci?"
Mendengar ucapan tajam Devan, air mata di pelupuk mata ibunya akhirnya runtuh.
Wanita itu menangis terisak, memandangi Devan dengan tatapan penuh kepedihan.
"Itu..itu bukan seperti yang devan pikirkan. Ayah tidak pernah membenci Devan, Nak... Ayah kamu terpaksa..."
"Ma... kenapa Mama selalu membela Ayah?!" amuk Devan. Napasnya memburu keras, emosi yang dipendamnya selama bertahun-tahun seolah meledak di ruangan itu.
"Aku seperti ini, Devan yang berdarah-darah seperti ini, itu semua ulah tangan kanan Ayah, Paman Marcus!"
Ibu Devan terhenyak kaget mendengar nama Marcus disebut dengan begitu penuh dendam.
"Devan... kenapa kamu ngomong seperti itu ke Ayah, Nak? Ikut Mama pulang yaa... Belum saatnya Mama jelaskan semua. Yang harus Devan tahu, kami melakukan ini semua untuk kamu, Sayang..."
"Maa... cukup!" bentak Devan tegas, mengangkat tangannya agar ibunya berhenti berbicara.
Ibu Devan menghembuskan napas berat. Tatapan matanya yang penuh amarah kembali melirik tajam ke arah Aura yang hanya bisa membisu di atas ranjang.
Ibu Devan melangkah mendekati sisi ranjang Aura, menunjuk gadis itu dengan tatapan menuduh.
"Gara-gara kamu anak saya nggak mau pulang, kan?!" tuduh ibu Devan tajam, suaranya dipenuhi amarah yang meluap-luap.
"Kamu yang melarang dia buat kembali ke keluarga Alandra!"
"Ma! Mama apa-apaan sih?!" seru Devan panik, langsung memotong dan berdiri pasang badan di antara ibunya dan Aura.
"Aura nggak salah apa-apa! Jangan tuduh dia sembarangan!"
Aura mendengarkan tuduhan itu dengan hati yang terasa begitu sesak. Ia memandangi wajah Devan yang panik dan terluka, lalu menatap ibu Devan yang menangis dipenuhi amarah.
Aura menelan ludah, mengumpulkan sisa keberaniannya untuk membuka suara demi kebaikan Devan.
"Van..." panggil Aura pelan, suaranya sangat serak.
Devan menoleh cepat. "Kenapa, Ra?"
Aura menatap Devan dengan tatapan mata yang pasrah dan penuh keharuan. "...Mama kamu benar. Semua salahku."
"Nggak, Aura!" pangkas Devan cepat, memegang jemari Aura yang dingin. "Aku nggak nyalahin kamu! Ini sama sekali bukan salah kamu!"
Aura tersenyum tipis—sebuah senyuman pahit yang sarat akan rasa bersalah.
"Kamu ikut Mama kamu aja, Van. Kamu harus pulang ke London, selesaikan masalah keluarga kamu. Jangan sampai hubungan kamu sama orang tua kamu rusak cuma gara-gara aku."
"Nggak... nggak, Ra!" tolak Devan keras, menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku nggak mau pergi ke London! Aku masih mau di sini, melanjutkan kuliahku sama kamu!"
Devan berbalik sepenuhnya menghadap ibunya kembali. Ia menatap lurus mata wanita yang melahirkannya itu, memberikan penjelasan dengan raut wajah yang penuh kepastian tanpa ada lagi keraguan.
"Ma," kata Devan dengan nada suara yang lebih tenang namun amat dalam.
"Devan mohon sama Mama... mengerti Devan untuk sekali ini saja. Devan belum bisa balik ke London sekarang. Devan punya kehidupan di sini, Devan punya kuliah yang harus Devan selesaikan, dan Devan punya seseorang yang harus Devan jaga di sini."
Ibu Devan memandangi wajah putranya yang begitu keras kepala. Ia bisa melihat kilatan ketulusan yang luar biasa di mata Devan—sebuah ketulusan yang sama persis seperti saat ayahnya memperjuangkan cintanya dulu.
Setelah hening sejenak yang terasa amat panjang di dalam kamar VIP itu, ibu Devan akhirnya mendesah pasrah. Air matanya disapu menggunakan kain saputangan sutranya.
"Baiklah, Nak..." kata ibunya dengan suara bergetar pelan. "Kalau itu kemauan kamu... Mama akan turuti kemauanmu."
Devan menghembuskan napas lega yang amat dalam, bahunya yang tegang perlahan rileks. Namun, sebelum ibunya berbalik pergi, Devan menatap ibunya dengan raut wajah yang kembali tegas.
"Satu hal lagi, Ma..." panggil Devan. "Suruh Paman Marcus stop mengincar Aura lagi. Kalau sampai Paman Marcus atau orang-orang Ayah menyentuh Aura sedikit saja... Devan nggak akan pernah mau menginjakkan kaki di London lagi selamanya."
Ibu Devan menganggukkan kepalanya pelan, melirik sekilas ke arah Aura dengan tatapan yang sedikit melunak.
"Nanti Mama telepon Marcus buat tarik semua pasukannya dari kota ini."
Ibu Devan merapikan tas mewahnya, lalu menatap Devan dengan pandangan penuh rasa rindu yang belum tuntas. "Kalau begitu, Mama pamit dulu ya, Devan. Jaga diri kamu baik-baik di sini."
"Iya, Ma," sahut Devan pelan.
Ibu Devan melangkah keluar dari kamar VIP bersama dua pengawalnya, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat.
Suasana kamar rawat kembali menjadi sangat hening. Hanya ada deru napas Devan dan Aura yang saling bersahutan. Devan berbalik, melangkah mendekati ranjang dan langsung menggenggam erat telapak tangan Aura.
"Makasih ya, Devan..." bisik Aura tulus dengan mata berkaca-kaca. "Kamu selalu membela aku di depan siapapun."
"Aku udah janji kan, Ra," balas Devan lembut sambil tersenyum manis. "Nggak akan ada lagi yang boleh mengganggu kamu."
Namun, di saat mereka berdua baru saja hendak menikmati kelegaan itu, tiba-tiba lampu di dalam kamar rawat mendadak berkedip-kedip liar.
Suara bip panjang yang melengking nyaring berasal dari mesin pemantau detak jantung di sebelah ranjang Aura!
BIIIIIIIIIP!
Layar monitor detak jantung Aura mendadak menunjukkan garis lurus dan tubuh Aura seketika kejang-kejang hebat sebelum akhirnya matanya terpejam rapat dan terkulai lemas tak sadarkan diri!
"Aura?! AURA!" jerit Devan histeris, panik gila-gilaan sambil menekan tombol darurat suster berulang kali. "DOKTER! TOLONG DOKTER!"
Bersambung....