Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Rekaman
Seluruh ruangan langsung menatap sinis ke arah Vivian.
"Rupanya dia tidak masuk selama setahun karena berada di penjara."
"Memalukan sekali!"
"Bukankah dia adik kembar Vivi Wei? Kenapa sifat mereka bisa sangat berbeda?"
Mark yang mendengar cemoohan itu langsung berdiri.
"Kalian tidak tahu apa-apa. Diam saja agar tidak terlihat bodoh!" tegas Mark.
Para dosen yang berada di depan panggung mulai saling berpandangan.
Salah satu dosen kemudian menatap Vivian.
"Vivian, apa benar yang dikatakan Julia?" tanyanya.
Vivi dengan wajah memelas segera menghampiri mereka yang berdiri di bawah panggung.
"Maaf. Pihak keluarga kami memang sengaja menutupi hal ini demi menjaga nama baik adik dan keluarga," ucap Vivi.
Rektor mengernyitkan kening.
"Lalu, kenapa Vivian Wei bisa sampai dipenjara?"
Vivi terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan suara pelan.
"Adik saya menabrak seseorang lalu melarikan diri. Pada akhirnya dia tertangkap karena tidak bertanggung jawab."
"Jadi kasus tabrak lari?"
"Pantas saja. Percuma dia menjadi peringkat pertama kalau ternyata seorang tersangka!"
Cemoohan kembali terdengar dari berbagai sudut aula.
Vivi diam-diam mengepalkan tangannya.
"Vivian Wei, setelah ini kau pasti akan diusir dari Hua Qing. Kalau Papa, Mama, dan Kakak tahu semua orang sudah mengetahui siapa dirimu, kau juga akan diusir dari keluarga Wei," batinnya.
Di sisi lain, Joline yang duduk di samping Vivian sambil berbisik.
"Vivian, Vivi sedang berusaha membuatmu diusir dari universitas."
"Aku akan maju dan menjelaskan bahwa dialah pelakunya," ujar Justin sambil hendak berdiri.
Namun, Vivian segera menahan lengannya.
"Kita tidak bisa membuktikan kalau dia yang menabrak. Karena itu Vivi bisa dengan mudah mengatakan apa saja."
Vivian tetap terlihat tenang.
Kemudian, ia tersenyum tipis kepada kedua sahabatnya.
"Tenang saja. Aku sudah menunggu hari ini sejak aku keluar dari penjara."
"Dengan ini, pihak Hua Qing mengumumkan bahwa peringkat pertama Vivian Wei dibatalkan dan dianggap tidak sah. Hua Qing tidak dapat menerima seorang mantan narapidana yang hanya akan mencemarkan nama baik universitas!" tegas Rektor.
"Vivian Wei, cepat pergi dari sini!"
"Jangan mempermalukan kami!"
Suara cemoohan kembali memenuhi aula.
Mark yang duduk tepat di belakang Delvin Yang langsung berbisik.
"Paman, cepat buka suara. Ini tidak adil baginya."
Delvin yang sejak tadi duduk tenang akhirnya mengangkat tangannya.
Namun, sebelum sempat berbicara, Vivian lebih dulu bangkit dari tempat duduknya.
Ia justru bertepuk tangan dengan santai sambil melangkah mendekati para dosen dan Rektor.
"Luar biasa sekali."
Semua orang langsung menatapnya.
"Kalian mengatakan ini semua demi melindungi nama baik Hua Qing, tetapi kalian bahkan tidak mau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Apakah ini adil bagiku?" sindir Vivian.
Ia berhenti tepat di depan mereka.
"Hanya berdasarkan beberapa perkataan Vivi Wei dan Julia, kalian sudah bisa memvonis seseorang tanpa penyelidikan. Kalau begini caranya, bagaimana kalian bisa menjadi dosen dan Rektor? Hua Qing adalah universitas terbaik, tapi sayangnya Rektor dan Dosen bukan yang terbaik."
Wajah para dosen langsung berubah.
Rektor menatap Vivian dengan serius.
Begitu pula Delvin Yang yang masih duduk tenang di kursinya.
"Vivian, sudah. Jangan melawan lagi. Kalau Papa tahu, kau pasti akan dimarahi lagi," ucap Vivi dengan wajah memelas.
Vivian menoleh dan tersenyum sinis.
"Kau begitu pandai berakting. Kenapa tidak sekalian menjadi artis saja?"
"Vivian Wei!" bentak salah satu dosen. "Kasus tabrak lari memang merupakan kesalahan berat. Namun, yang paling tidak bisa diterima adalah kau menolak bertanggung jawab atas perbuatanmu!"
"Kalau begitu, kelayakanku sebagai mahasiswa dicabut dan aku harus segera pergi dari sini?" balas Vivian tenang.
Rektor mengangkat tangannya.
"Vivian Wei, segera tinggalkan—"
"Aku rasa lebih baik kita dengarkan terlebih dahulu apa yang ingin dikatakan Vivian Wei."
Suara dingin itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Vivian langsung terdiam.
Ia menoleh ke arah sumber suara.
Matanya membulat ketika melihat sosok pria yang duduk dengan tenang di antara para tamu penting.
"D-dia... pria yang aku cium waktu itu?" batin Vivian langsung panik.
Mark berdiri dan berjalan menghampiri Vivian.
"Benar apa yang dikatakan pamanku. Kalian harus mendengarkan penjelasan Vivian, bukan membuat keputusan hanya berdasarkan perkataan orang lain."
"Paman?" gumam Vivian.
Tatapannya beralih dari Mark kepada Delvin.
"Pria tampan ini... ternyata paman Mark?"
Vivian semakin pucat.
Rektor segera menundukkan kepala.
"Baik, Direktur."
Vivian menelan ludah.
"Pria yang aku cium ternyata paman Mark sekaligus Direktur Hua Qing. Tamat sudah masa depanku. Dia pasti akan membalas dendam!"
"Kenapa Tuan Muda Mark malah berpihak pada Vivian? Bahkan paman Mark juga sama?" batin Vivi dengan cemas.
"Vivian, apa yang ingin kau katakan?" tanya Rektor.
Vivian menatap Rektor dengan tenang.
"Aku tidak akan banyak bicara. Tapi ada sesuatu yang bisa membuktikan kenapa aku sampai dipenjara."
Vivian kemudian mengangkat ponselnya dan memastikan rekaman di dalamnya siap diputar.
"Kalau kalian ingin mengetahui kebenarannya, dengarkan sendiri."